HBA Tutup Rakerwil ISMI Jambi: Sarjana Melayu Harus Kejar SDM, Bahasa hingga Kebutuhan Dunia Kerja

WIB
ist

JAMBI - Ketua Dewan Penasehat Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hasan Basri Agus (HBA) menutup Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) I ISMI Jambi dengan satu pesan besar: Jambi tidak boleh tertinggal dalam pembangunan sumber daya manusia.

Di hadapan pengurus ISMI, HBA mengajak para sarjana Melayu membaca perubahan zaman secara serius. Menurutnya, kekuatan daerah ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada sumber daya alam. Yang semakin menentukan justru kualitas manusia, pendidikan, kemampuan bahasa, penguasaan teknologi dan kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja.

HBA bahkan menarik pembicaraan jauh ke belakang.

Ia mengatakan perkembangan kelompok terdidik dan sarjana di Jambi relatif lebih lambat dibandingkan sejumlah daerah tetangga.

Menurut HBA, sarjana pertama dari Jambi berasal dari Kerinci. Ia membandingkan sejarah tersebut dengan masyarakat Minangkabau yang, menurut penuturannya, telah memiliki kelompok sarjana sejak sekitar 1920-an.

“Minang tahun 20-an sudah sarjana. Kita Jambi baru tahun 50-an,” kata HBA dalam sambutannya.

Pernyataan mengenai periode sejarah itu merupakan penuturan HBA dalam forum Rakerwil.

Bagi HBA, sejarah tersebut bukan untuk merendahkan Jambi.

Justru menjadi pengingat bahwa persaingan masa depan akan ditentukan oleh seberapa cepat daerah membangun manusianya.

Gubernur Harus Berpikir SDM Maju

HBA kemudian mengarahkan pesannya kepada kepemimpinan daerah.

Menurutnya, seorang gubernur maupun kepala daerah tidak cukup hanya memikirkan pembangunan fisik.

Pemimpin harus berpikir jauh mengenai SDM seperti apa yang dibutuhkan Jambi lima, sepuluh hingga puluhan tahun ke depan.

“Gubernur harus berpikir SDM maju,” ujarnya.

Menurut HBA, pendidikan sarjana harus memiliki hubungan nyata dengan peningkatan akses ekonomi masyarakat.

Gelar akademik tidak boleh berhenti sebagai simbol status.

Sarjana harus meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan, membangun usaha, menciptakan inovasi dan menaikkan taraf ekonomi.

Karena itu, perencanaan pembangunan manusia harus berjalan bersama dengan membaca perubahan kebutuhan pasar tenaga kerja.

HBA Ingatkan: Pegawai Bank Berkurang karena Digitalisasi

Salah satu contoh yang disampaikan HBA adalah perubahan industri perbankan.

Menurutnya, digitalisasi membuat kebutuhan terhadap sebagian jenis pekerjaan di bank terus berubah.

“Pegawai bank berkurang seiring digitalisasi,” kata HBA.

Pesannya mengarah pada satu persoalan: dunia pendidikan tidak boleh terus menghasilkan lulusan dengan pola lama ketika struktur pekerjaan sudah berubah.

Perguruan tinggi, menurut dia, harus membaca kebutuhan tersebut.

Fakultas dan program studi harus semakin disesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja, perkembangan teknologi dan arah ekonomi baru.

Dengan kata lain, perguruan tinggi tidak cukup bertanya berapa banyak mahasiswa yang bisa diterima.

Pertanyaan berikutnya adalah:

lulusan ini akan bekerja di mana dan kompetensi apa yang dibutuhkan dunia ketika mereka lulus?

Kepala Daerah Harus Pikirkan Anak Jambi Mau Sekolah Apa

HBA juga mendorong pemerintah daerah mulai memikirkan pendidikan masyarakat secara lebih strategis.

Bukan hanya berapa banyak anak yang kuliah.

Tetapi mau sekolah apa, belajar keterampilan apa dan untuk menghadapi lapangan kerja seperti apa.

Menurutnya, perubahan ekonomi membutuhkan perencanaan SDM yang lebih presisi.

Jika kebutuhan dunia kerja bergerak menuju teknologi, bahasa asing, industri baru dan layanan berbasis digital, sistem pendidikan harus beradaptasi.

Di sinilah HBA melihat organisasi sarjana seperti ISMI memiliki ruang besar.

ISMI memiliki jaringan akademisi dan profesional yang bisa membantu pemerintah membaca kebutuhan masa depan tersebut.

Dorong Kursus Bahasa Arab, Inggris hingga China

HBA kemudian memberikan satu usulan yang sangat konkret.

ISMI diminta tidak hanya menggelar diskusi.

Ia mendorong organisasi tersebut membuat kursus bahasa asing.

Mulai bahasa Arab.

Bahasa Inggris.

Hingga bahasa China.

Menurut HBA, kemampuan bahasa harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk generasi Jambi.

“Buat kursus bahasa Arab, Inggris, China dan lain-lain. Ini untuk kepentingan anak cucu kita ke depan,” ujarnya.

Ia juga memberikan apresiasi khusus kepada Ketua ISMI Jambi Hj Ernawati yang dinilainya memiliki kemampuan bahasa Arab yang baik.

Kemampuan seperti itu, menurut HBA, seharusnya ditularkan kepada generasi muda.

Pesannya jelas: ISMI memiliki orang-orang berpendidikan dan mempunyai keahlian. Jangan biarkan kemampuan tersebut hanya berhenti pada individu.

Transfer ke generasi berikutnya.

Jangan Jalan Sendiri, ISMI Harus Kolaborasi

Pesan berikutnya adalah kolaborasi.

HBA tidak ingin ISMI menjadi organisasi yang bekerja sendiri.

Ia meminta ISMI membangun kerja sama dengan organisasi lain seperti ICMI, BKPRMI dan berbagai organisasi masyarakat maupun keagamaan lainnya.

Tujuannya agar program tidak tumpang tindih dan energi organisasi dapat digabungkan untuk menghasilkan dampak yang lebih besar.

“ISMI harus kolaborasi, misalnya dengan ICMI, BKPRMI dan lainnya,” kata HBA.

Ia juga mengingatkan program ISMI jangan justru berbenturan dengan program pemerintah.

Posisi organisasi harus saling menguatkan.

Jika pemerintah sudah mengerjakan suatu program, ISMI bisa mengambil ruang yang belum tersentuh.

Jika pemerintah membutuhkan pemikiran, sarjana masuk dengan gagasan.

Jika masyarakat membutuhkan pendampingan, organisasi turun dengan tenaga ahlinya.

HBA Puji Ernawati: Punya Modal Sosial

Dalam sambutannya, HBA juga menyinggung kepemimpinan Hj Ernawati di ISMI Jambi.

Ia mengaku senang karena organisasi tersebut dipimpin figur yang menurutnya memiliki kemampuan untuk menggerakkan kegiatan sosial.

HBA menyinggung aktivitas Ernawati yang membantu masyarakat, memberangkatkan orang untuk beribadah umrah hingga rajin memberikan santunan.

“Kita bahagia Ketua ISMI punya modal. Banyak berangkat umrah orang. Rajin santunan,” kata HBA.

HBA kemudian menceritakan satu percakapannya dengan Ernawati.

Menurut HBA, Ernawati pernah menyampaikan kepadanya:

“Ada saham Rasulullah 50 persen pada saya. Untuk umat.”

Kalimat itu disampaikan HBA ketika menggambarkan orientasi sosial yang menurutnya harus terus diperkuat dalam kepemimpinan ISMI.

Ia mendorong modal sosial dan kemampuan yang dimiliki pengurus digunakan untuk kepentingan masyarakat.

Tapi Program Harus Dipilah

Meski mengapresiasi semangat besar ISMI, HBA memberikan satu catatan.

Program jangan terlalu banyak lalu tidak selesai.

Ia meminta Rakerwil memilah program.

Mana yang prioritas.

Mana yang dapat dikerjakan.

Mana yang sesuai kebutuhan masyarakat.

Dan mana yang benar-benar mampu memberi hasil.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat yang berkembang selama Rakerwil: organisasi sarjana tidak boleh hanya sibuk dengan banyaknya acara.

Program harus memiliki sasaran dan manfaat.

HBA meminta energi pengurus dijaga.

“Semangat para ISMI,” katanya.

Pesan HBA tentang Jadi Pemimpin: Tidak Gampang

Menjelang akhir sambutannya, HBA membawa peserta ke pengalaman kepemimpinan.

Ia mengingatkan bahwa menjadi pemimpin bukan pekerjaan mudah.

Seorang pemimpin harus siap menerima kritik.

Disalahkan.

Bahkan dinyinyir.

“Jadi pemimpin tidak gampang. Disalahin orang. Dinyinyirin,” kata HBA.

Ia kemudian membawa pengalaman pribadinya ketika berada dalam posisi kepemimpinan daerah.

“Saya sudah merasa jadi gubernur. Tidak gampang,” ujarnya.

Karena itu, HBA memberikan satu pesan kepada kader ISMI yang kelak masuk ke ruang kepemimpinan.

Jadilah bijak.

Pemimpin tidak boleh mudah terpancing.

Tidak semua kritik harus dibalas.

Tidak semua perbedaan harus menjadi konflik.

Dan tidak semua persoalan diselesaikan dengan kekuasaan.

Dari Sarjana ke Pemimpin Jambi Masa Depan

Pesan HBA menjadi relevan dengan salah satu arah besar Rakerwil ISMI Jambi: membangun kader pemimpin masa depan.

ISMI tidak hanya ingin menjadi tempat berkumpul para sarjana.

Organisasi tersebut didorong menjadi ruang peningkatan kualitas manusia.

Ada pendidikan.

Bahasa.

Teknologi.

Ekonomi.

Kaderisasi.

Kolaborasi.

Dan pengabdian sosial.

Sebelumnya, Ketua ISMI Jambi Hj Ernawati juga telah menegaskan Rakerwil harus menjadi titik awal kerja organisasi yang lebih serius.

“Jangan sampai ISMI hanya menjadi tempat berkumpulnya para sarjana. Jadikan ISMI sebagai rumah ilmu, rumah silaturahmi, rumah kaderisasi, rumah kemanusiaan dan rumah pengabdian,” tegas Ernawati dalam sambutannya.

Pesan HBA pada penutupan Rakerwil seperti melengkapi arah tersebut.

Jambi membutuhkan lebih banyak sarjana.

Tetapi jumlah gelar bukan tujuan akhirnya.

Yang dibutuhkan adalah sarjana yang relevan dengan zaman, menguasai bahasa, memahami teknologi, mampu membaca ekonomi dan siap mengambil tanggung jawab kepemimpinan.

Dari situ HBA meninggalkan pesan sederhana kepada ISMI:

jangan berjalan sendiri.

Jangan bertabrakan dengan pemerintah.

Pilih program yang benar-benar bisa dikerjakan.

Bangun kemampuan generasi berikutnya.

Dan ketika suatu hari diberi amanah menjadi pemimpin—

jadilah bijak. (*)

BeritaSatu Network