Duet Dedy Putra-Hj Ernawati Warnai Pelantikan ISMI Bungo, Sarjana Melayu Diajak Turun Bangun Daerah

WIB
ist

Bungo - Ada pemandangan menarik di Aula Hotel Semagi Bungo, Sabtu (29/8/2026) siang.

Bupati Bungo H. Dedy Putra, S.H., M.Kn. dan Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd. berjalan beriringan memasuki lokasi pelantikan Ketua dan Pengurus ISMI Kabupaten Bungo.

Keduanya seperti menjadi duet yang mewarnai prosesi pelantikan siang itu.

Dedy datang bersama istri.

Di sisi rombongan, Ernawati mendampingi.

Belum sampai ke ruang utama, nuansa Melayu sudah terasa.

Rombongan disambut Tari Sekapur Sirih.

Para penari dengan busana Melayu menyambut kedatangan tamu. Gerakan tari yang teratur, iringan musik tradisional dan prosesi penyambutan membuat suasana di pintu masuk Hotel Semagi berubah menjadi lebih semarak.

Dedy dan Ernawati menyaksikan penyambutan itu sebelum kemudian bergerak masuk menuju aula.

Di dalam, pengurus ISMI, tamu undangan dan sejumlah tokoh telah menunggu.

Pelantikan pun dimulai.

Dari Sekapur Sirih ke Ikrar Pengurus

Nuansa Melayu, kebangsaan dan keislaman berpadu dalam rangkaian acara.

Sekapur Sirih menjadi pembuka.

Ayat suci Al-Qur'an dilantunkan.

Indonesia Raya dikumandangkan.

Shalawat ikut menggema.

Kemudian satu per satu rangkaian acara membawa peserta menuju prosesi utama: pelantikan dan pengambilan ikrar pengurus ISMI Kabupaten Bungo.

Ketua ISMI Provinsi Jambi Hj Ernawati mengambil posisi untuk memimpin prosesi.

Di hadapannya berdiri jajaran pengurus ISMI Kabupaten Bungo.

Suasana yang semula ramai berubah lebih khidmat.

Para pengurus mengikuti ikrar.

Bagi ISMI, momen tersebut bukan sekadar pengucapan kalimat formal.

Ikrar menjadi penanda bahwa sebuah kepengurusan resmi menerima amanah.

Setelahnya ada pekerjaan yang menunggu.

Ada program yang harus dibuat.

Ada masyarakat yang harus disentuh.

Dan ada nama "sarjana" yang harus dipertanggungjawabkan melalui karya.

Ernawati: Setelah Dilantik Jangan Hilang

Dalam sambutannya, Hj Ernawati mengingatkan pengurus bahwa pelantikan hanyalah pintu masuk.

Ia tak ingin ISMI berkembang menjadi organisasi yang ramai saat pengukuhan, tetapi kemudian sepi ketika panggung dibongkar.

"Pelantikan hari ini bukan akhir. Justru hari ini pekerjaan dimulai. Saya tidak ingin ISMI hanya ramai ketika dilantik, kemudian setelah itu tidak terdengar lagi. Pengurus harus bergerak, membuat program dan hadir di tengah masyarakat," kata Ernawati.

Pesan itu cukup relevan dengan gerakan yang sedang dibangun ISMI Provinsi Jambi.

Dalam beberapa waktu terakhir, organisasi tersebut tidak hanya bergerak pada konsolidasi internal.

Kampus didatangi.

Pesantren disambangi.

Anak yatim dan dhuafa dibantu.

Kegiatan kewirausahaan didorong.

Diskusi mengenai budaya Melayu mulai dihidupkan.

Bahkan sebelum pelantikan Sabtu siang, ISMI Bungo telah menggelar webinar mengenai eksistensi Adat Melayu Bungo di tengah arus globalisasi.

Bagi Ernawati, pola seperti itulah yang harus dikembangkan.

Organisasi bergerak bahkan sebelum seremoni.

Sarjana Jangan Hanya Menempelkan Gelar

Ernawati kemudian menyentil tanggung jawab kaum terdidik.

Nama ISMI membawa kata "sarjana".

Bagi dia, kata tersebut bukan sekadar status pendidikan.

Ada tanggung jawab di belakangnya.

"Sarjana jangan hanya terlihat dari gelar yang panjang di kartu nama. Ilmunya harus terasa. Kalau masyarakat punya persoalan, di situ sarjana harus ikut berpikir. Kalau daerah membutuhkan gagasan, ISMI harus mampu menyumbangkannya," kata Ernawati.

Ia meminta ISMI Bungo menghimpun kekuatan intelektual dari berbagai profesi.

Akademisi.

Pengusaha.

Praktisi hukum.

Dokter.

Guru.

Tokoh agama.

Birokrat.

Profesional.

Hingga anak-anak muda.

Mereka tidak harus mempunyai latar belakang ilmu yang sama.

Justru perbedaan disiplin itu menjadi kekuatan.

Ketika persoalan pendidikan muncul, ada sarjana pendidikan yang bisa bicara.

Ketika UMKM membutuhkan pendampingan, ada pelaku usaha.

Saat persoalan hukum muncul, ada praktisi hukum.

Dan ketika pembangunan membutuhkan kajian, akademisi bisa memberikan perspektif.

"Kalau semua kekuatan itu kita satukan, ISMI bisa menjadi organisasi yang sangat bermanfaat. Kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri," ujar Ernawati.

Dedy Putra: ISMI Harus Jadi Mitra Pembangunan Bungo

Bupati Bungo Dedy Putra menyambut positif terbentuknya kepengurusan ISMI Kabupaten Bungo.

Dedy menilai keberadaan organisasi yang menghimpun kalangan sarjana dapat menjadi kekuatan tambahan bagi pembangunan daerah.

Menurut dia, pemerintah tidak mungkin bekerja sendirian.

Pembangunan membutuhkan partisipasi banyak pihak.

Perguruan tinggi.

Dunia usaha.

Organisasi profesi.

Tokoh masyarakat.

Termasuk organisasi intelektual seperti ISMI.

"Kami menyambut baik hadirnya ISMI Kabupaten Bungo. Pemerintah daerah tentu membutuhkan pemikiran, gagasan dan kolaborasi dari semua elemen. Apalagi ISMI menghimpun banyak sarjana dengan berbagai latar belakang keilmuan," kata Dedy.

Dedy berharap pengurus yang baru dilantik tidak ragu berkomunikasi dengan pemerintah daerah.

Kalau ada gagasan yang bisa diterapkan, sampaikan.

Kalau ada program yang dapat dikerjakan bersama, bangun kolaborasi.

Bahkan jika ada kritik, menurutnya, kaum intelektual mempunyai ruang untuk menyampaikannya secara konstruktif.

"Kita tidak membutuhkan organisasi yang hanya menjadi penonton. Kalau ada pemikiran untuk kemajuan Bungo, sampaikan. Pemerintah terbuka untuk bersinergi. Kita ingin seluruh potensi yang ada di daerah ini bergerak bersama," ujarnya.

Dedy dan Ernawati Bertemu di Titik yang Sama

Di sinilah Dedy dan Ernawati seperti bertemu pada satu titik.

Dedy berbicara sebagai kepala daerah.

Ernawati bicara sebagai pemimpin organisasi sarjana.

Satu membutuhkan gagasan.

Yang lain mempunyai jaringan sumber daya manusia.

Satu mengelola pemerintahan.

Yang lain menghimpun intelektual dari berbagai profesi.

Ernawati mengatakan ISMI memang harus mampu menjadi mitra strategis pemerintah, tetapi tidak kehilangan karakter intelektualnya.

"Kalau program pemerintah bagus untuk masyarakat, kita dukung. Kalau ada yang membutuhkan masukan, sarjana harus berani memberikan pemikiran. Tetapi semuanya dilakukan dengan ilmu, data, etika dan niat membangun daerah," katanya.

Menurut Ernawati, model kemitraan seperti itulah yang ingin dibangun ISMI di seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Jambi.

Bukan hubungan yang seremonial.

Tetapi kolaborasi berdasarkan kompetensi.

Dari Pendidikan hingga Ekonomi

Ernawati juga membawa pengalaman lawatan sepanjang Sabtu pagi ke dalam semangat pelantikan.

Sebelum tiba di Hotel Semagi, ia lebih dulu mengunjungi Sekolah Alam Ya Bunayya di Dusun Buat, Kecamatan Bathin III Ulu.

Di sana ia bertemu guru dan sekitar 200 siswa.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Universitas Islam Yasni Bungo.

Di kampus tersebut, Ernawati berdialog dengan mahasiswa mengenai penguatan kapasitas kewirausahaan dan bagaimana membangun bisnis yang inovatif serta berkelanjutan.

Barulah siang harinya ia tiba di Hotel Semagi untuk melantik kepengurusan ISMI Bungo.

Tiga tempat.

Tiga kelompok berbeda.

Anak-anak sekolah.

Mahasiswa.

Lalu para sarjana.

Benang merahnya sama: sumber daya manusia.

Bagi Ernawati, investasi terbesar sebuah daerah pada akhirnya berada pada manusianya.

"Kita bicara pembangunan, ekonomi, investasi dan teknologi. Tetapi yang menggerakkan semuanya tetap manusia. Karena itu pendidikan, kualitas SDM dan karakter harus kita perkuat," katanya.

Dedy Ajak Sarjana Bantu Bungo Melompat

Dedy Putra juga berharap ISMI mampu membantu mempercepat berbagai agenda pembangunan Kabupaten Bungo.

Sebagai kepala daerah, Dedy belakangan mendorong penguatan konektivitas, investasi dan penyelenggaraan berbagai kegiatan yang dapat memperkenalkan Bungo lebih luas. Rekam jejak agenda tersebut juga terlihat dalam aktivitas Pemkab Bungo belakangan ini.

Menurutnya, persaingan antardaerah semakin terbuka.

Daerah tidak cukup hanya mempunyai potensi.

Potensi harus dikenalkan.

Investasi harus dijemput.

Sumber daya manusia harus disiapkan.

Dan berbagai jaringan harus dibuka.

"Kita ingin Bungo maju dan punya daya saing. Untuk itu pemerintah perlu dukungan semua pihak. Saya berharap teman-teman di ISMI ikut memberikan gagasan, membuka jaringan dan membantu memperkenalkan potensi Kabupaten Bungo," kata Dedy.

Ia menilai sarjana memiliki keunggulan dalam kemampuan membaca persoalan secara sistematis.

Kemampuan tersebut semestinya diterjemahkan menjadi rekomendasi konkret.

"Kalau ada persoalan, jangan hanya mengatakan ada masalah. Kita berharap kaum sarjana juga membawa pilihan solusi. Itu yang dibutuhkan dalam pembangunan," ujarnya.

Jajaran ISMI Provinsi Turun ke Bungo

Pelantikan tersebut tidak hanya dihadiri Hj Ernawati.

Sejumlah jajaran ISMI Provinsi Jambi ikut turun ke Kabupaten Bungo.

Di antaranya AR Syahbandar, Datu Nurman Jamal, Dr Zarkoni, Dr Pia, Muawwin MM, serta Sekretaris ISMI Provinsi Jambi Dr Fahmi Rasid.

Kehadiran jajaran wilayah menunjukkan pelantikan ISMI Bungo menjadi bagian dari konsolidasi organisasi di tingkat kabupaten/kota.

Fahmi sebelumnya juga mendapat tugas penting dalam rangkaian pelantikan, termasuk pada administrasi dan konsolidasi kepengurusan.

Rombongan provinsi membaur dengan pengurus daerah, pemerintah Kabupaten Bungo serta para undangan yang memenuhi aula.

Suasana sesekali formal.

Namun beberapa bagian berlangsung cair.

Percakapan antartamu terjadi di sela rangkaian acara.

Foto bersama pun menjadi salah satu momen yang tidak dilewatkan.

Budaya Melayu Dibawa ke Tengah Pelantikan

Meski membawa kata "sarjana", ISMI tidak meninggalkan identitas Melayu.

Itu terlihat sejak awal.

Tari Sekapur Sirih menyambut kedatangan Dedy Putra dan Ernawati.

Dalam rangkaian acara juga dihadirkan unsur kesenian dan lagu bernuansa Melayu.

Bagi Ernawati, identitas tersebut harus dipahami lebih jauh daripada pakaian atau seremoni.

Melayu adalah nilai.

Ada adab.

Musyawarah.

Penghormatan kepada orang tua.

Keterikatan dengan agama.

Gotong royong.

Dan berbagai nilai sosial yang telah hidup dalam masyarakat.

"Modern boleh, maju harus. Tetapi identitas jangan hilang. Anak-anak muda Melayu harus mampu berdiri di dunia modern tanpa tercerabut dari akar budaya dan agamanya," kata Ernawati.

Pesan itu pula yang membuat webinar adat Melayu yang digelar ISMI Bungo sebelum pelantikan menjadi relevan.

Globalisasi tidak mungkin dihentikan.

Yang harus dilakukan adalah memperkuat generasi agar mampu menghadapinya tanpa kehilangan identitas.

Pelantikan Selesai, Ujian Baru Dimulai

Satu demi satu rangkaian pelantikan akhirnya berjalan.

Pengurus telah berdiri.

Ikrar diucapkan.

Amanah organisasi diserahkan.

Foto bersama dilakukan.

Tetapi bagi Ernawati, ukuran keberhasilan acara tidak berada pada seberapa penuh aula Hotel Semagi siang itu.

Ukuran sebenarnya baru akan terlihat setelah tamu pulang.

Apakah ISMI Bungo bergerak?

Apakah ada gagasan yang lahir?

Apakah mahasiswa disentuh?

Apakah masyarakat mendapatkan manfaat?

Apakah organisasi mampu membantu pemerintah sekaligus tetap memberikan pemikiran kritis?

"Jangan puas karena hari ini sudah dilantik. Saya akan lebih bangga kalau beberapa bulan ke depan saya datang lagi ke Bungo dan melihat program ISMI sudah berjalan serta masyarakat merasakan manfaatnya," kata Ernawati.

Dedy menyampaikan harapan serupa.

"Kami ucapkan selamat kepada seluruh pengurus. Amanah ini tentu harus dijaga. Mari bersama-sama kita bekerja untuk masyarakat dan kemajuan Kabupaten Bungo," katanya.

Sabtu siang di Hotel Semagi itu akhirnya bukan semata-mata cerita mengenai sebuah pelantikan.

Ada dua figur yang berdiri dari posisi berbeda.

Dedy Putra, kepala daerah yang sedang membawa agenda pembangunan Bungo.

Dan Hj Ernawati, Ketua ISMI Provinsi Jambi yang tengah mengonsolidasikan kekuatan sarjana Melayu.

Keduanya bertemu dalam satu panggung.

Kalau duet pemerintah dan kaum intelektual itu berlanjut setelah seremoni selesai, pekerjaan yang lebih besar kini menunggu: membuat ilmu, jaringan dan kekuasaan benar-benar bekerja untuk masyarakat Bungo.(*)

BeritaSatu Network