Memori di Tengah Pandemi Covid-19: Saya Hanya Seorang Guru

WIB
Ist

Oleh: Thamrin B. Bachri

Sebetulnya saya tidak pandai menulis. Namun, pandemi Covid-19 beberapa tahun yang lalu memunculkan kembali banyak kenangan tentang perjalanan hidup yang ingin saya ceritakan kepada teman-teman, orang-orang terdekat, dan orang-orang tersayang. Karena itulah saya menulis.

Memasuki tahun 1979, saya diminta ayah untuk beralih profesi dari seorang glue maker di sebuah perusahaan kayu milik Jepang, Seihoku Plywood, menjadi PNS atau Pegawai Negeri Sipil. Alasannya sederhana:

“Kalau kayunya habis, terus mau bagaimana?”

Perusahaan ini pulalah yang mengirim saya belajar tentang plywood dan akuntansi di Sophia University, Tokyo, Jepang.

Menjelang akhir tahun 1979, pemerintah membuka lowongan di berbagai departemen bagi para sarjana dari berbagai jurusan untuk mengikuti seleksi masuk. Alhamdulillah, saya terjaring di Departemen Perhubungan, Direktorat Jenderal Pariwisata, dan ditempatkan di Pusdiklat Pariwisata.

Itu sesuatu yang baru, walaupun sebelumnya saya pernah bekerja di Hotel Kartika Plaza, yang kini sudah demolished, sebagai store keeper.

Di Pusdiklat Pariwisata inilah saya berkenalan dengan almarhum Nico K. Legoh atau NIL. Sosok yang wangi, rapi, dan outgoing layaknya para hotelier. Beliau mengajak saya bersama-sama membesarkan Jurusan TM atau Tourism Management di Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata Bandung atau BPLP, yang sekarang dikenal sebagai STP NHI Bandung.

Sebelumnya, kampus ini sudah beberapa kali berganti nama, yaitu APN, NHI, NHTI, BPLP, dan STP NHI Bandung. Baca: Sejarah Poltekpar NHI Bandung.

Selanjutnya, dari tiga sarjana yang dites, saya yang dipilih Pak Nico. Menurut beliau:

“Kamu itu kalau saya reparasi, tidak terlalu berat.”

Waduh, sialan.

Pada akhir tahun 1980, saya dipindahkan ke Bandung dan memulai karier sebagai guru/dosen di kampus BPLP Bandung. Saya mengajar Pengantar Ekonomi untuk semua jurusan. Mulai dari sinilah saya dijuluki Mr. Scarcity oleh Pak Donny Yudono atau DOY.

Saya juga mengajar Hotel Economics di upper class dan Tourism Project Feasibility Study di D-III TM. Di kampus ini pula saya berkenalan dengan Pak Acep Hidayat, big boss waktu itu, dan almarhum Pak Wim Pangkerego, tokoh penegak disiplin mahasiswa.

Saya juga berkesempatan mengikuti berbagai program pengembangan pengajar, antara lain kursus Akuntansi di Sophia University, Jepang; kursus Travel Agency Management di Korea Selatan; kursus Tourism Project Feasibility di German Institute of Economics, Munich; kursus Masalah Perekonomian Negara Berkembang di Arkansas, Amerika Serikat; kursus Akta III dan IV di IKIP Bandung; dan akhirnya melanjutkan pendidikan di Postgraduate Program Department of Habitational Resources, School of Hospitality & Tourism, University of Wisconsin-Stout, Wisconsin, Amerika Serikat.

Program pengembangan pengajar ini sangat strategis untuk pengayaan wawasan praktikal maupun keilmuan para pengajar yang nantinya akan ditularkan kepada para muridnya.

Harus diingat bahwa harta yang paling mahal di sebuah lembaga pendidikan adalah para gurunya. Jadi, seorang direktur sekolah yang selesai masa jabatannya harus siap kembali ke jabatan tertingginya, yaitu guru.

Yang menarik dan mungkin akan menjadi catatan penting dalam sejarah hidup kami—saya sebagai manajer asrama putra dan istri saya sebagai manajer asrama putri—adalah ketika kami diberi tugas tambahan sebagai manajer asrama, di samping tugas saya sebagai Ketua Jurusan Tourism Management.

Memang, banyak dukanya ketimbang sukanya. Tidak mungkin semuanya diceritakan satu per satu di sini.

Misalnya, tengah malam asrama pernah diserbu anak-anak Cimahi. Para satpam pada ngacir, dan saya harus menengahi mereka masih pakai kolor.

Ada pula isu bahwa asrama banyak setannya. Lucunya, Pak Demson Goeltom atau DEG, dalam pertemuan dengan orang tua murid, ketika ditanya, “Apa betul asrama banyak setannya?”, eh Pak DEG malah menunjuk saya:

“Itu setannya.”

Kemudian, kasus yang sangat serius waktu itu adalah penggunaan ganja oleh beberapa oknum mahasiswa di asrama.

Untung ada duet tangguh Thamrin B. Bachri atau TAB dan Rachmat Solahudin atau RAS, didukung oleh manajer Restoran Enhaii almarhum Pak Arthur Ibrahim atau ARI, almarhumah Ibu Upiek Agoes atau UPA, serta senat mahasiswa bersama pihak kepolisian. Masalah ganja akhirnya bisa direduksi.

Ya begitulah. Janjinya menjadi manajer asrama hanya satu tahun, malah molor menjadi hampir lima tahun.

Ternyata istri saya stres dan terlambat punya anak. Alhamdulillah, setelah kembali dari Amerika tahun 1992, Allah menitipkan anak kepada kami: Jati Rahmadi, 34 tahun, dan Alexi Ramadhan, 20 tahun.

Anak mantu kami, Julince Melale, 34 tahun. Sekarang kami sudah punya dua cucu, masing-masing Raini Illisa Rahmadi, 10 tahun, dan Dipo Haqiqa Melale Rahmadi, 7 tahun.

Itulah sekilas perjalanan karier saya sebagai guru di STP NHI Bandung. Banyak perubahan kecil yang saya lakukan. Di antaranya menjadikan asrama bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga sebagai tempat pendidikan sikap dan nilai yang dibutuhkan para calon pemimpin hotel dan pariwisata.

Saya juga memasukkan ke dalam kurikulum Seminar on Tourism atau SOT dan Seminar on Hotel atau SOH untuk meningkatkan kemampuan komprehensif para mahasiswa di bidang perhotelan dan pariwisata, serta kegiatan praktik Field Project Study atau FPS di jurusan pariwisata.

Saya ingat almarhum Pak Imam Hudaya atau IMH dan almarhum Pak Deny Mustofa atau DEM sebagai petinggi yayasan saat itu adalah orang-orang yang paling direpotkan karena usul-usul saya.

Saya mengusulkan pembelian tenda lapangan, jaket dan topi lapangan, perlengkapan mapping, meja gambar, dan theodolite untuk keperluan praktik lapang mahasiswa Tourism Management.

“Ada-ada saja lu, Thamrin,” kata mereka.

Tapi untunglah, saya masih terus dibantu dan didukung.

Sekembali dari sekolah di Amerika Serikat, saya dipindahtugaskan ke Jakarta dan duduk di berbagai jabatan. Yang terakhir, saya menjabat sebagai Direktur Jenderal Pemasaran dan Kerja Sama Luar Negeri, dengan menterinya Pak I Gede Ardika.

Beliaulah orang yang mengajari saya untuk selalu jujur dan berani mengatakan yang benar.

Pada waktu itu, Pak Putu Laksaguna atau PUL menjadi salah satu direkturnya, dan Pak Noviendi Makalam atau NOM sebagai Kepala Bagian Perencanaan.

Menjelang pensiun tahun 2009, saya diangkat menjadi Staf Ahli Menteri Bidang Kerja Sama Antar Lembaga. Tahun 2009 saya pensiun. Jabatan saya digantikan oleh Pak Putu, dan saya kembali ke jabatan tertinggi saya sebagai guru.

Sampai saat ini, saya masih diperbantukan sebagai Adjunct Lecturer di program studi yang terkait pariwisata dan menjadi tim pengajar untuk mata kuliah Strategi Promosi di Program Pascasarjana STP NHI Bandung.

Selanjutnya, tulisan ini sekaligus menjawab banyak pertanyaan dari para mahasiswa maupun pihak-pihak tertentu: apakah saya alumni STP NHI Bandung?

Dari cerita di atas, tentu jawabannya: bukan.

Saya cuma seorang guru di STP NHI Bandung. Sekolah yang telah mendukung banyak keberhasilan saya.

Saya jadi ingat dalam perjalanan ke Jakarta untuk mendampingi almarhum Nico K. Legoh atau NIL, ketika itu Ketua BPLP, untuk bertemu dengan Dirjen Pariwisata Pak Joop Ave.

Beliau mengatakan:

“Thamrin, lu itu coba ambil program D-III. Bikin paper, nanti dipertahankan di depan para pengajar Tourism Managementsupaya kamu diakui sebagai alumni. Gitu lho, Tham.”
Collegium dictum.

Saya jawab:

“Wah, apa perlu, Pak? Saya kan sudah sarjana ekonomi.”

Ternyata Pak Nico memang benar.

You are right, Sir.

Seharusnya memang diambil agar mungkin akan lebih “mesra” bergaul dengan para alumninya.

Every maybe has a maybe not.

Sekarang usia saya sudah 76 tahun. Di samping menjadi Adjunct Lecturer di Poltekpar NHI Bandung, Medan, dan Palembang, saya masih bekerja di SATU CONSULT, perusahaan yang dijalankan oleh teman-teman alumni Persatuan Mahasiswa Indonesia, Amerika Serikat.

Saya juga masih menjalankan amanah sebagai Tenaga Ahli Gubernur Jambi Bidang Pariwisata. Bagaimanapun, saya masih akan terus bekerja dengan berbekal apa pun yang masih tersisa. In Shaa Allah.

Akhirnya, saya senantiasa berpandangan bahwa ada dua kombinasi mematikan yang akan menghancurkan pariwisata, yaitu materialism dan short-termism.

Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan-Nya.

Aamiin YRA.

VIVA POLTEKPAR NHI BANDUNG.
VIVA PARIWISATA INDONESIA.
Support Sustainable Tourism.

BeritaSatu Network