JAKARTA - PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo memperluas keterlibatannya dalam Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Sejak 2024 hingga Agustus 2026, perusahaan mencatat telah mendampingi peremajaan kebun sawit milik petani seluas 49.077,94 hektare.
Pendampingan dilakukan dari hulu sampai hilir. Mulai dari pemenuhan administrasi, penyediaan bibit unggul, pembinaan teknis budidaya, hingga peran sebagai offtaker atau pembeli hasil panen dari kebun-kebun PSR yang masuk dalam skema kemitraan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan skema tersebut diarahkan untuk memperbaiki produktivitas kebun rakyat sekaligus memberi kepastian pasar kepada petani.
“Kami menegaskan komitmen untuk tumbuh bersama petani sawit rakyat melalui kemitraan yang transparan, produktif, saling menguntungkan, dan berkelanjutan,” kata Jatmiko.
49 Ribu Hektare Sejak 2024
Angka 49.077,94 hektare tersebut merupakan akumulasi pendampingan PSR sejak 2024, 2025 hingga Agustus 2026.
Program itu dijalankan setelah konsolidasi entitas PTPN IV PalmCo pada Desember 2023.
Khusus selama 2026 hingga Agustus, luas kebun sawit rakyat yang disebut telah mendapat dukungan PalmCo mencapai 12.395,99 hektare di berbagai wilayah operasional perusahaan.
Pendampingan tersebut tidak hanya menyasar proses tanam.
Petani juga dibantu dalam menyiapkan administrasi, menggunakan bibit unggul, dan menerapkan kultur teknis budidaya yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas kebun.
PalmCo Masuk hingga Sisi Hilir
Salah satu persoalan yang kerap dihadapi petani setelah peremajaan adalah kepastian penyerapan hasil ketika tanaman mulai menghasilkan.
Di titik itulah PalmCo mengambil peran sebagai offtaker.
Perusahaan menyatakan siap menyerap tandan buah segar atau TBS dari kebun-kebun PSR rakyat yang direkomendasikan dinas maupun kementerian terkait sesuai mekanisme kemitraan yang berlaku.
Jatmiko mengatakan keterhubungan kebun rakyat dengan pabrik menjadi penting, tidak hanya bagi petani tetapi juga bagi keberlangsungan pasokan perusahaan.
“Bagi PalmCo, kebun rakyat yang produktif dan dikelola secara baik akan memperkuat kontinuitas pasokan TBS sawit sekaligus menjaga kualitas bahan baku yang masuk ke pabrik,” ujarnya.
PSR Bukan Cuma Tebang dan Tanam
Peremajaan sawit bukan proses singkat.
Tanaman tua atau tidak produktif harus ditebang, lahan dipersiapkan, bibit baru ditanam, kemudian petani harus menunggu sampai tanaman kembali menghasilkan.
Pada masa itu, aspek pembiayaan, teknis budidaya dan keberlanjutan penghasilan menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, PalmCo ingin menempatkan PSR sebagai bagian dari ekosistem kemitraan, bukan hanya program penggantian tanaman.
Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Setiyono menilai pendekatan tersebut penting bagi keberlanjutan ekonomi petani.
Menurutnya, PSR tidak sekadar mengganti tanaman tua dengan tanaman baru, tetapi menyangkut masa depan produksi dan keluarga petani.
“Kehadiran PTPN IV PalmCo memberikan kepastian bagi petani melalui peningkatan produktivitas, penyerapan hasil panen, kesejahteraan keluarga, serta penguatan kelembagaan koperasi di berbagai daerah,” kata Setiyono.
Bibit Unggul Jadi Kunci
Salah satu tahapan penting dalam peremajaan adalah penggunaan bibit.
Kebun rakyat yang menggunakan bahan tanam berkualitas rendah berisiko memiliki produktivitas yang tidak optimal selama satu siklus tanaman.
Karena itu, penyediaan bibit unggul ditempatkan sebagai bagian dari pendampingan.
Namun peningkatan produktivitas tidak hanya ditentukan bibit.
Pemupukan.
Pengelolaan kebun.
Panen.
Pemeliharaan.
Hingga kelembagaan petani juga menentukan hasil akhir.
Koperasi Ikut Diperkuat
PalmCo juga menempatkan kelembagaan petani sebagai salah satu bagian dari kemitraan.
Koperasi menjadi penting karena berperan dalam mengorganisasi petani, pengelolaan kebun, hingga hubungan pemasaran dengan perusahaan.
Jika kelembagaan lemah, PSR berisiko berhenti pada keberhasilan penanaman tanpa diikuti pengelolaan kebun secara profesional.
Karena itu, keberlanjutan program akan sangat bergantung pada kemampuan petani dan koperasi mengelola kebun setelah fase peremajaan selesai.
Bersinergi dengan BPDP dan Pemerintah
PalmCo menyatakan akan memperkuat kerja sama dengan kementerian terkait, pemerintah daerah, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta organisasi petani.
Sinergi tersebut diarahkan untuk mempercepat program peremajaan dan memastikan kebun yang masuk PSR benar-benar tepat sasaran.
PalmCo juga menempatkan kemitraan petani sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Artinya, perusahaan tidak hanya melihat kebun rakyat sebagai penerima program, tetapi sebagai salah satu sumber pasokan TBS bagi industri pengolahan sawit.
Target Nasional 50 Ribu Hektare
Program PSR nasional pada 2026 diarahkan mencapai 50 ribu hektare, berdasarkan target yang disebut dalam bahan perusahaan.
PalmCo sendiri mencatat dukungan terhadap 12.395,99 hektare hingga Agustus 2026.
Namun angka tersebut tidak serta-merta dapat dibandingkan sebagai realisasi nasional karena cakupan 50 ribu hektare merupakan target pemerintah secara keseluruhan, sementara angka PalmCo berasal dari wilayah dan mitra yang berada dalam pendampingan perusahaan.
Tantangan Sesungguhnya Setelah Replanting
Luas peremajaan memang menjadi indikator penting.
Tetapi keberhasilan PSR tidak berhenti pada berapa hektare kebun yang ditanam ulang.
Ukuran berikutnya justru lebih menentukan.
Apakah produktivitas petani meningkat.
Apakah kualitas TBS lebih baik.
Apakah hasil panen memperoleh pasar.
Apakah koperasi mampu bertahan.
Dan apakah pendapatan petani meningkat setelah kebun kembali menghasilkan.
Dengan 49.077,94 hektare kebun rakyat telah masuk pendampingan sejak 2024, tantangan PalmCo berikutnya bukan sekadar memperluas angka PSR. Ujiannya adalah memastikan setiap hektare yang diremajakan benar-benar berubah menjadi kebun yang produktif, memiliki pasar, dan mampu memperkuat ekonomi keluarga petani dalam jangka panjang. (*)