Premi Sawit Bersertifikat PTPN IV PalmCo Tembus Rp190,78 Miliar, Naik 47,87 Persen
Jakarta - Strategi sertifikasi keberlanjutan mulai memberi nilai tambah nyata bagi PTPN IV PalmCo.
Sepanjang Januari hingga September 2026, perusahaan mencatat nilai premi dari penjualan produk minyak sawit bersertifikat mencapai Rp190,78 miliar.
Angka itu melonjak 47,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Januari-September 2025, nilai premi yang diperoleh tercatat sebesar Rp129,02 miliar.
Artinya, dalam setahun PalmCo membukukan tambahan nilai ekonomi sekitar Rp61,76 miliar dari penjualan produk sawit bersertifikat.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan sertifikasi keberlanjutan tidak hanya digunakan sebagai pemenuhan standar formal.
Lebih jauh, sertifikasi dijadikan bagian dari transformasi tata kelola perusahaan.
“Kami melihat sertifikasi sebagai bagian dari transformasi tata kelola. Standar yang diterapkan harus menjadi sistem kerja yang nyata, terintegrasi dalam operasional dan mampu memastikan setiap proses berjalan secara konsisten, efisien, serta bertanggung jawab,” ujar Jatmiko.
Premi Datang dari CPO dan PKO Bersertifikat
Nilai premi tersebut diperoleh dari penjualan crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO) yang telah memenuhi standar keberlanjutan.
Produk bersertifikat biasanya memiliki posisi lebih kuat di pasar yang mensyaratkan ketertelusuran, tata kelola lingkungan, dan standar produksi tertentu.
Bagi PalmCo, kondisi tersebut membuka peluang nilai jual tambahan di luar harga dasar komoditas.
Karena itu, sertifikasi dipandang bukan semata-mata sebagai biaya kepatuhan.
Ia juga menjadi instrumen bisnis.
67 PKS dan 124 Kebun Sudah RSPO
Hingga Agustus 2026, sebanyak 67 pabrik kelapa sawit dan 124 kebun yang dikelola PalmCo telah mengantongi sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil atau RSPO.
Cakupan tersebut menunjukkan proses sertifikasi dilakukan dalam skala besar.
Tak hanya di kebun.
Standar juga diterapkan pada fasilitas pengolahan.
Dengan begitu, aspek keberlanjutan dapat dilacak dari proses produksi hingga pengolahan minyak sawit.
Standar Internasional Diperluas
Selain RSPO, PTPN IV PalmCo juga menerapkan sejumlah sistem manajemen berstandar internasional.
Di antaranya ISO 9001 untuk mutu pada 176 unit dan ISO 14001 untuk pengelolaan lingkungan pada 143 unit.
Kemudian Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau SMK3 diterapkan pada 191 unit.
PalmCo juga menerapkan ISO 22000 untuk keamanan pangan di tiga unit dan ISO 37001 untuk sistem antipenyuapan di delapan unit.
Penerapan standar ini menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat tata kelola operasional.
ESG Masuk ke Operasional Harian
Direktur Strategi dan Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untaryo mengatakan pendekatan keberlanjutan juga diterapkan melalui prinsip Environmental, Social and Governance atau ESG.
“Penerapan ESG tidak berhenti pada pemenuhan standar, tetapi bagaimana prinsip tersebut terintegrasi dalam proses bisnis,” ujar Ugun.
Salah satu implementasinya adalah pengembangan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah sawit.
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan berupaya mengurangi limbah sekaligus menghasilkan nilai tambah dari sisa proses produksi.
Bidik Pasar Ekspor
Penguatan sertifikasi juga diarahkan untuk memperluas pasar.
Pasar global saat ini semakin menuntut produk yang memiliki standar lingkungan dan ketertelusuran yang jelas.
Karena itu, PalmCo melihat sertifikasi sebagai pintu masuk untuk menjaga akses pasar ekspor sekaligus memperkuat daya saing produk sawit Indonesia.
Capaian premi Rp190,78 miliar menjadi salah satu indikator bahwa standar keberlanjutan bukan hanya berkaitan dengan citra perusahaan.
Di pasar yang semakin ketat, sertifikasi juga bisa berubah menjadi nilai ekonomi konkret.
Dan bagi PalmCo, selisih Rp61,76 miliar dalam setahun menunjukkan bahwa tata kelola yang lebih hijau mulai memiliki harga. (*)