Menjadikan JBC 'Ruang Ketiga' Kota Jambi: Tempat Nongkrong, Pusat UMKM Lokal, dan Denyut Ekonomi Baru

WIB
IST

JAMBI — Jambi Business Center atau JBC kini memasuki babak baru. Ia tidak lagi cukup dibaca sebagai proyek properti. Tidak cukup pula disebut sekadar kawasan ruko, mall, hotel, atau pusat komersial baru di Simpang Mayang.

JBC perlahan sedang membentuk wajah baru Kota Jambi.

Wajah kota yang lebih sibuk. Lebih modern. Lebih terbuka. Tapi, pada saat yang sama, juga sedang diuji oleh pertanyaan lama: apakah pembangunan besar ini benar-benar memberi ruang bagi warga, UMKM, adat, dan kepentingan publik?

Pertanyaan itu penting. Sebab JBC berdiri bukan di ruang kosong. Ia berdiri di jantung kota. Di kawasan yang hidup. Di lintasan warga. Di titik ekonomi yang terus bergerak. Karena itu, setiap progresnya ikut menjadi percakapan publik.

Secara resmi, JBC Mall dirancang sebagai pusat perbelanjaan modern lima lantai dengan luas sekitar 74.000 meter persegi. Pembangunannya disebut telah mencapai 60–65 persen, dengan struktur utama selesai dan pekerjaan interior serta fasad masih berlangsung. Soft opening ditargetkan pada pertengahan 2027.

Komisaris PT Putra Kurnia Properti, Syahrasaddin, menegaskan bahwa JBC tidak ingin tumbuh sendirian. Menurutnya, kawasan bisnis yang sehat bukan hanya diukur dari transaksi, tetapi juga dari kemampuannya membuka ruang bagi pelaku usaha lokal.

“UMKM harus bisa ikut tumbuh,” kata Syahrasaddin. Ia menyebut JBC ingin menjadi rumah ekonomi baru bagi masyarakat Jambi.

Pernyataan itu memberi arah penting. JBC tak boleh hanya menjadi etalase brand besar. Ia mesti menjadi panggung bagi usaha lokal. Kopi Jambi. Kuliner Melayu. Fashion daerah. Produk kreatif anak muda. Event komunitas. Bazar UMKM. Semua harus punya ruang.

Di sinilah konsep baru JBC mulai terbaca, bukan sekadar mall, tapi ekosistem ekonomi kota.

Kawasan ini sudah mulai bergerak bahkan sebelum mall resmi dibuka. Konsep kawasan terbuka dengan mobilitas tinggi disebut menjadi salah satu daya tarik utama. Pelaku usaha tidak hanya bergantung pada jam kunjungan tertentu, tetapi bisa menangkap peluang transaksi lebih luas karena kawasan itu dirancang sebagai ruang bisnis, hiburan, kuliner, dan interaksi publik. (JambiLINK.id)

Bak panggung yang belum sepenuhnya selesai, lampunya sudah menyala. Penonton mulai datang. Pemain mulai mengisi tempat. Tinggal bagaimana skenarionya disusun agar semua tak hanya ramai, tapi juga menghasilkan.

Dari sisi warga, JBC mulai punya makna baru. Bukan hanya tempat orang melihat bangunan besar, tapi juga tempat bertemu, bekerja, dan menghabiskan waktu.

Aini, 27 tahun, seorang freelancer yang rutin bekerja dari salah satu kafe di Blok W JBC, menyebut kawasan itu nyaman untuk work from cafe.

“Suasananya tenang tapi hidup,” ujarnya.

Komentar Aini sederhana. Tapi justru di situ kuncinya.

Kota Jambi sedang membutuhkan ruang seperti itu. Tidak seformal kantor. Tidak seprivat rumah. Tapi cukup hidup untuk bekerja, berdiskusi, bertemu klien, membuat konten, atau sekadar menyelesaikan tugas sambil ngopi.

Blok W JBC, dengan deretan ruko modern, kafe, parkiran luas, dan suasana urban, mulai mengisi ruang kosong itu. Ia menjadi titik temu baru bagi pekerja muda, pelaku UMKM, komunitas, hingga warga yang mencari tempat nongkrong dengan rasa kota besar, tapi tetap di Jambi.

Relasi JBC dengan warga sekitar juga mulai dibangun lewat kegiatan sosial. Pada Maret 2026, pengelola JBC menggelar buka puasa bersama warga sekitar di Paviliun JBC dan membagikan hampers Lebaran kepada 200 warga.

Syahrasaddin menyebut kegiatan itu sebagai bentuk kepedulian dan upaya menjaga komunikasi dengan masyarakat sekitar.

Seorang warga yang hadir dalam kegiatan itu menyampaikan apresiasi. Baginya, yang penting bukan besar-kecil bantuan, tetapi bagaimana JBC hadir dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Lurah Selamat, Abdul Latief, juga menyambut baik kegiatan tersebut. Ia menilai buka bersama itu menjadi momentum mempererat hubungan antara pihak JBC dan warga sekitar.

Ini penting. Sebab proyek sebesar JBC tidak cukup hanya kuat di brosur. Ia juga harus kuat di hati warga sekitar.

Bila warga merasa dilibatkan, JBC akan punya akar sosial. Bila warga merasa ditinggalkan, JBC hanya akan menjadi bangunan besar yang berdiri sendiri.

Ada satu sudut lain yang menarik, JBC mulai mencoba mengaitkan modernitas dengan adat Melayu Jambi.

Syahrasaddin pernah menyebut Hari Adat Melayu Jambi sebagai pengingat bahwa pembangunan kota tidak cukup hanya dilihat dari gedung, jalan, dan pusat perbelanjaan. “Kota juga harus punya jiwa,” ujarnya.

Kalimat ini bisa menjadi konsep promosi baru JBC.

JBC tak harus meniru Jakarta. Tak perlu menjadi salinan kota lain. Justru kekuatannya bisa lahir dari identitas lokal: Melayu Jambi yang modern.

Bayangkan jika JBC rutin menggelar festival kuliner Melayu, pekan UMKM lokal, panggung musik Jambi, fashion Melayu anak muda, pameran tengkuluk, bazar produk kreatif, dan event budaya yang dikemas modern. Maka JBC bukan hanya menjadi tempat belanja. Ia menjadi etalase budaya.

Modern, tapi tidak tercerabut.

Megah, tapi tetap punya akar.

Ramai, tapi tetap punya marwah.

Dukungan terhadap JBC juga datang dari Gubernur Jambi Al Haris. Sejak awal, Al Haris menyebut JBC sebagai kawasan yang diharapkan mampu menumbuhkan ekonomi baru, memperluas bidang usaha, menyerap tenaga kerja, dan meningkatkan pendapatan daerah.

Al Haris juga pernah menegaskan bahwa JBC harus menjadi wadah bagi pelaku usaha besar, ritel, hingga UMKM. Menurutnya, kawasan itu diharapkan membangun rantai ekonomi yang saling menguntungkan.

Namun, dukungan itu bukan cek kosong.

Saat isu banjir Simpang Mayang mencuat, Al Haris menegaskan bahwa pemerintah tetap mengawal penyelesaian sistem drainase dan kolam retensi di sekitar kawasan JBC. Ia juga menyebut revisi Amdal investor sedang berproses dan pemerintah akan memastikan semuanya berjalan sesuai prosedur.

Di sisi lain, Al Haris juga meminta masyarakat tidak mudah terprovokasi informasi yang tidak akurat. Menurutnya, investasi tetap perlu diberi ruang karena dapat membuka lapangan kerja, memperkuat ekonomi, dan meningkatkan PAD.

Artinya, posisi pemerintah cukup jelas, investasi jalan, pengawasan tetap jalan.

JBC punya peluang menjadi ruang ketiga Kota Jambi. Tempat orang bekerja setelah rumah. Tempat orang bertemu setelah kantor. Tempat komunitas tumbuh. Tempat UMKM menjemput pasar. Tempat warga mencari hiburan. Tempat investor membaca masa depan.

Bila itu berhasil, JBC tidak hanya menjadi pusat bisnis.

Ia bisa menjadi cerita baru Kota Jambi.

Cerita tentang kota yang ingin modern, tapi tetap Melayu.

Cerita tentang investasi yang ingin tumbuh, tapi harus tetap diawasi.

Cerita tentang UMKM yang tak mau lagi hanya menjadi penonton.

Dan cerita tentang warga yang pelan-pelan mulai menjadikan JBC bukan sekadar kawasan bangunan, melainkan bagian dari ritme hidup baru di jantung Kota Jambi.(*)

BeritaSatu Network