Membangun Peradaban Melayu dengan Ilmu, Adab, dan Moderasi Beragama
Oleh:
Ustadz Khoiron Fauzi, S.Kom.I
Tokoh Muda Jambi
Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Perwakilan Provinsi Jambi Periode 2026–2030 bukan sekadar pergantian kepengurusan organisasi. Lebih dari itu, pelantikan ini menjadi momentum lahirnya harapan baru bagi masyarakat Jambi terhadap hadirnya organisasi intelektual Melayu yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan sumber daya manusia, penguatan budaya Melayu, serta pengembangan nilai-nilai Islam yang moderat (wasathiyah).
Tema yang diusung dalam pelantikan, "Ber-Ilmu, Beradat, Membangun Peradaban; Sarjana Melayu Hadir dengan Ilmu dan Adat untuk Kemajuan Bangsa", sesungguhnya merupakan refleksi dari kebutuhan bangsa saat ini. Indonesia memerlukan lebih banyak organisasi yang mampu menjadi jembatan antara kecerdasan intelektual, keluhuran budaya, dan kematangan spiritual. Dalam konteks itulah ISMI memiliki posisi yang sangat strategis.
Allah SWT berfirman:
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat yang wasath (umat pertengahan), agar kamu menjadi saksi atas manusia."
(QS. Al-Baqarah: 143)
Ayat ini menjadi fondasi utama konsep wasathiyah dalam Islam. Wasathiyah bukan berarti berada di tengah tanpa prinsip, melainkan bersikap adil, seimbang, proporsional, toleran, dan tetap berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan Sunnah. Nilai inilah yang sangat relevan untuk menjadi karakter organisasi intelektual seperti ISMI.
Dalam pandangan Yusuf Al-Qaradawi melalui karyanya Fiqh al-Wasathiyyah, Islam wasathiyah merupakan jalan tengah yang menghindarkan umat dari dua sikap ekstrem, baik sikap berlebihan (ghuluw) maupun sikap yang terlalu longgar terhadap ajaran agama. Moderasi beragama bukan bentuk kompromi terhadap akidah, tetapi cara bijaksana dalam mengimplementasikan nilai-nilai Islam di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.
Provinsi Jambi merupakan daerah yang kaya akan budaya Melayu dengan falsafah luhur:
"Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendikan Kitabullah."
Falsafah ini menunjukkan bahwa adat Melayu sejak awal telah dibangun di atas nilai-nilai Islam. Oleh sebab itu, menjaga adat Melayu sejatinya juga berarti menjaga nilai-nilai keislaman yang santun, damai, dan beradab.
Namun demikian, tantangan yang dihadapi generasi muda hari ini tidaklah ringan. Arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, penyebaran informasi yang begitu cepat, serta menguatnya polarisasi sosial menjadi tantangan tersendiri bagi organisasi kemasyarakatan maupun organisasi intelektual.
Dalam perspektif generasi ustadz muda di Jambi, ISMI memiliki peluang besar untuk menjadi rumah bersama bagi para akademisi, ulama, profesional, budayawan, dan generasi muda Melayu dalam membangun masyarakat yang cerdas sekaligus berakhlak.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya."
(HR. Ahmad, ath-Thabrani, dan dinilai hasan oleh sebagian ulama)
Hadis tersebut menjadi spirit bahwa keberadaan sebuah organisasi hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Harapan besar masyarakat tentu bukan hanya melihat ISMI sukses menyelenggarakan pelantikan, seminar, ataupun diskusi ilmiah. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana organisasi ini mampu melahirkan program-program yang menyentuh kebutuhan umat, seperti penguatan pendidikan karakter, pemberdayaan ekonomi masyarakat Melayu, pelestarian budaya, pembinaan generasi muda, pendampingan UMKM, literasi digital, hingga gerakan sosial kemanusiaan.
Dalam ilmu sosiologi modern, Talcott Parsons melalui Teori Struktural Fungsional menjelaskan bahwa setiap organisasi memiliki fungsi menjaga stabilitas sosial melalui adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan pemeliharaan nilai (AGIL). Artinya, organisasi seperti ISMI harus mampu menjadi perekat sosial yang memperkuat harmoni masyarakat sekaligus menghasilkan inovasi untuk menjawab tantangan zaman.
Sementara itu, Robert D. Putnam dalam teorinya mengenai Modal Sosial (Social Capital) menegaskan bahwa kemajuan suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh kepercayaan, jaringan sosial, dan semangat gotong royong. Nilai-nilai tersebut sejatinya telah lama hidup dalam budaya Melayu.
Karena itu, ISMI memiliki modal sosial yang sangat besar apabila mampu membangun kolaborasi bersama pemerintah daerah, perguruan tinggi, pesantren, organisasi masyarakat, dunia usaha, serta komunitas kepemudaan.
Optimisme terhadap masa depan ISMI Provinsi Jambi semakin menguat dengan hadirnya kepemimpinan Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd. sebagai Ketua Umum bersama Dr. Fahmi Rasid sebagai Sekretaris. Kombinasi kepemimpinan ini memberikan harapan akan lahirnya organisasi yang tidak hanya kuat secara administrasi, tetapi juga memiliki visi intelektual, sosial, budaya, dan keumatan yang jelas.
Hj. Ernawati dikenal aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Sementara Dr. Fahmi Rasid selama ini banyak terlibat dalam pengembangan pemikiran kebijakan publik, pelestarian budaya Melayu, serta pemberdayaan organisasi masyarakat. Sinergi keduanya menjadi modal penting dalam menggerakkan roda organisasi secara profesional dan inklusif.
Optimisme tersebut tentu harus diwujudkan melalui kerja nyata. Kepemimpinan yang baik tidak hanya diukur dari kemampuan menyusun program, tetapi juga dari kesungguhan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa perubahan memerlukan ikhtiar, kerja keras, dan komitmen bersama. Oleh sebab itu, seluruh pengurus ISMI perlu menjadikan amanah organisasi sebagai ladang pengabdian, bukan sekadar jabatan.
Sebagai organisasi para sarjana Melayu, ISMI memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan gagasan-gagasan strategis yang mampu menjawab persoalan masyarakat. Penguatan literasi, riset kebijakan daerah, pelestarian adat Melayu, pembangunan karakter generasi muda, hingga penguatan ekonomi umat merupakan ruang pengabdian yang sangat luas.
Dalam hadis Rasulullah SAW juga disebutkan:
"Mukmin yang kuat lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan."
(HR. Muslim)
Kekuatan yang dimaksud bukan semata-mata fisik, tetapi juga kekuatan ilmu, akhlak, kepemimpinan, ekonomi, dan kemampuan membangun peradaban. Inilah yang seyogianya menjadi arah perjuangan ISMI.
Di sisi lain, tantangan terbesar organisasi modern adalah menjaga konsistensi. Banyak organisasi lahir dengan semangat besar, tetapi perlahan kehilangan arah karena minimnya program yang berkelanjutan. Oleh karena itu, ISMI perlu membangun budaya organisasi yang berbasis evaluasi, kolaborasi, dan inovasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Sebagai tokoh muda Jambi, saya memandang bahwa ISMI memiliki kesempatan besar menjadi salah satu motor penggerak moderasi beragama (wasathiyah) yang berakar pada budaya Melayu. Organisasi ini dapat menjadi ruang dialog antara akademisi, ulama, pemerintah, dan masyarakat dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan daerah.
Akhirnya, kita semua berharap kepemimpinan Hj. Ernawati, S.Ag., M.Pd. dan Dr. Fahmi Rasid mampu membawa ISMI Provinsi Jambi menjadi organisasi yang semakin profesional, inklusif, inovatif, dan bermanfaat bagi umat. Semoga setiap langkah, pemikiran, dan pengabdian yang dilakukan menjadi bagian dari amal saleh yang diridhai Allah SWT.
ISMI hendaknya hadir bukan hanya sebagai organisasi kaum intelektual, tetapi sebagai gerakan moral yang menghidupkan nilai ilmu, adat, dan keislaman dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, cita-cita membangun peradaban Melayu yang maju, beradab, dan berdaya saing akan semakin mendekati kenyataan.
Referensi
- Al-Qur'an al-Karim:
QS. Al-Baqarah: 143
QS. Ar-Ra'd: 11
- Hadis Riwayat Muslim No. 2664 tentang mukmin yang kuat.
- Hadis Riwayat Ahmad dan ath-Thabrani tentang manusia yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
- Yusuf al-Qaradawi, Fiqh al-Wasathiyyah al-Islamiyyah.
- Talcott Parsons, The Social System (1951).
- Robert D. Putnam, Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community (2000).
- Nurcholish Madjid, berbagai pemikiran tentang Islam, keindonesiaan, dan kemodernan.
- Kementerian Agama Republik Indonesia, konsep Moderasi Beragama (Wasathiyah).