Sarolangun - Peringatan haul ke-23 KH Muhammad Salek atau Buya Salek di Kabupaten Sarolangun, Senin (24/8/2026), memiliki arti khusus bagi Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd.
Ernawati ikut hadir dalam rangkaian haul yang digelar di Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Buya KH Muhammad Salek, Desa Penegah, Kecamatan Pelawan, Kabupaten Sarolangun.
Bagi Ernawati, kedatangannya bukan semata menghadiri agenda keagamaan.
Ada hubungan personal yang jauh lebih dalam.
Buya Salek, kata Ernawati, merupakan salah satu guru pertama yang memberikan pendidikan keagamaan kepadanya, terutama mengenai kecintaan kepada shalawat.
“Guru Salek itu adalah guru pertama saya. Dalam hal ini saya sangat antusias datang karena mengenang jasa-jasa terkait dengan apa yang diajarkannya kepada saya mengenai shalawat,” kata Ernawati.
Pesan sang guru masih diingat Ernawati hingga sekarang.
“Karena Datuk Salek mengajarkan jangan meninggalkan shalawat,” ujarnya.
Datang untuk Mengenang Sang Guru
Kehadiran Ernawati membuat haul kali ini mempunyai sisi personal tersendiri.
Di tengah jamaah yang hadir untuk berdoa dan berdzikir, Ernawati datang sebagai seorang murid yang ingin kembali mengenang gurunya.
Ia mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut karena banyak pelajaran Buya Salek yang masih membekas dalam perjalanan hidupnya.
Salah satunya tentang shalawat.
Bagi Ernawati, ajaran itu bukan sekadar materi yang pernah disampaikan seorang guru kepada murid.
Pesan tersebut terus diingat dan dibawa dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, haul ke-23 Buya Salek menjadi ruang untuk kembali mengenang jasa dan ajaran sang guru.
“Jangan Meninggalkan Shalawat”
Ada satu kalimat yang paling diingat Ernawati dari Buya Salek.
Jangan meninggalkan shalawat.
Pesan sederhana itu disebut menjadi bagian penting dari apa yang pernah diajarkan sang guru kepadanya.
Karena itu, Ernawati memandang peringatan haul bukan hanya kegiatan mengenang seseorang yang telah wafat.
Haul juga menjadi momentum menghidupkan kembali ajaran yang ditinggalkan.
Bagi dirinya, salah satu warisan tersebut adalah kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui shalawat.
Haul Buya Salek ke-23
Seperti diberitakan sebelumnya, haul KH Muhammad Salek atau Buya Salek ke-23 digelar Senin ini di Pondok Pesantren Tahfizul Qur’an Buya KH Muhammad Salek.
Kegiatan itu dirangkai dengan peringatan haul ke-7 KH Muhammad Arifin Ilham.
Acara dikemas dalam Doa dan Dzikir Akbar Murobbi dan dijadwalkan berlangsung sejak pukul 08.00 WIB hingga selesai.
Panitia menghadirkan KH Muhammad Abdul Syukur Yusuf, Pimpinan Majelis Az-Zikra Sentul, Bogor, sebagai penceramah.
Rangkaian haul terbuka bagi masyarakat.
Dua Murobbi Diperingati
Kegiatan tersebut mempertemukan dua nama ulama dalam satu momentum.
Buya Salek dikenang dalam haul ke-23.
Sementara KH Muhammad Arifin Ilham diperingati dalam haul ke-7.
Doa, dzikir dan tausiyah menjadi inti kegiatan.
Bagi jamaah, haul menjadi momentum mendoakan para ulama yang telah wafat sekaligus mengingat kembali perjuangan dan ajaran mereka.
Bagi Ernawati, dimensi itu terasa lebih dekat karena Buya Salek mempunyai jejak langsung dalam perjalanan pendidikan agamanya.
Shalawat Jadi Benang Merah
Ernawati belakangan memang cukup aktif mendorong kegiatan shalawat dalam berbagai aktivitas sosial dan keagamaan.
Dalam beberapa kegiatan bersama masyarakat, ia mengajak terbentuknya kelompok-kelompok shalawat dan menghidupkan kembali aktivitas keagamaan di masjid.
Kehadirannya di haul Buya Salek menunjukkan salah satu akar dari kecintaan tersebut.
Ia mendapatkan pengajaran shalawat sejak berada di bawah bimbingan sang guru.
Karena itu, pesan “jangan meninggalkan shalawat” menjadi kalimat yang terus diingatnya.
Haul Bukan Sekadar Mengenang
Bagi Ernawati, menghormati seorang guru bukan hanya dengan mengenang namanya.
Ajarannya juga harus diteruskan.
Nilai yang ditanamkan harus dijaga.
Dan kebaikan yang diwariskan perlu disampaikan kepada generasi berikutnya.
Itulah sebabnya ia mengaku sangat antusias ketika mendapat kesempatan menghadiri haul sang guru.
Di tengah kesibukannya memimpin ISMI Provinsi Jambi dan berbagai kegiatan kemasyarakatan, Ernawati memilih datang ke Sarolangun untuk mengikuti rangkaian peringatan tersebut.
Bukan semata sebagai tokoh organisasi.
Tetapi sebagai murid.
Dari Guru kepada Murid, Lalu ke Generasi Berikutnya
Hubungan guru dan murid bisa berhenti ketika proses belajar formal selesai.
Tetapi ajaran yang membekas dapat berjalan jauh lebih panjang.
Begitu pula yang dirasakan Ernawati terhadap Buya Salek.
Puluhan tahun berlalu, satu pesan masih terus disebutnya.
Jangan meninggalkan shalawat.
Kini, ketika dirinya aktif di berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, Ernawati mencoba membawa pesan tersebut kepada masyarakat.
Menghidupkan majelis.
Mengajak masyarakat bershalawat.
Mendorong kegiatan keagamaan.
Dan menjaga kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Pulang Mengenang Jasa Guru
Senin itu, Ernawati hadir bersama jamaah lainnya di Sarolangun.
Doa dibacakan.
Dzikir dilantunkan.
Dua ulama dikenang.
Tetapi bagi Ketua ISMI Jambi itu, haul Buya Salek membawa dirinya kembali pada fase jauh sebelumnya dalam kehidupan.
Saat dirinya masih menjadi seorang murid.
Saat seorang guru mengenalkannya kepada shalawat.
Dan saat sebuah pesan sederhana ditanamkan: jangan pernah meninggalkan shalawat.
“Guru Salek itu adalah guru pertama saya,” kata Ernawati.
Haul ke-23 itu pun bukan hanya menjadi peringatan wafat seorang ulama.
Bagi Ernawati, ia menjadi momentum pulang untuk mengenang guru, jasa-jasanya, serta ajaran yang hingga hari ini masih ia pegang. (*)