Saya Akan Terus Berbuat

WIB
ist

Oleh: Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd.
Ketua ISMI Provinsi Jambi

SAYA pernah bertanya kepada diri sendiri, mengapa keinginan membantu orang lain justru mengundang kecurigaan?

Pertanyaan itu muncul ketika bantuan yang saya salurkan di Jambi mulai dihubungkan dengan kepentingan politik. Ada yang menduga saya sedang menyiapkan jalan menuju pemilihan gubernur. Ada yang mempertanyakan tujuan kehadiran saya. Bahkan, masa lalu yang telah saya jalani dengan segala penderitaannya kembali diungkit.

Saya mendengar semua itu. Sebagai manusia, tentu ada rasa lelah. Ada pula keinginan untuk menjelaskan bahwa kegiatan membantu sesama sudah menjadi bagian dari kehidupan saya sejak lama.

Jauh sebelum memperluas bantuan ke Jambi, saya telah membantu rumah tahfidz, anak yatim, pesantren, dan berbagai kebutuhan umat di daerah-daerah lain. Nilai keseluruhan bantuan tersebut sudah mencapai belasan miliar rupiah.

Jumlah itu menjelaskan panjangnya perjalanan pengabdian yang saya jalani. Ada ikhtiar yang telah berlangsung sebelum nama saya ramai diperbincangkan di tanah kelahiran sendiri.

Perhatian kepada Jambi menguat setelah saran Hasan Basri Agus, atau HBA, mantan Gubernur Jambi periode 2010–2015. Bagi saya, beliau adalah mentor yang saya hormati dan telah saya anggap sebagai ayah sendiri.

Saran beliau mengetuk hati saya untuk ikut mendistribusikan bantuan kepada masyarakat Jambi. Tanah kelahiran memiliki tempat yang khusus dalam ingatan dan tanggung jawab seseorang. Di sanalah asal-usul kita tertanam. Kepada masyarakatnya, kita mempunyai kesempatan untuk mengembalikan sebagian manfaat dari perjalanan hidup.

Saya kemudian membawa semangat itu ke Jambi. Membantu sesuai kemampuan, memperluas kepedulian, dan mengajak orang-orang yang memiliki niat serupa untuk bekerja bersama.

Lalu kecurigaan datang.

Rumah tahfidz, anak yatim, dan pesantren yang ingin dibantu mendadak berada dalam percakapan tentang ambisi politik. Kehadiran saya ditafsirkan melalui kemungkinan pencalonan dalam Pilgub Jambi.

Saya memahami bahwa masyarakat berhak bertanya. Orang yang bekerja di ruang publik perlu bersedia menjelaskan kegiatannya. Pengelolaan bantuan juga harus tertib, penerimanya jelas, dan manfaatnya dapat diperiksa.

Namun, dugaan tentang motif seseorang tetap perlu dibedakan dari fakta tentang apa yang dikerjakannya. Kecurigaan memerlukan dasar. Pertanyaan memerlukan ruang jawaban. Dengan cara itulah percakapan dapat membantu kita memperbaiki keadaan.

Yang terasa lebih berat adalah ketika masa lalu kembali diungkit. Bagi saya, pengalaman itu membawa penderitaan yang telah saya jalani sendiri.

Saya pernah dipenjara. Saya pernah menghidupi anak seorang diri. Saya pernah dikejar-kejar tagihan utang. Ada masa ketika tanggung jawab sebagai seorang ibu harus saya pikul di tengah kesulitan hidup saya sendiri.

Ketika mengingat pengalaman dipenjara, saya teringat kisah Nabi Yusuf. Al-Qur’an mengisahkan kehidupan beliau di dalam penjara, antara lain dalam Surah Yusuf ayat 36. Tentu saya tak semulia Nabi Yusuf. Saya hanyalah manusia dengan segala kekurangan. Dari kisah beliau, saya ingin belajar menjaga kesabaran dan harapan kepada Allah ketika kehidupan terasa berat.

Pengalaman menghidupi anak seorang diri juga mengajarkan betapa besar arti pertolongan. Seorang ibu harus memikirkan kebutuhan anaknya sambil menghadapi persoalannya sendiri. Tagihan utang menambah beban itu. Semua harus dihadapi, sementara kehidupan terus berjalan.

Karena pernah mengalami kesulitan, saya ingin lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Ketika membantu anak yatim, saya memikirkan kebutuhan mereka akan perhatian dan penopang kehidupan. Ketika membantu rumah tahfidz dan pesantren, saya berharap anak-anak memperoleh kesempatan belajar yang lebih baik.

Pengalaman pahit itu ingin saya bawa sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri. Hari-hari yang masih Allah berikan adalah kesempatan untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat.

Maka, ketika masa lalu kembali diungkit, tentu ada rasa lelah. Saya pernah berpikir, apakah lebih baik menikmati saja kehidupan yang sudah nyaman di Mekkah? Mengurus kehidupan sendiri terasa lebih ringan daripada menghadapi kecurigaan setiap kali ingin membantu.

Namun, saya memilih untuk terus mengambil bagian.

Anak yatim tetap membutuhkan perhatian. Rumah tahfidz dan pesantren tetap memerlukan dukungan. Keluarga yang kesulitan tetap harus memenuhi kebutuhan hidup. Saya ingin menggunakan kemampuan yang Allah titipkan untuk ikut meringankan beban mereka.

Di Jambi, pekerjaan sosial masih luas. BPS Provinsi Jambi mencatat 253,73 ribu penduduk, atau 6,67 persen, berada di bawah garis kemiskinan pada Maret 2026. Jumlahnya turun 7,5 ribu orang dibandingkan September 2025, sebagaimana diumumkan pada 5 Agustus 2026. Penurunan itu patut disyukuri, sementara kebutuhan lebih dari seperempat juta warga tetap menuntut perhatian.

Angka tersebut mengingatkan saya bahwa kemampuan membantu membawa tanggung jawab. Ada pekerjaan yang bisa dilakukan melalui bantuan langsung. Ada pula yang membutuhkan pendampingan, pendidikan, dan kerja bersama dalam waktu panjang.

Karena itu, saya ingin terus mengambil bagian dengan cara yang semakin baik.

Ketika menghadapi cibiran, saya berusaha mengingat keteguhan Rasulullah SAW. Risalah beliau membawa kasih sayang, sementara perjalanan dakwahnya menghadapi penolakan dan kesulitan yang berat.

Dalam riwayat Aisyah yang tercatat dalam Sahih al-Bukhari nomor 3231, Rasulullah menceritakan penolakan terhadap dakwah beliau dan kesedihan yang dirasakannya. Ketika malaikat gunung menawarkan untuk menimpakan dua gunung kepada orang-orang yang menolaknya, beliau menolak tawaran tersebut. Beliau berharap dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah semata.

Dari riwayat itu, saya belajar bahwa luka dapat dihadapi dengan harapan. Rasulullah tetap memandang kemungkinan kebaikan pada generasi yang akan datang.

Saya ingin belajar menjaga sikap seperti itu dalam keterbatasan saya sebagai manusia. Menahan kemarahan, mendengar nasihat, dan tetap mengerjakan hal yang bermanfaat.

Meneladani Rasulullah menuntut latihan yang panjang. Kita perlu menjaga lisan ketika tersinggung. Kita perlu memeriksa diri ketika dikritik. Kita juga perlu mempertahankan kasih sayang ketika berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan.

Ada kritik yang dapat memperbaiki pekerjaan. Ada pertanyaan yang perlu dijawab. Ada pula cibiran yang cukup kita hadapi dengan kesabaran. Kejernihan diperlukan untuk membedakan semuanya.

Saya akan terus menerima masukan mengenai cara bantuan dikelola dan disalurkan. Amanah mengharuskan kita bekerja dengan hati-hati. Keikhlasan perlu berjalan bersama ketertiban, ketepatan sasaran, dan penghormatan kepada penerima bantuan.

Pada saat yang sama, saya ingin menjaga tujuan pengabdian ini di hadapan Allah SWT.

Saya menggantungkan harapan kepada penilaian-Nya. Saya berharap apa yang diberikan dapat meringankan kesulitan, menguatkan pendidikan, dan membantu orang lain menjalani kehidupan dengan lebih layak.

Harapan itu memberi saya alasan untuk terus melangkah.

Jambi adalah tanah kelahiran yang ingin saya rawat melalui kemampuan yang Allah titipkan. Saya ingin ikut menjaga anak-anaknya, mendukung pendidikan agamanya, serta memperluas kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan.

Kita mengenal falsafah “adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah”. Nilai tersebut perlu hadir dalam cara kita memperlakukan sesama: menghormati orang yang lemah, memperhatikan pendidikan anak, dan membantu keluarga yang sedang menghadapi kesulitan.

Rumah tahfidz dan pesantren mempunyai tempat dalam ikhtiar tersebut. Anak-anak membutuhkan lingkungan untuk belajar Al-Qur’an, memperoleh ilmu, dan membangun akhlak. Anak yatim memerlukan perhatian yang berkelanjutan. Keluarga yang kesulitan membutuhkan pertolongan yang menghargai martabat mereka.

Semua itu memerlukan kerja yang sabar. Manfaatnya perlu tumbuh melampaui satu kegiatan dan satu kesempatan penyerahan bantuan.

Melalui ISMI, saya ingin menguatkan ikhtiar bersama. Ada ilmu yang dapat disumbangkan. Ada tenaga yang dapat diberikan. Ada jaringan yang dapat mempertemukan kebutuhan dengan pertolongan. Setiap orang dapat mengambil bagian sesuai kemampuannya.

Saya menyadari bahwa perjalanan ini akan terus menghadapi perbedaan pandangan. Karena itu, saya perlu menjaga hati sekaligus memperbaiki cara bekerja.

Kepada orang yang mengingatkan, saya ingin mendengar. Kepada orang yang berbeda pandangan, saya ingin membuka ruang percakapan. Menghadapi cibiran, saya akan berusaha bersabar.

Tekad saya tetap sama: terus berbuat untuk umat selama Allah memberi kemampuan dan kesempatan.

Kelak, harta akan ditinggalkan. Kedudukan akan berakhir. Hari-hari yang kita jalani sekarang akan menjadi bagian dari pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Saya berharap dapat menghadap-Nya dengan ikhtiar yang telah dikerjakan sebaik-baiknya: menggunakan titipan-Nya untuk membantu sesama, menjaga amanah, dan menyambung kebaikan.

Saya pernah menderita. Kini, ketika memiliki kesempatan membantu, saya ingin menggunakannya sebaik-baiknya.

Biarlah Allah yang menilai.

Saya akan terus berbuat.(*)

BeritaSatu Network