Jambi - Pembangunan tahap III Gedung Laboratorium Terpadu menjadi paket terbesar dalam data pengadaan Poltekkes Kemenkes Jambi tahun anggaran 2026. Nilainya Rp 46,63 miliar, hampir tiga perempat dari total nilai pengadaan yang tercatat dalam data tersebut.
Berdasarkan pengolahan data dashboard realisasi pengadaan, terdapat 73 transaksi dengan total Rp 62.249.665.632 atau sekitar Rp 62,25 miliar. Transaksi itu mencantumkan 48 nama penyedia, dengan kebutuhan mulai dari pembangunan gedung, bahan praktik mahasiswa, layanan internet, hingga perlengkapan wisuda.
Seluruhnya mencantumkan sumber dana APBN tahun anggaran 2026 pada satuan kerja Politeknik Kesehatan Jambi di bawah Kementerian Kesehatan.
Dari puluhan transaksi itu, paket pembangunan laboratorium terpadu tercatat senilai Rp 46.625.188.197. Penyedia yang tercantum adalah Burniat Indah Karya.
Nilai satu paket tersebut setara 74,90 persen dari total nilai 73 transaksi yang ditelaah. Sementara 72 transaksi lainnya secara keseluruhan bernilai sekitar Rp 15,62 miliar.
Pembangunan laboratorium itu tercatat menggunakan metode e-purchasing melalui E-Katalog Versi 6.0. Paket dengan kode Rencana Umum Pengadaan (RUP) 66947973 tersebut berstatus “ON PROCESS” pada tahapan “Kontrak”.
Ada pula paket manajemen konstruksi untuk pembangunan tahap III laboratorium yang sama. Nilainya Rp 1.371.527.100, dengan penyedia PT Kalimanya Ekspert Konsultan.
Berbeda dengan paket pembangunan fisiknya, pengadaan jasa manajemen konstruksi tersebut mencantumkan metode penunjukan langsung. Statusnya “KONTRAK SEDANG BERJALAN”, dengan kode RUP 65685926.
Jika dijumlahkan, pembangunan fisik dan manajemen konstruksi laboratorium itu bernilai Rp 47.996.715.297 atau mendekati Rp 48 miliar. Keduanya tercatat sebagai paket terpisah.
Selain laboratorium, terdapat renovasi Gedung Layanan Pendidikan/Gedung Direktorat Poltekkes Kemenkes Jambi senilai Rp 2.486.355.138. Nama Pratama Jati tercantum sebagai penyedia.
Renovasi tersebut juga menggunakan metode e-purchasing. Dalam data yang ditelaah, statusnya “ON PROCESS” pada tahapan kontrak.
Sementara itu, pekerjaan Perencanaan/Master Plan Kampus Jurusan Kebidanan tercatat senilai Rp 614.553.720. Paket melalui metode seleksi ini mencantumkan PT Tri Karsa sebagai penyedia, dengan status kontrak sedang berjalan.
Di luar urusan gedung, kebutuhan operasional kampus juga masuk dalam daftar pengadaan.
Salah satu yang terbesar adalah jasa tenaga alih daya untuk satpam, pengemudi, dan petugas kebersihan. Nilainya Rp 2.499.657.660, dengan penyedia Binakarsa Mandiri.
Paket tersebut tercatat pada tahapan serah terima, dengan label status “PAYMENT OUTSIDE SYSTEM”.
Untuk koneksi internet, terdapat paket Langganan ISP/Internet senilai Rp 900.000.006 kepada Telemedia Dinamika Sarana. Adapun langganan Zoom Meeting tercatat senilai Rp 161.759.807 kepada Dasa Aprilindo Sentosa.
Kebutuhan wisuda juga muncul dalam beberapa transaksi.
Paket terbesar di kelompok ini bernama “Biaya Paket Kegiatan Rapat/Pertemuan Half Day Wisudawan (Jambi)”. Nilainya Rp 821.375.000, dengan penyedia Cahaya Abadi Hotelindo.
Kemudian ada pengadaan kelengkapan wisuda berupa map dan medali senilai Rp 255.872.571 kepada Rizki Syahbuana Perkasa. Sewa videotron dan pencahayaan kegiatan wisuda tercatat senilai Rp 58.499.955 kepada Qproduction.
Ketiga transaksi yang mencantumkan kebutuhan wisuda tersebut berjumlah Rp 1.135.747.526 atau sekitar Rp 1,14 miliar. Semuanya tercatat berstatus “ON PROCESS” pada tahapan kontrak.
Data ini belum memuat jumlah wisudawan, banyaknya barang, maupun rincian layanan dalam masing-masing paket. Karena itu, biaya per peserta atau harga satuannya belum dapat dihitung dari catatan tersebut.
Secara keseluruhan, e-purchasing menjadi metode yang paling banyak digunakan. Ada 71 transaksi senilai Rp 60.263.584.812 melalui metode tersebut. Dua transaksi lainnya menggunakan penunjukan langsung dan seleksi.
Namun, seluruh nilai pengadaan yang tercatat itu belum dapat dibaca sebagai uang yang sudah dibayarkan.
Pada kolom tahapan pengadaan, sebanyak 32 transaksi senilai Rp 55.673.351.601 masih tercatat pada tahap kontrak. Sementara 41 transaksi dengan total Rp 6.576.314.031 berada pada tahap serah terima.
Dari 41 transaksi pada tahap serah terima, tujuh berstatus “COMPLETED” dan 34 berlabel “PAYMENT OUTSIDE SYSTEM”. Label pembayaran di luar sistem itu sendiri tidak menunjukkan adanya penyimpangan.
Khusus pembangunan laboratorium yang menjadi porsi terbesar, data baru menunjukkan nama paket, penyedia, nilai, metode, dan status pengadaannya. Persentase kemajuan fisik, masa pelaksanaan, serta target gedung bisa digunakan mahasiswa belum tercantum dalam file yang ditelaah.
Tags: