Ketika Kabut Kerinci Menyibak Masa Depan

WIB
Ist

Dari Negeri di Atas Awan: Mengubah Keindahan Alam dan Kekayaan Pertanian Menjadi Kesejahteraan

Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Guru Besar Ekonomi / Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi
Tenaga Ahli Gubernur Jambi

Pagi itu, kabut turun perlahan di kaki Gunung Kerinci, sementara matahari menyinari kebun teh, kopi, kayu manis, dan hamparan hortikultura yang membentang seperti permadani hijau. Para petani memulai hari tanpa lagi mencemaskan harga yang bergejolak, rantai pemasaran yang panjang, dan hasil panen yang terlambat tiba di pasar. Teknologi digital membantu mereka membaca cuaca, mengetahui harga, memesan sarana produksi, dan berhubungan langsung dengan pembeli. Hasil pertanian tidak segera diangkut keluar sebagai bahan mentah, tetapi diolah, dikemas, dan dipasarkan dengan merek Kerinci. Gambaran itu menyimpan sebuah harapan: kemajuan tumbuh dari kekuatan masyarakat dan kekayaan daerah sendiri.

Harapan tersebut bukan khayalan tanpa pijakan karena Kerinci memiliki modal alam, manusia, dan budaya yang luar biasa. Pada 2025, Kabupaten Kerinci dihuni sekitar 258.208 penduduk dan menghasilkan Produk Domestik Regional Bruto sebesar Rp15,81 triliun. Ekonominya tumbuh 4,61 persen, sedikit lebih cepat daripada 4,48 persen pada 2024, sedangkan PDRB per kapita mencapai Rp61,23 juta. Angka tersebut memperlihatkan kemajuan, tetapi PDRB per kapita bukan pendapatan yang secara otomatis diterima setiap penduduk. Pertumbuhan baru memperoleh makna apabila meningkatkan pendapatan keluarga, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan memperluas kesempatan bagi generasi muda. (BPS Kabupaten Kerinci, 2026)

Kekuatan utama perekonomian Kerinci masih berada pada pertanian, kehutanan, dan perikanan yang menyumbang 50,78 persen terhadap PDRB pada 2025. Sektor tersebut tumbuh tinggi sebesar 9,12 persen, tetapi industri pengolahan baru berkontribusi 2,86 persen terhadap perekonomian daerah. Perbedaan yang sangat lebar itu menunjukkan bahwa Kerinci kuat menghasilkan komoditas, tetapi belum cukup kuat mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi. Akibatnya, sebagian nilai tambah, pekerjaan, teknologi, dan keuntungan justru tumbuh di luar daerah. Tantangan terbesar pembangunan Kerinci bukan hanya meningkatkan hasil panen, melainkan mempertahankan lebih banyak nilai ekonomi di tempat komoditas itu ditanam. Ketika Kabut Kerinci Menyibak M…

Kayu manis tidak cukup dijual sebagai kulit kering, kopi tidak cukup dilepas sebagai biji mentah, dan kentang tidak selalu harus meninggalkan kebun tanpa pengolahan. Komoditas tersebut dapat dikembangkan menjadi minyak atsiri, ekstrak pangan dan kosmetik, kopi sangrai bermerek, makanan olahan, serta beragam produk bernilai tinggi. Hilirisasi tidak harus selalu dimulai dengan pabrik raksasa, tetapi dapat tumbuh melalui rumah produksi, koperasi modern, UMKM, dan kemitraan usaha yang sehat. Pemerintah menyediakan infrastruktur, pembiayaan, standardisasi, pelatihan, dan promosi, sedangkan perguruan tinggi menghadirkan teknologi serta inovasi produk. Petani dengan demikian tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi ikut menikmati keuntungan dari keseluruhan rantai nilai.

Pariwisata merupakan pintu kemajuan lain yang belum sepenuhnya terbuka. Gunung Kerinci, Danau Gunung Tujuh, Danau Kerinci, perkebunan teh Kayu Aro, air terjun, sumber air panas, desa tradisional, dan kekayaan budaya menjadikan Kerinci salah satu lanskap terindah di Sumatera. Namun, keindahan alam tidak otomatis memperpanjang masa tinggal wisatawan atau memperbesar belanja mereka. Sektor akomodasi dan makan minum pada 2025 baru menyumbang sekitar 0,68 persen terhadap PDRB Kerinci, menunjukkan bahwa manfaat ekonominya masih sangat terbatas. Pariwisata harus diubah dari potensi yang sering dipuji menjadi kegiatan ekonomi yang benar-benar menghidupi masyarakat.

Pariwisata berkualitas membutuhkan akses yang baik, transportasi yang pasti, kebersihan, keamanan, informasi digital, pemandu terlatih, penginapan nyaman, dan kalender kegiatan yang konsisten. Wisatawan perlu ditahan lebih lama melalui paket yang menghubungkan pendakian, danau, kebun teh, kopi, kuliner, budaya, dan kehidupan desa. Masyarakat harus menjadi pelaku utama melalui homestay, kuliner, kerajinan, jasa pemandu, pertunjukan budaya, dan penjualan produk pertanian. Pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan sebesar 12,54 persen pada 2025 memperlihatkan bahwa kebutuhan mobilitas sedang meningkat. Momentum tersebut harus diikuti perbaikan konektivitas agar Kerinci lebih mudah dicapai dan produknya lebih mudah dipasarkan.

Namun, kemajuan Kerinci tidak boleh dibayar dengan kerusakan alam yang menjadi sumber penghidupannya. Sebagian besar daya tarik dan kekuatan ekonomi daerah bergantung pada hutan, kesuburan tanah, ketersediaan air, keindahan lanskap, serta ekosistem Taman Nasional Kerinci Seblat. Pertanian perlu beradaptasi terhadap perubahan iklim melalui konservasi tanah, perlindungan sumber air, penggunaan benih unggul, informasi cuaca, dan praktik budidaya berkelanjutan. Pembangunan pariwisata harus mengendalikan sampah, melindungi kawasan rentan, dan memperhatikan daya dukung lingkungan. Kerinci maju harus meninggalkan jejak hijau, bukan jejak kerusakan bagi generasi mendatang. Ketika Kabut Kerinci Menyibak M…

Di tengah harapan tersebut, kepemimpinan Bupati Monadi bersama Wakil Bupati Murison perlu dinilai secara adil dan objektif. Visi “Mewujudkan Kerinci yang Berdaya Saing, Maju dan Sejahtera” telah diarahkan pada pengembangan ekonomi inklusif berbasis pertanian, peningkatan kualitas manusia, penguatan infrastruktur, ketahanan ekologi, dan inovasi. Program bantuan sarana pertanian, pemberdayaan UMKM, pengembangan agrowisata, beasiswa, layanan kesehatan, desa digital, serta perbaikan jalan menunjukkan luasnya perhatian pemerintah daerah. Kunjungan ke desa, dialog dengan warga, dan pengawasan pekerjaan lapangan merupakan pendekatan penting karena membantu pemimpin memahami persoalan masyarakat secara langsung. Kedekatan dengan masyarakat patut diapresiasi, tetapi harus menjadi pintu masuk bagi penyelesaian masalah, bukan berhenti sebagai kegiatan seremonial dan komunikasi publik. (Pemerintah Kabupaten Kerinci)

Kunjungan lapangan dan pendekatan kepada masyarakat memang penting, tetapi ukuran utama kepemimpinan tetap terletak pada kerja nyata dalam mewujudkan program sesuai janji politik. Janji politik bukan sekadar rangkaian kalimat dalam kampanye, melainkan mandat publik yang harus diterjemahkan menjadi target, anggaran, jadwal pelaksanaan, penanggung jawab, dan hasil yang terukur. Karena itu, realisasi program unggulan seharusnya menjadi sasaran mutlak yang dikejar secara konsisten selama masa pemerintahan, sepanjang tidak bertentangan dengan hukum, kemampuan fiskal, dan kepentingan masyarakat. Pemerintah daerah perlu menjelaskan secara terbuka program yang telah berjalan, program yang tertunda, kendala yang dihadapi, serta langkah koreksi yang akan dilakukan. Kepercayaan masyarakat akan tumbuh ketika kedekatan seorang pemimpin diikuti oleh bukti bahwa keluhan didengar, persoalan diselesaikan, dan janji perlahan diwujudkan.

Kepemimpinan juga tidak cukup dinilai dari banyaknya kunjungan, ramainya pemberitaan, atau jumlah program yang diumumkan. RPJMD Kerinci memuat 28 program unggulan dan 30 program prioritas, sebuah cakupan yang luas tetapi berisiko membuat perhatian, anggaran, dan kemampuan birokrasi tersebar terlalu tipis. Pemerintah daerah perlu memilih beberapa agenda pengungkit, terutama hilirisasi pertanian, konektivitas, pariwisata terpadu, pelayanan dasar, dan reformasi birokrasi. Fokus tersebut mendesak karena industri pengolahan masih hanya menyumbang 2,86 persen dan sektor akomodasi serta makan minum baru 0,68 persen terhadap PDRB Kerinci pada 2025. Dua angka itu menunjukkan bahwa keberhasilan kepemimpinan harus diukur dari perubahan struktur ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya dari intensitas aktivitas pemerintah.

Catatan lain terlihat pada sektor konstruksi yang terkontraksi 11,24 persen pada 2025, sementara kebutuhan jalan produksi, irigasi, sanitasi, pengelolaan sampah, dan akses wisata masih besar. Kontraksi tersebut tidak otomatis berarti kegagalan pemerintah karena dapat dipengaruhi siklus proyek, perubahan belanja, dan basis pertumbuhan tahun sebelumnya, tetapi tetap menjadi tanda yang perlu dijelaskan secara terbuka. Pemerintah harus menunjukkan apakah belanja infrastruktur telah diarahkan pada proyek yang paling produktif, diselesaikan tepat waktu, dan memenuhi standar mutu. Pengawasan lapangan oleh kepala daerah merupakan langkah baik, tetapi hasil akhirnya harus diukur melalui penurunan biaya angkut, waktu tempuh, kerusakan jalan, dan peningkatan akses pelayanan. Pembangunan dinilai bukan dari berapa kali proyek ditinjau, melainkan dari seberapa lama manfaatnya dirasakan masyarakat.

Penilaian terhadap Monadi–Murison juga perlu mempertimbangkan bahwa masa kepemimpinannya masih relatif awal, sehingga terlalu cepat memberikan vonis keberhasilan atau kegagalan. Kesempatan terbesar saat ini adalah mengubah modal politik awal menjadi sistem pemerintahan yang bekerja melampaui figur kepala daerah. Pengakuan terhadap keterbukaan informasi pada tingkat Provinsi Jambi pada 2025 perlu dilanjutkan dengan penyajian capaian program, realisasi anggaran, kualitas proyek, serta indikator hasil yang mudah diakses masyarakat. Pemerintah harus berani mengumumkan target tahunan bagi produktivitas petani, industri pengolahan, jumlah dan lama tinggal wisatawan, kemiskinan, kondisi jalan, serta kualitas layanan publik. Kepemimpinan yang kuat bukan hanya menghadirkan harapan, tetapi juga menyediakan ukuran yang memungkinkan harapan itu diuji. (Keterbukaan Informasi Publik Kerinci 2025) Ketika Kabut Kerinci Menyibak M…

Kemajuan Kerinci pada akhirnya tidak ditentukan oleh satu orang, satu periode pemerintahan, atau satu proyek besar. Pemerintah memberikan arah, dunia usaha membuka pasar, perguruan tinggi menghadirkan inovasi, masyarakat menjaga alam, dan generasi muda menciptakan keberanian baru. Kolaborasi dengan Kota Sungai Penuh juga diperlukan karena ekonomi, transportasi, perdagangan, pendidikan, kesehatan, dan pariwisata kedua wilayah saling terhubung. Batas administratif tidak boleh berubah menjadi tembok yang menghambat kerja sama pembangunan. Kerinci akan bergerak lebih cepat apabila setiap unsur menjalankan perannya dalam arah yang sama.

Suatu hari, kabut pagi di kaki Gunung Kerinci mungkin akan menyibak pemandangan daerah yang benar-benar telah berubah. Petaninya sejahtera, hasil buminya diolah di daerah sendiri, wisatawannya tinggal lebih lama, hutannya tetap hijau, dan anak mudanya menemukan masa depan di tanah kelahiran. Kerinci tidak lagi hanya dikenal karena gunung tertinggi di Sumatera dan keindahan alamnya, tetapi juga karena kemampuan masyarakat mengubah potensi menjadi kemajuan. Kunjungan mendekatkan pemimpin kepada masyarakat, tetapi kerja nyata dan pemenuhan janji politiklah yang mendekatkan masyarakat kepada kesejahteraan. Ketika kabut akhirnya menyibak, masa depan Kerinci semestinya tidak lagi hanya terlihat sebagai mimpi, tetapi hadir sebagai kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh masyarakat. (*)

BeritaSatu Network