Jambi — Sehari menjelang 17 Agustus, suasana kemerdekaan tidak hanya terasa di kantor pemerintahan atau jalan protokol Kota Jambi.
Semangat itu justru hidup di tengah lingkungan warga.
Ada lomba mancing.
Jalan santai.
Anak-anak hingga orang tua berkumpul.
Dan di sudut lainnya, pelaku UMKM membuka lapak menjajakan produk mereka.
Suasana tersebut terlihat di RT 01 Kelurahan Kenali Asam serta RT 31 Kelurahan Mayang Mangurai, Perumahan Barcelona, Minggu (16/8/2026).
Wali Kota Jambi Maulana dan Wakil Wali Kota Jambi Diza Hazra Aljosha turun langsung bergabung bersama masyarakat.
Maulana-Diza Baur dengan Warga
Maulana dan Diza hadir bersama jajaran Pemerintah Kota Jambi untuk membuka rangkaian kegiatan yang digelar masyarakat.
Tidak ada jarak besar antara pemerintah dan warga.
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dikemas melalui aktivitas yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Masyarakat berkumpul sejak pagi.
Ada yang mengikuti jalan santai.
Ada yang mencoba peruntungan dalam lomba mancing.
Sebagian datang untuk menyaksikan.
Sebagian lainnya memanfaatkan keramaian untuk berjualan.
Di situlah perayaan kemerdekaan bertemu dengan kehidupan ekonomi warga.
Diza: Bukan Cuma Kegembiraan
Diza mengapresiasi masyarakat yang secara mandiri menghidupkan suasana HUT RI di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan formal.
“Semangat kemerdekaan harus kita isi dengan kegiatan-kegiatan positif yang membangun kebersamaan,” kata Diza.
Ia menyebut perlombaan dan jalan santai memiliki fungsi sosial yang lebih luas.
“Lomba dan jalan santai seperti ini bukan hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga mempererat silaturahmi dan semangat gotong royong masyarakat,” ujarnya.
Dari Lomba 17-an, UMKM Ikut Bergerak
Ada satu hal lain yang menjadi perhatian Diza.
UMKM.
Bazar ikut hadir dalam rangkaian kegiatan warga.
Pelaku usaha lokal memperoleh ruang menjajakan produknya kepada masyarakat yang datang.
Bagi Diza, kegiatan masyarakat sebaiknya tidak hanya selesai sebagai hiburan.
Keramaian juga bisa menjadi peluang ekonomi.
“Setiap kegiatan masyarakat harus kita upayakan memberikan manfaat yang lebih luas, termasuk bagi pelaku UMKM,” kata Diza.
Dengan adanya bazar, masyarakat bisa membeli produk lokal secara langsung.
Sementara pedagang mendapatkan calon konsumen dalam satu titik keramaian.
“Dengan hadirnya bazar, masyarakat bisa menikmati produk lokal, sementara pelaku usaha mendapatkan kesempatan untuk memasarkan produknya. Ini bagian dari upaya kita menggerakkan ekonomi masyarakat,” lanjutnya.
Perayaan di Tingkat RT Punya Efek Langsung
Kegiatan seperti ini mungkin tidak sebesar festival tingkat kota.
Tetapi efek sosialnya justru terasa dekat.
Warga bertemu tetangga.
Anak-anak bermain bersama.
Orang tua ikut terlibat.
Pemuda menjadi panitia.
Dan UMKM memperoleh ruang berjualan.
Di tingkat lingkungan, peringatan kemerdekaan menjadi ruang untuk menghidupkan kembali interaksi yang dalam rutinitas sehari-hari terkadang semakin berkurang.
Gotong royong tidak hanya menjadi slogan.
Ia terlihat ketika masyarakat bersama-sama menyiapkan kegiatan.
Kenali Asam hingga Mayang Mangurai Bergembira
Dua lokasi yang disambangi Maulana dan Diza memperlihatkan bagaimana perayaan kemerdekaan tumbuh dari tingkat paling dekat dengan masyarakat.
Di Kenali Asam RT 01, warga memeriahkan momentum kemerdekaan dengan lomba mancing.
Sementara kegiatan di Mayang Mangurai RT 31, Perumahan Barcelona, turut diwarnai jalan santai dan aktivitas masyarakat.
Bazar UMKM menambah suasana.
Keramaian tidak hanya menghasilkan kegembiraan tetapi juga transaksi ekonomi.
Meski demikian, bahan yang tersedia belum menyebut jumlah peserta kegiatan maupun jumlah UMKM yang membuka stan.
Belum tersedia pula data nilai transaksi atau perputaran uang yang dihasilkan dari bazar tersebut.
Karena itu, dampak ekonominya belum dapat dihitung secara nominal.
Nasionalisme Tak Harus Selalu Formal
Bagi Pemkot Jambi, nasionalisme tidak harus selalu dibangun melalui seremoni besar.
Ada ruang yang lebih sederhana.
Di lingkungan RT.
Di lapangan.
Di antara warga yang mengikuti perlombaan.
Dan lewat bendera Merah Putih yang menghiasi lingkungan.
Semangat kemerdekaan justru dapat tumbuh ketika masyarakat merasa menjadi bagian dari perayaannya.
Bukan hanya sebagai penonton.
Kemerdekaan dan Ekonomi Warga
Keterlibatan UMKM juga memberikan warna berbeda.
Satu kegiatan masyarakat bisa memiliki beberapa dampak sekaligus.
Ada hiburan.
Ada olahraga.
Ada silaturahmi.
Ada ruang bagi pedagang kecil.
Konsep sederhana itu yang ingin didorong Diza.
Jika kegiatan masyarakat rutin memberikan ruang bagi produk lokal, peluang pasar bagi UMKM juga semakin terbuka.
Bahkan meski dimulai dari tingkat RT.
Sehari Sebelum 17 Agustus
Kegiatan berlangsung pada 16 Agustus.
Sehari sebelum Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaan.
Di tengah persiapan upacara dan berbagai agenda pemerintahan, warga memilih merayakan dengan cara mereka sendiri.
Memancing.
Berjalan bersama.
Bercengkerama.
Berbelanja dari UMKM tetangga.
Cara yang sederhana.
Tetapi justru dekat dengan makna kemerdekaan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah Lomba Usai, Kebersamaan Jangan Ikut Selesai
Perlombaan tentu akan selesai.
Hadiah akan dibagikan.
Tenda bazar akan dibongkar.
Warga kembali pada aktivitas masing-masing.
Namun Maulana-Diza ingin ada sesuatu yang tetap tinggal setelah perayaan selesai.
Kebersamaan.
Gotong royong.
Kepedulian.
Dan kebiasaan mendukung usaha masyarakat sendiri.
Sebab semangat kemerdekaan tidak semestinya hanya hidup selama bulan Agustus.
Jika lomba 17-an mampu membuat warga kembali saling mengenal dan UMKM memperoleh pasar, maka perayaan sederhana di tingkat RT sudah menghasilkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar kemeriahan. (*)