Bappeda Jambi Evaluasi Ekonomi Triwulan I, Hilirisasi Jadi Agenda Strategis

WIB
IST

Jambi - Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jambi menggelar Focus Group Discussion atau FGD bertema “Evaluasi Perekonomian Jambi Triwulan I 2026 dan Rekomendasi Tindak Lanjut”.

Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Bappeda Provinsi Jambi, Senin (18/5/2026). Forum ini digelar untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi Provinsi Jambi pada Triwulan I Tahun 2026 sekaligus merumuskan langkah strategis dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi daerah.

FGD menghadirkan narasumber utama Prof Dr H Haryadi, S.E., M.M.S., Guru Besar Universitas Jambi yang juga menjabat sebagai Tenaga Ahli Gubernur Jambi bidang ekonomi dan pembangunan daerah.

Kegiatan ini diikuti unsur organisasi perangkat daerah, instansi vertikal, akademisi, pelaku usaha, perbankan, serta sejumlah pemangku kepentingan pembangunan daerah.

Dalam paparannya, Prof Haryadi menjelaskan bahwa ekonomi Jambi pada Triwulan I 2026 masih menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Meski tekanan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas dunia masih membayangi, ekonomi Jambi tetap mampu tumbuh positif.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam forum tersebut, ekonomi Jambi tumbuh sebesar 5,02 persen secara tahunan atau year-on-year/y-on-y. Pertumbuhan ini terutama ditopang sektor pertanian, perdagangan, dan konsumsi domestik masyarakat.

Menurut Prof Haryadi, sektor pertanian masih menjadi tulang punggung utama ekonomi Jambi. Komoditas perkebunan seperti kelapa sawit dan karet masih berperan besar dalam menopang aktivitas ekonomi daerah.

Selain itu, momentum Ramadan dan Idulfitri turut memberi dorongan terhadap aktivitas perdagangan dan konsumsi rumah tangga. Perputaran ekonomi masyarakat meningkat seiring naiknya kebutuhan pangan, transportasi, perdagangan ritel, dan aktivitas jasa.

Meski demikian, Prof Haryadi mengingatkan bahwa Jambi tidak boleh terlalu nyaman dengan pertumbuhan berbasis komoditas primer. Ia menilai ketergantungan terhadap sektor primer membuat ekonomi daerah rentan terhadap tekanan eksternal, terutama ketika harga komoditas dunia bergejolak.

Sejumlah tantangan yang menjadi perhatian dalam forum itu antara lain perlambatan ekonomi global, fluktuasi harga komoditas primer, melemahnya sektor pertambangan, serta masih terbatasnya kontribusi industri pengolahan dalam struktur ekonomi daerah.

“Ekonomi Jambi masih memiliki resiliensi yang cukup baik. Akan tetapi, ketergantungan terhadap komoditas primer membuat ekonomi daerah rentan terhadap gejolak eksternal. Karena itu, hilirisasi industri dan diversifikasi ekonomi harus menjadi agenda strategis pembangunan daerah,” ujar Prof Haryadi.

Prof Haryadi menekankan, transformasi ekonomi Jambi harus diarahkan pada pembangunan yang lebih inklusif, bernilai tambah, dan berkelanjutan. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat kuat secara angka, tetapi juga berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.

Dalam forum tersebut juga dibahas berbagai isu strategis lainnya. Di antaranya pengendalian inflasi pangan, penguatan investasi daerah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja berkualitas, serta penguatan ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan.

Pengendalian inflasi pangan menjadi salah satu perhatian penting karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat. Sementara penguatan investasi daerah dinilai perlu terus didorong agar mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan memperkuat struktur ekonomi Jambi.

Di sisi lain, peningkatan kualitas SDM juga menjadi kebutuhan mendesak. Transformasi ekonomi tidak akan berjalan maksimal jika tidak dibarengi tenaga kerja yang produktif, adaptif, dan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia usaha.

Bappeda Provinsi Jambi menyampaikan bahwa hasil FGD ini akan menjadi masukan strategis dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah. Rekomendasi dari forum tersebut akan digunakan untuk memperkuat arah pembangunan ekonomi Provinsi Jambi ke depan.

Melalui FGD ini, pemerintah daerah berharap terbangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, perbankan, dan seluruh pemangku kepentingan. Sinergi tersebut dinilai penting untuk memperkuat fondasi ekonomi Jambi agar lebih tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan.

Forum ini sekaligus menjadi ruang refleksi bagi Provinsi Jambi. Pertumbuhan 5,02 persen menunjukkan ekonomi daerah masih bergerak. Namun, pekerjaan besar tetap menanti: mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah, memperbesar industri pengolahan, dan memastikan pertumbuhan benar-benar sampai ke masyarakat.

BeritaSatu Network