Oleh: Prof. Mukhtar Latif
(Guru besar UIN STS Jambi)
"Jika Revolusi Industri 4.0 melahirkan Artificial Intelligence dan Society 5.0 melahirkan human-centered technology, maka pendidikan Islam harus melahirkan Ulul Albab Intelligence, yaitu generasi yang memadukan kecerdasan intelektual, kecerdasan digital, kecerdasan spiritual, dan kemuliaan akhlak dalam bingkai tauhid"
A. Muharram dan Makna Hijrah Peradaban
Tahun Baru Hijriah tidaklah hanya pergantian kalender, tapi lebih mendasar adalah momentum membangun kesadaran baru tentang pentingnya perubahan. Sebagaimana hijrah Rasulullah SAW melahirkan peradaban Madinah yang berilmu dan berkeadaban, maka umat Islam abad ke-21 dituntut melakukan hijrah pendidikan untuk menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi, Society 5.0, dan Artificial Intelligence. Dalam konteks inilah konsep Ulul Albab menjadi semakin relevan sebagai model manusia unggul yang mampu memadukan kekuatan akal, kedalaman iman, keluasan ilmu, dan kemuliaan akhlak.
Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah merupakan salah satu titik balik terpenting dalam sejarah umat manusia. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan transformasi besar yang mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat beradab. Di Madinah, Rasulullah SAW membangun fondasi pendidikan, persaudaraan, keadilan sosial, dan tata kelola masyarakat yang menjadi cikal bakal lahirnya peradaban Islam dunia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda:
“Seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.”
(HR. Bukhari)
Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa hakikat hijrah adalah perubahan menuju kondisi yang lebih baik. Dalam konteks pendidikan modern, hijrah dapat dimaknai sebagai perpindahan dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, dari ketertinggalan menuju kemajuan, serta dari penyalahgunaan teknologi menuju pemanfaatan teknologi untuk kemaslahatan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd ayat 11).
Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah menjelaskan bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan, ilmu pengetahuan, dan budaya yang berkembang dalam masyarakat. Sementara Arnold J. Toynbee dalam A Study of History menegaskan bahwa kebangkitan peradaban terjadi karena kemampuan masyarakat menjawab tantangan zaman (challenge and response). Oleh karena itu, semangat hijrah pada abad ke-21 harus dimaknai sebagai hijrah peradaban melalui pendidikan.
B. Dari Revolusi Industri 4.0 Menuju Society 5.0
Perkembangan teknologi telah mengubah wajah dunia secara dramatis. Klaus Schwab dalam The Fourth Industrial Revolution menjelaskan bahwa dunia sedang memasuki Revolusi Industri 4.0 yang ditandai oleh integrasi teknologi digital, kecerdasan buatan, internet of things, big data, dan robotika dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia.
Kemajuan tersebut menghadirkan berbagai kemudahan. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, komunikasi berlangsung tanpa batas geografis, dan berbagai aktivitas menjadi lebih efisien. Namun pada saat yang sama, teknologi juga menghadirkan tantangan berupa ketergantungan digital, disrupsi pekerjaan, dan persoalan etika baru yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya.
Sebagai respons terhadap perkembangan tersebut, Jepang memperkenalkan konsep Society 5.0 melalui The 5th Science and Technology Basic Plan. Konsep ini menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Jika Revolusi Industri 4.0 berorientasi pada kemajuan teknologi, maka Society 5.0 berorientasi pada bagaimana teknologi digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Dalam perspektif Islam, konsep Society 5.0 memiliki kesesuaian dengan prinsip rahmatan lil 'alamin. Teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghadirkan kemaslahatan. Karena itu, pendidikan harus mampu menghasilkan manusia yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam menggunakannya.
C. Tantangan Generasi Muslim di Era Global dan Digital
Kemajuan teknologi digital telah membawa banyak manfaat, tetapi juga melahirkan berbagai tantangan baru. UNESCO dalam Global Education Monitoring Report 2024 menegaskan bahwa masyarakat modern menghadapi ledakan informasi yang sangat besar. Persoalannya, tidak semua informasi tersebut benar dan bermanfaat.
Tantangan pertama adalah banjir informasi (information overload). Generasi muda sering kali menerima informasi tanpa melakukan verifikasi yang memadai. Akibatnya, hoaks, disinformasi, dan manipulasi informasi berkembang dengan sangat cepat.
Tantangan kedua adalah krisis adab di ruang digital. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Islam and Secularism menjelaskan bahwa akar krisis modern adalah hilangnya adab (loss of adab). Fenomena perundungan siber, ujaran kebencian, budaya pamer, dan rendahnya etika komunikasi menunjukkan bahwa kemajuan teknologi belum tentu diikuti kemajuan moral.
Tantangan ketiga adalah menurunnya budaya membaca dan berpikir mendalam. Informasi yang serba cepat sering kali membuat generasi muda kehilangan tradisi refleksi dan kajian yang mendalam. Padahal, peradaban Islam dibangun di atas budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan meneliti.
Tantangan keempat adalah perubahan otoritas keilmuan. Pada era digital, popularitas sering kali lebih dihargai daripada kompetensi. Banyak orang lebih percaya kepada tokoh media sosial dibandingkan guru, dosen, dan ulama yang memiliki otoritas keilmuan yang jelas.
Tantangan kelima adalah perkembangan Artificial Intelligence yang semakin cepat. Teknologi ini mampu melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya hanya dapat dilakukan manusia. Karena itu, pendidikan harus mampu mempersiapkan generasi yang dapat hidup berdampingan dengan teknologi tanpa kehilangan identitas, nilai, dan kemanusiaannya.
D. Ulul Albab: Konsep Manusia Unggul dalam Al-Qur'an
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Al-Qur'an menawarkan konsep manusia unggul yang disebut Ulul Albab.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab.” (QS. Ali Imran: 190).
Menurut Imam At-Tabari dalam Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an, Ulul Albab adalah orang-orang yang menggunakan akalnya untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah dan mengambil pelajaran darinya.
Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa Ulul Albab merupakan manusia yang mampu mengintegrasikan kekuatan rasional dengan kedalaman spiritual. Mereka berpikir kritis, tetapi tetap tunduk kepada nilai-nilai ketuhanan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menegaskan bahwa kesempurnaan manusia terletak pada keseimbangan antara akal, hati, dan amal. Sementara M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan bahwa Ulul Albab adalah manusia yang mampu memahami, merenungkan, dan mengamalkan ilmu yang dimilikinya.
Karena itu, Ulul Albab dapat dipahami sebagai manusia yang memadukan kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial dalam satu kesatuan yang utuh.
E. Dari Artificial Intelligence Menuju Ulul Albab Intelligence
Perkembangan Artificial Intelligence merupakan salah satu fenomena paling penting dalam sejarah peradaban modern. Yuval Noah Harari dalam Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI menjelaskan bahwa AI akan menjadi salah satu faktor utama yang membentuk masa depan manusia.
Artificial Intelligence mampu mengolah data dalam jumlah besar, menghasilkan informasi secara cepat, dan membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan secara efisien. Namun muncul pertanyaan mendasar: jika mesin semakin cerdas, apa yang membedakan manusia dengan mesin?
Artificial Intelligence memiliki kemampuan mengolah data, tetapi tidak memiliki hikmah. Artificial Intelligence memiliki algoritma, tetapi tidak memiliki nurani. Artificial Intelligence mampu menghasilkan jawaban, tetapi tidak mampu memahami makna kehidupan.
Di sinilah konsep Ulul Albab menemukan relevansinya. Jika Artificial Intelligence merupakan kecerdasan buatan yang lahir dari kemajuan teknologi, maka Ulul Albab Intelligence merupakan kecerdasan manusia paripurna yang lahir dari integrasi antara akal, hati, ilmu, dan iman.
Artificial Intelligence menghasilkan efisiensi, sedangkan Ulul Albab Intelligence menghasilkan kebijaksanaan. Artificial Intelligence membantu manusia menemukan jawaban, sedangkan Ulul Albab Intelligence membantu manusia menemukan makna.
Dengan demikian, masa depan pendidikan Islam tidak boleh berhenti pada penguasaan teknologi, tetapi harus melahirkan manusia yang mampu mengendalikan teknologi berdasarkan nilai-nilai tauhid dan kemanusiaan.
F. Strategi Mendidik Generasi Ulul Albab di Era Society 5.0
Setelah memahami berbagai tantangan globalisasi, digitalisasi, dan perkembangan Artificial Intelligence, pertanyaan penting yang perlu dijawab adalah bagaimana strategi pendidikan yang mampu melahirkan generasi Ulul Albab pada era Society 5.0. Pertanyaan ini menjadi sangat penting karena masa depan suatu bangsa pada hakikatnya ditentukan oleh kualitas pendidikan yang dimilikinya.
John Dewey dalam Democracy and Education menjelaskan bahwa pendidikan bukan hanya persiapan menghadapi kehidupan, melainkan kehidupan itu sendiri. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang siap menghadapi perubahan dan berpartisipasi aktif dalam membangun masyarakat. Dalam konteks era digital, pendidikan harus mempersiapkan generasi yang tidak hanya mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, tetapi juga mampu mengarahkan perubahan tersebut menuju kemaslahatan.
Strategi pertama adalah memperkuat fondasi tauhid sebagai basis seluruh proses pendidikan. Dalam perspektif Islam, tauhid bukan hanya persoalan akidah, tetapi juga paradigma berpikir yang menempatkan Allah SWT sebagai sumber ilmu dan tujuan akhir seluruh aktivitas manusia. Dengan fondasi tauhid yang kuat, peserta didik akan memahami bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan amanah yang harus digunakan untuk kebaikan.
Strategi kedua adalah mengembangkan literasi digital yang kritis dan bertanggung jawab. UNESCO menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, dan literasi digital merupakan kompetensi utama abad ke-21. Oleh karena itu, peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, memverifikasi sumber, memahami etika digital, serta menggunakan teknologi secara produktif dan bertanggung jawab.
Strategi ketiga adalah mengintegrasikan wahyu dan sains dalam seluruh proses pembelajaran. Ismail Raji Al-Faruqi dalam Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar pendidikan Islam adalah dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Karena itu, pendidikan harus mengembangkan pendekatan integratif yang memadukan ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah sehingga peserta didik mampu melihat keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan keimanan.
Strategi keempat adalah memperkuat pendidikan karakter dan adab. Thomas Lickona dalam Educating for
Character menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik, tetapi juga oleh kualitas karakter peserta didik. Kejujuran, amanah, tanggung jawab, disiplin, kerja keras, empati, dan kepedulian sosial harus menjadi budaya yang hidup dalam lingkungan pendidikan.
Strategi kelima adalah mengembangkan budaya riset, inovasi, dan kreativitas. Sejarah membuktikan bahwa kemajuan peradaban Islam pada masa klasik lahir dari tradisi keilmuan yang kuat. Para ilmuwan Muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, dan Ibnu Khaldun tidak hanya mempelajari ilmu yang sudah ada, tetapi juga menghasilkan berbagai penemuan dan pemikiran baru yang memberikan kontribusi besar bagi dunia. Semangat inovasi tersebut perlu dihidupkan kembali melalui pendidikan yang mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif, melakukan penelitian, dan menghasilkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Strategi keenam adalah mempersiapkan peserta didik untuk hidup berdampingan dengan Artificial Intelligence. Pendidikan tidak boleh memosisikan AI sebagai ancaman, tetapi sebagai alat yang dapat membantu manusia meningkatkan kualitas kehidupan. Namun peserta didik juga harus memahami batas-batas teknologi dan menyadari bahwa kecerdasan buatan tidak dapat menggantikan nilai-nilai kemanusiaan, moralitas, dan spiritualitas.
Strategi ketujuh adalah memperkuat kaderisasi ulama, cendekiawan, dan pemimpin masa depan. Era digital membutuhkan sosok ulama yang tidak hanya memahami teks-teks keagamaan, tetapi juga memahami perkembangan teknologi, media digital, ekonomi global, dan dinamika masyarakat modern. Pendidikan Islam harus mampu melahirkan kader ulama dan intelektual yang menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam dan tantangan zaman.
G. Membangun Peradaban Tauhid di Era Global dan Digital
Tujuan akhir pendidikan Islam tidak saja menghasilkan lulusan yang kompeten secara akademik, tetapi membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai tauhid. Dalam perspektif Islam, peradaban yang maju bukan hanya ditandai oleh kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi juga oleh kualitas moral, keadilan sosial, dan kedalaman spiritual masyarakatnya.
Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Islam and Secularism menjelaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah melahirkan manusia beradab (insan adabi), yaitu manusia yang mengenal Tuhannya, memahami dirinya, dan mampu menempatkan segala sesuatu pada tempat yang semestinya. Pendidikan seperti inilah yang menjadi fondasi lahirnya peradaban yang sehat dan berkelanjutan.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Malik Bennabi dalam The Problem of Ideas in the Muslim World. Menurutnya, kebangkitan umat Islam tidak dimulai dari pembangunan fisik semata, tetapi dari pembangunan manusia dan budaya ilmu. Sebuah masyarakat akan mengalami kemajuan apabila memiliki sistem pendidikan yang mampu membentuk karakter, memperkuat tradisi intelektual, dan menumbuhkan semangat inovasi.
Peradaban Islam klasik tidak dibangun oleh dikotomi ilmu, tetapi oleh integrasi wahyu, akal, observasi, eksperimen, dan pengabdian kepada Allah SWT. Karena itu, kebangkitan pendidikan Islam pada abad ke-21 harus dimulai dari upaya mengembalikan ruh tauhid ke dalam seluruh cabang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam konteks inilah konsep Tauhid Ilmiah menjadi sangat relevan. Tauhid Ilmiah memandang bahwa seluruh ilmu pengetahuan berasal dari Allah SWT sebagai Al-'Alim, Yang Maha Mengetahui. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan tidak boleh dipisahkan dari nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Teknologi harus menjadi sarana untuk mendekatkan manusia kepada Allah SWT dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.
Jika Revolusi Industri 4.0 menghasilkan masyarakat digital dan Society 5.0 menghasilkan masyarakat yang berpusat pada manusia, maka pendidikan Islam harus melahirkan masyarakat yang berpusat pada nilai-nilai tauhid. Kemajuan ilmu pengetahuan harus berjalan seiring dengan kemuliaan akhlak, kekuatan spiritual, dan tanggung jawab sosial.
H. Penutup
Peringatan 1 Muharram sesungguhnya merupakan momentum hijrah peradaban. Sebagaimana Rasulullah SAW berhijrah dari Makkah ke Madinah untuk membangun masyarakat yang berilmu, beradab, dan berkeadilan, maka umat Islam pada era global dan digital juga dituntut melakukan hijrah menuju peradaban yang lebih maju dan bermartabat.
Revolusi Industri 4.0, Society 5.0, dan perkembangan Artificial Intelligence menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi dunia pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan Islam tidak boleh hanya berorientasi pada penguasaan teknologi, tetapi juga harus membangun karakter, akhlak, dan spiritualitas peserta didik.
Al-Qur'an menawarkan konsep Ulul Albab sebagai model manusia unggul yang mampu memadukan kekuatan akal, kedalaman iman, keluasan ilmu, dan kemuliaan akhlak. Generasi seperti inilah yang dibutuhkan untuk menghadapi masa depan yang semakin kompleks dan penuh perubahan.
Jika Revolusi Industri 4.0 melahirkan Artificial Intelligence dan Society 5.0 melahirkan human-centered technology, maka pendidikan Islam harus melahirkan Ulul Albab Intelligence, yaitu generasi yang memadukan kecerdasan intelektual, kecerdasan digital, kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kemuliaan akhlak dalam bingkai tauhid ilahiyah dan tauhid sosial. Generasi seperti inilah yang diharapkan mampu menjadi pemimpin masa depan, menguasai teknologi tanpa diperbudak teknologi, serta membangun peradaban yang maju sekaligus bermartabat.
Dengan demikian, makna hijrah pada abad ke-21 bukan saja berpindah tempat, tapi berpindah cara berpikir, berpindah cara belajar, dan berpindah cara membangun peradaban. Hijrah pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu memadukan wahyu, akal, ilmu pengetahuan, dan teknologi dalam satu kesatuan yang utuh demi kemaslahatan umat manusia.
Akhirnya, semangat 1 Muharram harus menjadi energi transformasi pendidikan Islam. Hijrah tidak lagi dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi perpindahan dari masyarakat informasi menuju masyarakat ilmu, dari ketergantungan teknologi menuju penguasaan teknologi, dari Artificial Intelligence menuju Ulul Albab Intelligence, serta dari kemajuan teknologi menuju kemuliaan peradaban yang diridhai Allah SWT.
Berawal dari Allah, belajar karena Allah, berkarya untuk Allah, dan kembali kepada Allah.
+++++++++
Referensi:
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. (2022). Islam and Secularism. Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).
Al-Faruqi, Ismail Raji. (2021). Islamization of Knowledge: General Principles and Work Plan. Herndon, Virginia: International Institute of Islamic Thought (IIIT).
Al-Ghazali. (2005). Ihya' Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah.
Ar-Razi, Fakhruddin. (2015). Mafatih al-Ghaib (Tafsir al-Kabir). Beirut: Dar al-Fikr.
At-Tabari, Muhammad ibn Jarir. (2001). Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an. Beirut: Muassasah al-Risalah.
Azra, Azyumardi. (2020). Islam Nusantara: Jaringan Global dan Lokal. Jakarta: Mizan.
Bennabi, Malik. (2021). The Problem of Ideas in the Muslim World. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust.
Cabinet Office, Government of Japan. (2021). Society 5.0: Human-Centered Society. Tokyo: Cabinet Office Government of Japan.
Dewey, John. (2023). Democracy and Education. New York: Macmillan Education.
Freire, Paulo. (2021). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum International Publishing Group.
Harari, Yuval Noah. (2024). Nexus: A Brief History of Information Networks from the Stone Age to AI. New York: Random House.
Ibnu Khaldun. (2005). Al-Muqaddimah. Beirut: Dar al-Fikr.
Lickona, Thomas. (2022). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.
Morin, Edgar. (2021). Seven Complex Lessons in Education for the Future. Paris: UNESCO Publishing.
Nurcholish Madjid. (2020). Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.
Quraish Shihab, M. (2023). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an. Jakarta: Lentera Hati.
Schwab, Klaus. (2016). The Fourth Industrial Revolution. Geneva: World Economic Forum.
Toynbee, Arnold J. (1972). A Study of History. London: Oxford University Press.
UNESCO. (2024). Global Education Monitoring Report 2024: Leadership in Education. Paris: UNESCO Publishing.
UNESCO. (2021). Reimagining Our Futures Together: A New Social Contract for Education. Paris: UNESCO Publishing.
World Economic Forum. (2023). The Future of Jobs Report 2023. Geneva: World Economic Forum.