PTPN IV PalmCo Tanam Kedelai di Areal Replanting Sawit, Pilot Project 1.000 Hektare Dimulai

WIB
ist

PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo mulai menguji pemanfaatan lahan peremajaan kelapa sawit untuk produksi kedelai.

Skalanya tidak kecil.

Sebanyak 1.000 hektare lahan disiapkan sebagai proyek percontohan.

Penanaman perdana dipusatkan di Kebun Adolina Regional II PTPN IV PalmCo, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, Jumat (28/8/2026).

Program tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan lahan yang sedang memasuki masa transisi replanting sekaligus mendukung peningkatan produksi kedelai dalam negeri.

Sawit Diremajakan, Kedelai Masuk Lebih Dulu

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan proyek tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan pemerintah untuk memperkuat produksi pangan nasional.

“Alhamdulillah, PTPN IV telah melaksanakan tanam perdana proyek percontohan kedelai. Ini merupakan tindak lanjut kita atas arahan Bapak Presiden melalui Bapak Menteri Pertanian untuk meningkatkan produksi nasional dan menekan impor kedelai,” kata Jatmiko.

Konsep yang digunakan adalah memanfaatkan lahan ketika tanaman sawit sedang diremajakan.

Sebelum sawit baru ditanam kembali, ruang yang tersedia digunakan untuk budidaya kedelai.

“Kita optimalisasikan areal peremajaan ataupun konversi sawit. Sehingga kurang lebih selama enam bulan sebelum sawit kembali ditanam, kita akan menanam kedelai terlebih dahulu,” ujarnya.

Pilot Project Dulu, Baru Bicara Ekspansi

PalmCo belum langsung membawa program tersebut ke skala yang jauh lebih luas.

Tahap awal 1.000 hektare akan digunakan untuk menguji kelayakan.

Teknis budidaya.

Produktivitas.

Biaya.

Operasional.

Hingga potensi pengembangan secara komersial.

“Karena kita belum pernah tanam kedelai sebelumnya, kita siapkan pilot project 1.000 hektare dulu,” kata Jatmiko.

Ia mengatakan ekspansi baru akan dilakukan apabila hasil evaluasi menunjukkan model tersebut layak.

“Dan sesuai arahan Danantara, jika ini berhasil serta memperlihatkan kelayakan di berbagai aspek, insya Allah akan dilanjutkan dengan luasan yang lebih masif,” ujarnya.

Varietas Grobogan Jadi Pilihan

Dalam proyek tersebut, PalmCo memilih kedelai varietas Grobogan.

Varietas ini disebut memiliki potensi produktivitas hingga sekitar 2 ton per hektare dengan masa panen sekitar 85–90 hari.

Dengan siklus tanam yang relatif singkat, kedelai dinilai sesuai dimanfaatkan pada periode transisi sebelum sawit baru kembali ditanam.

Namun angka dua ton per hektare masih merupakan potensi produktivitas.

Hasil aktual proyek tetap harus menunggu panen dan evaluasi lapangan.

Ketergantungan Impor Jadi Latar Belakang

Proyek ini juga dilatarbelakangi ketergantungan Indonesia terhadap pasokan kedelai dari luar negeri.

Dalam data yang disampaikan, defisit kedelai Indonesia disebut rata-rata mencapai sekitar 2,5 juta ton per tahun dalam lima tahun terakhir.

Karena itu, pemerintah mendorong penambahan produksi domestik.

PTPN IV mencoba masuk melalui optimalisasi areal perkebunan yang sedang tidak digunakan penuh selama proses peremajaan.

Kementan Beri Apresiasi

Perwakilan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Arif Muliawan, menyambut positif langkah tersebut.

“Kami memberikan apresiasi kepada PTPN yang terus menunjukkan komitmennya dalam menjalankan berbagai program swasembada pangan nasional,” kata Arif.

Ia berharap proyek percontohan tersebut berhasil dan dapat menjadi referensi bagi perusahaan lain.

“Semoga proyek ini berhasil dan dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Off-Taker Dinilai Jadi Kunci

Budidaya dalam skala besar tidak cukup hanya mengandalkan produksi.

Pasarnya juga harus jelas.

Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III (Persero) Rizal H Damanik menilai keberadaan off-taker menjadi salah satu faktor penting.

Sebab ketika produksi meningkat, hasil panen membutuhkan kepastian penyerapan.

Tanpa pasar yang jelas, proyek berisiko kuat di sisi produksi tetapi lemah di hilir.

Karena itu, ekosistem usaha juga harus dibangun bersamaan.

Bukan Mengganti Sawit dengan Kedelai

Program ini bukan berarti lahan sawit secara permanen diubah menjadi perkebunan kedelai.

Kedelai hanya memanfaatkan periode ketika areal memasuki tahap peremajaan atau konversi.

Setelah masa transisi berakhir, lahan kembali digunakan untuk penanaman sawit sesuai rencana kebun.

Dengan demikian, konsepnya adalah optimalisasi ruang dan waktu.

Lahan yang sedang berada di antara dua siklus sawit tetap menghasilkan.

Dua Komoditas, Satu Lahan dalam Waktu Berbeda

Skema ini memperlihatkan pendekatan baru dalam pengelolaan kebun.

Sawit tetap menjadi komoditas utama.

Namun pada masa transisi, kedelai digunakan sebagai tanaman sela.

Jika berhasil, satu areal dapat memberi manfaat ganda dalam waktu berbeda.

Perkebunan tetap berjalan.

Produksi pangan ikut bertambah.

1.000 Hektare Jadi Ujian Pertama

Yang akan menentukan masa depan program bukan luas proyek awalnya.

Tetapi hasilnya.

Apakah produktivitas tercapai.

Apakah biaya ekonomis.

Apakah budidaya cocok dengan karakter lahan.

Apakah pasar tersedia.

Dan apakah skema tersebut bisa direplikasi.

Semua masih harus diuji.

Dari Replanting ke Ketahanan Pangan

PalmCo kini mencoba mengubah periode replanting yang biasanya menjadi masa jeda produksi menjadi ruang baru bagi tanaman pangan.

Jika proyek 1.000 hektare berhasil, peluang ekspansi bisa terbuka.

Namun jika hasilnya belum sesuai harapan, model budidayanya harus diperbaiki.

Bagi PTPN IV PalmCo, proyek ini bukan sekadar menanam kedelai di sela sawit. Yang sedang diuji adalah apakah lahan perkebunan yang sedang diremajakan bisa ikut menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan nasional tanpa mengganggu siklus utama perkebunan. (*)

BeritaSatu Network