SUNGAI PENUH – Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos., M.H., kembali mendapat gelar adat kehormatan.
Kali ini, gelar itu diberikan oleh Lembaga Kerapatan Adat Enam Luhah Sungai Penuh.
Al Haris yang sebelumnya bergelar Datuk Mangkubumi Setio Alam, dianugerahi gelar Depati Amanah Negroi Tanoh Sunge Pnoh.
Penganugerahan gelar adat tersebut berlangsung dalam rangkaian Kaluhoi Clak Kaluhoi Piagaeng, Kaluhoi Adeak, Kaluhoi Sko Enam Luhah Sungai Penuh atau Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh.
Acara digelar di Tanah Mendapo, Kota Sungai Penuh, Sabtu (4/7/2026).
Tema yang diangkat dalam kegiatan adat tersebut adalah “Membudayakan Masyarakat Adat yang Beradab”.
Tidak hanya Gubernur Al Haris, gelar adat kehormatan juga diberikan kepada sejumlah tokoh daerah lainnya.
Wali Kota Sungai Penuh, Alfin, S.H., dianugerahi gelar Depati Susun Negroi Tanoh Sungei Pnoh.
Bupati Kerinci, Monadi, mendapat gelar Depati Sinar Bumi Sakti.
Sementara Sekda Kota Sungai Penuh, Alpian, menerima gelar Depati Setiawan Negroi Sungai Pnoh.
Dalam sambutannya, Gubernur Al Haris mengawali dengan ungkapan syukur atas terselenggaranya Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh.
Ia hadir bersama istri, Hj. Hesnidar Haris atau Hesti Haris.
Al Haris menyampaikan apresiasi kepada masyarakat adat Enam Luhah Sungai Penuh yang terus menjaga dan menghidupkan nilai-nilai budaya daerah.
Menurutnya, Kenduri Sko bukan sekadar kegiatan seremonial.
Bukan hanya pertemuan adat.
Bukan pula hanya panggung kesenian tradisional.
Kenduri Sko adalah penanda bahwa masyarakat masih merawat akar budayanya.
Masih menjaga warisan leluhur.
Dan masih menempatkan adat sebagai bagian penting dalam kehidupan sosial.
Al Haris mengingatkan, Sungai Penuh kini terus berkembang.
Modernisasi bergerak cepat.
Pembangunan berlangsung di berbagai sektor.
Teknologi masuk ke ruang hidup masyarakat.
Namun, kemajuan tidak boleh membuat masyarakat meninggalkan adat dan tradisi lokal.
Menurut Al Haris, adat adalah identitas.
Adat adalah pegangan.
Adat adalah cara masyarakat menjaga keseimbangan dalam hidup.
“Adat bagi masyarakat Kota Sungai Penuh dan Provinsi Jambi bukan sekadar tradisi. Adat adalah cara kita memahami hidup, menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah — menunjukkan adat dan agama saling menguatkan,” ujar Gubernur Al Haris.
Pesan itu menjadi garis besar dalam sambutan Al Haris.
Bahwa adat dan agama tidak boleh dipertentangkan.
Keduanya justru saling menguatkan.
Adat memberi tata hidup.
Agama memberi tuntunan.
Keduanya menjadi pondasi masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh dalam menjaga kehidupan yang beradab.
Al Haris juga menyoroti bahwa Kenduri Sko kali ini memiliki nilai sejarah tersendiri.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan peristiwa penting karena baru kembali dilaksanakan setelah Sungai Penuh berstatus sebagai kota.
Kegiatan serupa terakhir kali digelar sekitar 18 sampai 19 tahun lalu, ketika daerah ini masih menjadi bagian dari Kabupaten Kerinci.
Karena itu, momentum Kenduri Sko dinilai penting untuk mengobarkan kembali semangat pelestarian adat.
Terutama di kalangan generasi muda.
Al Haris berharap anak-anak muda Sungai Penuh dan Kerinci tidak hanya mengenal budaya dari cerita orang tua.
Tetapi ikut melihat.
Ikut memahami.
Ikut merasa memiliki.
Dan ikut menjaga tradisi agar tetap hidup.
Ia juga memuji peran tokoh adat, para sesepuh, serta para nenek-nenek yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, mereka memiliki peran besar dalam menghidupkan kembali tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Semangat kebersamaan dalam adat, kata Al Haris, harus menjadi penangkal perpecahan.
Terutama perpecahan yang bisa muncul akibat isu politik, kontestasi pilkada, atau perbedaan pilihan.
“Kita ini satu — kita satu Sakti Alam Kerinci,” ucap Al Haris.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu membangun daerah.
Bagi Al Haris, persatuan masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh harus terus dijaga.
Perbedaan politik tidak boleh merusak hubungan sosial.
Kontestasi tidak boleh memutus tali kekerabatan.
Dan pembangunan daerah harus dilakukan dengan semangat kebersamaan.
Al Haris juga menegaskan pentingnya sinergi antar-pemimpin daerah.
Ia mengapresiasi hubungan yang kompak antara Wali Kota Sungai Penuh dan Bupati Kerinci.
Menurutnya, hubungan antarpemimpin yang baik akan memberi dampak positif bagi masyarakat.
Sungai Penuh dan Kerinci memiliki kedekatan sejarah, adat, sosial, dan budaya.
Karena itu, hubungan kedua daerah harus dibangun dengan kerja sama.
Bukan persaingan yang mengganggu.
Sinergi itu, kata Al Haris, justru akan mendukung kemajuan masing-masing daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Al Haris berharap Kenduri Sko mampu menumbuhkan kebanggaan dan rasa memiliki budaya daerah di kalangan generasi muda.
Ia ingin budaya lokal tetap menjadi tuan rumah di daerah sendiri.
Terlebih di tengah kuatnya arus globalisasi, digitalisasi, dan perkembangan teknologi informasi.
Nilai-nilai adat harus menjadi penyaring.
Menjadi penuntun.
Menjadi benteng moral.
Dan menjadi cara masyarakat menjaga jati diri.
Menurut Al Haris, kemajuan teknologi tidak bisa dihindari.
Tetapi masyarakat tetap harus memiliki akar.
Akar itu adalah adat, agama, dan budaya.
Di bagian akhir sambutannya, Al Haris mengimbau agar rumah adat dan empat jenis simbol adat segera diambil alih dan dibina oleh lembaga adat tunggal, yakni Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci.
Pengelompokan tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan adat.
Sekaligus memastikan simbol-simbol tradisi tetap menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.
Sementara itu, Wali Kota Sungai Penuh, Alfin, S.H., menyampaikan dukungan penuh Pemerintah Kota Sungai Penuh terhadap penyelenggaraan Kenduri Sko 2026.
Ia menilai kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya masyarakat.
Menurut Alfin, sinergi antara pemerintah daerah, lembaga adat, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat harus terus dijaga.
Dengan kerja bersama, Kenduri Sko dapat menjadi agenda budaya unggulan di Kota Sungai Penuh.
Tidak hanya untuk melestarikan tradisi.
Tetapi juga untuk mendorong pengembangan pariwisata budaya.
“Melalui Kenduri Sko, masyarakat tidak hanya mempertahankan identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada leluhur, serta falsafah adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah sebagai fondasi kehidupan masyarakat Kerinci,” ujar Alfin.
Ia berharap Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh 2026 berlangsung sukses, khidmat, dan semakin memperkuat eksistensi budaya daerah di tingkat nasional.
Kegiatan adat tersebut juga diwarnai berbagai penampilan seni tradisional.
Pergelaran dimulai dengan pertunjukan pencak silat yang langsung menarik perhatian penonton.
Selain itu, berbagai tarian daerah ikut ditampilkan.
Mulai dari Tari Iyo-Iyo.
Tari Rangguk.
Tari Sekapur Sirih.
Hingga Tari Asoak.
Setiap penampilan menggambarkan kekayaan adat dan budaya masyarakat Sungai Penuh.
Kenduri Sko menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat kembali warisan budayanya.
Di sana ada adat.
Ada seni.
Ada penghormatan kepada leluhur.
Ada musyawarah.
Ada gotong royong.
Dan ada semangat menjaga identitas.
Penganugerahan gelar adat kepada Gubernur Al Haris dan sejumlah tokoh daerah juga menjadi simbol hubungan antara pemimpin dan masyarakat adat.
Gelar adat bukan hanya kehormatan.
Tetapi juga amanah.
Amanah untuk menjaga negeri.
Amanah untuk merawat budaya.
Amanah untuk memperkuat persatuan.
Dan amanah untuk memastikan pembangunan tidak mencabut masyarakat dari akar tradisinya.
Dari Tanah Mendapo, Al Haris membawa pesan yang kuat.
Bahwa pembangunan boleh maju.
Kota boleh modern.
Teknologi boleh berkembang.
Tetapi adat tidak boleh hilang.
Sebab masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang memiliki infrastruktur dan ekonomi.
Tetapi juga masyarakat yang mampu menjaga jati dirinya.
Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh menjadi pengingat bahwa adat adalah napas panjang masyarakat.
Ia hidup dari generasi ke generasi.
Ia dijaga oleh para tetua.
Dipelajari oleh anak muda.
Dihidupkan oleh masyarakat.
Dan diperkuat oleh pemimpin yang memahami bahwa budaya adalah pondasi penting dalam membangun daerah.
Di tengah arus zaman yang terus berubah, Al Haris ingin adat tetap berdiri.
Bukan sebagai kenangan.
Tetapi sebagai kekuatan.
Bukan sebagai seremoni.
Tetapi sebagai nilai hidup.
Bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Tetapi sebagai bekal untuk masa depan Sungai Penuh, Kerinci, dan Provinsi Jambi. (*)