Paradoks Daerah Hortikultura: Produksi Melimpah, Konsumsi Masyarakat Terbatas

WIB
IST

oleh : Prof. Dr. Ir. Suandi, M.Si.
(Tenaga Ahli Gubernur Jambi)

Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh merupakan dua wilayah strategis di bagian barat Provinsi Jambi yang memiliki karakteristik geografis, sosial, ekonomi, dan budaya yang khas dibandingkan daerah lain. Kedua wilayah berada di dataran tinggi Bukit Barisan dan dikelilingi oleh kawasan konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat, salah satu hutan tropis terbesar di Asia Tenggara. Kondisi alam tersebut menjadikan Kerinci dan Sungai Penuh memiliki suhu sejuk, tanah subur, serta potensi sumber daya alam yang mendukung pengembangan hortikultura, perkebunan, dan pariwisata berbasis alam (BPS Kabupaten Kerinci, 2024; Bappeda Provinsi Jambi, 2023).

Secara administratif, Kota Sungai Penuh merupakan daerah otonom hasil pemekaran dari Kabupaten Kerinci pada tahun 2008. Kedua wilayah memiliki keterkaitan erat dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, dan perdagangan. Kota Sungai Penuh berfungsi sebagai pusat perdagangan, jasa, pendidikan, dan distribusi hasil pertanian dari Kabupaten Kerinci. Sebaliknya, Kabupaten Kerinci menjadi daerah hinterland utama yang menopang pasokan pangan, hortikultura, dan komoditas pertanian bagi Kota Sungai Penuh maupun daerah lain di Provinsi Jambi (BPS Kota Sungai Penuh, 2024).

Kabupaten Kerinci dikenal sebagai salah satu sentra produksi hortikultura terbesar di Provinsi Jambi dengan komoditas unggulan seperti kentang, kubis, wortel, cabai, tomat, bawang daun, serta berbagai jenis buah-buahan dataran tinggi. Selain itu, daerah ini merupakan penghasil kayu manis (cassiavera) terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di dunia. Kondisi agroekologi dataran tinggi dengan ketinggian antara 800–1.500 meter di atas permukaan laut menjadikan produktivitas pertanian relatif tinggi dan menghasilkan produk hortikultura berkualitas baik. Potensi tersebut menjadikan sektor pertanian sebagai tulang punggung utama perekonomian masyarakat Kerinci (Dinas Pertanian Provinsi Jambi, 2023; BPS Kabupaten Kerinci, 2024).

Daerah ini memiliki potensi besar dalam pengembangan sektor pertanian dan hortikultura, terutama sayuran dan buah, sehingga peluang masyarakat untuk memanfaatkan komoditas tersebut sebenarnya sangat besar. Dengan kata lain, peningkatan konsumsi sayur dan buah akan langsung berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Pedoman Gizi Seimbang Kementerian Kesehatan RI (2024) menegaskan bahwa konsumsi sayuran dan buah-buahan merupakan salah satu indikator utama dalam mewujudkan pola makan bergizi seimbang dan pencegahan penyakit tidak menular. Di daerah sentra hortikultura seperti Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh, kondisi konsumsi masyarakat menjadi menarik untuk dianalisis karena wilayah ini dikenal sebagai penghasil utama berbagai komoditas sayuran dan buah di Provinsi Jambi. Ketersediaan produksi hortikultura tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat konsumsi masyarakat lokal. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola konsumsi dipengaruhi oleh faktor budaya makan, pendapatan, akses pangan, edukasi gizi, dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Data Riskesdas Provinsi Jambi menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi buah dan sayur penduduk usia ≥10 tahun di Kabupaten Kerinci hanya sekitar 0,4 porsi buah dan 0,8 porsi sayur per hari, sedangkan Kota Sungai Penuh memiliki rata-rata konsumsi sekitar 0,7 porsi buah dan 0,9 porsi sayur per hari. Angka tersebut masih berada di bawah rekomendasi nasional yang menganjurkan konsumsi 3–4 porsi sayur dan 2–3 porsi buah per hari. Dengan demikian, kedua daerah sebagai sentra hortikultura utama di Provinsi Jambi tetap menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat yang rendah dan belum memenuhi prinsip gizi seimbang.

Standar nasional konsumsi sayur dan buah di Indonesia mengacu pada Pedoman Gizi Seimbang Kementerian Kesehatan RI dan rekomendasi World Health Organization (WHO). WHO menganjurkan konsumsi minimal 400 gram sayur dan buah per orang per hari yang terdiri atas sekitar 250 gram sayur dan 150 gram buah. Kementerian Kesehatan RI juga menetapkan bahwa anak-anak dianjurkan mengonsumsi 300–400 gram per hari, sedangkan remaja dan orang dewasa sebanyak 400–600 gram per hari. Dalam praktik konsumsi harian, standar tersebut setara dengan 3–4 porsi sayuran dan 2–3 porsi buah setiap hari. Jika dibandingkan dengan standar tersebut, konsumsi masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh masih jauh dari ideal. Konsumsi sayur masyarakat Kerinci yang hanya sekitar 0,8 porsi per hari berarti baru mencapai sekitar 20–27% dari standar nasional.

Konsumsi buah bahkan lebih rendah, yakni sekitar 0,4 porsi per hari atau kurang dari 20% standar yang dianjurkan. Kota Sungai Penuh menunjukkan kondisi sedikit lebih baik pada konsumsi buah, tetapi tetap belum mencapai setengah dari rekomendasi nasional. Kondisi ini mengindikasikan adanya paradoks konsumsi di daerah sentra hortikultura, yaitu daerah penghasil sayur dan buah justru belum mampu mencapai konsumsi ideal bagi masyarakatnya sendiri.

Rendahnya konsumsi sayur dan buah di Kerinci dan Sungai Penuh dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial ekonomi dan budaya. Pola makan tradisional masyarakat lebih berorientasi pada konsumsi nasi dan lauk hewani dibandingkan buah segar. Sebagian besar hasil hortikultura berkualitas tinggi dijual keluar daerah karena memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding dikonsumsi sendiri. Petani cenderung menjual produk terbaik ke pasar regional atau ekspor, sedangkan konsumsi rumah tangga lebih banyak menggunakan sisa panen atau bahkan tidak mengonsumsi secara rutin. Faktor lain meliputi rendahnya edukasi gizi, kebiasaan konsumsi makanan instan, serta minimnya diversifikasi pangan sehat pada generasi muda.

Aspek kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa rendahnya konsumsi sayur dan buah dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, diabetes mellitus, penyakit jantung, dan gangguan pencernaan. Sayur dan buah merupakan sumber utama vitamin, mineral, antioksidan, dan serat pangan yang esensial bagi metabolisme tubuh serta sistem imun. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa konsumsi sayur dan buah yang cukup berkontribusi terhadap pengendalian kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol. Rendahnya konsumsi masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh menjadi tantangan serius dalam pembangunan kesehatan masyarakat.

Upaya peningkatan konsumsi dapat dilakukan melalui edukasi gizi berbasis keluarga, sekolah, dan komunitas. Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dapat diintegrasikan dengan promosi pangan lokal. Pengembangan industri olahan hortikultura seperti jus tanpa gula tambahan, salad lokal, keripik sayur sehat, dan pangan fungsional berbasis buah dapat meningkatkan minat konsumsi, terutama pada generasi muda. Diversifikasi konsumsi berbasis pangan lokal juga memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Intinya, konsumsi sayur dan buah masyarakat Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh masih berada di bawah standar nasional maupun rekomendasi WHO. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi produksi hortikultura dan perilaku konsumsi masyarakat lokal. Padahal kedua daerah memiliki sumber daya hortikultura yang melimpah dan beragam. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, sektor kesehatan, pendidikan, pertanian, dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran konsumsi pangan sehat berbasis hortikultura lokal guna mendukung kualitas kesehatan dan pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan. Pendekatan keluarga dan lingkungan sosial sangat menentukan keberhasilan peningkatan konsumsi buah dan sayur. Peran orang tua, sekolah, tenaga kesehatan, dan media sosial menjadi faktor penting dalam membangun kebiasaan makan sehat sejak usia dini. Edukasi mengenai manfaat konsumsi sayur dan buah perlu dilakukan secara berkelanjutan agar terbentuk budaya konsumsi pangan sehat di masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh (Putri & Hidayat, 2023; FAO, 2023).

Pengaruh sosial budaya daerah memiliki hubungan yang sangat kuat terhadap pola konsumsi sayuran dan buah masyarakat di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Masyarakat Kerinci secara historis memiliki budaya agraris yang erat dengan aktivitas pertanian hortikultura, namun pola konsumsi pangan sehari-hari masih dipengaruhi oleh kebiasaan turun-temurun yang menempatkan nasi sebagai makanan utama dan sumber energi pokok. Dalam budaya makan masyarakat pedesaan Kerinci, lauk-pauk dan sambal sering kali lebih dominan dibandingkan porsi sayur dan buah segar. Kondisi ini menyebabkan konsumsi sayuran memang cukup tersedia, tetapi konsumsi buah harian belum menjadi budaya konsumsi rutin pada seluruh kelompok masyarakat (BadanPusat Statistik Kabupaten Kerinci, 2024; Kementerian Kesehatan RI, 2023).

Pengaruh sosial budaya perkotaan di Kota Sungai Penuh mulai membentuk perubahan pola konsumsi masyarakat, terutama pada kelompok remaja dan usia produktif. Modernisasi, urbanisasi, serta perkembangan media digital telah mendorong masyarakat lebih menyukai makanan cepat saji, minuman berpemanis, dan makanan instan dibandingkan konsumsi sayur dan buah segar. Budaya konsumsi modern tersebut dipengaruhi oleh gaya hidup praktis, aktivitas kerja yang padat, dan persepsi bahwa makanan cepat saji lebih bergengsi serta mudah diperoleh. Kondisi ini menyebabkan konsumsi serat pangan masyarakat perkotaan cenderung menurun dibandingkan pola konsumsi tradisional masyarakat pedesaan (Nurhayati et al., 2023; Putri & Hidayat, 2023).

Perkembangan teknologi juga memperkuat pengaruh media sosial terhadap budaya konsumsi generasi muda di Kota Sungai Penuh. Tren makanan modern yang viral di media digital menyebabkan preferensi konsumsi masyarakat bergeser dari pangan lokal menuju makanan instan dan minuman tinggi gula. Restoran cepat saji, café modern, serta budaya nongkrong menjadi simbol gaya hidup perkotaan yang semakin diminati generasi muda. Kondisi tersebut membuat konsumsi buah segar tradisional seperti pisang, pepaya, alpukat, dan jeruk lokal mulai kalah bersaing dengan produk makanan modern yang dianggap lebih menarik secara sosial (Nurhayati et al., 2023).

BeritaSatu Network