KOTA JAMBI – Meski tengah berada dalam suasana Lebaran Idulfitri 1446 H, Wali Kota Jambi, dr. Maulana, tak melonggarkan pengawasan terhadap potensi bencana banjir yang semakin sering menghantui wilayahnya. Dalam dua hari terakhir—sejak H-1 lebaran hingga Hari Raya (1 April 2025)—hujan deras mengguyur Kota Jambi dan menyebabkan genangan tinggi di sejumlah kawasan.
Maulana menegaskan bahwa meskipun momen Lebaran umumnya diwarnai euforia silaturahmi, jajaran Pemerintah Kota Jambi harus tetap waspada dan siaga penuh terhadap risiko bencana.
“Potensi banjir saat ini cukup besar, bisa datang kapan saja. Jadi semua tim harus siaga, tak kenal hari libur,” tegas Maulana, Selasa (1/4/2025).
Ia telah menginstruksikan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) serta Dinas Sosial untuk tetap stand by dan responsif menghadapi laporan bencana. Selain itu, seluruh camat dan lurah juga diperintahkan untuk melakukan pemantauan aktif di wilayah masing-masing.

Hujan deras yang mengguyur selama dua hari berturut-turut memang memunculkan kembali problem klasik di Kota Jambi: banjir dan genangan. Beberapa titik seperti kawasan Talang Banjar, Thehok, dan Kebun Handil kembali tergenang, mencerminkan buruknya sistem drainase dan minimnya ruang resapan air.
Maulana tak menampik hal itu. Ia menyadari bahwa genangan yang muncul bukan semata karena intensitas hujan, tetapi juga karena kondisi lingkungan yang semakin tidak seimbang.
“Kami sudah minta seluruh OPD terkait untuk siaga. Tim evakuasi akan standby. Tapi warga juga harus ikut siaga, terutama yang tinggal di daerah rawan genangan,” ujarnya.
Wali Kota juga mengimbau kepada masyarakat agar tidak lengah, terlebih bagi warga yang tinggal di wilayah cekungan atau kawasan dekat bantaran sungai.
“Mohon untuk warga meningkatkan kewaspadaan karena kita tidak tahu musibah ini bisa datang kapan saja. Jangan tunggu air naik baru panik,” imbuh Maulana.
Kesiapsiagaan ini menjadi bagian dari upaya Pemkot Jambi menghadapi musim penghujan yang kian tidak menentu. Pemerintah kota juga terus mendorong langkah adaptasi perubahan iklim, termasuk penataan ulang ruang kota dan program revitalisasi saluran air.
Sejumlah pengamat lingkungan menyebut bahwa genangan yang terus muncul ini juga merupakan konsekuensi dari alih fungsi lahan rawa menjadi perumahan dan bangunan beton. Sistem drainase lama tak lagi mampu menampung limpasan air hujan yang deras dan terus-menerus.
“Kita tidak bisa mengandalkan pompa air saja. Penataan ruang kota, terutama Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), harus direvisi secara menyeluruh. Kota ini harus menyerap air, bukan hanya mengalirkan,” ujar salah satu pemerhati lingkungan di Jambi.
Hingga berita ini ditulis, kondisi cuaca masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi dalam beberapa hari ke depan. Pemkot Jambi pun terus mengintensifkan pemantauan, termasuk kesiapan logistik dan jalur evakuasi di titik-titik rawan banjir.
Jambi Siaga. Lebaran tetap khidmat, namun bencana tak kenal libur.(*)
Add new comment