MANDALAY, MYANMAR — Di tengah puing dan duka mendalam akibat gempa bumi berkekuatan 7,7 SR yang mengguncang Myanmar pada Jumat (28/3), secercah harapan menyala dari reruntuhan Great Wall Hotel, Mandalay. Seorang perempuan berhasil diselamatkan hidup-hidup setelah hampir 60 jam terjebak di bawah bangunan yang runtuh.
Momen dramatis itu terjadi pada Senin (31/3), ketika tim penyelamat—yang sebagian besar adalah sukarelawan tanpa peralatan lengkap—berhasil menariknya keluar dari tumpukan beton dan debu. Saat tubuhnya diangkat ke tandu, sorak dan tepuk tangan menggema dari warga dan relawan yang menyaksikan.
“Kami tidak akan menyerah. Kami ingin membawa sebanyak mungkin orang keluar,” ujar salah seorang relawan di lokasi kejadian, menggambarkan semangat juang yang menghidupi operasi penyelamatan.
Kedutaan Besar Tiongkok di Myanmar mengonfirmasi bahwa korban kini dalam kondisi stabil, dan tengah mendapatkan perawatan intensif.
Gempa hebat tersebut tercatat telah merenggut setidaknya 1.700 nyawa di Myanmar, serta 18 orang di Thailand, dengan ribuan lainnya luka-luka. Guncangan kuat meratakan ratusan bangunan—mulai dari rumah warga, sekolah, rumah sakit, hingga tempat ibadah.
Di lokasi lain, kisah pilu ikut menyelimuti proses evakuasi. Di sebuah kompleks apartemen di Mandalay, tim penyelamat menemukan seorang perempuan hamil yang terjebak selama dua hari. Namun untuk menyelamatkannya, mereka harus mengambil keputusan berat—mengamputasi kakinya. Meski berhasil dievakuasi, nyawanya tak tertolong.
“Kami menghadapi banyak kendala: tidak ada listrik, komunikasi terputus, jalanan rusak. Tetapi kami tetap berusaha,” ungkap seorang petugas penyelamat, menggambarkan kondisi medan bencana yang nyaris tak memungkinkan.
Kisah perempuan yang bertahan hidup di bawah reruntuhan menjadi simbol keteguhan hati dan harapan, ketika Myanmar sedang dilanda tragedi besar. Dengan tangan kosong, semangat solidaritas, dan keberanian luar biasa, para relawan terus menggali puing-puing, menantang batas waktu demi menyelamatkan nyawa.
Dalam situasi krisis, keberanian warga sipil, petugas, dan relawan di Myanmar menjadi kisah inspiratif yang mengingatkan: bahwa di balik kehancuran, manusia masih punya cahaya—yakni kemanusiaan dan harapan.
Myanmar berduka, tetapi semangatnya tak padam. Gempa boleh mengguncang tanah, tapi tak bisa mengguncang keteguhan hati orang-orang yang berjuang menyelamatkan satu per satu nyawa dari balik puing-puing harapan.(*)
Add new comment