PalmCo dan BRIN Kembangkan Gas Hijau dari Limbah Sawit, Targetkan 17 Instalasi CBG

WIB
IST

JAKARTA – Industri kelapa sawit Indonesia mulai memasuki babak baru. Limbah sawit yang selama ini identik dengan sisa produksi dan persoalan lingkungan, kini justru diproyeksikan menjadi sumber energi masa depan yang bernilai ekonomi tinggi.

Transformasi besar itu tengah dipercepat melalui kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional dan PTPN IV PalmCo dalam pengembangan bio compressed biomethane gas (CBG) berbasis limbah sawit di Provinsi Riau.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari agenda nasional menuju transisi energi bersih sekaligus penguatan bauran energi baru terbarukan di Indonesia.

Kajian dilakukan melalui evaluasi dan audit energi di fasilitas PKS Sei Pagar dan Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Sei Pagar yang selama ini telah memanfaatkan limbah cair sawit atau palm oil mill effluent (POME) menjadi sumber energi alternatif.

Tim peneliti BRIN dipimpin Kepala Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP), Hens Putra bersama peneliti energi BRIN, Samuel Pati Senda.

Direktur Strategy and Sustainability PTPN IV PalmCo, Ugun Untaryo, mengatakan pengembangan biogas dan compressed biomethane gas menjadi salah satu fokus utama perusahaan dalam mendukung percepatan energi baru terbarukan nasional.

“Pengembangan biogas dan CBG menjadi salah satu fokus utama PalmCo dalam mendukung energi baru terbarukan. Kami siap mendukung seluruh proses evaluasi agar potensi energi dari limbah sawit dapat dimaksimalkan dan dikembangkan secara berkelanjutan,” ujar Ugun, Jumat (8/5/2026).

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk nyata penerapan ekonomi sirkular di industri kelapa sawit. Limbah yang sebelumnya hanya dianggap residu produksi kini diolah kembali menjadi sumber energi bernilai tinggi untuk kebutuhan industri hingga transportasi.

Tak hanya berpotensi menekan emisi gas rumah kaca, pengembangan biomethane juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi operasional perusahaan sekaligus membuka peluang bisnis energi hijau berbasis sawit.

“Limbah sawit yang sebelumnya dipandang sebagai residu kini kami dorong menjadi sumber energi bernilai tinggi yang dapat dimanfaatkan untuk industri maupun transportasi,” katanya.

Sebagai bagian dari percepatan proyek energi hijau tersebut, PTPN IV PalmCo kini mulai membangun fasilitas compressed biomethane gas di sejumlah unit operasional perusahaan.

Salah satu proyek awal bahkan telah memasuki tahap pembangunan di PKS Tinjowan.

Tak berhenti di situ, PalmCo bersama sejumlah mitra strategis juga menargetkan pembangunan 17 instalasi CBG secara bertahap hingga tahun 2029 di berbagai wilayah operasional perusahaan.

Pada tahap awal tahun 2026, perusahaan menargetkan groundbreaking terhadap 10 proyek compressed biomethane gas sebelum memasuki tahap lanjutan pada 2027 hingga 2029.

Proyek tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan biomethane berkadar tinggi yang dapat menjadi substitusi gas alam maupun compressed natural gas (CNG), sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Sementara itu, Kepala PRTP BRIN, Hens Putra, menilai sektor sawit memiliki potensi besar dalam mendukung agenda energi bersih nasional.

“Energi menjadi salah satu prioritas utama nasional. Melalui kajian ini, kami ingin menghitung sekaligus meningkatkan efisiensi pemanfaatan limbah sawit agar dapat menghasilkan energi yang lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurut Hens, pengembangan compressed biomethane gas berbasis limbah sawit juga sejalan dengan agenda pembangunan rendah karbon karena mampu menekan emisi metana sekaligus menghasilkan produk turunan bernilai tambah.

Ia bahkan menyebut hasil kajian tersebut berpotensi menjadi model pengembangan energi berbasis sawit yang dapat direplikasi secara nasional.

“Kami berharap inisiatif ini dapat mendorong PTPN menjadi percontohan pengembangan kawasan berbasis inovasi dan technopark sawit di Indonesia,” katanya.

Data operasional menunjukkan pemanfaatan limbah sawit untuk energi di Sei Pagar terus mengalami peningkatan signifikan.

Sepanjang 2025, PTBg cofiring Sei Pagar menghasilkan 440.476 Nm3 biogas dengan rata-rata produksi mencapai 36.706 Nm3 per bulan.

Sementara pada 2026, produksi methane yang berhasil dimanfaatkan meningkat menjadi rata-rata 46.683 Nm3 per bulan.

Peningkatan tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam industri sawit nasional. Limbah yang dulunya menjadi persoalan kini mulai menjelma menjadi sumber energi strategis yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat arah pembangunan hijau Indonesia.

Transformasi ini sekaligus menjadi sinyal bahwa masa depan industri sawit tak lagi hanya bergantung pada minyak mentah, tetapi juga pada kemampuan mengolah limbah menjadi energi bersih bernilai tinggi. (*)

BeritaSatu Network