Oleh: Novia Rahayu — Guru SMA Negeri 2 Sungai Penuh | Mahasiswa S2 MPI IAIN Kerinci
Seorang siswa kelas XI duduk di bangkunya dengan tenang. Ia hafal urutan tahapan fotosintesis dari awal hingga akhir. Ia tahu rumus kimiawinya, tahu nama pigmennya, tahu di organel mana proses itu berlangsung. Nilainya sempurna. Namun ketika ditanya satu pertanyaan sederhana di luar teks — "Mengapa daun yang tertutup plastik selama seminggu bisa menguning?" — ia terdiam. Lama. Lalu menjawab, "Itu belum diajarkan, Bu."
Adegan seperti ini bukan anomali. Ia terjadi setiap hari, di ribuan kelas, di seluruh penjuru negeri. Dan ia menunjukkan sesuatu yang jauh lebih serius dari sekadar siswa yang kurang belajar — ia menunjukkan bahwa kita sedang menghadapi krisis literasi sains yang nyata.
Apa Itu Literasi Sains, dan Mengapa Ia Penting?
Programme for International Student Assessment (PISA) mendefinisikan literasi sains bukan sebagai kemampuan menghafal fakta ilmiah, melainkan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan ilmiah untuk memahami dunia nyata, mengidentifikasi pertanyaan ilmiah, menarik kesimpulan berbasis bukti, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
Dengan definisi itu, hasil PISA 2022 seharusnya membuat kita tidak bisa tidur nyenyak. Indonesia berada di peringkat 68 dari 81 negara dalam bidang sains. Bukan karena anak-anak Indonesia tidak pintar. Tetapi karena sistem kita mengajarkan sains sebagai kumpulan fakta untuk diingat, bukan sebagai cara berpikir untuk digunakan.
Literasi sains yang rendah bukan hanya masalah akademik. Ia adalah masalah kehidupan. Masyarakat yang tidak mampu berpikir ilmiah adalah masyarakat yang mudah terseret hoaks kesehatan, mudah tertipu produk palsu berlabel "terbukti secara klinis", dan tidak mampu menilai secara kritis kebijakan publik yang menyangkut lingkungan, pangan, dan kesehatan mereka sendiri.
Sistem yang Melahirkan Penghafal, Bukan Pemikir
Akar masalahnya bukan pada siswa. Akarnya ada pada sistem yang kita bangun bersama — sistem yang mengukur keberhasilan belajar sains dari kemampuan mengisi soal pilihan ganda dan menghafal definisi.
Dalam praktik di kelas, tekanan untuk mengejar target materi seringkali mengalahkan kedalaman pemahaman. Guru berlomba menamatkan Kompetensi Dasar sebelum ujian semester tiba. Siswa berlomba mencatat dan menghafal sebelum ulangan harian. Di tengah kesibukan itu, tidak ada ruang untuk berhenti sejenak dan bertanya: "Apa relevansi ini semua dengan kehidupan kita?"
Laboratorium yang seharusnya menjadi jantung pembelajaran sains, seringkali hanya berfungsi sebagai ruang konfirmasi — siswa melakukan praktikum bukan untuk menemukan, melainkan untuk membuktikan apa yang sudah tertulis di buku. Hasilnya, jiwa saintifik yang sesungguhnya — rasa ingin tahu, keberanian berhipotesis, kesiapan dipatahkan oleh data — tidak pernah benar-benar tumbuh.
Ironi di Era Informasi
Ironisnya, krisis ini terjadi justru di era ketika informasi ilmiah lebih mudah diakses dari sebelumnya. Siswa hari ini membawa gawai yang bisa mengakses jutaan jurnal penelitian hanya dalam hitungan detik. Namun alih-alih digunakan untuk berpikir lebih dalam, teknologi itu justru lebih sering digunakan untuk mencari jawaban instan — menyalin, menempel, selesai.
Kemunculan kecerdasan buatan memperparah dilema ini. Kini siswa bisa mendapatkan jawaban atas soal sains yang paling kompleks sekalipun tanpa perlu memahami satu konsep pun. Jika kita tidak segera menggeser orientasi pembelajaran dari "mengetahui jawaban" menjadi "memahami proses berpikir", maka generasi mendatang akan menjadi konsumen ilmu pengetahuan yang pasif — bukan produsen gagasan yang aktif.
Dari Kelas ke Kehidupan: Mengajarkan Sains Secara Bermakna
Perubahan tidak harus menunggu kebijakan dari atas. Ia bisa dimulai dari cara guru membingkai pertanyaan di kelas. Alih-alih "Sebutkan fungsi mitokondria!", coba tanyakan "Mengapa atlet maraton butuh lebih banyak mitokondria dibanding pelari 100 meter?" Pertanyaan seperti itu memaksa siswa menghubungkan konsep dengan realita — dan di situlah literasi sains sesungguhnya mulai tumbuh.
Alam sekitar adalah laboratorium terbaik yang sering kita abaikan. Di Kerinci, dengan kekayaan ekosistem yang luar biasa — hutan tropis, danau vulkanik, keanekaragaman hayati yang masih terjaga — ada begitu banyak fenomena sains yang bisa dijadikan titik masuk pembelajaran yang nyata dan bermakna. Siswa tidak perlu jauh-jauh mencari konteks. Konteks itu ada di halaman sekolah, di sungai di balik bukit, di pagi hari yang berkabut.
Dalam perspektif manajemen pendidikan, pembelajaran yang kontekstual bukan sekadar metode mengajar — ia adalah keputusan manajerial di tingkat sekolah. Kepala sekolah dan guru perlu bersama-sama merancang lingkungan belajar yang memberi ruang bagi eksplorasi, percobaan, dan pertanyaan yang tidak selalu ada jawabannya di buku teks.
Penutup: Mengajar Sains Bukan Mengisi Kepala, Tapi Menyalakan Api
William Butler Yeats pernah berkata bahwa pendidikan bukan mengisi ember, melainkan menyalakan api. Dalam konteks pembelajaran sains, ungkapan itu terasa sangat tepat dan mendesak.
Kita bisa terus mengisi kepala siswa dengan rumus dan definisi. Kita bisa terus mencetak nilai tinggi dalam ujian. Tetapi jika siswa keluar dari sekolah tanpa kemampuan berpikir kritis, tanpa kemampuan membedakan fakta dari opini, tanpa rasa ingin tahu yang hidup — maka kita telah mengisi ember yang bocor.
Sudah waktunya kita mengajarkan sains bukan sebagai hafalan untuk ujian, melainkan sebagai cara memandang dunia. Karena dunia yang sedang kita wariskan kepada mereka — penuh perubahan iklim, wabah, krisis pangan, dan revolusi teknologi — hanya bisa dihadapi oleh mereka yang tahu cara berpikir, bukan sekadar tahu cara menjawab soal.
Tentang Penulis
Novia Rahayu adalah guru di SMA Negeri 2 Sungai Penuh, Kerinci, Jambi. Saat ini sedang menempuh studi Magister Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) di IAIN Kerinci. Aktif mengamati dan merefleksikan isu-isu pembelajaran serta pendidikan di daerah.