Jambi - Mengisi pagi di awal bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Orwil Jambi bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jambi menggelar program bertajuk "Dakwah Digital Ramadhan 1447 H".
Acara kajian subuh yang didukung oleh Jambi Link sebagai media partner ini mengupas tuntas kedalaman makna puasa melalui tema besar "Samudra Ramadhan: Dialektika Filosofis, Psikologis, dan Teologis".
Kajian virtual ini diselenggarakan pada Jumat pagi, 20 Februari 2026, mulai pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Masyarakat luas dapat mengikutinya melalui platform Zoom Meeting (ID: 324 951 9499, Pass: icmijambi) serta siaran langsung di kanal YouTube ICMI Orwil Jambi.
Untuk kali ini, hadir membedah materi tersebut adalah pakar sekaligus tokoh cendekiawan Jambi, Prof. Dr. H. Mukhtar Latif, M.Pd , yang menjabat sebagai Ketua ICMI Orwil Jambi sekaligus Ketua MUI Bidang PKU. Acara ini akan dipandu oleh akademisi Dr. Mawaddah Warahmah, M.Pd. selaku moderator.
Dalam materinya, Prof. Mukhtar Latif menekankan bahwa secara hakikat ontologis, Ramadhan adalah samudra rahmat yang amat luas, dalam, dan tak bertepi.
Ia menggarisbawahi keistimewaan puasa di mana Allah SWT secara langsung "mengambil alih" balasannya. Melampaui kalkulasi amal ibadah biasa yang umumnya dikalikan 1 hingga 70 kali lipat , pahala puasa tidak bisa dihitung dengan limitasi hisab angka digital.
Hal ini selaras dengan Hadis Qudsi yang menyebutkan, "Puasa untuk-Ku, Aku sendiri yang membalasnya (Ana ajzibih)".
Lebih dalam, Prof. Mukhtar menyoroti puasa dari kacamata logika Ilahiyah (aqli). Puasa disebutnya sebagai instrumen yang sangat ampuh untuk menjernihkan nalar, mematikan ego rasionalistik yang kerap mendominasi manusia, serta menghidupkan akal budi sejati (tafakkarun).
Dari sisi psikologis, hati manusia diibaratkan sebagai titik ketuhanan (God Spot). "Puasa meregenerasi kesadaran nurani menuju ketenangan jiwa Nafsul Mutmainnah," paparnya.
Integrasi hati yang bersih (Qalbun Salim) ini diyakini mampu menciptakan resiliensi atau ketahanan jiwa yang stabil, sekaligus menyembuhkan kegelapan pikiran melalui kesadaran spiritual.
Secara teologis, hadirnya Ramadhan dimaknai sebagai panggilan langit bagi umat manusia (Fafirru ilallah). Ini adalah momentum terbaik untuk mengetuk pintu langit lewat serangkaian ibadah komprehensif, mulai dari shaum (puasa), shalatullail (tarawih/tahajud), mengamalkan iqra', hingga menunaikan zakat demi menuju Idul Fitri.
Sang Guru Besar juga mengingatkan sebuah pesan sufistik mendalam: "Mittu qabla haza" atau fenomena mati sebelum mati. Artinya, umat harus mematikan sifat-sifat zalim di dalam hati dan pikirannya sebelum datangnya kematian fisik. Tujuannya agar ruh kembali pada maqam nurani atau cahaya Ilahiyah yang fitrah.
"Samudra Ramadhan membentuk akhlakul karimah, mengembalikan fitrah awal insan kamil yang bertakwa (Tattaqun) dengan cahaya nurani kemanusiaan yang bersih," pungkasnya.(*)