MENERAPKAN “BILBAO EFFECT” DI MUSEUM SRIWIJAYA DHARMAKIRTI, KCBN CANDI MUARO JAMBI KABUPATEN MUARO JAMBI

WIB
Ist

Oleh:
Thamrin B. Bachri**

PENDAHULUAN

Sejarah Singkat dan Asal Usul

Pada tahun 1980-an Bilbao adalah sebuah kota pelabuhan dan industri di wilayah Basque, Spanyol, yang mengalami krisis ekonomi parah, pengangguran tinggi, dan pencemaran lingkungan. Pemerintah daerah kemudian melakukan investasi besar untuk merevitalisasi kota. Mereka bekerja sama dengan Solomon R. Guggenheim Foundation dan arsitek legendaris Frank Gehry untuk membangun museum seni kontemporer yang sangat radikal dan futuristik.

Bilbao Effect (Efek Bilbao) adalah fenomena global di mana sebuah kota mengalami kebangkitan ekonomi dan transformasi citra berkat pembangunan ikon arsitektur kelas dunia khususnya museum seni. Fenomena ini diambil dari nama kota Bilbao di Spanyol yang berhasil bertransformasi dari kota industri yang kumuh dan bangkrut menjadi pusat pariwisata internasional setelah dibukanya museum Guggenheim di kota Bilbao pada tahun 1997. Fenomena ini bekerja melalui mata rantai dampak ekonomi dan sosial melalui:

• Pertama, Magnet Pariwisata Instan. Yaitu desain museum yang spektakuler menarik jutaan wisatawan domestik maupun asing yang sebelumnya tidak pernah melirik kota tersebut

• Kedua, Pertumbuhan Ekonomi Turunan (Spillover Effect). Lonjakan pengunjung (wisatawan) memicu pertumbuhan pesat pada sektor pariwisata (hotel, restoran, biro perjalanan, pemandu wisata, transportasi, ekraf, dan UMKM atau ritel lokal).

• Ketiga, Re-branding Kota. Citra kota berubah total dari kota yang tidak populer menjadi pusat budaya dan pariwisata yang modern dan kreatif.

• Keempat, Investasi Infrastruktur. Pendapatan dari pariwisata membiayai pembenahan fasilias publik lainnya, seperti jalan dan sistem transportasi baru, pembersihan sungai, dan renovasi bandara. 

Konsep “Bilbao Effect” (Efek Bilbao) dan Kemungkinan Penerapannya di Museum Sriwijaya Dharmakirti, di Kabupaten Muaro Jambi.

Museum Sriwijaya Dharmakirti adalah museum situs budaya terbesar di Indonesia ukurannya sengaja dibangun masif untuk mempresentasikan luas KCBN (Kawasan Cagar Budaya Nasional) Muaro Jambi yang mencapai hampir 4.000 Ha. Museum baru di Muaro Jambi ini sengaja dibangun lebih besar daripada museum yang ada di Candi Borobudur maupun Candi Prambanan. Meskipun Museum Nasonal Jakarta memegang rekor dalam jumlah koleksi (menyimpan lebih dari 140.000 artefak). Namun Museum Sriwijaya Dharmakirti unggul mutlak dari segi konsep lanskap, kawasan terbuka, dan luas area situs terpadu sebagai pusat riset internasional. Koleksi artefak yang dipamerkan meliputi, Arca dan Artefak Keagamaan, Keramik Kuno (Keramologi), sedang struktur dan material bangunan adalah bata bergambar/berukir dan benda berbahan batu dan logam.

Museum Sriwijaya Dharmakirti ini sudah diresmikan oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, pada tanggal 31 Juli 2026, dan mulai dibuka untuk umum pada 29 Agustus 2026 sebagai pusat edukasi, penelitian dan pelestarian sejarah peradaban Sriwijaya serta Melayu sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya. Kaitan erat antara museum dan pariwisata banyak aspek diantaranya adalah daya tarik wisata berupa koleksi benda cagar budaya dan artefak di museum menjadi motivasi utama bagi wisatawan untuk mengenal sejarah suatu destinasi dan museum juga menjadi sarana edukasi yaitu sumber belajar interaktif bagi wisnus maupun wisman dan sekaligus menjadi sarana rekreasi. Selanjutnya, kunjungan wisatawan ke museum meningkatkan roda perekonomian lokal melalui berbagai kebutuhan akomodasi, kuliner, dan cinderamata dan lainnya. Pendapatan dan perhatian dari sektor pariwisata memberikan dukungan nyata bagi pelestarian benda sejarah di museum.

Konsep Bilbao Effect (efek Bilbao) tentu dapat diterapkan pada Museum Sriwijaya Dharmakirti, namun penerapannya tidak bisa hanya mengandalkan satu aspek estetika bangunan, melainkan harus mengadopsi strategi revitalisasi kawasan secara menyeluruh. Bilbao Effect adalah fenomena dimana sebuah kota, kabupaten, atau kawasan tertentu bangkit secara ekonomi dan pariwisata berkat pembangunan institusi budaya ikonik (seperti museum Guggenheim di Bilbao, Spanyol). Museum Sriwijaya Dharmakirti di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) di Kabupaten Muaro Jambi memiliki potensi kuat untuk memicu efek serupa karena Museum Sriwijaya Dharmakirti dirancang dengan material terakota yang selaras dengan batu bata kuno candi di sekitarnya, dipadukan dengan atap khas Melayu kuno. Keunikan visual yang berakar pada sejarah lokal ini memenuhi syarat utama Bilbao Effect, yaitu bangunan yang menjadi “karya seni” itu sendiri. Lebih jauh, museum Sriwijaya Dharmakirti memiliki daya tarik teknologi karena dilengkapi dengan ruang imersif berskala besar dan teater edukasi, museum ini menawarkan pengalaman modern yang menarik minat wisatawan mancanegara maupun generasi muda. Berbeda dengan Bilbao yang membangun museum seni modern dari nol, Museum Sriwijaya Dharmakirti berdiri di atas narasi kuat sebagai Universitas Kuno tertua dan terbesar di Asia Tenggara dari abad ke-6. Potensi wisata budaya, wisata religi, wisata edukasi, dan riset internasional (The Land of Dharma) sangat masif. 

PENUTUP

(Tantangan dan Strategi)

Para pakar perkotaan mengingatkan bahwa Bilbao Effect (Efek Bilbao) sering gagal ditiru oleh kota, kabupaten atau wilayah tertentu, karena mereka hanya meniru ‘bangunan megahnya” saja tanpa membenahi ekosistem di sekitarnya. Misalnya, aksesibilitas menuju KCBN (Kawasan Cagar Budaya Nasional) Candi Muaro Jambi di kabupaten Muaro Jambi dari kota Jambi atau Bandara Sultan Thaha harus dipermudah termasuk optimalisasi transportasi menyusuri sungai Batang Hari. Zona komersial juga harus dibenahi dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti Toilet dan Kamar mandi umum yang memenuhi standar kebersihan dan kesehatan, tempat parkir, mushola, serta tempat menampung pedagang kuliner maupun souvenir (UMKM) lokal agar mereka bisa berpartisipasi secara aktif dan positif (community first philosophy) serta hotel dan restoran dan Coffee Shop berstandar internasional di kota Muaro Jambi, di samping homestay yang sudah ada di sekitar KCBN (Kawasan Cagar Budaya Nasional). Perlu pula disusun semacam cetak biru pemasaran pariwisata internasionalnya.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa museum Sriwijaya Dharmakirti pada dasarnya telah memiliki “magnet” atau daya tarik visual dan kultural yang kuat. Konsep Bilbao Effect akan mewujud nyata jika pembangunan fisik museum ini dibarengi dengan investasi infrastruktur wilayah yang masif, pelibatan komunitas lokal, kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan termasuk pemerintah daerah, dan promosi berskala global sebagai pusat peradaban Buddha dunia di masa lalu.

- IF YOU DO NOTHING, YOU WILL GET NOTHIING –

Rujukan Pustaka:

  • Feig, B. 2006. HOT Button Marketing: Push The Emotional Buttons That Get People to Buy, (15, 57-58).
  • Grunewald, R.D.A. 2002. Tourism and Cultural Revival (1004). A Social Sciences Journal Vol. 29, No. 4, 2002 ISSM:0160-7383. Pergamon.
  • Legrain, P. 2003. OPEN WORLD: The Truth About Globalization (16-22).
  • Lindstrom, M. 2008. BUY.OLOGY: How Everything We Believe About Why We Buy Is Wrong, (128-140).
  • Schultz, P. 2002. 1.000 Places To See Before You Die: A Traveler’s Life List, (259-260). 

Penulis:

THAMRIN B. BACHRI

Senior Advisor, Indonesia Tourism Support

Mantan Deputi Peningkatan Kapasitas & Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata periode 2001-2003, Dirjen Pemasaran Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata periode 2003-2008 dan alumni Lemhannas KSA-X 2002, yang mengenyam pendidikan di Department of Habitational Resources, Hospitality and Tourism, University of Wisconsin-Stout, USA (1990) ini mendedikasikan sebagian hidupnya di Bidang Pariwisata.

Staf pengajar di Pasca Sarjana Pariwisata STP Bandung dan penggagas buku Responsible Tourism Marketing ini sangat peduli dan banyak memberikan pandangan dan pemikiran yang terkait dengan pembangunan dan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan (Sustainable Tourism Development).

Ia berpendapat bahwa kombinasi yang akan menghancurkan pariwisata adalah MATERIALISM plus SHORT-TERMISM.

Saat ini berdomisili di Jambi dan menjadi Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi Bidang Pariwisata.

BeritaSatu Network