Gelombang Demo 'No Kings' Meluas, 8 Juta Warga AS Turun ke Jalan Kecam Trump

WIB
ist

Penolakan terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kian memanas. Jutaan warga AS turun ke jalan dalam demonstrasi besar-besaran bertajuk 'No Kings' untuk memprotes manuver sang presiden, termasuk keputusan militernya dalam perang melawan Iran.

Aksi unjuk rasa yang berlangsung pada Sabtu (28/3/2026) ini disebut-sebut sebagai salah satu demonstrasi terbesar di AS dalam beberapa tahun terakhir.

Pihak penyelenggara mengklaim jumlah peserta protes mencapai sekitar 8 juta orang. Massa super besar ini tersebar secara serentak di lebih dari 3.300 titik di seluruh 50 negara bagian AS.

Gelombang protes dilaporkan melumpuhkan jalanan kota-kota besar. Mulai dari New York, Washington DC, Atlanta, San Diego, hingga meluas ke wilayah Alaska.

Pantauan di ibu kota Washington DC, ribuan massa tampak memadati area National Mall. Mereka membentangkan berbagai spanduk penolakan yang mencolok, seperti "No Kings" (Tanpa Raja), "Stop the U.S.-Israeli War on Iran" (Hentikan Perang AS-Israel terhadap Iran), hingga desakan pembubaran lembaga imigrasi atau "ICE Out".

Mengutip AFP, para demonstran menilai kebijakan Trump saat ini semakin melenceng dan menjauh dari prinsip-prinsip demokrasi.

Sejumlah peserta aksi secara vokal menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap penggunaan kekuasaan eksekutif yang dinilai berlebihan, kebijakan militer yang memicu konflik global, hingga kondisi dalam negeri AS yang dianggap terus memburuk.

Sebagai informasi, gerakan 'No Kings' sejatinya telah muncul sejak tahun lalu. Namun, ekskalasi gerakan ini berkembang sangat pesat hingga kini menjadi salah satu motor oposisi terbesar terhadap pemerintahan Trump.

Sentimen anti-Trump ini nyatanya tak hanya menggema di seantero Amerika. Demonstrasi serupa dilaporkan juga menjalar dan terjadi di sejumlah kota di Eropa.

Pengamat politik menilai, gelombang protes raksasa ini akan menjadi tekanan politik baru yang sangat berat bagi Donald Trump. Terlebih, aksi ini meledak menjelang pemilu paruh waktu (midterm election), tepat di tengah tren menurunnya popularitas Trump dan derasnya kritik terhadap pemerintahannya.(*)

BeritaSatu Network