Dari Kampus ke Lumbung Pangan: Meneguhkan Peran Fakultas Pertanian UNJA dalam Swasembada Pangan Jambi

WIB
ist

Oleh:

Syahrasaddin*

*Alumni Fakultas Pertanian Universitas Jambi

Pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI–DPD RI, 14 Agustus 2026, kembali menempatkan pangan pada posisi yang sangat fundamental dalam pembangunan nasional. Bagi Presiden, kemandirian pangan bukan semata-mata persoalan meningkatkan produksi pertanian, tetapi merupakan bagian dari kedaulatan sebuah bangsa. Pemerintah bahkan menyampaikan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pada delapan komoditas utama, yakni beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Pemerintah selanjutnya menargetkan swasembada bawang putih dalam tiga tahun mendatang.

Pesan tersebut penting dibaca dari daerah. Sebab, swasembada pangan nasional pada akhirnya adalah agregasi dari keberhasilan produksi pangan di provinsi, kabupaten, kecamatan hingga desa. Dengan kata lain, Indonesia tidak mungkin berdaulat pangan apabila daerah-daerah penghasil pangan tidak memiliki produktivitas yang kuat, petani yang sejahtera, teknologi yang memadai, dan kelembagaan pertanian yang sehat.

Dalam konteks itulah muncul sebuah pertanyaan penting bagi kita di Jambi: seberapa besar Provinsi Jambi dapat mengambil bagian dalam agenda besar swasembada pangan nasional, dan di manakah posisi Universitas Jambi, khususnya Fakultas Pertanian, di dalamnya?

Sebagai alumni Fakultas Pertanian Universitas Jambi yang saat ini mendapat amanah sebagai Tenaga Ahli Gubernur Jambi, saya melihat pertanyaan tersebut bukan sekadar isu akademik. Ia merupakan panggilan bagi almamater untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pembangunan daerah.

Momentum Pertanian Jambi

Jambi sesungguhnya sedang memiliki momentum yang baik. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa luas panen padi Provinsi Jambi pada 2025 mencapai 80,37 ribu hektare, meningkat 30,42 persen dibandingkan tahun 2024. Produksi padi mencapai 367,79 ribu ton gabah kering giling, meningkat 30,88 persen dari tahun sebelumnya. Produksi beras untuk konsumsi penduduk juga meningkat menjadi 212,76 ribu ton.

Angka tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produksi pangan bukan sesuatu yang mustahil bagi Jambi. Yang diperlukan sekarang adalah menjaga momentum dan mentransformasikannya menjadi peningkatan produktivitas yang berkelanjutan.

Jambi memiliki keragaman agroekosistem yang luar biasa. Ada kawasan pertanian dataran tinggi Kerinci dan Sungai Penuh, kawasan sentra produksi di Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, lahan rawa dan pasang surut di Muaro Jambi, serta kawasan pertanian di Batang Hari, Merangin, Sarolangun, Tebo dan Bungo. Setiap kawasan memiliki karakteristik tanah, air, iklim, komoditas dan persoalan yang berbeda.

Karena itu, membangun swasembada pangan Jambi tidak cukup hanya dengan memperluas areal tanam. Pertanian masa depan memerlukan science, technology, innovation and collaboration.

Di titik inilah Fakultas Pertanian Universitas Jambi semestinya mengambil posisi strategis.

Dari “Supporting Institution” Menjadi Scientific Backbone

Selama ini perguruan tinggi sering ditempatkan sebagai institusi pendukung pembangunan. Dosen melakukan penelitian, mahasiswa melaksanakan pengabdian, seminar diselenggarakan, kemudian rekomendasi disampaikan kepada pemerintah.

Model seperti itu tetap penting, tetapi tantangan pangan hari ini menuntut langkah lebih jauh.

Fakultas Pertanian UNJA perlu bergerak dari sekadar supporting institution menjadi scientific backbone pembangunan pertanian Provinsi Jambi.

Artinya, kebijakan pertanian daerah sejak perencanaan, pemetaan komoditas, pemilihan teknologi, peningkatan produktivitas, pengelolaan pascapanen sampai pengembangan agribisnis harus semakin berbasis pengetahuan dan bukti ilmiah.

Modal untuk itu sesungguhnya telah tersedia. Fakultas Pertanian UNJA mempunyai spektrum keilmuan yang luas, antara lain Agroekoteknologi, Agribisnis, Teknologi Hasil Pertanian, Teknik Pertanian, Teknologi Industri Pertanian, Kehutanan dan Silvikultur. Pada penerimaan mahasiswa 2026 saja terdapat delapan program studi jenjang sarjana dan diploma di lingkungan Fakultas Pertanian.

Jika kekuatan disiplin ilmu tersebut diintegrasikan, Faperta UNJA sesungguhnya memiliki kemampuan untuk melihat sistem pangan dari hulu sampai hilir.

Agroekoteknologi berbicara mengenai tanah, tanaman, benih dan produktivitas. Teknik Pertanian berurusan dengan tata air, mekanisasi dan teknologi produksi. Teknologi Hasil Pertanian dan Teknologi Industri Pertanian memasuki wilayah pengolahan serta hilirisasi. Agribisnis memastikan bahwa peningkatan produksi memiliki nilai ekonomi bagi petani. Sementara kehutanan dan silvikultur memastikan bahwa pembangunan produksi tetap berlangsung dalam koridor keberlanjutan ekologis.

Inilah kekuatan sesungguhnya sebuah fakultas pertanian modern.

Kampus Harus Semakin Dekat dengan Sawah

Salah satu contoh menarik sebenarnya sudah terlihat.

Dalam program Optimasi Lahan Rawa Provinsi Jambi 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jambi telah terlibat dalam penyusunan Survey, Investigation and Design (SID) yang memuat kondisi lahan, jaringan tata air, kebutuhan konstruksi dan rekomendasi teknis. Program Oplah sendiri diarahkan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas lahan, memperluas areal tanam dan meningkatkan indeks pertanaman dalam mendukung swasembada pangan.

Ini harus diapresiasi.

Namun, keterlibatan tersebut sebaiknya tidak berhenti pada tahap survei dan desain. UNJA perlu hadir sepanjang siklus pembangunan pertanian: merancang, menguji teknologi, mendampingi petani, mengevaluasi produktivitas, mengukur dampak ekonomi dan memperbaiki model kebijakan.

Bayangkan jika kawasan Oplah dijadikan sekaligus sebagai living laboratory Universitas Jambi.

Mahasiswa belajar langsung di sawah. Dosen melakukan penelitian terapan. Pemerintah memperoleh rekomendasi berbasis data. Petani memperoleh teknologi. Dunia usaha mendapatkan kepastian produksi.

Kampus akhirnya tidak berdiri terpisah dari sawah.

Lima Agenda Besar Fakultas Pertanian UNJA

Menurut saya, sedikitnya terdapat lima agenda strategis yang dapat dikembangkan.

Pertama, membangun Pusat Riset dan Inovasi Swasembada Pangan Jambi.

Pusat ini dapat menyusun Jambi Food Map berbasis spasial dan agroekologi: komoditas apa yang paling sesuai dikembangkan, di wilayah mana, dengan varietas apa, teknologi apa, berapa produktivitas potensialnya, bagaimana kebutuhan airnya, dan bagaimana prospek pasarnya.

Dengan demikian kebijakan pangan tidak sekadar berbasis luas lahan, tetapi berbasis kesesuaian lahan, produktivitas, teknologi dan keekonomian.

Kedua, menjadikan setiap kawasan sentra produksi sebagai laboratorium lapangan.

Kerinci dapat menjadi laboratorium hortikultura dataran tinggi. Tanjung Jabung Timur dan Tanjung Jabung Barat menjadi laboratorium pertanian rawa dan pasang surut. Muaro Jambi dapat dikembangkan sebagai kawasan pertanian modern yang dekat dengan pusat pendidikan, penelitian dan pasar. Kabupaten lainnya dikembangkan sesuai keunggulan komoditas masing-masing.

Konsepnya sederhana: satu wilayah, satu keunggulan, satu paket teknologi, satu pendampingan ilmiah.

Ketiga, memperkuat inovasi benih, mekanisasi dan pertanian presisi.

Tantangan pertanian ke depan bukan hanya kekurangan lahan, tetapi perubahan iklim, keterbatasan tenaga kerja, efisiensi penggunaan pupuk dan air serta kebutuhan peningkatan produktivitas.

Karena itu Fakultas Pertanian perlu semakin serius memasuki precision agriculture: penggunaan sensor tanah, drone, citra satelit, kecerdasan buatan, mekanisasi, prediksi cuaca serta sistem informasi produksi.

Petani masa depan tidak cukup hanya mengenal cangkul dan traktor. Ia perlu mengenal data.

Keempat, membangun hilirisasi dan industri pangan.

Swasembada pangan tidak boleh berhenti ketika gabah dipanen, jagung dipetik atau cabai keluar dari kebun.

Persoalan klasik pertanian justru sering muncul setelah produksi meningkat: harga jatuh pada musim panen, produk cepat rusak, fasilitas penyimpanan terbatas dan industri pengolahan belum berkembang.

Karena itu ukuran keberhasilan pembangunan pertanian bukan semata-mata berapa ton yang diproduksi, tetapi berapa nilai tambah yang tinggal di tangan petani dan di daerah.

Di sinilah ilmu Teknologi Hasil Pertanian, Teknologi Industri Pertanian dan Agribisnis mempunyai peran besar.

Kelima, melahirkan generasi baru petani dan agropreneur Jambi.

Ini mungkin tantangan yang paling mendasar.

Pertanian tidak akan mempunyai masa depan apabila generasi mudanya meninggalkan sektor ini karena dianggap identik dengan pekerjaan berat, pendapatan rendah dan teknologi sederhana.

Fakultas Pertanian harus menjadi tempat lahirnya generasi baru young farmer, agropreneur dan agritech innovator.

Mahasiswa tidak hanya disiapkan untuk mencari pekerjaan setelah wisuda, tetapi juga menciptakan usaha pertanian, industri pangan, perusahaan benih, perusahaan teknologi pertanian, jasa drone, konsultan agribisnis sampai startup pangan.

Membangun Konsorsium Swasembada Pangan Jambi

Swasembada pangan tentu tidak dapat dikerjakan perguruan tinggi sendirian.

Karena itu saya membayangkan perlunya sebuah Konsorsium Swasembada Pangan Jambi, yang mempertemukan Pemerintah Provinsi Jambi, Universitas Jambi, pemerintah kabupaten/kota, BRMP Jambi, Bulog, kelompok tani, koperasi, perbankan, dunia usaha serta perguruan tinggi lainnya.

Pemerintah menyediakan kebijakan dan fasilitasi.

Perguruan tinggi menyediakan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Petani menjadi pelaku utama produksi.

Perbankan menyediakan pembiayaan.

BUMN, BUMD, koperasi dan dunia usaha mengembangkan pasar serta hilirisasi.

Dengan pola seperti itu, kita meninggalkan model pembangunan yang berjalan sendiri-sendiri dan memasuki era collaborative agriculture.

Fakultas Pertanian UNJA dapat memainkan peran sebagai knowledge hub konsorsium tersebut.

Jangan Berhenti pada Swasembada

Ada satu hal yang juga perlu kita ingat. Swasembada pangan tidak boleh dimaknai hanya sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri.

Tujuan akhirnya harus lebih jauh: petani semakin sejahtera, daerah semakin kuat, industri pangan berkembang dan lingkungan tetap lestari.

Kita tidak ingin swasembada pangan yang dibangun dengan produktivitas tinggi tetapi petaninya tetap miskin. Kita juga tidak menginginkan peningkatan produksi yang mengorbankan sumber daya tanah, air dan hutan.

Karena itu pembangunan pertanian Jambi harus bergerak menuju konsep sustainable food sovereignty—kedaulatan pangan yang produktif, menguntungkan dan berkelanjutan.

Dari Almamater untuk Jambi

Bagi saya pribadi, berbicara mengenai Fakultas Pertanian Universitas Jambi memiliki makna tersendiri. Di kampus itulah saya pernah belajar memahami bahwa tanah bukan sekadar hamparan lahan, tanaman bukan sekadar komoditas dan petani bukan sekadar faktor produksi.

Pertanian adalah kehidupan.

Hari ini, ketika bangsa kembali menempatkan swasembada pangan sebagai agenda strategis nasional, saya melihat sebuah momentum bagi Fakultas Pertanian Universitas Jambi untuk kembali mempertegas relevansi historisnya.

Saatnya ilmu pengetahuan bergerak semakin dekat dengan petani.

Saatnya laboratorium terhubung dengan sawah.

Saatnya penelitian berujung pada kenaikan produktivitas.

Saatnya inovasi berujung pada peningkatan pendapatan petani.

Dan saatnya Fakultas Pertanian Universitas Jambi mengambil posisi yang lebih besar dalam perjalanan pembangunan daerah.

Dari kampus menuju sawah, dari laboratorium menuju sentra produksi, dan dari ilmu pengetahuan menuju kesejahteraan petani.

Jika Indonesia sedang membangun kedaulatan pangannya, maka Jambi harus mengambil bagian di dalamnya.

Dan saya percaya, Fakultas Pertanian Universitas Jambi dapat menjadi salah satu penggerak utamanya.

Saya sengaja membuat penutupnya sedikit personal dan reflektif, karena posisi penulis sebagai alumni Faperta sekaligus Tenaga Ahli Gubernur memberi artikel ini kekuatan yang tidak dimiliki tulisan kebijakan biasa: ada ikatan almamater sekaligus perspektif pembangunan daerah.(*)

BeritaSatu Network