Buka Workshop Publikasi Ilmiah, Prof Haryadi Tantang Mahasiswa S3 Unja Lahirkan Karya

WIB
IST

Jambi - Ketua Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi (Unja), Prof Haryadi, mengingatkan mahasiswa doktor agar tidak hanya mengejar gelar. Ia meminta mahasiswa melahirkan karya ilmiah yang dipublikasikan dan memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

Pesan itu disampaikan Haryadi dalam sambutannya pada Workshop Penguatan Kompetensi Penulisan dan Strategi Publikasi Artikel Ilmiah, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 WIB tersebut menghadirkan Prof Junaidi sebagai narasumber.

Haryadi menekankan, kegiatan akademik seperti workshop harus menghasilkan tindak lanjut yang nyata. Ia tidak ingin manfaat kegiatan berhenti pada sertifikat yang dibawa pulang peserta.

“Saya berharap workshop ini tidak berhenti pada sertifikat. Workshop ini harus menghasilkan artikel,” kata Haryadi.

Artikel tersebut, lanjutnya, juga tidak boleh hanya tersimpan di laptop. Mahasiswa perlu membawanya melalui proses pengajuan ke jurnal, penelaahan, perbaikan, hingga akhirnya dipublikasikan.

“Artikel itu jangan berhenti sebagai draft di laptop. Artikel harus disubmit, direview, diperbaiki, diterima, dan akhirnya dipublikasikan,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Haryadi mengajak mahasiswa merenungkan hal yang membedakan pendidikan doktor dengan jenjang pendidikan lainnya. Menurutnya, perbedaan itu bukan semata-mata terletak pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Mahasiswa doktor dituntut tidak hanya memahami ilmu, tetapi juga mengembangkannya. Karena itu, pertanyaan yang perlu dijawab bukan sebatas apa yang sudah diketahui, melainkan apa yang dapat ditambahkan kepada ilmu pengetahuan.

Di titik itulah, kata Haryadi, kebaruan atau novelty menjadi penting.

Namun, menemukan kebaruan saja belum cukup. Temuan tersebut perlu ditulis, diuji, diperdebatkan, dan dipublikasikan agar dapat menjangkau lebih banyak orang.

Haryadi mengibaratkan gagasan yang tidak pernah dipublikasikan seperti cahaya yang disimpan di dalam kotak. Cahaya itu ada, tetapi tidak mampu menerangi sekelilingnya.

Ia kemudian menggambarkan perjalanan akademik mahasiswa doktor dalam empat tahapan, yakni penelitian, penulisan, publikasi, dan kontribusi.

“Kita membaca untuk memahami, meneliti untuk menemukan, dan menulis untuk membagikan,” tuturnya.

Karena itu, Haryadi menilai publikasi ilmiah seharusnya dipahami sebagai bagian dari tanggung jawab akademik seorang ilmuwan, bukan hanya persyaratan untuk menyelesaikan studi doktoral.

Ia juga menyinggung tantangan yang dihadapi mahasiswa saat menulis. Ada kalanya seseorang sudah menghabiskan waktu berhari-hari di depan komputer, tetapi perkembangan artikelnya belum sesuai harapan.

“Kadang-kadang kita sudah berhari-hari di depan komputer, tetapi yang bertambah bukan halaman artikel—yang bertambah justru jumlah kopi yang diminum,” ujarnya.

Tantangan berikutnya datang ketika naskah masuk ke proses penelaahan. Artikel yang dinilai penulis sudah sangat baik bisa saja masih mendapat banyak catatan dari reviewer.

Haryadi meminta mahasiswa tidak takut menghadapi kritik maupun penolakan. Menurutnya, revisi dan penolakan merupakan bagian dari proses akademik yang harus dihadapi dengan ketangguhan serta kemauan memperbaiki karya.

Melalui workshop tersebut, mahasiswa diharapkan memperkuat kemampuan menulis artikel, memilih jurnal yang tepat, membangun research gap dan kebaruan, serta menggunakan referensi yang relevan dan mutakhir. Kemampuan merespons reviewer secara ilmiah dan argumentatif juga menjadi perhatian.

Menutup sambutannya, Haryadi mengajak mahasiswa melihat pendidikan doktor melampaui target kelulusan. Ada jejak intelektual yang perlu ditinggalkan melalui karya.

“Pada akhirnya, gelar doktor adalah pengakuan akademik, tetapi karya ilmiah adalah jejak intelektual,” kata Haryadi.

Ia pun menitipkan pesan agar mahasiswa ikut mengambil peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

“Jangan hanya mengejar gelar, kejarlah juga karya. Jangan hanya menyelesaikan disertasi, lahirkanlah publikasi. Dan jangan hanya menjadi pengguna ilmu, tetapi jadilah bagian dari mereka yang ikut mengembangkan ilmu,” pungkasnya.(*)

BeritaSatu Network