Kerinci - Kenduri Sko yang digelar oleh tiga desa di Kabupaten Kerinci berlangsung meriah dan sarat makna. Tradisi yang digelar di Desa Koto Dian, Telago, dan Limok Manaih itu tak sekadar seremoni, tetapi menjadi ruang hidup bagi budaya leluhur yang terus dijaga.
Sejak pagi, ribuan warga dari berbagai penjuru desa memadati lokasi acara. Mereka datang bukan hanya untuk menyaksikan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Sejumlah kepala daerah turut hadir, di antaranya Bupati Kerinci, Wakil Bupati Murison, serta Wali Kota Sungai Penuh. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan terhadap pelestarian budaya di tengah arus modernisasi.
Prosesi adat dimulai dengan penyambutan tamu kehormatan. Nuansa sakral langsung terasa, ketika irama tradisional berpadu dengan gerak ritual yang sarat makna kebersamaan.
Beragam atraksi budaya tampil memukau. Tari Nanjoak Umah menjadi salah satu sorotan, menggambarkan semangat gotong royong masyarakat dalam membangun kehidupan bersama.
Tak kalah menarik, tradisi Ngutoik Tak turut diperagakan. Ritual ini menjadi simbol kekuatan adat sekaligus penegasan bahwa nilai-nilai lokal masih hidup di tengah masyarakat.
Di sela-sela acara, generasi muda tampil percaya diri. Mereka membawakan tarian kreasi yang memadukan unsur tradisi dengan sentuhan modern. Sebuah tanda bahwa budaya tidak berhenti di masa lalu, tetapi terus bergerak mengikuti zaman.
Tokoh adat setempat menegaskan, Kenduri Sko bukan sekadar agenda tahunan.
“Ini momentum mempererat silaturahmi dan mengukuhkan kembali nilai adat sebagai identitas masyarakat Kerinci,” ujarnya.
Di tengah gemuruh musik tradisional dan riuh tepuk tangan warga, Kenduri Sko menghadirkan satu pesan kuat: budaya bukan untuk dikenang, tetapi untuk terus dijalankan.
Perhelatan ini diharapkan tetap menjadi agenda unggulan daerah, sekaligus menjadi jembatan bagi generasi muda untuk mencintai dan menjaga warisan leluhur. (*)
Moynafi