Oleh: Syahrasaddin
Sekretaris Dewan Penasehat ISMI Provinsi Jambi
Provinsi Jambi sesungguhnya bukan negeri yang kekurangan karunia.
Alam telah menyediakan tanah yang subur, perkebunan, pertanian, minyak dan gas, batubara, hutan, sungai, keanekaragaman hayati, serta kekayaan sejarah dan kebudayaan Melayu.
Data pembangunan juga menunjukkan bahwa Jambi terus bergerak.
Pada tahun 2025, ekonomi Provinsi Jambi tumbuh 4,93 persen dengan PDRB sekitar Rp349,66 triliun dan PDRB per kapita sekitar Rp92,79 juta.
Indeks Pembangunan Manusia mencapai 75,13. Angka kemiskinan pada September 2025 sebesar 6,89 persen. Tingkat Pengangguran Terbuka pada November 2025 sebesar 4,08 persen. Sementara Gini Ratio September 2025 tercatat 0,291.
Dengan capaian tersebut, kurang tepat apabila Jambi digambarkan sebagai daerah yang tidak berkembang.
Tetapi bagi kaum sarjana, pertanyaannya tidak boleh berhenti pada: apakah Jambi tumbuh?
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah Jambi sudah naik kelas?
Naik kelas tidak semata-mata berarti ekonomi bertambah besar. Jambi benar-benar naik kelas apabila kekayaan alamnya dapat dikonversi menjadi kualitas manusia, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, inovasi, industri bernilai tambah, entrepreneurship, lingkungan yang terjaga, dan peradaban yang semakin bermartabat.
Di sinilah tanggung jawab kecendekiawanan Melayu menemukan relevansinya.
Paradoks Jambi
Jambi memiliki sumber daya yang besar, tetapi sumber daya tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi keunggulan manusia dan pengetahuan.
Kita menghasilkan sawit, tetapi sawit seharusnya tidak berhenti pada CPO. Kita memiliki karet, tetapi karet tidak boleh berhenti sebagai bahan mentah. Kopi tidak cukup berhenti pada biji. Kayu manis juga jangan hanya dilihat sebagai komoditas.
Dalam rantai ekonomi modern, nilai tambah justru banyak tercipta melalui riset, teknologi, rekayasa, pengolahan, desain, pembiayaan, standardisasi, sertifikasi, branding, logistik, distribusi, dan pemasaran.
Karena itu, pertanyaan pembangunan Jambi perlu bergeser dari sekadar berapa banyak yang kita hasilkan menjadi berapa besar nilai yang kita ciptakan.
Lebih jauh lagi, kita perlu bertanya: berapa besar nilai ekonomi tersebut yang tinggal di Jambi, meningkatkan kualitas hidup masyarakat Jambi, dan memperkuat kemampuan generasi mudanya?
Inilah yang dapat kita sebut sebagai Paradoks Jambi: kaya sumber daya, tetapi belum sepenuhnya kaya nilai tambah.
Persoalan tersebut tidak hanya menyangkut ekonomi. Di dalamnya terdapat knowledge gap, value added gap, institutional gap, dan vision gap.
Jambi memiliki banyak sarjana, perguruan tinggi, profesional, pengusaha, birokrat, peneliti, dan berbagai institusi. Namun banyaknya orang terdidik dan lembaga belum otomatis menghasilkan kecerdasan kolektif.
Di sinilah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia atau ISMI Provinsi Jambi harus menemukan ruang pengabdiannya.
ISMI tidak perlu mengambil pekerjaan pemerintah, perguruan tinggi, Lembaga Adat Melayu, organisasi keagamaan, ataupun dunia usaha.
ISMI justru diperlukan sebagai ruang konsolidasi kecendekiawanan: mempertemukan pengetahuan dengan persoalan, mempertemukan orang yang mengetahui dengan mereka yang membutuhkan pengetahuan, dan mempertemukan gagasan dengan pihak yang mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya.
Lalu, Siapa yang Disebut Melayu?
Pertanyaan ini sangat penting. Apalagi kita berbicara tentang Ikatan Sarjana Melayu Indonesia.
Jika istilah Melayu dipahami terlalu sempit hanya berdasarkan silsilah atau keturunan, kita berisiko menjadikan Melayu sebagai pagar yang memisahkan.
Sebaliknya, jika Melayu dilepaskan sama sekali dari akar sejarah dan nilai yang membentuknya, istilah Melayu akan kehilangan substansinya.
Karena itu, Melayu perlu dipahami secara lebih utuh.
Melayu bukan semata-mata kategori genealogis. Melayu adalah identitas sekaligus ruang peradaban.
Di dalamnya terdapat unsur sejarah, adat, bahasa, Islam, wilayah, tata nilai, dan pengalaman sosial yang terbentuk dalam perjalanan panjang masyarakat.
Pengertian seperti ini menjadi penting terutama untuk Jambi.
Masyarakat Jambi sejak lama tumbuh melalui interaksi berbagai kelompok, latar belakang, dan pengalaman sosial. Orang dari berbagai asal dapat hidup di Jambi, mengabdi untuk Jambi, menghormati adat, menyatu dalam kehidupan sosial, dan ikut membangun negeri.
Karena itu, Melayu jangan menjadi pagar. Melayu harus menjadi rumah.
Rumah itu terbuka, tetapi bukan rumah tanpa tata nilai.
Keterbukaan tidak berarti kehilangan identitas. Justru kekuatan sebuah peradaban terletak pada kemampuannya menerima perubahan tanpa kehilangan nilai yang menjadi fondasinya.
Dalam konteks Jambi, fondasi tersebut menemukan ekspresinya antara lain melalui falsafah Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah.
Dengan perspektif tersebut, pertanyaan “siapa Melayu?” tidak cukup dijawab hanya dengan pertanyaan “siapa nenek moyangnya?”
Pertanyaan yang juga penting adalah: nilai apa yang dipegang, bagaimana seseorang memuliakan adat, bagaimana ia berkontribusi kepada masyarakat, dan bagaimana ia ikut menjaga marwah serta membangun peradaban tempat ia hidup.
Melayu dalam pengertian ini bukan identitas yang tertutup. Ia merupakan peradaban terbuka yang mempunyai akar.
Inilah cara pandang yang penting dikembangkan oleh ISMI.
Tantangan kita ke depan bukan mempersempit siapa yang boleh masuk ke dalam rumah Melayu, melainkan memperkuat tata nilai rumah itu sehingga semakin banyak orang yang hidup di dalamnya ikut menjaga, mengembangkan, dan memuliakannya.
Dari Melayu sebagai Identitas Menuju Melayu sebagai Kualitas
Tetapi ada tantangan yang lebih besar lagi.
Kebanggaan terhadap identitas Melayu tidak cukup apabila tidak disertai dengan peningkatan kualitas manusianya.
Pada abad ke-21, kita perlu berani bertanya: apa kompetensi khas manusia Melayu Jambi?
Apakah generasi Melayu Jambi unggul dalam ilmu pengetahuan?
Apakah mereka adaptif terhadap teknologi?
Apakah mempunyai budaya entrepreneurship?
Apakah mampu melakukan penelitian?
Apakah mempunyai kemampuan bahasa asing?
Apakah mampu membangun jaringan nasional dan internasional?
Apakah produktif, profesional, sekaligus mempunyai integritas?
Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut belum sepenuhnya dapat kita jawab, maka di situlah agenda besar kecendekiawanan Melayu harus diarahkan.
Melayu bukan hanya identitas yang diwariskan. Melayu harus menjadi kualitas yang dibuktikan.
Kita perlu bergerak dari pride of identity menuju quality of identity.
Artinya, semakin seseorang bangga menjadi bagian dari peradaban Melayu, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menunjukkan kualitas ilmu, kerja, integritas, dan manfaatnya bagi masyarakat.
Melayu 5.0
Dari pemikiran tersebut, relevan untuk mendiskusikan gagasan Melayu 5.0.
Melayu 5.0 bukanlah upaya meninggalkan tradisi. Sebaliknya, ia merupakan ikhtiar membawa nilai-nilai Melayu memasuki zaman baru.
Melayu 5.0 adalah Melayu yang berakar pada adat, bersendikan syarak, menguasai ilmu, menggunakan teknologi, terbuka terhadap dunia, menjaga alam, dan berorientasi kepada kemaslahatan.
Formulasinya sederhana:
Adat menjadi nilai.
Agama menjadi kompas.
Ilmu menjadi jalan.
Teknologi menjadi alat.
Manusia menjadi pusat.
Kemaslahatan menjadi tujuan.
Ini menjadi sangat penting karena generasi Melayu hari ini dan masa depan tidak hanya berhadapan dengan persoalan adat dalam pengertian konvensional.
Mereka juga berhadapan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence, transformasi digital, perubahan iklim, ekonomi halal, entrepreneurship digital, pendidikan global, ekonomi kreatif, dan persaingan antarbangsa.
Masyarakat tidak mungkin dibawa ke masa depan hanya dengan kebanggaan terhadap masa lalu.
Sejarah harus dihormati. Warisan budaya harus dipelihara. Adat harus dijaga. Tetapi peradaban yang hidup harus mampu menjawab persoalan zamannya.
Karena itu, falsafah Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah tidak cukup hanya ditempatkan sebagai simbol masa lalu.
Ia perlu dikembangkan sebagai kerangka etika masa depan.
Dalam ekonomi, ia melahirkan amanah dan keadilan.
Dalam pemerintahan, kekuasaan dipandang sebagai amanah.
Dalam lingkungan, manusia mempunyai kewajiban menjaga ciptaan.
Dalam teknologi, kemajuan harus tetap menjaga kemanusiaan.
Dalam ilmu, kecerdasan harus berjalan bersama moralitas.
Dengan demikian, Melayu dapat menjadi modern karena penguasaan ilmunya, tetapi tetap berakar karena kekuatan nilainya.
Dari Bumi yang Kaya Menuju Pikiran yang Kaya
Selama ini kekayaan suatu daerah sering diukur berdasarkan apa yang terdapat di dalam dan di atas bumi.
Padahal dunia modern menunjukkan bahwa sumber kemakmuran semakin ditentukan oleh manusia, ilmu, teknologi, kreativitas, inovasi, institusi, dan jaringan.
Karena itu, kekayaan Jambi harus dibaca paling tidak dalam tiga tingkatan: natural resources, human resources, dan intellectual resources.
Sumber daya alam hanyalah modal awal. Manusia dan pengetahuanlah yang menentukan nilai akhirnya.
Transformasi Jambi ke depan dapat dibayangkan melalui satu rantai panjang:
SUMBER DAYA ALAM → ILMU → TEKNOLOGI → INOVASI → INDUSTRI → NILAI TAMBAH → KESEJAHTERAAN → PERADABAN.
Perhatikan bahwa mata rantai terpenting justru berada pada ilmu, teknologi, inovasi, dan manusia.
Di situlah tanggung jawab kaum sarjana.
Maka, tantangan ISMI sesungguhnya bukan berapa banyak sarjana yang dapat dihimpun ke dalam organisasi.
Pertanyaan yang lebih penting adalah berapa besar kesarjanaan itu dapat digunakan untuk menjawab persoalan Jambi.
ISMI tidak cukup menjadi organisasi yang anggotanya bergelar sarjana. ISMI harus membuktikan kegunaan kesarjanaan.
Jambi 2045: Modern tetapi Berakar
Visi resmi RPJPD Provinsi Jambi 2025–2045 adalah “Jambi Maju, Berdaya Saing, Sejahtera, dan Berkelanjutan.”
Sebagai bagian dari masyarakat kecendekiawanan, kita dapat memperkaya visi tersebut dengan sebuah positioning intelektual yang layak didiskusikan: Jambi 2045 sebagai Pusat Bioekonomi dan Peradaban Melayu Hijau di Sumatera.
Bioekonomi relevan karena Jambi memiliki basis pertanian, perkebunan, kehutanan, pangan, dan keanekaragaman hayati.
Tetapi arah transformasinya harus bergerak dari:
komoditas → pengetahuan → produk bernilai tambah.
Sementara gagasan Peradaban Melayu Hijau memberikan identitas etik kepada proses pembangunan.
Kita menginginkan Jambi yang modern tetapi tetap mempunyai akar.
Global tetapi mempunyai identitas.
Digital tetapi tetap beradab.
Makmur tetapi berkeadilan.
Industrinya maju tetapi alamnya tetap terjaga.
Inilah sesungguhnya hakikat Jambi naik kelas.
ISMI dan Gerakan Kecendekiawanan Melayu
Karena itu, ISMI Provinsi Jambi ke depan perlu semakin memperkuat dirinya sebagai Gerakan Transformasi Kecendekiawanan Melayu.
Perannya dapat diringkas dalam lima fungsi:
THINK — CONNECT — ADVISE — DEVELOP — ADVOCATE.
Berpikir dan menghasilkan pengetahuan.
Menghubungkan berbagai kekuatan.
Memberikan masukan berbasis ilmu dan data.
Mengembangkan manusia dan generasi baru.
Serta memperjuangkan gagasan pembangunan berbasis ilmu, nilai, dan kemaslahatan.
LAM menjaga akar dan marwah.
Ulama menjaga nilai dan etik.
Perguruan tinggi mengembangkan ilmu dan riset.
Pemerintah menjalankan kebijakan.
Dunia usaha membawa modal, inovasi, dan pasar.
Generasi muda membawa kreativitas serta teknologi.
Diaspora membawa pengalaman dan jaringan global.
ISMI harus menjadi salah satu simpul yang menghubungkan kekuatan-kekuatan tersebut.
Saatnya Melayu Memenangkan Masa Depan
Pada akhirnya, kita tidak sedang membangun organisasi Melayu hanya untuk menjaga kenangan tentang masa lalu.
Kita sedang membangun kekuatan kecendekiawanan Melayu untuk memenangkan masa depan.
Sebab, sumber daya alam dapat habis.
Harga komoditas dapat naik dan turun.
Teknologi akan terus berubah.
Jabatan akan berganti.
Tetapi manusia unggul yang kita bentuk, ilmu yang kita wariskan, inovasi yang kita ciptakan, institusi yang kita kuatkan, dan peradaban yang kita bangun dapat hidup melampaui generasi kita.
Maka, pertanyaan tentang “siapa yang disebut Melayu?” seharusnya membawa kita kepada sebuah kesadaran yang lebih besar.
Melayu bukan sekadar persoalan dari mana seseorang berasal. Melayu adalah juga tentang peradaban apa yang kita bangun bersama.
Ia mempunyai akar sejarah dan nilai yang harus dijaga, tetapi sekaligus mempunyai pintu untuk mereka yang hidup, mengabdi, menghormati adat, dan ikut membangun kemaslahatan masyarakat.
Melayu jangan menjadi pagar yang memisahkan. Melayu harus menjadi rumah: terbuka, tetapi mempunyai tata nilai.
Dan bagi kaum sarjana, rumah itu harus kita isi dengan ilmu, integritas, inovasi, profesionalisme, dan pengabdian.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan ISMI bukanlah berapa banyak seminar yang diselenggarakan atau seberapa besar struktur organisasinya.
Ukuran yang jauh lebih penting adalah:
Apakah kehadiran kaum sarjana Melayu membuat masyarakat Jambi menjadi lebih berilmu, lebih produktif, lebih berdaya saing, lebih sejahtera, dan lebih bermartabat?
Jika jawabannya ya, maka kesarjanaan telah menemukan maknanya.
Dan Melayu telah bergerak dari sekadar identitas menuju kekuatan peradaban.
Kalau kekayaan alam adalah karunia Allah SWT kepada Jambi, maka kecendekiawanan adalah cara kita mempertanggungjawabkan karunia itu.
Dari bumi yang kaya menuju manusia yang unggul.
Dari manusia yang unggul menuju negeri yang maju.
Dari negeri yang maju menuju peradaban yang bermartabat.
Syahrasaddin
Sekretaris Dewan Penasehat
Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi