PalmCo Targetkan 5.120 Pekerja Bersertifikat, 2.581 Tenaga Kebun Sudah Kompeten

WIB
IST

JAKARTA — PTPN IV PalmCo menargetkan 5.120 tenaga kerja mengikuti program sertifikasi kompetensi untuk memperkuat produktivitas kebun, keandalan pabrik, dan tata kelola perusahaan.

Hingga pertengahan Juni 2026, sebanyak 2.581 pekerja bidang tanaman disebut telah memperoleh sertifikasi kompetensi.

Mereka terdiri atas 86 Asisten Kepala, 336 Asisten Afdeling, serta 2.159 Mandor I dan Mandor Pemeliharaan.

Program tersebut juga diperluas ke sektor pengolahan kelapa sawit. Sebanyak 1.312 staf mekanik di lingkungan Pabrik Kelapa Sawit atau PKS telah mengikuti uji kompetensi.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan standardisasi kemampuan pekerja menjadi bagian dari investasi jangka panjang perusahaan.

“Standardisasi kompetensi tidak hanya meningkatkan kualitas individu karyawan, tetapi juga menjadi penggerak utama peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, dan tata kelola perusahaan yang semakin baik,” ujar Jatmiko.

Sertifikasi pada bidang tanaman menyasar posisi yang bersentuhan langsung dengan pengelolaan perkebunan.

Asisten Kepala bertanggung jawab mengoordinasikan kegiatan operasional pada tingkat kebun atau unit tertentu.

Asisten Afdeling mengawasi pelaksanaan pekerjaan pada wilayah afdeling.

Sementara Mandor I dan Mandor Pemeliharaan berada dekat dengan kegiatan harian pekerja di lapangan.

Kemampuan mereka berpengaruh terhadap ketepatan pemeliharaan tanaman, pemupukan, pengendalian gulma, pengaturan tenaga kerja, hingga proses panen.

Kesalahan pengawasan dapat berdampak pada keterlambatan pekerjaan, penggunaan bahan yang tidak efisien, turunnya produktivitas, dan meningkatnya kehilangan hasil.

Karena itu, PalmCo ingin memastikan kemampuan pekerja tidak hanya dinilai berdasarkan lama bekerja, tetapi juga melalui pengujian terhadap pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas.

Dari 2.581 pekerja bidang tanaman yang telah tersertifikasi, kelompok terbesar berasal dari posisi Mandor I dan Mandor Pemeliharaan.

Jumlahnya mencapai 2.159 orang.

Mandor menjadi penghubung antara perencanaan yang disusun manajemen dan pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

Mereka harus memastikan tenaga kerja memahami pembagian tugas, prosedur keselamatan, target pekerjaan, serta standar teknis perusahaan.

Sertifikasi diharapkan membantu menyamakan standar pelaksanaan kerja di berbagai regional PalmCo.

Namun manfaat program baru dapat dilihat apabila hasil sertifikasi diterapkan dalam kegiatan harian dan diikuti evaluasi kinerja.

Perusahaan perlu melihat apakah setelah sertifikasi terjadi perbaikan produktivitas, efisiensi penggunaan pupuk, ketepatan waktu panen, dan penurunan kehilangan hasil.

PalmCo tidak hanya menyasar tenaga kerja di perkebunan.

Sebanyak 1.312 staf mekanik di lingkungan PKS juga telah menjalani uji kompetensi.

Mekanik memiliki peran penting dalam menjaga mesin dan peralatan pabrik tetap berfungsi.

Gangguan pada mesin dapat memperlambat pengolahan tandan buah segar, menurunkan kapasitas produksi, meningkatkan biaya perbaikan, dan memengaruhi mutu hasil pengolahan.

Kemampuan melakukan pemeriksaan, perawatan, perbaikan, serta membaca gejala kerusakan dibutuhkan agar gangguan dapat dicegah sebelum menyebabkan penghentian operasi.

Namun keterangan perusahaan belum menjelaskan berapa dari 1.312 mekanik tersebut yang telah dinyatakan lulus dan memperoleh sertifikat.

Karena itu, angka tersebut lebih aman disebut sebagai jumlah pekerja yang telah mengikuti uji kompetensi, bukan seluruhnya telah tersertifikasi.

Untuk mempercepat proses, PalmCo juga melakukan sertifikasi terhadap 42 asesor kompetensi.

Mereka terdiri atas 29 Asisten dan 13 Asisten Kepala yang berasal dari sejumlah regional.

Dari jumlah tersebut, 10 orang disebut telah aktif menjalankan tugas sebagai asesor.

Asesor bertugas menilai apakah peserta telah memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan.

Penilaian harus dilakukan secara objektif dengan menggunakan perangkat uji, bukti kerja, wawancara, maupun pengamatan praktik sesuai bidang yang diperiksa.

Keberadaan asesor internal dapat mempercepat pelaksanaan program karena perusahaan tidak selalu bergantung pada tenaga penilai dari luar.

Namun independensi dan kualitas penilaian tetap harus dijaga.

Asesor perlu menghindari konflik kepentingan dan memastikan sertifikasi tidak hanya menjadi pemenuhan target jumlah peserta.

PalmCo juga menunjuk 30 orang sebagai Subject Matter Expert atau tenaga ahli bidang tanaman dan pengolahan.

Mereka berasal dari Regional I sampai Regional VII.

Para tenaga ahli tersebut telah mengikuti pelatihan Train the Trainer di PT LPP Agro Nusantara.

Mereka diharapkan menjadi pengajar dan pendamping bagi pekerja lain di lingkungan perusahaan.

Dengan pola tersebut, pengetahuan teknis tidak hanya bergantung pada kegiatan pelatihan dari lembaga eksternal.

Pekerja berpengalaman dapat membantu menyebarkan praktik kerja, membimbing peserta, dan menyusun materi berdasarkan persoalan yang ditemukan di kebun maupun pabrik.

Namun sistem pembelajaran internal membutuhkan materi yang seragam dan proses evaluasi.

Pengetahuan yang disampaikan harus sesuai perkembangan teknologi, prosedur keselamatan, kebutuhan operasional, dan ketentuan yang berlaku.

PalmCo menargetkan sertifikasi memberi dampak langsung terhadap pekerjaan.

Pada bidang tanaman, peningkatan kompetensi diharapkan memperbaiki ketepatan pemeliharaan dan pemupukan.

Program juga diarahkan untuk meningkatkan hasil panen dan mengurangi kehilangan hasil atau losses.

Kehilangan hasil dapat terjadi karena buah terlambat dipanen, brondolan tidak dikutip, buah tertinggal di tempat pengumpulan, atau proses pengangkutan tidak berjalan tepat waktu.

Pada sektor pengolahan, kompetensi mekanik diharapkan meningkatkan keandalan mesin dan menjaga konsistensi mutu produksi.

Meski demikian, hubungan antara sertifikasi dan peningkatan produksi perlu dibuktikan dengan data.

Perusahaan dapat membandingkan kinerja sebelum dan setelah program melalui produktivitas per hektare, tingkat kehilangan hasil, waktu berhenti mesin, biaya perawatan, dan rendemen pabrik.

Sertifikasi menunjukkan bahwa seorang pekerja telah dinilai berdasarkan standar tertentu.

Namun sertifikat tidak otomatis membuat seluruh masalah operasional selesai.

Pekerja tetap membutuhkan peralatan yang memadai, prosedur yang jelas, pengawasan, perlindungan keselamatan, dan kesempatan memperbarui kemampuan.

Kompetensi juga dapat menurun apabila tidak digunakan atau tidak disesuaikan dengan perubahan teknologi.

Karena itu, program perlu dilanjutkan dengan pelatihan berkala, evaluasi, serta penyegaran pengetahuan.

Perusahaan juga harus memastikan hasil sertifikasi berkaitan dengan pengembangan karier dan penempatan tenaga kerja.

Pekerja yang telah terbukti kompeten perlu memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan dan mengambil tanggung jawab sesuai keahliannya.

Dalam keterangan awal, PalmCo menyebut target program sebanyak 5.120 tenaga kerja tersertifikasi.

Namun pada kutipan penutup, Jatmiko menyebut target 5.000 tenaga kerja.

Perbedaan tersebut perlu dikonfirmasi agar tidak menimbulkan kebingungan.

Apabila target resmi adalah 5.120 orang, perusahaan juga perlu menjelaskan batas waktu pencapaian dan kelompok pekerjaan yang menjadi sasaran.

Belum dijelaskan apakah 2.581 pekerja bidang tanaman, 1.312 mekanik, dan 42 asesor dihitung dalam satu target yang sama.

Ada kemungkinan sebagian peserta memiliki posisi atau fungsi yang saling beririsan.

Karena itu, jumlah keseluruhan tidak sebaiknya dijumlahkan sebelum perusahaan memastikan tidak ada pencatatan ganda.

Jatmiko mengatakan perubahan perusahaan hanya dapat didukung oleh pekerja yang terus belajar dan memiliki standar kemampuan yang jelas.

“Transformasi perusahaan hanya dapat diwujudkan melalui SDM yang terus belajar, berkembang, dan memiliki kompetensi yang terstandar,” katanya.

PalmCo menyatakan akan mempercepat sertifikasi agar manfaatnya terlihat pada kinerja, efisiensi, dan tata kelola.

Program telah berjalan.

Ribuan pekerja bidang tanaman telah tersertifikasi.

Mekanik pabrik mulai diuji.

Asesor dan tenaga ahli internal telah disiapkan.

Tahap berikutnya adalah membuktikan pengaruhnya.

Bukan hanya dari jumlah sertifikat yang diterbitkan.

Tetapi dari kebun yang lebih produktif, mesin yang lebih andal, kehilangan hasil yang menurun, dan pekerjaan yang dilaksanakan lebih aman.

BeritaSatu Network