Jelang Pelantikan, Hj Ernawati dan ISMI Jambi Sambangi Panti Yatim Tertua di Jambi

WIB
Ist

JAMBI — Sehari menjelang pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi, Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd., memilih datang ke tempat yang punya ruang khusus dalam perjalanan hidupnya.

Bukan hotel.

Bukan ruang rapat.

Bukan panggung seremoni.

Ia datang ke panti asuhan.

Ketua ISMI Provinsi Jambi itu menyambangi Panti Asuhan Kesejahteraan Anak Jambi, panti asuhan yatim dan dhuafa yang disebut sebagai salah satu panti tertua di Provinsi Jambi.

Panti ini berdiri sejak 1962.

Lokasinya menjadi saksi panjang pengasuhan anak-anak yatim dan dhuafa di Jambi dari masa ke masa.

Hj. Ernawati datang jelang waktu Asar. Ia mengenakan setelan dan kerudung merah. Kedatangannya didampingi Sekretaris ISMI Jambi Dr. Fahmi Rasid dan Humas ISMI Jambi Muawwin, S.Pd., M.M.

Di panti, rombongan disambut pimpinan panti, Asnawi, bersama para santri, anak-anak panti, dan pengasuh.

Suasananya hangat.

Tidak ada jarak yang kaku.

Anak-anak menyambut dengan wajah ingin tahu. Para pengasuh menyapa dengan ramah. Di sudut panti, bantuan yang dibawa ISMI Jambi mulai diturunkan.

Ada alat-alat sekolah.

Ada beras.

Ada kebutuhan harian lain yang disiapkan untuk anak-anak panti.

Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian menjelang pelantikan ISMI Provinsi Jambi yang dijadwalkan berlangsung Jumat, 19 Juni 2026.

Namun bagi Ernawati, kunjungan itu bukan sekadar agenda sosial menjelang pelantikan.

Ia seperti pulang.

Di hadapan pimpinan panti dan anak-anak asuh, Hj. Ernawati bercerita tentang masa lalunya.

Sebelum menjadi PNS, ia pernah bekerja di panti tersebut.

Ia pernah mengurus anak-anak panti.

Bermain bersama mereka.

Bersenda gurau.

Mendampingi.

Mendidik.

Dan merasakan langsung bagaimana kehidupan panti berjalan dari hari ke hari.

Karena itu, saat kembali datang, ada nostalgia yang ikut hadir.

Ernawati tidak hanya melihat bangunan panti. Ia melihat potongan masa lalu. Melihat anak-anak yang dulu pernah menjadi bagian dari perjalanannya. Melihat perjuangan pengasuh yang setiap hari mendampingi anak-anak yatim dan dhuafa dengan penuh kesabaran.

“Saya punya kenangan di tempat ini. Dulu sebelum menjadi PNS, saya pernah bekerja di sini. Saya mengurus anak-anak panti, bermain bersama mereka, dan memahami betul bagaimana kehidupan di panti,” ujar Hj. Ernawati.

Menurut Hj. Ernawati, panti asuhan bukan hanya tempat tinggal anak-anak yatim dan dhuafa.

Panti adalah rumah perjuangan.

Di sana ada anak-anak yang belajar bertahan, belajar mandiri, belajar disiplin, dan belajar menata masa depan.

Karena itu, ia berpesan agar anak-anak panti tidak pernah merasa rendah diri.

Ia meminta mereka tetap gigih, rajin belajar, menjaga akhlak, dan percaya bahwa masa depan yang baik selalu terbuka bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh.

“Belajarlah dengan serius. Jangan pernah merasa kecil. Allah punya cara terbaik untuk mengangkat derajat hamba-Nya. Yang penting terus berusaha, terus berdoa, dan terus menjaga adab,” kata Hj. Ernawati.

Ia juga mengajak anak-anak panti untuk memiliki cita-cita besar.

Menurutnya, keterbatasan hari ini tidak boleh mematahkan semangat. Banyak orang sukses lahir dari kesederhanaan. Banyak orang hebat dibentuk oleh keadaan yang tidak mudah.

Hj. Ernawati menyebut, kepedulian kepada anak yatim dan dhuafa merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan nilai keislaman yang harus terus dirawat.

“Memikirkan anak yatim, dhuafa, dan umat adalah bagian dari meneruskan perjuangan dakwah Nabi. Kita tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri. Ada anak-anak yang harus kita kuatkan bersama,” ujarnya.

Pimpinan Panti Asuhan Kesejahteraan Anak Jambi, Asnawi, menyambut baik kedatangan Hj. Ernawati dan jajaran ISMI Jambi.

Ia menyampaikan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan kepada anak-anak panti.

Menurut Asnawi, panti tersebut memiliki sejarah panjang dalam pengasuhan anak yatim dan dhuafa di Jambi.

Panti ini berdiri sejak 1962.

Dalam catatan sejarah panti, pendiriannya tidak lepas dari kepedulian istri Gubernur Jambi pertama, Yusuf Singadekane.

Sejak saat itu, panti terus berjalan dan menjadi tempat bernaung bagi anak-anak yang membutuhkan perlindungan, pendidikan, dan perhatian.

“Panti ini adalah panti tertua. Berdiri sejak 1962 dan punya sejarah panjang. Dulu didirikan oleh istri Gubernur Jambi pertama, Bapak Yusuf Singadekane,” ujar Asnawi.

Asnawi berharap perhatian terhadap panti terus mengalir. Tidak hanya dari masyarakat, tetapi juga dari pemerintah dan para tokoh daerah.

Ia secara khusus berharap perhatian dari pemerintah daerah, termasuk istri Gubernur Jambi, dapat terus hadir untuk membantu anak-anak yatim dan dhuafa.

Menurutnya, keberadaan panti seperti ini membutuhkan banyak dukungan. Mulai dari kebutuhan pendidikan, makanan, fasilitas, pembinaan, hingga perhatian moral bagi anak-anak.

Asnawi juga menyampaikan apresiasi kepada HBA, Hj. Ernawati, dan ISMI Jambi yang telah menunjukkan kepedulian kepada panti tersebut.

Ia menilai kepedulian seperti ini sangat berarti bagi anak-anak.

“Kami berterima kasih kepada Ibu Hj. Ernawati, ISMI Jambi, dan semua pihak yang peduli. Ini sangat membantu anak-anak kami. Semoga kebaikan ini menjadi berkah,” katanya.

Kunjungan ke panti asuhan ini memberi pesan penting menjelang pelantikan ISMI Jambi.

Bahwa organisasi sarjana Melayu ini tidak ingin hanya hadir dalam ruang formal.

Tidak hanya bicara adat.

Tidak hanya bicara ilmu.

Tidak hanya bicara gagasan besar.

Tetapi juga ingin turun menyentuh ruang sosial yang nyata.

Anak yatim dan dhuafa adalah bagian dari masyarakat yang membutuhkan kehadiran banyak pihak.

Mereka membutuhkan pendidikan.

Membutuhkan perhatian.

Membutuhkan motivasi.

Membutuhkan ruang untuk tumbuh dan percaya diri.

Di titik itulah ISMI Jambi ingin mulai memberi tanda: gerakan sarjana Melayu harus berpijak pada kepedulian.

Sekretaris ISMI Jambi, Dr. Fahmi Rasid, menyebut kunjungan ini menjadi bagian dari semangat ISMI untuk membangun organisasi yang dekat dengan masyarakat.

Menurutnya, pelantikan adalah momentum penting. Namun kerja sosial dan pengabdian harus menjadi napas organisasi setelah pelantikan.

“ISMI Jambi ingin hadir sebagai rumah gagasan sekaligus rumah kepedulian. Sarjana Melayu harus punya ilmu, adab, dan empati sosial,” ujar Fahmi.

Humas ISMI Jambi, Muawwin, S.Pd., M.M., menambahkan bahwa kunjungan ke panti asuhan sengaja dilakukan untuk menegaskan arah gerak ISMI Jambi.

Menurutnya, organisasi intelektual tidak boleh berjarak dari kelompok rentan.

“ISMI tidak boleh hanya hidup di forum. ISMI harus hadir di ruang-ruang masyarakat. Anak-anak panti ini adalah masa depan. Mereka harus diberi motivasi, dukungan, dan harapan,” kata Muawwin.

Dalam kunjungan tersebut, ISMI Jambi membawa sejumlah bantuan untuk anak-anak panti.

Bantuan itu antara lain alat-alat sekolah, beras, dan kebutuhan lain.

Bagi anak-anak panti, bantuan alat sekolah menjadi penting karena langsung berkaitan dengan aktivitas pendidikan.

Buku, alat tulis, dan perlengkapan belajar bukan sekadar barang.

Ia menjadi penunjang mimpi.

Menjadi teman belajar.

Menjadi bagian kecil dari perjalanan anak-anak panti menuju masa depan.

Sementara bantuan beras dan kebutuhan harian diharapkan dapat membantu operasional panti dalam memenuhi kebutuhan anak-anak asuh.

Ernawati berharap bantuan tersebut tidak dilihat dari jumlahnya semata.

Lebih dari itu, ia ingin kehadiran ISMI Jambi memberi semangat dan mempererat hubungan dengan panti.

“Bantuan ini mungkin sederhana, tetapi kami ingin hadir. Kami ingin anak-anak tahu bahwa mereka tidak sendiri. Banyak orang yang peduli dan mendoakan mereka,” ujarnya.

Suasana kunjungan berlangsung akrab.

Hj. Ernawati terlihat berbincang dengan anak-anak panti. Ia menanyakan sekolah mereka, aktivitas harian, dan cita-cita.

Beberapa anak tampak tersenyum malu-malu.

Sebagian lainnya mendengarkan nasihat dengan serius.

Di ruang itu, pelantikan ISMI Jambi yang akan digelar esok hari terasa mendapat makna lain.

Sebab sebelum berdiri di panggung resmi, Hj. Ernawati memilih duduk bersama anak-anak yatim dan dhuafa.

Sebelum berbicara tentang organisasi, ia mengingatkan pentingnya kasih sayang.

Sebelum menerima amanah formal sebagai Ketua ISMI Jambi, ia kembali ke tempat yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

ISMI Jambi akan dilantik pada Jumat, 19 Juni 2026.

Pelantikan itu tentu menjadi agenda organisasi.

Namun kunjungan ke panti asuhan memberi penegasan bahwa amanah organisasi tidak boleh berhenti pada struktur.

Tidak cukup hanya ada ketua.

Tidak cukup hanya ada sekretaris.

Tidak cukup hanya ada pengurus.

Yang lebih penting adalah gerak.

Gerak untuk ilmu.

Gerak untuk adat.

Gerak untuk masyarakat.

Gerak untuk anak-anak yang membutuhkan perhatian.

Bagi Hj. Ernawati, kepemimpinan di ISMI Jambi harus dibangun dengan dasar kepedulian.

Sarjana Melayu tidak boleh hanya bangga pada gelar.

Sarjana Melayu harus memberi manfaat.

Kepada kampus.

Kepada masyarakat.

Kepada perempuan.

Kepada anak muda.

Kepada anak yatim dan dhuafa.

Kepada umat.

Di Panti Asuhan Kesejahteraan Anak Jambi, pesan itu terasa sederhana.

Pelantikan boleh berlangsung di panggung besar.

Tetapi hati organisasi harus tetap dekat dengan ruang-ruang kecil tempat masyarakat berharap.

Dan sore itu, menjelang Asar, ISMI Jambi memulai langkahnya dari sana.

Dari panti tertua.

Dari anak-anak yatim dan dhuafa.

Dari nostalgia seorang Hj. Ernawati.

Dari bantuan alat sekolah dan beras.

Dari pesan agar anak-anak terus belajar, menjaga adab, dan percaya bahwa Allah selalu punya jalan terbaik untuk mengangkat derajat hamba-Nya.(*)


BeritaSatu Network