JAMBI — Semarak Hari Bhayangkara ke-80 di Provinsi Jambi tidak hanya diisi dengan seremoni.
Ada bidak yang bergerak.
Ada strategi yang diuji.
Ada konsentrasi yang dipertaruhkan.
Ratusan pecatur dari berbagai daerah ambil bagian dalam Turnamen Catur Piala Kapolda Jambi Tahun 2026 yang digelar di Paviliun JBC, Kota Jambi.
Turnamen ini dibuka langsung oleh Wakapolda Jambi, Brigjen Pol Benny Ali.
Ketua Umum KONI Provinsi Jambi, AKBP Mat Sanusi, turut hadir dalam pembukaan tersebut.
Hadir pula jajaran Pengprov Percasi Jambi dan para peserta turnamen.
Piala Kapolda Jambi 2026 menjadi salah satu agenda olahraga bergengsi dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Bukan hanya memperebutkan gelar.
Turnamen ini juga menjadi ruang pembinaan atlet, silaturahmi, dan penguatan hubungan Polri dengan masyarakat.
KONI Apresiasi Polda dan Percasi
Ketua Umum KONI Provinsi Jambi, AKBP Mat Sanusi, mengapresiasi Polda Jambi dan Pengprov Percasi Jambi yang konsisten menggelar turnamen catur.
Menurutnya, kompetisi rutin seperti ini menjadi bagian penting dari pembinaan olahraga prestasi di daerah.
“Percasi Jambi terbukti sukses menyelenggarakan turnamen secara rutin. Ini model pembinaan yang sangat baik untuk mencetak bibit atlet masa depan bagi Provinsi Jambi,” ujar Mat Sanusi.
Mat Sanusi menilai, pembinaan atlet tidak bisa dilakukan secara instan.
Atlet harus diberi panggung.
Harus diberi lawan tanding.
Harus dibiasakan masuk suasana kompetisi.
Dari situlah mental bertanding terbentuk.
Catur memang olahraga senyap.
Tidak ada teriakan sepanjang pertandingan.
Tidak ada lari cepat.
Tidak ada benturan fisik.
Namun di atas papan 64 petak, perang strategi berlangsung serius.
Sekali salah langkah, posisi bisa runtuh.
Sekali kehilangan fokus, peluang bisa hilang.
Karena itu, turnamen seperti Piala Kapolda Jambi menjadi penting untuk mengasah kemampuan para pecatur daerah.
Wakapolda: Junjung Tinggi Sportivitas
Wakapolda Jambi, Brigjen Pol Benny Ali, berharap Piala Kapolda Jambi 2026 dapat melahirkan pecatur tangguh.
Ia juga menegaskan dukungan Polda Jambi terhadap pembinaan olahraga di Provinsi Jambi.
“Polda Jambi akan terus mendukung penuh program pembinaan olahraga. Jadikan momentum ini wadah silaturahmi dan junjung tinggi sportivitas,” ucap Benny Ali saat membacakan arahan pembukaan.
Pesan sportivitas itu menjadi kunci.
Sebab turnamen bukan hanya soal menang dan kalah.
Turnamen juga mengajarkan sikap.
Disiplin.
Kesabaran.
Kejujuran.
Ketelitian.
Dan kemampuan menerima hasil pertandingan dengan lapang.
Dalam catur, pemain tidak bisa menyalahkan lapangan.
Tidak bisa menyalahkan angin.
Tidak bisa menyalahkan cuaca.
Semua keputusan ada pada kepala sendiri.
Itulah yang membuat catur menjadi olahraga mental.
Olahraga strategi.
Sekaligus olahraga karakter.
Ratusan Pecatur Ambil Bagian
Antusiasme peserta dalam Piala Kapolda Jambi 2026 menunjukkan bahwa catur masih punya tempat kuat di tengah masyarakat.
Ratusan pecatur hadir.
Mereka datang membawa papan, jam catur, dan ambisi.
Ada yang sudah berpengalaman.
Ada yang masih muda.
Ada yang datang untuk mengejar prestasi.
Ada pula yang datang untuk menguji kemampuan.
Di meja pertandingan, semua bertemu dalam satu bahasa: langkah bidak.
Tidak ada sekat profesi.
Tidak ada sekat usia.
Yang ada hanya strategi.
Siapa yang lebih sabar.
Siapa yang lebih teliti.
Siapa yang lebih siap membaca jebakan.
Dan siapa yang mampu bertahan sampai akhir.
Mario: Catur Punya Nilai Pemersatu
Ketua Pengprov Percasi Jambi, Mario L Siregar, menyebut catur memiliki nilai sosiologis yang kuat.
Menurutnya, catur bukan hanya olahraga prestasi.
Catur juga bisa menjadi ruang pemersatu antara masyarakat dan Polri.
Ia menyebut hubungan Percasi Jambi dengan Polda Jambi selama ini berjalan erat.
Bahkan, beberapa atlet andalan Percasi Jambi lahir dari personel aktif kepolisian.
“Hubungan kami sangat erat. Turnamen ini instrumen pemersatu yang harmonis antara masyarakat dan Polri,” ujar Mario.
Pernyataan Mario memperlihatkan sisi lain dari turnamen ini.
Piala Kapolda Jambi bukan hanya panggung kompetisi.
Ia juga menjadi ruang perjumpaan.
Polisi bertemu masyarakat.
Atlet bertemu pembina.
Junior bertemu senior.
Dan semua duduk dalam suasana yang sama: olahraga.
Dari Seragam ke Papan Catur
Menariknya, catur di Jambi juga ikut diperkuat oleh personel kepolisian aktif.
Beberapa atlet andalan Percasi Jambi disebut berasal dari lingkungan Polri.
Ini memberi warna tersendiri.
Di satu sisi, mereka menjalankan tugas sebagai aparat.
Di sisi lain, mereka ikut mengharumkan nama daerah melalui olahraga.
Dari seragam dinas ke papan catur.
Dari tugas negara ke arena strategi.
Perpaduan ini menunjukkan bahwa pembinaan olahraga bisa tumbuh dari banyak ruang.
Tidak hanya dari klub.
Tidak hanya dari sekolah.
Tidak hanya dari komunitas.
Tetapi juga dari institusi seperti Polri.
Ketika personel Polri ikut aktif dalam olahraga, hubungan dengan masyarakat menjadi lebih cair.
Olahraga membuat jarak lebih dekat.
Catur membuat komunikasi lebih santai.
Dan turnamen membuat sinergi lebih nyata.
Targetkan Bibit Nasional
KONI, Polda Jambi, dan Percasi memiliki kepentingan yang sama dalam turnamen ini.
Mereka ingin prestasi catur Jambi terus tumbuh.
Bukan hanya di tingkat lokal.
Tetapi juga menembus nasional.
Bahkan, bukan tidak mungkin hingga level internasional.
Untuk sampai ke sana, turnamen harus diperbanyak.
Pembinaan usia dini harus diperkuat.
Klub harus hidup.
Pelatih harus diberi ruang.
Atlet harus sering bertanding.
Dan kompetisi harus dibuat berjenjang.
Piala Kapolda Jambi 2026 menjadi salah satu bagian dari ekosistem itu.
Dari turnamen seperti ini, bakat bisa terlihat.
Anak muda yang sebelumnya hanya bermain di rumah bisa tampil.
Pecatur kampung bisa bertemu lawan lebih kuat.
Atlet senior bisa mengukur kesiapan.
Pelatih bisa melihat potensi.
Dan pengurus bisa menyusun pembinaan lebih terarah.
Sportivitas di Tanah Melayu
Jambi punya tradisi sosial yang kuat.
Gotong royong.
Silaturahmi.
Musyawarah.
Dan adat Melayu yang menjunjung adab.
Nilai-nilai itu bertemu dengan catur dalam Piala Kapolda Jambi 2026.
Catur mengajarkan berpikir sebelum bertindak.
Tidak tergesa-gesa.
Tidak emosional.
Tidak ceroboh.
Setiap langkah punya akibat.
Setiap keputusan punya risiko.
Nilai ini sejalan dengan semangat pembinaan generasi muda.
Anak-anak yang belajar catur tidak hanya belajar menang.
Mereka belajar sabar.
Belajar membaca keadaan.
Belajar menyusun rencana.
Dan belajar menerima konsekuensi dari langkah sendiri.
Di tengah dunia yang serba cepat, catur mengajarkan satu hal yang sering dilupakan: berpikir dalam-dalam.
Polri, KONI, dan Percasi Satukan Langkah
Turnamen Catur Piala Kapolda Jambi 2026 memperlihatkan sinergi tiga unsur penting.
Polri hadir memberi dukungan dan ruang kegiatan.
KONI hadir sebagai induk pembinaan olahraga prestasi di daerah.
Percasi hadir sebagai penggerak teknis cabang olahraga catur.
Ketiganya saling melengkapi.
Polda Jambi memberi energi kelembagaan.
KONI memberi arah pembinaan.
Percasi memastikan kompetisi berjalan sesuai standar olahraga.
Jika sinergi seperti ini terus dijaga, catur Jambi punya peluang untuk berkembang lebih kuat.
Tidak hanya ramai saat turnamen besar.
Tetapi juga hidup dalam pembinaan rutin.
Hari Bhayangkara yang Berbeda
Hari Bhayangkara biasanya identik dengan upacara, bakti sosial, dan kegiatan internal kepolisian.
Namun di Jambi, semarak itu juga hadir melalui papan catur.
Ini membuat peringatan Hari Bhayangkara terasa lebih dekat dengan masyarakat.
Polri tidak hanya hadir dalam tugas keamanan.
Tetapi juga dalam ruang olahraga.
Dalam ruang pembinaan anak muda.
Dalam ruang kompetisi yang sehat.
Dalam ruang silaturahmi.
Piala Kapolda Jambi 2026 menjadi bukti bahwa olahraga bisa menjadi jembatan.
Jembatan antara institusi dan masyarakat.
Jembatan antara prestasi dan kebersamaan.
Jembatan antara kompetisi dan persaudaraan.
Menunggu Lahirnya Pecatur Baru
Turnamen ini pada akhirnya akan menghasilkan juara.
Ada yang menang.
Ada yang kalah.
Ada yang pulang membawa piala.
Ada yang pulang membawa pelajaran.
Namun lebih dari itu, Piala Kapolda Jambi 2026 diharapkan melahirkan nama-nama baru.
Pecatur muda.
Pecatur disiplin.
Pecatur yang kelak bisa membawa Jambi ke level nasional.
Mungkin dari salah satu meja di Paviliun JBC itu, ada bibit besar yang sedang tumbuh.
Hari ini ia belum terkenal.
Hari ini ia hanya duduk, berpikir, lalu menggerakkan bidak.
Tetapi dari langkah kecil itu, masa depan bisa dimulai.
Catur memang begitu.
Kadang kemenangan besar lahir dari langkah kecil yang tepat.
Dan Piala Kapolda Jambi 2026 memberi ruang bagi langkah-langkah kecil itu untuk dimulai.(*)
Galeri Foto :



