Oleh:
Prof. Dr. Johannes, SE., M. Si
Penetapan Kerinci sebagai destinasi wisata prioritas Provinsi belum menunjukkan kinerja yang baik, walau diakui bahwa potensi wisata di Kerinci dan Sungai Penuh sangat menjanjikan. Salah satu instrumen kepariwisataan yang belum digerakkan adalah potensi akademis (Perguruan Tinggi) menyelenggarakan MICE secara teratur. Menyelenggarakan MICE juga berati berpotensi untuk pengembangan bisnis bersamaan dengan peningkatan pariwisata seacara umum. Dengan demikian maka perhatian dan kinerja pariwisata bangkit bersamanya. Artikel ini adalah satu gagasan awal terhadap lingkungan PT di Kerinci dan Sungai Penuh yang berpotensi menyelenggarakan MICE yang dilaksanakan di Kampus terbesar di Kerinci Sungai Penuh.
MICE: instrumen pariwisata kekinian
MICE, Meeting, Insentive, Conference and Exebition dikenal sebagai bentuk kolaborasi antar lembaga untuk memajukan satu destinasi dimana pelaku menerima manfaat yang berbeda. Masing-masing pelaku berkepentingan terhadap pertemuan, pemberian insentif, menyelenggarakan konferensi dan melakukan exebisi sehingga siap terlibat. Kemenpar (2026), untuk itu telah menyiapkan web khusus, agar setiap penyelenggaraan dapat merencanakan dimana dan kapan MICE diselenggarakan. Bentuk kegiatan lain MICE diselenggarakan oleh ICA (International Conference Assosiation) yang bekerja di bidang industri. Kedua kegiatan ini saling mendukung, artinya pelaku ICA adalah pelaku sebahagian MICE. Kota Penyelenggara kegiatan ini yang paling banyak melaksanakan adalah Bangkok yang kemudian diikuti oleh Singapura. Tak heran kalau dua kota ini adalah kota dengan kunjungan wisata terbesar di Asia dengan segmen yang berbeda .
Secara kewilayahan, Sungai Penuh - Kerinci terpisah oleh aturan administrasi, sebagai kota dan sebagai kabupaten. Akan tetapi, untuk kepentingan pariwisata keduanya adalah satu kesatuan yang saling mendukung, prinsip pengelolaan adalah co-opetition bukan competition, berlomba memberikan yang terbaik, tidak menghilangkan peran satu dengan yang lain. Peran kedua pemerintahan sangat krusial dalam membangun pandangan bahwa kegiatan pariwisata adalah prioritas. Pemerintah Provinsi telah menetapkan Kerinci sebagai destinasi prioritas yang seharusnya mampu menunjukkan roadmap yang implementatif. Roadmap inilah yang dapat dimainkan oleh MICE, kegiatan konferensi dimana sumber daya Perguruan Tinggi dapat menyelenggarakannya, selain mencapai tujuan ekonomis juga mencapai tujuan yang lebih besar.
MICE dalam konsep Penthahelix menunjukkan bahwa pemerintah, pelaku ekonomi, akademisi, media dan komunitas menyadari peran mereka terhadap satu hal yang dinilai penting, meningkatkan kinerja kepariwisataan,. Sungai Penuh - Kerinci dalam hal ini sangat beralasan, karena diterapkan sebagai destinasi prioritas di Provinsi Jambi. Penetapan ini sangat beralasan karena kekayaan kedua wilayah ini memang mengandung potensi wisata besar. Sehingga, diharapkan menjadi penghela pembangunan ekonomi yang lebih besar.
Potensi PT di Sungai Penuh - Kerinci
Dari laporan PD Dikti tercatat delapan PT di Sungai Penuh - Kerinci dengan jumlah dosen mencapai 379 orang dan mahasiswa sebanyak 7.448 orang. Ini adalah gambaran potensi yang akan berkembang ke depan, walau ada kekawatiran bahwa penduduk yang relatif kaya dan pintar akan mengambil kesempatan pendidikan di luar Sungai Penuh - Kerinci. Kemudian kalau diurut dari skala PT didapat bahwa IAIN merupakan PT yang tertinggi kemudian diikuti oleh STIE Sakti Alam Kerinci.
Dari hasil diskusi dalam FGD yang diselenggarakan di IAIN Sungai Penuh - Kerinci IAIN bersedia menjadi inisiator, pelaku pertama untuk menjadi inisiator. Walau harus dicatat bahwa PT lainnya seperti STIE Sakti Alam Kerinci, STIT YOI Kerinci, AMIK Depati Purbo, STIA Nusantara Sakti, AKPER Bina Insani Sakti, STKIP Muhammadiyah Sp, dan Akademi Teknik Adi Karya siap terlibat.
Kemajuan seperti ini patut dipertimbangkan sebagai inisiator walau disadari berbagai masalah dihadapi berkaitan dengan kepariwisataan. Ini berkaitan dengan sosial hospitality, dimana masyarakat pada umumnya masih belum memiliki sikap pelayanan yang menopang pariwisata. Hal ini diikuti pula dengan kebanggaan yang belum sepenuhnya terwujud terhadap keindahan Sungai Penuh - Kerinci sebagai destinasi. Masyarakat merasakan hal yang biasa saja terhadap apa yang dimiliki. Kebanggaan ini bagaimanapun harulah dikelola untuk menopang upaya di bidang kepariwisataan.
MICE harus terlaksana dalam satu pemahaman pentingnya pengembangan pariwisata bukan saja karena ditetapkan oleh pemerintah Provinsi akan tetapi karena menjawab sebagian dari permasalahan pembangunan itu sendiri. Selanjutnya, masing-masing pihak harus yakin bahwa kelima pihak dari konsep pentahelix misalnya dapat memainkan peran.
MICE dan Kolaborasi
Wilayah Sungai Penuh-Kerinci memiliki basis perguruan tinggi yang dapat menjadi titik awal sekaligus penggerak MICE. IAIN PT terbesar menunjukkan kesiapan sebagai penyelenggara adalah modal tak ternilai untuk menggerakkan sumber daya terkait dengan MICE. Kedua wilayah ini terkait erat dengan keberadaan TNKS (Taman Nasional Kerinci Sebelat). Wilayah TNKS dapat digunakan menjadi destinasi wisata sepanjang dilaksanakan dalam bentuk berkelanjutan. Destinasi Rawa Bento misalnya sepenuhnya berada di kawasan TNKS, akan tetapi dapat digunakan menjadi destinasi yang paling tersohor di Kayu Aro. Demikian juga dengan Danau Kaco sepenuhnya berada di wilayah TNKS.
Kolaborasi adalah kunci daripada MICE, bila satu PT menjadi inisiator di tahun maka di tahun berikutnya bisa dilanjuti oleh PT yang lain, malah bisa ke kabupaten tetangga, Merangin, Bungo, bahkan ke Jambi asal persyaratan tema dapat dipedomani. Tema pariwisata, budaya, dan lingkungan menjadi tema trendy yang dapat menghela potensi lainnya seperti kenduri Sko. Kenduri Sko adalah kalender tetap di kabupaten Sungai Penuh - Kerinci yang harus terintegrasi dengan MICE.
Kolaborasi prinsipnya masing-masing memiliki anggaran dan sumber daya akan tetapi terikat dalam pencapai tujuan konferensi. Kolaborasi dapat berjalan bilamana setiap pihak yang terlibat merasa berkepentingan dan dapat memainkan peran. Dalam konteks PT, maka keyakinan dapat berbuat adalah aset yang sangat berharga. Kegiatan terus meneliti dan mengabdi dosen bersama mahasiswa, dan mencari penyelesaian menjadi sesuatu yang tak terhentikan (unstopable), sehingga lebih banyak melibatkan orang lain akan lebih tinggi hasilnya. Yoon & Wang, (2023) melaporkan bahwa MICE dapat mengintegrasikan pasokan di antara pelaku yang kemudian menjadi modal sosial karena satu dengan lain merasa berkepentingan. Peran pemerintah daerah misalnya dibutuhkan, akan tetapi pada fase tertentu, perannya akan berkurang.
Putu Agung Prianta & Dinar Sukma Pramesti, (2026) selanjutnya menjelaskan bahwa praktik MICE di Lombok masih terlalu didominasi oleh pemerintah dan swasta, belum banyak melibatkan komunitas dan masyarakat. Sementara Pratiwi Arcana, (2014) melaporkan bahwa pelaksanaan MICE di Bali dinilai yang telah matang karena didukung oleh: 1) aksesibilitas, ii) atraksi, iii) amenitas dan kenyamanan, iv) layanan tambahan, v perantara khusus dan vi) dukungan pemangku kepentingan.
Penggerak yang telah menunjukkan komitmen seperti IAIN tergolong kepada social entrepreneur, yang siap berkolaborasi dengan parapihak untuk mencapai tujuan yang lebih besar: pariwisata yang menggerakkan perekonomian Sungai Penuh - Kerinci di Provinsi Jambi.
Kesimpulan
Ditahap inisiasi, tercatat kemajuannya keinginan menjadi Host yang didukung oleh PT lain. Ini perlu dikomunikasikan kepada kedua pemda, Sungai Penuh - Kerinci untuk membangun pemahaman yang sama dan merasa bisa berperan baik untuk jangka pendek dan panjang. Kegiatan menentukan tema MICE setiap tahun dibutuhkan untuk menggerakkan semua potensi. Di tahap awal adalah membangun komunikasi termasuk dengan vested interest seperti TAG (Tenaga Ahli Gubernur) yang mempunyai jaringan kepariwisataan yang mumpuni.
DAFTAR PUSTAKA
Kemenpar. (2026). Host Your Vusiness Event in Indonesia (p. 1). Kemenmpar. https://event.kemenpar.go.id/en/mice
Kim, E. G., Chhabra, D., & Timothy, D. J. (2022). Towards a Creative MICE Tourism Destination Branding Model: Integrating Heritage Tourism in New Orleans, USA. Sustainability, 14(24), 16411. https://doi.org/10.3390/su142416411
Pratiwi Arcana, K. T. (2014). IMPLEMENTASI KONSEP “SUSTAINABLE EVENT MANAGEMENT” DALAM PENGELOLAAN KEGIATAN MICE DI KAWASAN WISATA NUSA DUA, BALI. Jurnal Master Pariwisata (JUMPA). https://doi.org/10.24843/JUMPA.2014.v01.i01.p05
Putu Agung Prianta, & Dinar Sukma Pramesti. (2026). Participation in the Development of MICE Tourism as a Destination Tourism Product in Lombok. Jurnal Pariwisata Nusantara (JUWITA), 5(1), 70–80. https://doi.org/10.20414/juwita.v5i1.15399
Silva-Pedroza David, M., & Gustavo, rin-C. and R.-G. (2017). NFC Evaluation in the Development of Mobile Applications for MICE in Tourism.pdf. 9(1937), 1–20. https://doi.org/10.3390/su911193
Yoon, T.-H., & Wang, S. (2023). How Important Is Stakeholder Collaboration in the MICE Industry: Antecedents and Outcomes of Supply Chain Integration. Sustainability, 15(20), 14966. https://doi.org/10.3390/su152014966