JAMBI - Karang Taruna Provinsi Jambi memperluas aksi sosial untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kabut asap.
Melalui Satgas Gebrak Karhutla, jajaran Karang Taruna bergerak serentak pada Minggu (30/8/2026), mulai dari Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Batanghari, Tebo hingga Kota Jambi.
Bentuk kegiatannya tidak dibuat seragam.
Di satu wilayah, Satgas menyalurkan air bersih.
Di wilayah lain, masker dan vitamin didistribusikan.
Sementara di Tanjung Jabung Timur, tenda posko lapangan didirikan untuk memperkuat koordinasi dan pelayanan masyarakat.
Gerakan tersebut dipimpin Ketua Karang Taruna Provinsi Jambi Rocky Chandra, dengan pelaksanaan lapangan dikoordinasikan Ketua Satgas Gebrak Karhutla Yoppi serta didukung Sekretaris Jenderal Karang Taruna Provinsi Jambi Arief.
Pagi Hari, Air Bersih Dibawa ke Desa Puding
Rangkaian aksi dimulai sekitar pukul 10.00 WIB.
Tim Satgas menuju Desa Puding, Kecamatan Kumpeh, Kabupaten Muaro Jambi, untuk mendistribusikan air bersih kepada masyarakat.
Dalam data yang disampaikan Karang Taruna, volume bantuan dicantumkan sebesar 6.000 ton air bersih. Namun satuan tersebut masih perlu dikonfirmasi kembali sebelum menjadi angka final publikasi.
Bantuan air bersih dipilih karena Satgas menemukan kebutuhan masyarakat di lapangan tidak hanya berkaitan dengan paparan asap.
Kebutuhan dasar rumah tangga juga harus menjadi perhatian.
Bagi warga, ketersediaan air mempunyai fungsi langsung untuk menopang aktivitas sehari-hari selama kondisi Karhutla masih berlangsung.
Dari Kumpeh, Tim Bergerak ke Tanjabtim
Sekitar pukul 13.00 WIB, pergerakan dilanjutkan menuju Kelurahan Teluk Dawan, Kecamatan Dendang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Di lokasi tersebut, Satgas mendirikan Tenda Posko 3.
Posko dipersiapkan sebagai salah satu titik pendukung kegiatan lapangan.
Fungsinya antara lain untuk membantu koordinasi relawan, distribusi bantuan serta kebutuhan pelayanan masyarakat di sekitar wilayah terdampak.
Dengan adanya posko, Satgas berharap respons tidak selalu harus dimulai dari tingkat provinsi.
Informasi mengenai kebutuhan masyarakat bisa dihimpun lebih dekat dari lokasi.
1.000 Masker dan Vitamin ke Kemingking Dalam
Pergerakan bantuan juga memanfaatkan jaringan Karang Taruna di tingkat daerah.
Sebanyak 1.000 masker dan vitamin diserahkan kepada jajaran Karang Taruna di Kecamatan Kemingking Dalam, Kabupaten Muaro Jambi.
Bantuan tersebut selanjutnya ditujukan untuk masyarakat yang membutuhkan, terutama warga yang masih harus beraktivitas di luar ruangan ketika kondisi udara terdampak asap.
Pola distribusi melalui jaringan kecamatan dipilih agar bantuan bisa menjangkau wilayah yang lebih luas.
Karang Taruna daerah dinilai lebih mengetahui titik dan kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Batanghari dan Tebo Ikut Dijangkau
Bantuan serupa juga bergerak ke Kabupaten Batanghari.
Karang Taruna Kabupaten Batanghari menerima masker dan vitamin untuk disalurkan kepada masyarakat.
Sementara di Kabupaten Tebo, bantuan masker dan Vitacimin diberikan kepada Karang Taruna Tebo Tengah.
Dengan pola tersebut, Satgas Gebrak Karhutla tidak mengandalkan satu tim untuk mendatangi seluruh lokasi.
Jaringan organisasi dari provinsi hingga daerah digunakan sebagai jalur distribusi.
Tujuannya agar bantuan bisa bergerak lebih cepat dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
Masker Dibagikan di Simpang BI
Di Kota Jambi, kegiatan dilakukan langsung di ruang publik.
Tim Satgas membagikan masker kepada masyarakat dan pengendara yang melintas di kawasan lampu merah Simpang BI.
Lokasi tersebut dipilih karena merupakan salah satu titik dengan mobilitas masyarakat yang cukup tinggi.
Pengendara sepeda motor menjadi salah satu sasaran distribusi karena mereka lebih banyak bersentuhan langsung dengan udara luar.
Pembagian masker menjadi salah satu langkah sederhana untuk membantu masyarakat mengurangi paparan asap selama beraktivitas.
Rocky Chandra: Jangan Cuma Bicara Kepedulian
Ketua Karang Taruna Provinsi Jambi Rocky Chandra mengatakan organisasi kepemudaan harus mampu hadir ketika masyarakat sedang menghadapi persoalan.
“Karang Taruna harus hadir ketika masyarakat membutuhkan. Kita tidak ingin hanya berbicara tentang kepedulian, tetapi harus turun langsung, melihat kebutuhan di lapangan dan melakukan apa yang bisa kita lakukan,” kata Rocky.
Ia juga mendorong jajaran Karang Taruna di kabupaten, kecamatan hingga desa dan kelurahan untuk ikut mengambil bagian.
Menurutnya, kekuatan Karang Taruna justru berada pada jaringan yang tersebar hingga tingkat masyarakat.
Dengan jaringan tersebut, informasi mengenai kebutuhan bisa diperoleh lebih cepat dan respons dapat disesuaikan.
Yoppi: Bantuan Tidak Bisa Dibuat Seragam
Ketua Satgas Gebrak Karhutla Yoppi mengatakan karakter kebutuhan di setiap daerah berbeda.
Karena itu, jenis bantuan tidak bisa ditentukan dengan satu pola yang sama untuk semua wilayah.
“Kami bergerak berdasarkan kebutuhan di lapangan. Ada masyarakat yang membutuhkan air bersih, ada yang membutuhkan masker dan vitamin, dan ada wilayah yang membutuhkan posko,” kata Yoppi.
“Jadi bantuan tidak bisa dibuat seragam, harus melihat kebutuhan masyarakat di masing-masing titik,” lanjutnya.
Menurut Yoppi, jaringan Karang Taruna menjadi modal penting dalam menentukan kebutuhan tersebut.
Pengurus di tingkat lokal dinilai mempunyai pengetahuan lebih dekat mengenai kondisi masyarakat.
Arief: Bukan Aksi Sehari
Sekretaris Jenderal Karang Taruna Provinsi Jambi Arief mengatakan aksi tersebut tidak dirancang sebagai kegiatan satu hari.
“Ini bukan aksi sehari. Kita sedang membangun gerakan bersama. Karang Taruna provinsi, kabupaten, kecamatan sampai tingkat desa harus bisa saling terhubung dan saling membantu ketika masyarakat menghadapi persoalan seperti Karhutla,” ujar Arief.
Ia mengatakan penanganan dampak Karhutla membutuhkan keterlibatan banyak unsur.
Pemerintah dan petugas menjalankan penanganan teknis kebakaran.
Sementara organisasi masyarakat, relawan, dunia usaha dan jaringan pemuda dapat mengambil peran dalam memenuhi kebutuhan sosial masyarakat.
Dari Bantuan Langsung hingga Infrastruktur Respons
Rangkaian kegiatan Minggu itu menunjukkan dua model respons yang dijalankan Satgas.
Pertama, bantuan langsung.
Air bersih.
Masker.
Vitamin.
Kedua, memperkuat infrastruktur respons melalui posko lapangan.
Posko menjadi penting ketika penanganan berlangsung lebih dari satu hari.
Dari sana, kebutuhan dapat dipantau.
Bantuan dapat dihimpun.
Dan jaringan relawan dapat dikoordinasikan.
Lima Wilayah dalam Satu Gerakan
Dalam satu hari, jaringan Karang Taruna menjangkau Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Batanghari, Tebo dan Kota Jambi.
Di Muaro Jambi, air bersih serta masker dan vitamin disalurkan.
Di Tanjung Jabung Timur, posko didirikan.
Batanghari dan Tebo mendapat dukungan masker serta vitamin.
Sedangkan di Kota Jambi, masker dibagikan langsung kepada pengendara.
Pola tersebut menjadi gambaran bagaimana organisasi kepemudaan mencoba menggunakan struktur jaringannya dalam situasi bencana.
Gerak Serentak Akan Dilanjutkan
Karang Taruna Provinsi Jambi menyatakan Satgas Gebrak Karhutla akan terus melakukan konsolidasi dengan pengurus di daerah.
Kebutuhan masyarakat akan menjadi dasar menentukan kegiatan berikutnya.
Artinya, bantuan berikut tidak harus selalu berbentuk masker.
Jika ditemukan kebutuhan air, air yang diprioritaskan.
Jika diperlukan titik koordinasi, posko yang disiapkan.
Dan ketika perlindungan terhadap kabut asap dibutuhkan, masker dan dukungan kesehatan menjadi pilihan.
Bagi Rocky Chandra dan jajarannya, gerakan tersebut ingin menempatkan pemuda sebagai bagian dari sistem respons sosial ketika bencana terjadi.
Dari Desa Puding hingga Simpang BI, Satgas Gebrak Karhutla mencoba membawa satu prinsip yang sama: bantuan tidak cukup menunggu di posko. Ia harus bergerak menuju tempat masyarakat membutuhkannya. (*)