Oleh:
Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Guru Besar Universitas Jambi
Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi
Rupiah tidak sedang sekadar melemah; ia sedang memberi tahu bahwa fondasi ekonomi Indonesia belum cukup kuat menahan badai global. Ketika Bank Indonesia menaikkan suku bunga, harga BBM nonsubsidi naik, pemerintah menahan ekspansi belanja, dan pasar menuntut disiplin kebijakan, yang terjadi bukan lagi gejolak harian. Indonesia sedang memasuki fase mahalnya stabilitas. Negara harus membayar lebih tinggi untuk menjaga rupiah, mempertahankan kepercayaan investor, dan meredam tekanan inflasi.
Ekonomi Indonesia memang masih tumbuh. Pada triwulan I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen. Angka ini tidak kecil di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi dunia. Namun pertumbuhan tinggi tidak otomatis berarti ekonomi sedang baik-baik saja. Di balik angka itu, masyarakat dan dunia usaha mulai merasakan tekanan: rupiah melemah, suku bunga naik, biaya energi meningkat, impor lebih mahal, dan pelaku usaha semakin berhati-hati mengambil keputusan ekspansi.
Persoalan utama Indonesia bukan krisis pertumbuhan, melainkan krisis ketahanan struktur ekonomi. Pertumbuhan masih berjalan, tetapi bantalannya belum cukup tebal. Konsumsi masih bergerak, tetapi daya beli mulai tertekan. Investasi masih masuk, tetapi kepercayaan pasar harus terus diyakinkan. Rupiah masih dapat dijaga, tetapi dengan biaya moneter yang berat. Ekonomi seperti ini tampak kuat dari luar, tetapi mudah gelisah ketika dolar menguat, harga minyak naik, atau investor asing menarik dananya.
Keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga dapat dipahami. Dalam keadaan rupiah tertekan, bank sentral harus menjaga kredibilitas mata uang. Rupiah yang dibiarkan melemah terlalu jauh akan memukul impor pangan, energi, obat-obatan, bahan baku industri, dan pembayaran utang luar negeri. Pelemahan rupiah juga dapat menular menjadi inflasi, menekan rumah tangga, dan mempersempit ruang fiskal pemerintah. Membela rupiah bukan pilihan emosional, melainkan kebutuhan ekonomi.
Namun kenaikan suku bunga juga memiliki harga. Kredit menjadi lebih mahal. Dunia usaha menunda ekspansi. UMKM lebih berhati-hati meminjam. Konsumen menahan pembelian barang tahan lama. Industri yang bergantung pada pembiayaan menghadapi beban tambahan. Suku bunga tinggi seperti obat keras: menurunkan panas, tetapi tak boleh terlalu lama. Ia menyelamatkan stabilitas jangka pendek, tetapi dapat menahan denyut sektor riil.
Ada pandangan yang mengatakan stabilisasi harus diutamakan, apa pun biayanya. Kubu ini menilai rupiah adalah simbol kepercayaan. Bila rupiah runtuh, harga-harga naik, defisit membesar, dan kredibilitas negara terganggu. Pandangan ini benar: tidak ada pertumbuhan sehat di atas mata uang yang rapuh. Namun stabilitas moneter saja tidak cukup menenangkan ekonomi. Ekonomi rakyat tidak hidup dari kurs semata, tetapi dari pekerjaan, upah, harga pangan, biaya transportasi, cicilan, dan kepastian usaha.
Sebaliknya, ada kubu yang mengkritik kenaikan suku bunga dan penyesuaian harga energi karena dianggap menekan masyarakat. Mereka khawatir sektor riil menjadi korban kebijakan stabilisasi. Kritik ini juga benar: ekonomi tidak boleh hanya diselamatkan untuk pasar keuangan, tetapi harus dirasakan masyarakat. Namun membiarkan rupiah melemah terlalu jauh justru lebih menyakitkan. Harga barang impor naik, biaya produksi meningkat, dan inflasi dapat menyebar. Persoalannya bukan memilih antara rupiah atau rakyat, melainkan menjaga rupiah tanpa mematikan ekonomi rakyat.
Posisi yang lebih jernih adalah melihat gejolak ini sebagai tanda bahwa Indonesia membutuhkan stabilisasi sekaligus pembenahan struktur. Stabilisasi diperlukan agar tekanan tidak berubah menjadi krisis. Reformasi struktural diperlukan agar Indonesia tidak terus-menerus kembali ke keadaan darurat yang sama. Selama struktur ekonomi dangkal, rupiah akan menjadi korban pertama setiap kali dunia bergejolak. Selama industri bergantung pada bahan baku impor, pelemahan rupiah cepat berubah menjadi kenaikan biaya produksi. Selama ekspor bertumpu pada komoditas mentah, perubahan harga global akan mengguncang penerimaan.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi juga harus dibaca lebih luas. Pemerintah mungkin beralasan dampaknya terhadap inflasi terbatas karena bukan BBM utama transportasi publik. Secara teknis, argumen itu dapat diterima. Namun secara psikologis, harga BBM selalu menjadi sinyal penting. Ketika BBM naik, masyarakat langsung membayangkan kenaikan ongkos distribusi, biaya logistik, harga kebutuhan pokok, dan beban hidup harian. Rakyat tidak membaca neraca makro sebelum merasa cemas; rakyat membaca harga di pasar, biaya transportasi, dan sisa uang di dompet.
Karena itu, pemerintah tidak cukup hanya menjelaskan bahwa inflasi terkendali. Pemerintah harus memastikan tekanan harga tidak menjalar ke pangan, transportasi, dan kebutuhan pokok. Pengawasan distribusi harus diperkuat. Cadangan pangan harus tersedia. Subsidi harus lebih tepat sasaran. Bantuan sosial tidak boleh terlambat dan tidak boleh bocor. Pemerintah daerah harus dilibatkan karena tekanan harga paling cepat dirasakan di pasar-pasar lokal.
Tiga agenda harus diperkuat. Pertama, memperdalam industri substitusi impor. Hilirisasi harus masuk ke pangan, farmasi, petrokimia, alat kesehatan, komponen industri, dan teknologi menengah. Kedua, memperkuat ketahanan pangan dan energi. Ketergantungan pada impor membuat Indonesia mudah terombang-ambing oleh perang, cuaca ekstrem, harga minyak, dan kebijakan negara lain. Ketiga, mendisiplinkan belanja negara agar lebih produktif. Belanja seremonial, konsumtif, dan tidak produktif harus ditekan. Program besar harus diuji dengan kajian matang, data kuat, dan kapasitas implementasi realistis.
Pelajaran besar dari gejolak terbaru ini adalah bahwa stabilitas tidak boleh hanya dijaga di pasar uang. Rupiah tidak cukup diselamatkan dengan suku bunga, intervensi valas, atau imbauan kepada investor. Rupiah harus diperkuat dari sawah yang produktif, pabrik yang efisien, pelabuhan yang lancar, energi yang terjangkau, UMKM yang naik kelas, dan tata kelola negara yang disiplin. Stabilitas memang harus dijaga, tetapi stabilitas yang terus-menerus dibeli dengan harga mahal adalah tanda bahwa fondasi ekonomi belum selesai dibangun. Indonesia boleh menaikkan suku bunga untuk menyelamatkan rupiah hari ini. Pemerintah boleh menyesuaikan harga untuk menjaga fiskal hari ini. Namun pekerjaan terbesar bukan sekadar memadamkan api hari ini. Pekerjaan terbesar adalah memastikan api yang sama tidak terus muncul setiap kali dunia bergejolak. Ekonomi Indonesia harus dibebaskan dari struktur lama yang membuat krisis selalu datang kembali dengan wajah baru.(*)