Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, M.Pd.
(Guru Besar UIN STS Jambi)
(Meningkatnya Usia Harapan Hidup berkorelasi dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat)
Di tengah berbagai persoalan ekonomi yang masih membayangi kehidupan masyarakat, ada satu indikator pembangunan yang kerap kurang mendapat sorotan, yakni usia harapan hidup. Padahal, indikator ini merupakan salah satu tolok ukur utama dalam menilai mutu kehidupan penduduk. Semakin tinggi usia harapan hidup, semakin baik pula gambaran kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan suatu wilayah.
Data terkini memperlihatkan bahwa usia harapan hidup masyarakat Provinsi Jambi terus bergerak naik. Pada tahun 2023, usia harapan hidup masyarakat Jambi tercatat 73,84 tahun. Angka ini meningkat menjadi 74,06 tahun pada tahun 2024 dan kembali bertambah menjadi 74,39 tahun pada tahun 2025. Dalam kurun dua tahun terakhir, kenaikannya mencapai 0,55 tahun. Secara statistik, peningkatan ini tampak kecil, tetapi secara substantif memiliki arti yang sangat besar. Dalam kerangka pembangunan manusia, naiknya usia harapan hidup menunjukkan adanya perbaikan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Kenaikan usia harapan hidup tentu tidak muncul begitu saja. Perubahan ini merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari semakin mudahnya akses layanan kesehatan, membaiknya mutu gizi masyarakat, meningkatnya tingkat pendidikan, hingga bertambahnya kemampuan ekonomi keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar kehidupan.
Dalam kajian akademik, peningkatan usia harapan hidup dapat dipahami melalui beberapa teori pembangunan manusia. Pertama, Capability Approach yang dikemukakan Amartya Sen. Teori ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga dari kemampuan manusia untuk menjalani hidup yang sehat, berilmu, dan produktif. Semakin panjang usia seseorang, semakin besar pula peluangnya untuk mengembangkan potensi diri dan memberi manfaat bagi lingkungan sosialnya.
Kedua, Human Capital Theory yang diperkenalkan Theodore Schultz dan Gary Becker. Teori ini menjelaskan bahwa investasi pada bidang pendidikan dan kesehatan akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Masyarakat yang sehat umumnya lebih produktif, memiliki pendapatan yang lebih baik, dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Ketiga, Social Determinants of Health Theory yang dikembangkan WHO. Teori ini menerangkan bahwa kondisi kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial, seperti pendidikan, pendapatan, pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, sanitasi, serta akses terhadap pelayanan publik. Dengan demikian, usia harapan hidup yang tinggi bukan hanya hasil dari layanan kesehatan, melainkan juga buah dari meningkatnya kualitas kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Menariknya, peningkatan usia harapan hidup di Jambi juga berjalan seiring dengan membaiknya kondisi kemiskinan. Pada tahun 2025, tingkat kemiskinan Provinsi Jambi tercatat sekitar 6,89 persen atau setara dengan satu penduduk miskin dari setiap lima belas penduduk. Kondisi yang lebih baik terlihat di Kabupaten Muaro Jambi. Daerah ini memiliki tingkat kemiskinan sekitar 4,32 persen atau setara dengan satu penduduk miskin dari setiap dua puluh dua penduduk. Pada saat yang sama, usia harapan hidup masyarakat Muaro Jambi mencapai sekitar 75 tahun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Provinsi Jambi.
Fenomena tersebut memberi pesan penting bahwa penurunan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat memiliki kaitan erat dengan perbaikan kualitas kesehatan. Ketika pendapatan masyarakat meningkat, akses terhadap makanan bergizi menjadi lebih baik, kemampuan memperoleh layanan kesehatan ikut membaik, dan kualitas lingkungan tempat tinggal pun mengalami perbaikan. Seluruh faktor itu pada akhirnya mendorong naiknya usia harapan hidup masyarakat.
Selain Muaro Jambi, sejumlah daerah lain juga menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan. Kota Jambi mencatat usia harapan hidup tertinggi di Provinsi Jambi dengan angka di atas 75 tahun. Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci juga memperlihatkan capaian yang relatif tinggi. Fakta ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia di Jambi tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan, tetapi mulai menjangkau berbagai daerah.
Meski demikian, peningkatan usia harapan hidup tidak boleh membuat pemerintah daerah merasa puas. Tantangan pembangunan manusia ke depan justru semakin rumit. Masyarakat tidak hanya memerlukan umur yang panjang, tetapi juga kehidupan yang sehat, produktif, dan bermutu. Karena itu, investasi pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat harus terus diperkuat.
Di titik inilah persoalan pendidikan menjadi sangat penting. Walaupun usia harapan hidup masyarakat Jambi menunjukkan tren yang positif, kemajuan tersebut perlu diiringi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Salah satu indikator yang perlu mendapat perhatian serius adalah Rata-Rata Lama Sekolah (RLS). Saat ini, RLS Provinsi Jambi masih berada pada kisaran setara kelas II SMP. Artinya, rata-rata penduduk Jambi belum menuntaskan pendidikan menengah pertama secara penuh.
Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pembangunan sumber daya manusia. Sebab, pembangunan manusia tidak hanya diukur dari panjangnya usia hidup, tetapi juga dari tingkat pengetahuan, keterampilan, dan kecerdasan masyarakat. Masyarakat yang hidup lebih lama namun berpendidikan rendah akan menghadapi keterbatasan dalam produktivitas, inovasi, dan daya saing. Sebaliknya, masyarakat yang sehat, berumur panjang, dan berpendidikan tinggi akan menjadi modal utama bagi kemajuan daerah.
Oleh karena itu, peningkatan usia harapan hidup harus berjalan seiring dengan peningkatan rata-rata lama sekolah. Pemerintah daerah perlu memperluas akses pendidikan menengah dan tinggi, memperkuat pendidikan vokasi, meningkatkan mutu guru, serta memperluas program beasiswa bagi keluarga kurang mampu. Investasi di bidang pendidikan harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas sumber daya manusia Jambi di masa mendatang.
Pada akhirnya, meningkatnya usia harapan hidup masyarakat Jambi bukan sekadar angka dalam statistik. Ia merupakan cerminan dari keberhasilan pembangunan manusia yang telah dicapai selama ini. Usia yang lebih panjang menunjukkan bahwa masyarakat semakin sehat dan semakin sejahtera. Namun, keberhasilan tersebut harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan agar lahir sumber daya manusia yang cerdas, produktif, dan berdaya saing.
Tujuan pembangunan sejatinya bukan hanya membuat masyarakat hidup lebih lama, tetapi juga membuat mereka hidup lebih cerdas, lebih produktif, dan lebih bermakna. Dengan demikian, peningkatan usia harapan hidup dan peningkatan rata-rata lama sekolah harus menjadi dua agenda strategis yang berjalan beriringan dalam mewujudkan pembangunan manusia yang berkelanjutan di Provinsi Jambi.(*)