Limited Edition: Ketika Keberhasilan Usaha Menemukan Makna Sosial

WIB
Ist

Oleh: Yulfi Alfikri Noer, S.IP., M.AP
Akademisi UIN STS Jambi

Kepedulian terhadap masyarakat dapat tumbuh melalui berbagai jalan. Ada yang menjalankannya sebagai konsekuensi jabatan dan tanggung jawab institusional, ada pula yang menggerakkannya melalui inisiatif pribadi, kemampuan ekonomi, dan kesadaran sosial. Keduanya memiliki arti penting, tetapi berangkat dari konteks yang berbeda. Dalam konteks inilah, perjalanan Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd., Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi, menarik untuk dicermati.

Dalam pemerintahan, melayani masyarakat merupakan kewajiban yang melekat pada jabatan. Anggaran negara dan daerah yang bersumber dari penerimaan publik harus digunakan untuk kepentingan masyarakat serta dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan. Karena itu, pelayanan publik bukan kemurahan hati, melainkan mandat. Sementara itu, kepedulian yang tumbuh dari inisiatif pribadi memperlihatkan bagaimana seseorang memilih menggunakan waktu, pemikiran, jejaring, dan sumber daya yang dimilikinya untuk kepentingan di luar dirinya sendiri.

Perjalanan Hj. Ernawati memperlihatkan dimensi kepedulian yang berkaitan dengan kapasitas usaha dan keterikatan terhadap daerah asal. Setelah membangun usaha di luar Jambi, aktivitas bisnisnya mulai diperluas ke tanah kelahiran. Melalui Bintang Global Group, pengalaman usahanya mencakup berbagai layanan penunjang perjalanan haji dan umrah, mulai dari tiket dan katering hingga jaringan hotel di Makkah dan Madinah. Pengalaman hidup yang membawanya ke Makkah dan Mesir turut menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Pada 21 Agustus 2026, Hj. Ernawati meresmikan sebuah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jambi. Kehadiran unit usaha tersebut menambah dimensi baru dalam aktivitas ekonominya di daerah asal. Namun, relevansi perkembangan ini tidak semata-mata terletak pada perluasan bisnis, melainkan juga pada komitmen yang disampaikannya untuk menghubungkan hasil usaha dengan kepentingan sosial.

Hj. Ernawati menyatakan komitmen untuk mengalokasikan 50 persen keuntungan usahanya bagi kegiatan keagamaan dan bantuan sosial, termasuk dukungan kepada anak yatim, masyarakat miskin, serta pembinaan rumah tahfiz. Gagasan tersebut membuka ruang bagi hubungan antara aktivitas ekonomi dan filantropi. Usaha tidak hanya dipandang sebagai sarana memperoleh keuntungan, tetapi juga sebagai kapasitas yang berpotensi mendukung kepentingan masyarakat.

Meski demikian, komitmen dan realisasi perlu dibedakan. Besarnya persentase yang disampaikan belum dengan sendirinya menunjukkan besarnya manfaat yang telah diterima masyarakat. Pelaksanaannya perlu dinilai melalui konsistensi alokasi, kejelasan penerima manfaat, mekanisme penyaluran dan pertanggungjawaban penggunaan dana. Pembedaan ini bukan untuk mengurangi arti sebuah komitmen, melainkan untuk menempatkannya dalam kerangka yang dapat dinilai secara objektif.

Hubungan antara kapasitas usaha dan kepedulian sosial juga terlihat melalui program umrah tanpa biaya yang menargetkan sekitar 100 penerima setiap tahun. Program tersebut ditujukan kepada sejumlah kelompok yang memiliki peran sosial dan keagamaan di lingkungannya, seperti guru mengaji, marbot masjid, pemenang MTQ, pengurus lingkungan dan penggerak kegiatan sosial-keagamaan. Program ini dapat dipahami sebagai bentuk apresiasi kepada orang-orang yang berkontribusi dalam kehidupan masyarakat. Namun, target tahunan tetap perlu dibedakan dari jumlah penerima yang benar-benar diberangkatkan. Kesinambungan program dan manfaat yang diterima menjadi bagian penting dalam menilai pelaksanaannya.

Kegiatan sosial ISMI Provinsi Jambi memberikan gambaran lain tentang upaya menerjemahkan kepedulian menjadi tindakan. Pada Juni 2026, organisasi ini menyalurkan bantuan kepada delapan panti asuhan yang menaungi 230 anak yatim dan dhuafa. Bantuan berupa beras, kebutuhan sehari-hari dan perlengkapan anak merupakan bentuk dukungan terhadap kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan konkret, meskipun keberlanjutan dan jangkauan manfaatnya tetap perlu diperhatikan.

Rangkaian kegiatan tersebut juga mengingatkan bahwa kepemimpinan tidak cukup diukur dari kemampuan menyampaikan gagasan atau memulai sebuah program. Kepemimpinan organisasi menuntut kemampuan menggerakkan orang lain, membangun kerja kolektif, membagi tanggung jawab dan menjaga kesinambungan kegiatan. Karena itu, kontribusi ISMI tidak hanya dapat dilihat melalui figur ketuanya, tetapi juga melalui keterlibatan pengurus dan anggota, kualitas pelaksanaan program, serta manfaat yang dirasakan masyarakat Jambi.

Transparansi menjadi unsur penting dalam proses tersebut. Sumber pembiayaan, mekanisme penyaluran bantuan dan pertanggungjawaban kegiatan perlu dijelaskan sesuai keadaan sebenarnya. Kegiatan yang menggunakan sumber daya pribadi, dana organisasi atau anggaran publik memiliki konsekuensi pertanggungjawaban yang berbeda. Kejelasan mengenai hal itu membantu menjaga kepercayaan sekaligus memastikan bahwa penilaian terhadap kontribusi sosial bertumpu pada informasi yang memadai.

Sebutan limited edition dapat dimaknai sebagai bentuk apresiasi terhadap kepedulian dan inisiatif sosial yang ditunjukkan Hj. Ernawati. Setiap orang memiliki cara tersendiri untuk berbagi dan memberikan manfaat bagi sesama. Ada yang melakukannya secara terbuka, ada pula yang memilih bergerak tanpa banyak diketahui orang. Karena itu, apresiasi terhadap satu sosok tidak harus mengurangi pengakuan atas kontribusi orang lain. Yang lebih penting adalah melihat bagaimana kepedulian diwujudkan dan dipertahankan melalui tindakan.

Lebih dari itu, keberhasilan membangun usaha merupakan satu capaian, sedangkan kesediaan mengarahkan sebagian hasilnya untuk kepentingan sosial merupakan pilihan yang membawa dimensi tanggung jawab berbeda. Jika dijalankan secara konsisten, transparan dan berkelanjutan, pilihan tersebut dapat menjadikan kapasitas ekonomi sebagai salah satu sumber solidaritas sosial.

Sebab, nilai kepedulian tidak ditentukan oleh seberapa istimewa seseorang disebut, melainkan oleh sejauh mana kemampuan yang dimilikinya dapat menghadirkan manfaat bagi orang lain. Di situlah pengabdian memperoleh ukuran yang lebih substantif, bukan semata-mata dari sosok yang dipuji, melainkan dari kesesuaian antara komitmen dan tindakan, serta manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

BeritaSatu Network