(Rujukan Untuk Pembinaan dan Pengelolaan Hotel-Hotel di Jambi)
Oleh:
Thamrin B. Bachri
PENDAHULUAN
Konsep “eksternalitas” secara umum pertama kali dikembangkan oleh ekonom klasik asal Inggris Alfred Marshall, melalui bukunya Principle of Economics (1980). Konsep ini selanjutnya diperluas oleh muridnya Arthur Cecil Pigou, dalam bukunya The Economics of Welfare (1920). Eksternalitas secara sederhana adalah efek samping atau dampak dari suatu kegiatan ekonomi yang dirasakan oleh pihak ketiga yang tidak ikut terlibat (produksi maupun konsumsi), Eksternalitas dapat berdampak positif dalam arti memberikan manfaat sosial (social-benefit) atau sebaliknya, dapat pula berdampak negatif dalam arti menimbulkan pengorbanan sosial (social-cost).
Sementara itu, di sektor pariwisata konsep eksternalitas dikaji dan ditulis oleh banyak ekonom serta ahli pariwisata modern. Beberapa nama kunci yang mempelopori dan sering dirujuk dalam literatur ekonomi pariwisata (tourism economics) seperti William J. Baumol dan Wallace E. Oates walaupun menganalisis eksternalitas lingkungan secara umum teori mereka mengenai daya dukung (carrying capacity) dan kerusakan lingkungan menjadi dasar utama analisis eksternalitas negatif di destinasi wisata. Sedangkan Robert Vanhove ekonom terkemuka dari Belgia menulis buku The Economics of Tourism Destinations menguraikan secara spesifik bagaimana aktivitas pariwisata menciptakan eksternalitas positif (seperti: pembangunan berbagai infrastruktur dan lapangan pekerjaan) sekaligus eksternalitas negatif (seperti kemacetan, polusi udara maupun suara, dan hilangnya budaya lokal).
APA ITU KONSEP GREEN HOTEL (HOTEL HIJAU)?
Konsep Green Hotel (Hotel Hijau) adalah model pengelolaan akomodasi yang menerapkan prinsip ramah lingkungan dan berkelanjutan. Fokus utamanya menginternalisasi biaya lingkungan, artinya hotel secara sadar mengeluarkan biaya operasional mandiri untuk meredam, mengolah dan menghilangkan eksternalitas negatif sebelum dampaknya merugikan masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Beberapa pilar utama konsep Green Hotel untuk memotong mata rantai eksternalitas negatif, misalnya:
- Memotong Eksternalitas Krisis Air (Water Conservation); Hotel-hotel konvensional menyedot air tanah dangkal secara masif menyebabkan sumur warga di sekitarnya mengalami kekurangan air, solusi Green Hotel dengan menggunakan water recycling (daur ulang air) sehingga air bekas dapat disaring dan dipakai kembali untuk menyiram tanaman dan flushing toilet, ini seperti hotel-hotel di Nusa Dua Bali.
- Memotong Eksternalitas Pencemaran Lingkungan (Waste Management); Limbah cair kimia yang merusak ekosistem sungai, serta sampah plastik/sisa makanan yang menumpuk di TPA lokal, perlu diatasi dengan membangun IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) bersertifikasi agar air yang keluar ke saluran publik sudah netral. Dan menetapkan kebijakan Zero Single Use Plastic, menggunakan botol kaca isi ulang dan menyediakan dispenser di koridor. Mengolah sampah organik dapur, atau bekerjasama dengan bank sampah lokal.
- Memotong Eksternalitas Polusi Udara & Jejak Karbon (Energy Efficiency); konsumsi listrik hotel yang biasanya sangat tinggi dan penggunaan genset berbahan bakar fosil memicu pemanasan global serta polusi udara lokal karena itu sebaiknya mengoptimalkan arsitektur bangunan dengan konsep (daylightning) yaitu memanfaatkan cahaya alami dan meminimalkan penggunaan AC dan lampu di siang hari serta menggunakan LED hemat energi melengkapi kamarnya dengan key card master switch (listrik otomatis mati bila tamu meninggalkan kamar). Selanjutnya, bila perlu beralih ke sumber energi terbarukan, seperti memasang panel surya (solar panel) untuk kebutuhan pemanas air mandi.
- Memotong Eksternalitas Gangguan Sosial (Community Integration); konflik sosial akibat kemacetan, polusi suara, sampah, ataupun kecemburuan warga lokal harus diimbangi dengan membuka sejauh mungkin akses lapangan kerja baik permanen maupun musiman bagi warga sekitar destinasi dan menyerap produk UMKM lokal (seperti bahan makanan organik dari petani setempat, dekorasi dari pengrajin lokal dan seragam pegawai hotel dengan batik lokal). Perlu juga menyediakan kantong parkir yang cukup luas di dalam area hotel dan menyiagakan petugas khusus (traffic warden) untuk mengurai kepadatan jalan umum saat ada acara besar.
TANTANGAN HOTEL BERMIGRASI KE KONSEP RAMAH LINGKUNGAN (GREEN HOTEL)
Migrasi dari hotel konvensional menjadi Green Hotel bukanlah proses yang instan. Manajemen hotel seringkali menghadapi banyak tantangan yang multi-dimensi, seperti antara lain biaya investasi awal yang sangat tinggi (High Capital Outlay) untuk memasang panel surya dan Instalasi Pengolahan Air Limbah, serta mengganti seluruh sistem lampu dan AC ke perangkat pintar (smart sensor). Kesulitan ini terutama dihadapi oleh hotel skala menengah ke bawah atau independen.
Tantangan berikutnya adalah keterbatasan kompetensi dan resistensi staf (human resource) karena konsep Green Hotel ini membutuhkan kedispilinan dan tantangan baru dan merubah kebiasaan perilaku dan ekspektasi tamu (guest behavior) juga merupakan tantangan yang harus mengedukasi para tamu secara bertahap.
Selanjutnya, vendor atau sarana yang menyediakan produk-produk bersertifikasi hijau pada kenyataannya masih sangat terbatas dan harganya cenderung lebih mahal dibandingkan produk konvensional.
Ancaman atau tantangan lainnya adalah Resiko Greenwashing dimana manajemen hotel dituntut untuk transparan karena banyak hotel melakukan klaim sepihak bahwa mereka telah melaksanakan konsep Green Hotel atau telah “Go Green” hanya dengan menempatkan kartu himbauan menghemat handuk dan air padahal limbahnya masih mencemari lingkungannya. Untuk menghindari kesan Greenwashing hotel harus melewati proses audit seperti sertifikasi proper dari KLH atau Green Hotel Standard Kemenpar.
PENUTUP
Meski investasi untuk teknologi ramah lingkungan (Konsep Green Hotel) ini cukup mahal tentu hotel akan mendapat manfaat jangka panjang yang berarti, seperti: efisiensi biaya dengan adanya penghematan tagihan listrik dan air secara signifikan dalam jangka panjang, hotel yang sudah Go Green juga menarik minat Eco-Conscious Travelers atau Ethical Tourists (wisatawan peduli lingkungan) yang saat ini pangsa pasarnya semakin tumbuh pesat dan rela membayar lebih tinggi demi kelestarian alam. Keuntungan lain adalah hotel bisa mendapatkan pengakuan resmi seperti Sertifikasi Green Hotel Award dari Kemenpar RI atau Standar Internasional seperti EarthCheck dan LEED.
Konsep Green Hotel (hotel hijau) ini atau hotel ramah lingkungan ini tentu bisa dilaksanakan oleh hotel kecil atau non-bintang, guest house atau homestay karena praktiknya mulai dengan menerapkan perilaku sustainable dengan langkah-langkah sederhana yang berbiaya rendah, seperti hemat listrik dengan menggunakan lampu LED di seluruh kamar dan area publik, serta mematikan alat elektronik saat tidak digunakan. Hemat air dengan memasang penghemat air di kran wastafel dan kurangi plastik dengan menyediakan air minum atau botol isi ulang dan menyediakan dispenser. Yang tidak kalah penting adalah memilah sampah basah dan kering, lalu mengolah sampah sisa makanan menjadi kompos.
Dengan melaksanakan konsep Green Hotel ini tentu kita dapat memutus mata rantai eksternalitas yang negatif yang dapat menyebabkan berbagai pengorbanan sosial (Social Cost) tapi sebaliknya memutus eksternalitas yang negatif itu justru akan memunculkan manfaat sosial atau memperkuat pondasi sosial (Social Benefit) bagi masyarakat disekitarnya.
THE CONCEPT IS AVAILABLE, THE REST IS UP TO YOU.
Akhirnya, terima kasih saya ucapkan kepada Bapak Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S Guru Besar Ekonomi/Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi dan Tenaga Ahli Gubernur Jambi yang telah menginspirasi tulisan yang sederhana ini.
Rujukan Pustaka:
- Briggs, S. 1988. Successful Tourism Marketing: A Practical Handbook.
- Cooper, C., et al. 2005. Tourism: Principles and Practice.
- Cornes, R., & Sandler, T. 2012. The Theory of Externalities, Public Goods and Club Goods.
- Marriott, J.W., Jr., & Brown, K.A. 1997. The Spirit to Serve: Marriott’s Way.
- Sharp, I. 2009. Four Seasons: The Theory of a Business Philosophy.
- Tjiptono, F., & Chandra, G. 2011. Service, Quality, Satisfaction.
Penulis:
THAMRIN B. BACHRI
Senior Advisor, Indonesia Tourism Support
Mantan Deputi Peningkatan Kapasitas & Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata periode 2001-2003, Dirjen Pemasaran Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata periode 2003-2008 dan alumni Lemhannas KSA-X 2002, yang mengenyam pendidikan di Department of Habitational Resources, Hospitality and Tourism, University of Wisconsin-Stout, USA (1990) ini mendedikasikan sebagian hidupnya di Bidang Pariwisata.
Staf pengajar di Pasca Sarjana Pariwisata STP Bandung dan penggagas buku Responsible Tourism Marketing ini sangat peduli dan banyak memberikan pandangan dan pemikiran yang terkait dengan pembangunan dan pariwisata yang bertanggungjawab dan berkelanjutan (Sustainable Tourism Development).
Ia berpendapat bahwa kombinasi yang akan menghancurkan pariwisata adalah MATERIALISM plus SHORT-TERMISM.
Saat ini berdomisili di Jambi dan menjadi Tenaga Ahli Gubernur (TAG) Jambi Bidang Pariwisata.