Dampak Dinamis Transformasi Ekonomi Jambi terhadap Sektor Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan UMKM

WIB
Ist

Oleh: Thamrin B. Bachri

Abstrak

Makalah ini ditulis berdasarkan hasil riset kepustakaan yang berkaitan dengan pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM, beserta contoh umum mengenai dampak positif dan negatif dari sisi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan fisik.

Makalah ini juga membahas bagaimana sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM dapat berkolaborasi serta bersinergi untuk memberikan pengalaman dan jasa yang berkualitas, sehingga mampu meningkatkan lama tinggal atau length of stay dan pengeluaran wisatawan atau average spending di destinasi pariwisata tertentu.

Pada bagian pembahasan, makalah ini menempatkan kolaborasi antara pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM sebagai strategi penting dalam mendukung transformasi ekonomi Provinsi Jambi, khususnya di bidang pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM. Ketiga sektor ini memiliki potensi untuk menggerakkan perekonomian sekaligus menyerap tenaga kerja lokal.

Makalah ini disusun sebagai salah satu rujukan konseptual maupun operasional dalam upaya memahami transformasi ekonomi serta dampaknya terhadap sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM.

Kata-kata inti: Pariwisata, ekonomi kreatif, dampak ekonomi, sektor jasa/tersier, transformasi ekonomi, pariwisata, UMKM.

Pendahuluan

Apakah pariwisata itu?

Dalam membicarakan pariwisata, istilah waktu luang tidak dapat dikesampingkan. Menurut Joffre Dumazedier, sebagaimana dikutip Kelly, waktu luang merupakan persyaratan yang tidak dapat ditawar-tawar bagi terlaksananya kegiatan pariwisata.

Pendapat ini didukung oleh Mathieson dan Wall yang menyatakan bahwa pariwisata merupakan pengembangan dari pemanfaatan waktu luang, sekaligus mewakili pengembangan kesempatan untuk memilih kegiatan-kegiatan rekreasi.

Jafari kemudian memperkuat batasan tersebut dengan menyatakan bahwa pariwisata bukan hanya berkaitan dengan perpindahan sementara manusia ke suatu tempat di luar tempat asalnya serta kegiatan yang dilakukan di tempat tujuan.

Pariwisata juga berkaitan dengan usaha-usaha pariwisata, seperti hotel, akomodasi lainnya, restoran, agen perjalanan, dan berbagai fasilitas yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.

Lebih jauh, pariwisata juga berkaitan dengan dampaknya terhadap negara atau masyarakat penerima wisatawan. Dampak tersebut dapat timbul sebagai akibat dari kegiatan wisatawan maupun dari usaha pariwisata itu sendiri, baik dalam bentuk dampak sosial-ekonomi maupun lingkungan fisik.

Pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan dua sektor yang saling mengisi dan memiliki kolaborasi yang erat.

Pariwisata menyediakan pasar dan daerah tujuan wisata atau destinasi wisata. Sementara itu, ekonomi kreatif memberikan nilai tambah atau value added dalam bentuk inovasi produk, seni kriya atau kerajinan tangan, seni kuliner, serta seni pertunjukan yang membuat pengalaman wisata menjadi lebih menarik dan bernilai jual.

Inilah yang dapat disebut sebagai hilirisasi pariwisata.

Secara ekonomi, kolaborasi antara pariwisata dan ekonomi kreatif akan meningkatkan length of stay wisatawan dan meningkatkan rata-rata uang yang dikeluarkan atau average spending. Pada akhirnya, hal ini mendorong peningkatan pendapatan daerah maupun nasional, termasuk pendapatan komunitas lokal.

Karena itu, pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan dua sektor yang saling bersinergi dalam menggerakkan perekonomian melalui pemanfaatan inovasi, teknologi, kebudayaan, dan hilirisasi pariwisata.

Hilirisasi pariwisata adalah upaya mengubah sektor pariwisata dari sekadar menjual keindahan alam menjadi ekosistem ekonomi bernilai tambah tinggi.

Konsep ini bergandengan tangan dengan ekonomi kreatif, melibatkan UMKM, dan pengembangan fasilitas. Contohnya adalah mengolah produk lokal menjadi cinderamata, atau desa wisata yang memproduksi kuliner kemasan serta produk-produk lokal lainnya.

Secara singkat, sinergi antara pariwisata dan ekonomi kreatif sangat kuat karena tiga alasan.

Pertama, produk ekonomi kreatif menjadi daya tarik utama, seperti cinderamata, batik, pakaian daerah, pertunjukan seni tradisional, seni kuliner daerah, dan produk kreatif lainnya. Semua itu membuat wisatawan lebih lama tinggal dan lebih banyak berbelanja.

Kedua, kegiatan pariwisata membuka akses pasar secara langsung bagi pelaku ekonomi kreatif lokal dan UMKM sehingga meningkatkan pendapatan masyarakat lokal atau local community.

Ketiga, festival budaya, musik, dan pameran seni menciptakan pariwisata kreatif yang membuat atraksi wisata menjadi lebih beragam bagi wisatawan.

Pembahasan

Salah satu tujuan mendasar yang ingin dicapai oleh negara-negara berkembang, termasuk negara maju, adalah tercapainya pertumbuhan ekonomi yang kuat dan mantap.

Pariwisata telah memainkan peranan penting dalam perekonomian negara-negara berkembang, terutama negara-negara yang memiliki sumber-sumber pariwisata potensial.

Menurut Witt dan Moutinho, tidak dapat disangkal lagi bahwa pariwisata merupakan salah satu kegiatan usaha terbesar di dunia saat ini dan telah berkembang secara cepat.

Sebagai catatan, pariwisata global mencetak rekor tertinggi pada tahun 2025 dengan 1,52 miliar kedatangan wisatawan internasional. Pendapatan dari sektor ini melonjak mencapai US$1,9 triliun atau sekitar Rp32.000 triliun.

Di Indonesia, kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman sepanjang tahun 2025 tumbuh sebesar 10,44 persen, dengan total hampir mencapai 14 juta kunjungan yang didominasi wisatawan ASEAN.

Pendapatan sektor pariwisata Indonesia pada tahun 2025 memberikan kontribusi besar dengan total penerimaan devisa sebesar US$18,28 miliar atau sekitar Rp231 triliun.

Pendapatan devisa ini tumbuh sebesar 9,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB nasional mencapai 3,96 persen, dengan pergerakan ekonomi melalui penyediaan akomodasi serta makan dan minum yang tumbuh 7,41 persen.

Sektor pariwisata Indonesia juga berhasil menyerap 25,91 juta tenaga kerja sepanjang tahun 2025. Mayoritas tenaga kerja terserap di bidang pendukung utama, yaitu akomodasi atau perhotelan dan industri penyediaan makan-minum atau kuliner.

Lebih lanjut, berkembangnya alat transportasi yang lebih cepat dan lebih besar daya muatnya menjadikan daerah-daerah tujuan wisata yang sebelumnya dianggap jauh menjadi lebih dekat.

Meningkatnya volume perjalanan tersebut mendorong timbulnya kebutuhan penyediaan fasilitas-fasilitas pariwisata bagi para wisatawan melalui mekanisme demand dan supply.

Sementara itu, dampak ekonomi dari kegiatan pariwisata memberikan dukungan nyata dalam bentuk peningkatan pendapatan melalui perolehan devisa dari wisatawan mancanegara.

Sektor pariwisata juga menghasilkan Pendapatan Asli Daerah atau PAD, pajak dan retribusi, penciptaan lapangan kerja, dorongan ekonomi bagi UMKM, serta peningkatan pendapatan masyarakat lokal.

Di sisi lain, sektor ekonomi kreatif adalah sektor yang mengutamakan kreativitas, keahlian, dan bakat individu sebagai faktor produksi utama untuk menciptakan kesejahteraan dan lapangan kerja.

Sektor ini berfokus pada pemanfaatan dan penciptaan kekayaan intelektual, seperti ide, hak cipta, dan inovasi, untuk menghasilkan nilai ekonomi. Dengan demikian, ekonomi kreatif tidak lagi hanya bergantung pada sumber daya alam.

Karakter utama ekonomi kreatif adalah berbasis ide, bersumber dari daya kreasi yang terbarukan, produknya terus berkembang mengikuti tren pasar yang dinamis, serta bersifat kolaboratif karena memerlukan kerja sama antara kreator, teknologi, dan bisnis.

Perlu diketahui bahwa dampak sektor ekonomi kreatif secara global bernilai sekitar US$2 triliun dan menyumbang hampir 50 juta lapangan kerja. Setengah dari pekerja tersebut adalah perempuan dan didominasi oleh kelompok usia muda berusia 15–29 tahun.

Industri ekonomi kreatif ini menjadi motor penggerak utama inovasi dan pemulihan ekonomi.

Di Indonesia sendiri, ekonomi kreatif menunjukkan kinerja yang luar biasa dengan kontribusi Produk Domestik Bruto atau PDB mencapai Rp1.460 triliun, menyerap 27,4 juta tenaga kerja, dan mencatat nilai ekspor hingga US$26,68 miliar.

Perlu pula ditambahkan bahwa ekonomi kreatif memiliki kontribusi signifikan dalam mendukung pertumbuhan UMKM di Indonesia.

Nico Aditia Siagian, Solfema, dan Lili Dasa Putri pada 2025 dalam tulisan Upaya Ekonomi Kreatif dalam Mendorong Pertumbuhan UMKM di Indonesia menjelaskan bahwa dengan memanfaatkan teknologi digital, ekonomi kreatif dapat mendorong inovasi dan kreativitas, serta memperluas peluang pasar bagi UMKM.

Karena itu, penerapan ekonomi kreatif dapat meningkatkan daya saing UMKM, menciptakan lapangan kerja, dan memperluas kontribusinya terhadap perekonomian nasional maupun daerah.

Sementara itu, dari berbagai sumber yang dikumpulkan, dapat diketahui bahwa sumbangan langsung sektor pariwisata Provinsi Jambi terhadap PAD dan Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB berada di antara 1–3 persen.

Pendapatan ini diperoleh dari pajak hotel, restoran, dan tempat hiburan.

Sumbangan sektor pariwisata Provinsi Jambi terhadap PDRB tercatat sebesar 1,19 persen, sedangkan pariwisata Kota Jambi menyumbang 3,23 persen.

Badan Pusat Statistik atau BPS Jambi menggarisbawahi bahwa, dilihat dari potensi sektor pariwisata Jambi, kontribusi sektor ini terhadap PDRB masih belum signifikan.

Padahal, Provinsi Jambi memiliki sekitar 307 objek dan daya tarik wisata yang tersebar di sebelas kabupaten/kota, dengan beberapa destinasi premium atau core product seperti Kerinci, UNESCO Global Geopark Merangin, dan Candi Muaro Jambi.

Potensi tersebut juga dilengkapi dengan 51 unit hotel berbintang dan 179 unit hotel nonbintang berdasarkan data BPS 2025 yang tersebar di seluruh kabupaten/kota.

Berdasarkan data tourism satellite account atau TSA terkini, sektor pariwisata Jambi masih berada di bawah capaian nasional, yaitu 4,67 persen.

Dampak berganda atau multiplier effect dari sektor pariwisata juga sangat terasa pada PDB sektoral, seperti peningkatan sektor akomodasi dan makan-minum yang tumbuh sekitar 8 persen, serta pertumbuhan sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,5 persen sebagai akibat tingginya pergerakan wisatawan, baik asing maupun domestik.

Di Provinsi Jambi, subsektor ekonomi kreatif seperti kuliner, makanan khas daerah, olahan kopi, jajanan lokal, fesyen berupa batik Jambi dan tenun lokal, serta kriya berupa kerajinan kayu, anyaman, dan cinderamata menjadi penyumbang utama Produk Domestik Regional Bruto.

Meskipun sektor ekonomi kreatif juga menyumbang penciptaan lapangan kerja yang signifikan, struktur utama PDRB Provinsi Jambi masih sangat bergantung pada sumber daya alam dan komoditas tradisional.

Komposisi utama PDRB Jambi mencakup pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 34,49 persen; pertambangan dan penggalian sebesar 13,79 persen; perdagangan besar dan eceran sebesar 13,57 persen; serta industri pengolahan sebesar 9,77 persen.

Dari hasil pembahasan tersebut dapat diketahui beberapa hal penting.

Pertama, terdapat hubungan timbal balik atau simbiosis mutualisme antara sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM. Hubungan itu dapat diibaratkan seperti lebah dan bunga yang saling memberikan keuntungan satu sama lain.

Pariwisata berperan sebagai pasar wisatawan. Kedatangan wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara menciptakan permintaan atau demand yang besar terhadap produk, jasa, dan layanan lokal.

Di sisi lain, ekonomi kreatif berperan sebagai daya tarik atau atraksi dan nilai tambah agar wisatawan tidak sekadar berkunjung ke lokasi, tetapi juga memperoleh pengalaman yang berkesan.

Ekonomi kreatif mengemas potensi lokal, seperti seni, budaya, kuliner, dan kriya, menjadi pengalaman serta produk yang memiliki nilai jual tinggi.

Sementara itu, UMKM adalah tulang punggung pelaksana, kreator, sekaligus penjual yang mengeksekusi ide-ide kreatif tersebut di destinasi wisata. Dengan kata lain, UMKM merupakan penggerak roda produksi di lapangan.

Kedua, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Provinsi Jambi harus terus didorong sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru, meskipun saat ini struktur ekonomi Jambi masih didominasi oleh sektor pertambangan, perkebunan, dan pertanian.

Pemerintah hendaknya memfasilitasi kolaborasi lintas daerah, mendorong digitalisasi pemasaran untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, serta memperluas pasar produk lokal.

Penutup

Ekonom Paul Couchman pada 2011, dalam makalahnya Service Innovation in Australia: A Preliminary Exploration of “Cinderella Sector”, mengatakan bahwa sektor jasa sering dianggap sebagai sektor Cinderella.

Sektor jasa pada awalnya dipandang sebelah mata, seperti kisah Cinderella sebelum menemukan sepatu kacanya.

Bahkan sebelumnya, tiga ekonom, yaitu Richard Teare, Luiz Moutinho, dan Neil Morgan pada 1990 dalam buku Managing and Marketing Services in the 1990s, mengatakan bahwa sektor jasa masih merupakan kategori residual dalam analisis ekonomi dan data statistik resmi.

Kategori jasa bahkan disebut sebagai dustbin atau “tong sampah”, tempat produk jasa yang dianggap aneh ditempatkan.

Namun, sektor jasa pada akhirnya tumbuh menjadi penggerak dan penopang utama perekonomian modern, terutama setelah diterapkannya teknologi informasi sebagai tren yang sedang berkembang atau emerging patterns.

Karena itulah, diperlukan transformasi ekonomi agar sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan UMKM di Provinsi Jambi sebagai sektor tersier atau jasa dapat menjadi tulang punggung perekonomian.

Sektor ini diharapkan mampu menyumbang porsi terbesar dalam Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Jambi, sekaligus mengurangi dominasi sektor primer menuju sektor sekunder dan tersier melalui peningkatan nilai tambah atau value addition dan hilirisasi atau downstreaming.

Dengan demikian, masa depan ekonomi Jambi tidak cukup hanya bertumpu pada kekayaan alam. Jambi perlu mengubah potensi wisata, kreativitas masyarakat, produk lokal, budaya, kuliner, seni, dan UMKM menjadi sumber nilai tambah baru.

Pariwisata menyediakan panggung. Ekonomi kreatif memberi isi dan cerita. UMKM menggerakkan produksi serta distribusi manfaatnya kepada masyarakat.

Apabila ketiganya dibangun secara serius, terintegrasi, dan berkelanjutan, maka transformasi ekonomi Jambi tidak hanya akan melahirkan pertumbuhan, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat pendapatan masyarakat lokal, memperpanjang lama tinggal wisatawan, meningkatkan belanja wisatawan, dan memperluas kontribusi sektor jasa terhadap perekonomian daerah.

Rujukan Pustaka

Teare, R., Moutinho, L., Morgan, N. 1990. Marketing and Services in the 1990’s. Hlm. 74–75.

Mill, R.C., Morrison, A.M. 1992. The Tourism System. Hlm. 300–304.

Murphy, P.E. 1991. Tourism: A Community Approach. Hlm. 77–104.

Holloway, J.C. 1990. The Business of Tourism. Hlm. 174–182.

Middleton, V.T.C., Clarke, J. 2008. Marketing in Travel and Tourism. Hlm. 327–409.

Biederman, P.S., Juntai, et al. 2007. Travel and Tourism: An Industry Primer. Hlm. 410–432.

Bachri, T.B. 1995. Pariwisata: Gagasan dan Pandangan. Hlm. 61–65.

Nuryanti, W., Hwang, W.G. 2002. Private and Public Sector Partnership in Tourism Development. Hlm. 101–111.

Witt, S.F., Moutinho, L. 1989. Tourism Marketing and Management Handbook. Hlm. 99.

Conrady, R., Buck, M. 2011. Trends and Issues in Global Tourism 2011. Hlm. 155–162.

Fisk, P. 2006. Marketing Genius. Hlm. 50 dan 129.

Frank, R.H. 2008. The Economic Naturalist: Why Economics Explains Almost Everything. Hlm. 155–156.

Heath, E., Wall, G. 1992. Marketing Tourism Destinations: A Strategic Planning Approach. Hlm. 84–86.

Beckwith, H. 2000. Selling The Invisible: A Field Guide to Modern Marketing.

Pearson, T.R. 2011. The Old Rules of Marketing are Dead. Hlm. 61–62.

Honey, M. 2008. Ecotourism and Sustainable Development. Hlm. 71–77.

Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. 2026. Provinsi Jambi Dalam 2026. BPS.

Tribe, J. 1995. The Economics of Leisure and Tourism: Environments, Markets and Impacts. Hlm. 117–130.

Friedman, T.L. Hot, Flat, and Crowded: Why the World Needs a Green Revolution—And How We Can Renew Our Global Future. Hlm. 3–26.

A Social Sciences Journal, Volume 29, Number 4. 2002. ISSN 0160-7383. Analysis of Tourism Research. Hlm. 1183–1201.

BeritaSatu Network