Membuka Isolasi, Menggerakkan Ekonomi, dan Menjemput Wisata Dunia di Batang Asai Sarolangun –Jangkat Merangin

WIB
IST

Bayangkan Jika Dua Kawasan Ini Terkoneksi Dengan Baik. Maka Akan Terbentuk Koridor Wisata Baru Yang Mampu Menarik Wisatawan Lokal Maupun Mancanegara

Oleh : Dr. Fahmi Rasid

Putra Daerah Kabupaten Sarolangun

PEMBANGUNAN suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan membuka konektivitas antarwilayah. Jalan bukan sekadar hamparan aspal yang menghubungkan satu tempat dengan tempat lain, melainkan urat nadi peradaban yang menentukan arah pertumbuhan ekonomi, mobilitas masyarakat, hingga kemajuan suatu kawasan.

Dalam konteks Provinsi Jambi, salah satu harapan besar masyarakat hari ini adalah terwujudnya pembangunan jalan penghubung Batang Asai Kabupaten Sarolangun menuju Jangkat Kabupaten Merangin. Jalan ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa, tetapi telah lama dipandang masyarakat sebagai jalan strategis yang mampu membuka isolasi kawasan hulu Jambi sekaligus menjadi pintu masuk pertumbuhan ekonomi dan pengembangan pariwisata daerah.

Harapan itu semakin menguat ketika isu pembukaan jalan Batang Asai–Jangkat kembali mengemuka dalam forum Diskusi Rabuan Roadshow (DRR) Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Provinsi Jambi Tahun 2026 di Kabupaten Merangin. Aspirasi masyarakat yang selama ini tersimpan perlahan menemukan ruang untuk diperjuangkan secara lebih serius.

Bagi masyarakat Sarolangun dan Merangin, konektivitas Batang Asai–Jangkat bukan hanya soal akses transportasi, tetapi tentang harapan masa depan. Selama bertahun-tahun, kawasan tersebut dikenal memiliki potensi alam luar biasa, namun terkendala aksesibilitas yang masih terbatas.

Tokoh masyarakat Sarolangun, Drs. H. Muhammad Madel, menilai bahwa pembangunan jalan Batang Asai–Jangkat merupakan kebutuhan mendesak yang tidak boleh lagi ditunda.

Menurutnya, selama ini masyarakat di kawasan hulu sering menghadapi kesulitan akses, baik untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, kesehatan, maupun pemasaran hasil pertanian dan perkebunan.

Kalau jalan ini terbuka, dampaknya luar biasa. Bukan hanya mempermudah masyarakat, tetapi juga akan menghidupkan ekonomi desa dan membuka peluang wisata alam yang selama ini sulit dijangkau,” ujarnya.

Pendapat serupa disampaikan Mantan Bupati Merangin H. Rotani Yutaka, tokoh masyarakat Merangin yang juga memiliki perhatian besar terhadap pembangunan kawasan pedalaman.

Ia menilai bahwa Batang Asai dan Jangkat merupakan kawasan yang menyimpan potensi ekonomi dan pariwisata yang sangat besar. Namun potensi itu belum berkembang optimal karena keterbatasan konektivitas antar-wilayah.

Selama ini masyarakat seperti terpisah oleh kondisi geografis. Padahal jika akses jalan terbuka, mobilitas masyarakat akan meningkat, perdagangan akan hidup, dan sektor wisata bisa berkembang pesat,” ungkapnya.

Apa yang disampaikan kedua tokoh masyarakat tersebut sesungguhnya sangat relevan dengan teori pembangunan wilayah yang dikemukakan ekonom pembangunan GUNNAR MYRDAL. Dalam teorinya tentang spread effect, Myrdal menjelaskan bahwa pembangunan infrastruktur memiliki kemampuan menciptakan efek penyebaran pertumbuhan ekonomi dari pusat-pusat pembangunan menuju wilayah yang sebelumnya tertinggal.

Artinya, ketika konektivitas wilayah dibuka, maka aktivitas ekonomi akan bergerak lebih cepat, distribusi barang menjadi lebih efisien, dan peluang investasi mulai tumbuh.

Hal senada juga dikemukakan oleh WALT WHITMAN ROSTOW dalam teori tahapan pembangunan ekonomi. Rostow menempatkan infrastruktur sebagai prasyarat penting menuju tahap take off atau kebangkitan ekonomi suatu daerah.

Tanpa jalan, tanpa aksesibilitas, maka suatu wilayah akan sulit berkembang meskipun memiliki sumber daya alam melimpah.

Karena itu, pembangunan jalan Batang Asai–Jangkat sesungguhnya bukan sekadar proyek fisik, tetapi investasi jangka panjang bagi masa depan masyarakat di dua kabupaten.

Jika jalan tersebut terhubung, maka akan terbuka peluang ekonomi baru yang selama ini terhambat. Hasil pertanian dan perkebunan masyarakat akan lebih mudah dipasarkan. Biaya transportasi menjadi lebih murah. Aktivitas perdagangan meningkat. Bahkan peluang tumbuhnya UMKM dan ekonomi kreatif akan semakin besar.

Tidak hanya itu, kawasan Batang Asai dan Jangkat juga dikenal memiliki kekayaan alam yang luar biasa indah. Kawasan pegunungan, hutan, sungai, hingga potensi wisata alam dan ekowisata yang selama ini masih tersembunyi dapat menjadi daya tarik wisata unggulan Provinsi Jambi.

Dalam perspektif pembangunan modern, sektor pariwisata kini menjadi salah satu instrumen penting penggerak ekonomi daerah. Ahli ekonomi JOHN NAISBITT bahkan pernah menyebut bahwa abad modern merupakan era ekonomi berbasis pengalaman (experience economy), di mana sektor wisata dan budaya akan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia.

Artinya, kawasan dengan kekayaan alam dan budaya yang unik memiliki peluang besar untuk berkembang jika didukung aksesibilitas yang memadai.

Jangkat selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan wisata alam unggulan di Merangin dengan panorama pegunungan yang eksotis. Sementara Batang Asai memiliki potensi alam yang tidak kalah menarik.

Bayangkan jika dua kawasan ini terkoneksi dengan baik. Maka akan terbentuk koridor wisata baru yang mampu menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Bukan tidak mungkin, kawasan hulu Jambi suatu saat dapat menjadi destinasi wisata alam kelas dunia.

Namun tentu saja, semua itu tidak akan terwujud jika pembangunan jalan hanya berhenti menjadi wacana.

Karena itu, pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Sarolangun, dan Pemerintah Kabupaten Merangin harus benar-benar fokus dan serius mengawal rencana pembangunan jalan Batang Asai–Jangkat ini.

Pembangunan jalan ini bukan semata kepentingan satu daerah, tetapi kepentingan masyarakat luas dan masa depan pembangunan Provinsi Jambi secara keseluruhan.

Pemerintah harus melihat proyek ini sebagai investasi strategis untuk membuka kawasan pertumbuhan baru di wilayah hulu Jambi.

Apalagi dalam konteks pemerataan pembangunan, kawasan pedalaman selama ini sering menghadapi ketimpangan dibanding wilayah perkotaan. Karena itu, kehadiran infrastruktur menjadi simbol keadilan pembangunan bagi masyarakat.

Dalam teori pembangunan berkeadilan yang dikemukakan AMARTYA SEN, pembangunan sejatinya bukan hanya tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi bagaimana membuka akses dan memperluas kebebasan masyarakat untuk berkembang.

Jalan merupakan salah satu bentuk akses dasar yang menentukan kualitas hidup masyarakat.

Karena itu, pembangunan jalan Batang Asai–Jangkat harus dipandang sebagai upaya memperluas akses ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat pedalaman.

Di sisi lain, keberhasilan proyek ini juga sangat ditentukan oleh sinergi kedua kepala daerah, yakni Bupati Sarolangun dan Bupati Merangin.

Kedua pemimpin daerah tersebut memiliki peran strategis dalam membangun komunikasi, menyusun perencanaan bersama, serta memperjuangkan dukungan pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat.

Pembangunan lintas wilayah seperti ini tidak akan berhasil jika berjalan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi, komitmen politik, dan kesamaan visi pembangunan.

Masyarakat tentu berharap kedua bupati mampu duduk bersama membangun langkah konkret demi kepentingan masyarakat di dua wilayah tersebut.

Sebab pembangunan sejatinya bukan soal ego kewilayahan, tetapi bagaimana menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dalam konteks ini, peran Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Provinsi Jambi Tahun 2026 juga patut diapresiasi. TAG terlihat cukup intens mengawal isu pembangunan kawasan dan konektivitas daerah, termasuk mendorong pembahasan jalan Batang Asai–Jangkat dalam berbagai forum strategis.

Kehadiran TAG menjadi penting sebagai jembatan pemikiran strategis antara pemerintah daerah, masyarakat, dan arah kebijakan pembangunan provinsi.

Melalui pendekatan kajian dan diskusi pembangunan, TAG diharapkan mampu memperkuat argumentasi akademik dan strategis bahwa pembangunan jalan ini memiliki dampak besar bagi pertumbuhan ekonomi, pengembangan pariwisata, dan pemerataan pembangunan wilayah.

Kini harapan masyarakat tinggal menunggu keberanian pemerintah untuk mengambil langkah nyata.

Masyarakat tidak membutuhkan janji yang berulang-ulang. Yang dibutuhkan adalah aksi konkret dan keberpihakan pembangunan kepada daerah-daerah yang selama ini masih menghadapi keterisolasian.

Jika jalan Batang Asai–Jangkat benar-benar terwujud, maka yang terbuka bukan hanya akses jalan, tetapi juga akses masa depan masyarakat.

Ekonomi akan bergerak. Pariwisata akan tumbuh. Investasi akan datang. Mobilitas masyarakat akan meningkat. Dan yang paling penting, harapan masyarakat pedalaman untuk menikmati pembangunan yang adil akhirnya dapat diwujudkan.

Karena sejatinya, membangun jalan berarti membangun peradaban.

Referensi :1. Badan Pusat Statistik (BPS)⁠. Data statistik ekonomi daerah, kemiskinan, konektivitas wilayah, dan sektor pertanian/perkebunan Indonesia.2. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)⁠. Referensi pembangunan infrastruktur jalan dan konektivitas wilayah sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi.3. Kementerian Pariwisata Republik Indonesia⁠, Kajian pengembangan destinasi wisata berbasis alam dan konektivitas kawasan.4. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas⁠, Konsep pembangunan wilayah, pemerataan pembangunan, dan pengembangan kawasan strategis daerah.5. Myrdal, Gunnar. Economic Theory and Underdeveloped Regions. London: Duckworth, 1957. Teori Spread Effect mengenai dampak pembangunan infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah.6. Rostow, Walt Whitman. The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto. Cambridge University Press, 1960.Menjelaskan pentingnya infrastruktur dalam tahapan kebangkitan ekonomi suatu daerah (take off stage).7. Sen, Amartya. Development as Freedom. Oxford University Press, 1999. Menjelaskan pembangunan sebagai perluasan akses, kesempatan, dan kebebasan masyarakat.8. Naisbitt, John. Megatrends Asia. Simon & Schuster, 1996.Menjelaskan pergeseran ekonomi dunia menuju ekonomi berbasis jasa, pengalaman, dan pariwisata.9. Pemerintah Provinsi Jambi, Dokumen arah pembangunan daerah dan pengembangan konektivitas kawasan hulu Provinsi Jambi.10. Hasil Diskusi Rabuan Roadshow (DRR) Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Provinsi Jambi Tahun 2026 di Kabupaten Merangin dan Sarolangun.11. Wawancara dan pandangan tokoh masyarakat: Drs. H. Muhammad Madel dan H. Rotani Yutaka12. Jambi. Data potensi kawasan pariwisata dan pengembangan ekonomi wilayah hulu Jambi.

BeritaSatu Network