Ironi Sekeladi! Kampung Wali Kota Pertama Jambi, PLN Masih Berjarak 5 Kilometer

WIB
ist

Dari Sekeladi, Muhammad Kalam pernah berjalan jauh hingga menjadi Wali Kota Jambi pertama. Lebih dari satu abad setelah Makalam lahir di kampung itu, warga Sekeladi disebut masih menunggu satu hal yang bagi banyak tempat sudah biasa, listrik PLN. Di sana masih gelap gulita kala malam. Tiang terdekat hanya sekitar lima kilometer.

***

SEKELADI punya tempat tersendiri dalam sejarah Jambi.

Dari kampung di kawasan Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, inilah Muhammad Kalam atau Makalam berasal. Lelaki kelahiran 1889 itu melewati zaman Belanda dan Jepang, ikut dalam pembentukan pemerintahan republik di Jambi, hingga akhirnya tercatat menjadi Wali Kota Jambi pertama pada 1946-1948.

Tapi lebih dari satu abad setelah Makalam lahir, cerita dari kampung halamannya justru menghadirkan ironi lain.

Sekeladi masih menunggu terang.

Raja Indra, tokoh asal Sekeladi, mengatakan hingga kini masyarakat di kampung itu belum menikmati jaringan listrik PLN. Padahal, menurut dia, jaringan listrik yang sudah tersedia berada tidak terlalu jauh dari permukiman warga.

Jaraknya sekitar lima kilometer.

“Kami ini bukan meminta sesuatu yang mustahil. Tiang PLN yang sudah ada jaraknya tinggal sekitar lima kilometer dari Sekeladi. Kalau dihitung, mungkin sekitar 100 batang tiang lagi sudah bisa sampai ke kampung. Masyarakat sangat berharap PLN masuk. Ini kebutuhan dasar yang sudah lama kami tunggu,” kata Raja Indra.

Ia mengatakan keinginan masyarakat terhadap listrik bukan sekadar persoalan lampu yang bisa menyala pada malam hari.

Lebih jauh dari itu, listrik berkaitan dengan kualitas hidup masyarakat. Anak-anak membutuhkan penerangan untuk belajar. Rumah tangga membutuhkan listrik untuk aktivitas sehari-hari. Usaha kecil juga memerlukan energi agar dapat berkembang.

Bahkan, Raja Indra menggambarkan keinginan sederhana masyarakat dengan kalimat yang terdengar bersahaja.

“Orang di tempat lain mungkin listrik sudah dianggap biasa. Kami di Sekeladi masih menunggu. Masyarakat kami juga ingin merasakan bagaimana punya kulkas, bagaimana minum air es dari kulkas sendiri di rumah. Kedengarannya sederhana, tapi bagi sebagian masyarakat kami itu masih menjadi harapan,” ujarnya.

Hanya Lima Kilometer

Angka lima kilometer itulah yang membuat harapan masyarakat terus menyala.

Menurut Raja Indra, jarak jaringan PLN yang telah tersedia dengan Sekeladi hanya sekitar lima kilometer. Ia memperkirakan dibutuhkan kurang lebih 100 batang tiang untuk memperpanjang jaringan menuju permukiman warga.

Karena itulah masyarakat berharap pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Jambi, pemerintah pusat, serta PLN dapat memberikan perhatian.

“Kalau jaraknya ratusan kilometer, mungkin masyarakat masih bisa memahami kendalanya. Tapi ini sekitar lima kilometer. Karena itu kami sangat berharap ada keberpihakan. Jangan sampai kampung yang melahirkan salah satu tokoh penting sejarah Jambi justru terlalu lama menunggu listrik,” kata Raja Indra.

Permintaan tersebut, menurut dia, sudah menjadi keinginan kuat masyarakat.

“Masyarakat Sekeladi sangat mau PLN. Bukan satu-dua orang yang berharap. Ini kebutuhan masyarakat. Kami mohon pemerintah dan PLN melihat langsung kondisinya dan membantu agar jaringan segera masuk,” ujarnya.

Sekeladi memang bukan nama asing dalam perjalanan sejarah Jambi.

Dalam catatan mengenai Makalam, kampung ini telah disebut sebagai kawasan pedalaman yang jauh dari pusat kekuasaan sejak penghujung abad ke-19. Ketika Makalam tumbuh, pendidikan formal bahkan belum mudah dijangkau masyarakat di sana.

Makalam kemudian meninggalkan jejak panjang.

Ia pernah menjadi kepala dusun, rio, pasirah, asisten demang hingga demang. Setelah Indonesia merdeka, ia dipercaya menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia di Jambi dan berada dalam proses pembentukan pemerintahan Republik di daerah.

Pada 17 Mei 1946, ketika Pemerintah Kota Jambi dibentuk berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatera Nomor 103 Tahun 1946, Makalam menjadi orang pertama yang memimpin kota tersebut.

Dari Sekeladi, ia sampai ke pusat pemerintahan.

Namun Sekeladi hari ini, menurut penuturan Raja Indra, masih menghadapi persoalan infrastruktur dasar.

Kampung Sejarah Menunggu Perhatian

Bagi masyarakat Sekeladi, kehadiran PLN tentu jauh lebih besar maknanya daripada sekadar mengganti lampu minyak atau sumber penerangan lain.

Listrik dapat mengubah kehidupan sebuah kampung.

Kulkas dapat membantu warga menyimpan makanan lebih lama. Peralatan elektronik dapat menunjang kegiatan ekonomi rumah tangga. Anak-anak dapat belajar lebih nyaman pada malam hari. Akses komunikasi dan teknologi pun menjadi lebih mudah.

Karena itu, ungkapan Raja Indra tentang warga yang ingin merasakan “air es dari kulkas” sesungguhnya menggambarkan kesenjangan pembangunan dengan cara yang paling sederhana.

Di banyak kota, membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air dingin bukan sebuah peristiwa.

Di Sekeladi, menurut Raja Indra, hal sesederhana itu masih menjadi simbol tentang fasilitas yang ingin dinikmati masyarakat.

“Kami tidak meminta kemewahan. Kami hanya ingin mendapatkan pelayanan dasar seperti masyarakat di daerah lain. Sekeladi juga bagian dari Sarolangun, bagian dari Provinsi Jambi, dan masyarakatnya punya hak yang sama untuk menikmati pembangunan,” ujar Raja Indra.

Ia berharap sejarah besar Sekeladi juga dapat menjadi pengingat bagi pemerintah.

Sebab dari kampung itulah Makalam berasal. Seorang anak kampung yang tidak pernah memperoleh pendidikan formal, tetapi mampu menembus struktur pemerintahan dan akhirnya memimpin Kota Jambi pada awal republik.

Kini nama Makalam bahkan tetap hidup di Kota Jambi melalui Jembatan Makalam.

Namun di kampung kelahirannya, menurut Raja Indra, masyarakat masih menunggu tiang-tiang listrik bergerak lima kilometer lebih jauh.

Sejarah pernah membawa seorang anak Sekeladi dari pedalaman menuju balai kota.

Sekarang warga Sekeladi menunggu perjalanan lain.

Bukan perjalanan seorang manusia.

Melainkan perjalanan sekitar seratus batang tiang listrik—agar terang akhirnya sampai ke kampung yang pernah melahirkan Wali Kota Jambi pertama.(*)

BeritaSatu Network