Limbah Sawit Jadi Energi, PalmCo Perluas Biogas dan Co-firing Sejalan Dorongan BRIN

WIB
Ist

JAKARTA – Limbah sawit perlahan berubah wajah.

Yang dulu hanya dianggap sebagai sisa produksi, kini mulai dilihat sebagai sumber energi.

PTPN IV PalmCo menjadi salah satu perusahaan yang mengembangkan pemanfaatan Palm Oil Mill Effluent (POME), limbah cair hasil pengolahan kelapa sawit, menjadi biogas dan energi untuk mendukung operasional pabrik.

Langkah tersebut semakin relevan setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap besarnya potensi energi dari limbah industri sawit Indonesia.

Kepala BRIN Arif Satria menyebut POME dan tandan kosong kelapa sawit apabila dimanfaatkan secara optimal berpotensi menghasilkan listrik sekitar 3,9 gigawatt (GW).

POME Indonesia 229,9 Juta Meter Kubik

Besarnya potensi tersebut tidak lepas dari skala industri sawit Indonesia.

Arif menyebut produksi tandan buah segar sawit nasional mencapai sekitar 328,43 juta ton per tahun.

Dari proses pengolahannya, potensi POME diperkirakan mencapai sekitar 229,9 juta meter kubik setiap tahun.

POME sendiri memiliki potensi listrik sekitar 1,73 GW. Jika digabungkan dengan pemanfaatan tandan kosong sawit, potensinya meningkat menjadi sekitar 3,9 GW.

Angka tersebut membuat limbah sawit tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan.

Ada energi besar yang tersimpan di dalamnya.

Metana Bisa Ditangkap

Persoalannya, POME juga menghasilkan gas metana ketika tidak dikelola dengan baik.

Gas tersebut berkontribusi terhadap efek rumah kaca.

Teknologi biogas memungkinkan metana ditangkap sebelum terlepas ke atmosfer, kemudian digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik maupun kebutuhan energi lainnya.

Inilah pendekatan ekonomi sirkular yang didorong BRIN.

Limbah tidak berhenti menjadi limbah.

Ia masuk kembali ke dalam siklus produksi sebagai sumber energi.

PalmCo Sudah Mulai Sejak 2012

Bagi PalmCo, pendekatan tersebut bukan hal baru.

Jejaknya dapat ditarik hingga PTPN V—yang kini menjadi bagian dari PTPN IV PalmCo Regional III—ketika mengembangkan pembangkit listrik biogas berbasis POME di Tandun, Riau, pada 2012.

Pembangkit tersebut kemudian turut mengantarkan PTPN V meraih ASEAN Energy Awards pada 2014.

Artinya, eksperimen mengubah limbah sawit menjadi energi sudah dilakukan lebih dari satu dekade lalu.

Dilanjutkan Terantam

Pengembangan berikutnya dilakukan di Pabrik Kelapa Sawit Terantam, Kabupaten Kampar, Riau.

Pada 4 Maret 2019, PLT Biogas hasil kerja sama PTPN V dengan BPPT mulai beroperasi.

Kapasitasnya mencapai sekitar 700 kilowatt.

Bahan bakarnya tetap sama: POME dari proses pengolahan kelapa sawit.

Saat itu, pemanfaatan biogas juga diproyeksikan menghemat biaya produksi listrik untuk operasional pabrik.

Di sinilah manfaat ekonomi dan lingkungan bertemu.

Kini Masuk Era Co-firing

Teknologinya kemudian berkembang.

Biogas tidak hanya digunakan untuk mesin pembangkit listrik.

PalmCo juga menerapkan sistem biogas co-firing, yakni memanfaatkan biogas sebagai substitusi atau campuran bahan bakar pada fasilitas energi pabrik.

Salah satunya berada di PKS Sei Rokan, Kabupaten Rokan Hulu.

Fasilitas tersebut resmi beroperasi pada awal November 2025 dan menambah jumlah instalasi pembangkit tenaga biogas di PTPN IV Regional III menjadi enam unit.

Selain Sei Rokan, pengembangan co-firing juga dilakukan pada sejumlah unit lain, termasuk Lubuk Dalam dan Sei Tapung.

Tak Cuma Bicara Listrik

Transformasi POME juga mulai bergerak ke arah yang lebih luas.

BRIN mendorong agar biogas tidak berhenti sebagai bahan bakar pembangkit.

Teknologi diharapkan mampu memurnikan dan menyimpan gas tersebut sehingga suatu saat dapat dimanfaatkan dalam bentuk gas tabung.

Arif bahkan menyebut teknologi penyimpanan gas menjadi penting karena Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap LPG impor.

Bagi industri sawit, perkembangan teknologi tersebut membuka peluang baru.

POME bisa menjadi listrik.

Bisa menggantikan sebagian bahan bakar fosil di pabrik.

Dan ke depan berpotensi dikembangkan menjadi compressed biomethane gas.

PalmCo Kaji Bio-CBG

Pengembangan itu mulai masuk agenda PalmCo.

Perusahaan bersama BRIN dilaporkan mengkaji teknologi Bio-Compressed Biomethane Gas atau Bio-CBG berbasis limbah sawit.

Jika dapat diterapkan dalam skala besar, nilai ekonominya tidak lagi hanya berupa efisiensi listrik internal.

Biogas dapat berkembang menjadi komoditas energi tersendiri.

Jatmiko: Transformasi Sudah Berjalan Lebih dari Satu Dekade

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menilai dorongan BRIN menjadi momentum positif bagi industri sawit untuk memperkuat operasional yang lebih rendah emisi.

Bagi PalmCo, konversi limbah cair sawit telah menjadi bagian dari transformasi perusahaan selama lebih dari satu dekade.

Targetnya ganda.

Mengurangi pelepasan metana.

Sekaligus meningkatkan efisiensi.

Pemanfaatan biogas pada fasilitas pabrik juga memungkinkan konsumsi bahan bakar fosil, termasuk solar untuk genset, ditekan secara bertahap.

Delapan Fasilitas EBT

Skala pengembangan energi terbarukan PalmCo juga terus bertambah.

Dalam Laporan Tahunan PTPN IV 2024, perusahaan mencatat mengoperasikan delapan fasilitas energi baru terbarukan yang secara keseluruhan menghasilkan sekitar 5,3 MW listrik dan 64,7 juta kilokalori energi per tahun.

Fasilitas tersebut juga disebut mampu menyerap hampir 150 ribu ton CO2 ekuivalen per tahun.

PalmCo juga telah membawa proyek Biogas Cofiring POME Lubuk Dalam ke forum COP30 sebagai salah satu proyek karbon Indonesia.

Limbah Bisa Jadi Aset

Industri kelapa sawit selama ini kerap berhadapan dengan persoalan limbah dan emisi.

Namun teknologi mengubah persamaan itu.

POME yang sebelumnya harus dikelola sebagai limbah kini dapat menghasilkan energi.

Metana yang berpotensi lepas ke atmosfer dapat ditangkap.

Solar bisa dikurangi.

Listrik dapat dihasilkan.

Bahkan biogas berpotensi dikembangkan menjadi bahan bakar yang dapat disimpan dan didistribusikan.

Dari sinilah arah barunya terlihat.

Sawit tidak hanya menghasilkan minyak. Limbahnya pun mulai diperebutkan sebagai sumber energi masa depan. (*)

BeritaSatu Network