Tanjab Timur – Tender Peningkatan Jalan Simpang 4 Kantor Camat – Batas Kec. Nipah Panjang (lanjutan) (DAK) di Kabupaten Tanjung Jabung Timur mulai masuk fase penting.
Tahap tender saat ini tercatat Pembuktian Kualifikasi.
Ini bukan tahap biasa.
Di tahap inilah dokumen peserta diuji.
Pengalaman dicek.
Legalitas dibuktikan.
Kemampuan pekerjaan dibaca.
Dan kelayakan calon penyedia diuji sebelum melangkah lebih jauh.
Paket ini berada di bawah Kabupaten Tanjung Jabung Timur, satuan kerja Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang.
Jenis pengadaannya Pekerjaan Konstruksi.
Metodenya Tender - Pascakualifikasi Satu File - Harga Terendah Sistem Gugur.
Tender ini tidak menggunakan Reverse Auction.
Tahun anggarannya APBD 2026.
Nilai pagu paket Rp8.702.000.000.
Nilai HPS paket Rp8.701.205.000.
Selisih pagu dan HPS hanya Rp795.000.
Untuk proyek jalan bernilai Rp8,7 miliar, angka selisih ini sangat tipis.
Tidak otomatis salah.
Tetapi publik wajar bertanya: bagaimana HPS disusun? Apakah berdasarkan survei lapangan, volume teknis, harga satuan, dan kebutuhan riil? Atau hanya bergerak sangat dekat dengan pagu anggaran?
Data Pokok Tender
| Uraian | Detail | Nilai |
|---|---|---|
| Nama tender | Peningkatan Jalan Simpang 4 Kantor Camat–Batas Kec. Nipah Panjang lanjutan DAK | - |
| Kode RUP | 66935468 | - |
| Sumber dana RUP | APBD | - |
| Tanggal pembuatan | 17 April 2026 | - |
| Tahap saat ini | Pembuktian Kualifikasi | - |
| K/L/PD | Kab. Tanjung Jabung Timur | - |
| Satuan kerja | Dinas PUPR | - |
| Pagu | - | Rp8.702.000.000 |
| HPS | - | Rp8.701.205.000 |
Metode dan Kontrak
| Uraian | Detail | Catatan |
|---|---|---|
| Jenis pengadaan | Pekerjaan Konstruksi | Infrastruktur jalan |
| Metode | Tender Pascakualifikasi Satu File | Harga terendah sistem gugur |
| Reverse Auction | Tidak menggunakan | Tidak ada adu turun harga ulang |
| Tahun anggaran | APBD 2026 | Dana publik |
| Jenis kontrak | Harga Satuan | Volume penting diawasi |
| Lokasi | Kec. Rantau Rasau | Tanjab Timur |
Karena kontraknya Harga Satuan, volume pekerjaan menjadi sangat penting.
Setiap meter pekerjaan harus jelas.
Setiap kubik material harus terukur.
Setiap item pekerjaan harus sesuai lapangan.
Jika volume tidak tepat, pembayaran bisa tidak sebanding dengan pekerjaan.
Jika mutu tidak sesuai, jalan bisa cepat rusak meski anggaran sudah habis.
HPS Mepet Pagu
| Uraian | Nilai | Catatan |
|---|---|---|
| Pagu | Rp8.702.000.000 | Batas anggaran |
| HPS | Rp8.701.205.000 | Dasar evaluasi harga |
| Selisih | Rp795.000 | Sangat tipis |
| Persentase HPS | 99,99 persen dari pagu | Nyaris penuh |
HPS hanya turun Rp795.000 dari pagu.
Dalam paket Rp8,702 miliar, selisih itu tidak sampai satu juta rupiah.
Ini menjadi salah satu titik paling sensitif.
Apalagi tender menggunakan metode harga terendah sistem gugur.
Dalam metode seperti ini, HPS menjadi pagar penting.
Ia menjadi acuan kewajaran harga.
Jika HPS sangat dekat dengan pagu, maka penawaran peserta nanti juga perlu dibaca hati-hati.
Publik berhak tahu apakah tender ini menghasilkan efisiensi atau hanya menghasilkan harga yang tetap dekat dengan plafon.
Dokumen uraian singkat menyebut pemberi tugas adalah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Tahun anggaran 2026.
Programnya Program Penyelenggaraan Jalan.
Kegiatannya Penyelenggaraan Jalan Kabupaten/Kota.
Sub kegiatannya Pembangunan Jalan.
Pekerjaannya adalah Peningkatan Jalan Simpang 4 Kantor Camat - Batas Kec. Nipah Panjang (lanjutan) (DAK).
Lokasi pekerjaan Kecamatan Rantau Rasau.
Nilai pagu Rp8.702.000.000.
Nilai HPS Rp8.701.205.000.
Masa pelaksanaan 180 hari kalender.
Masa pemeliharaan 180 hari kalender.
Uraian Singkat Pekerjaan
| No | Uraian | Detail |
|---|---|---|
| 1 | Program | Penyelenggaraan Jalan |
| 2 | Kegiatan | Jalan Kabupaten/Kota |
| 3 | Sub kegiatan | Pembangunan Jalan |
| 4 | Pekerjaan | Simpang 4 Kantor Camat–Batas Nipah Panjang |
| 5 | Lokasi | Kec. Rantau Rasau |
| 6 | Pagu | Rp8.702.000.000 |
| 7 | HPS | Rp8.701.205.000 |
| 8 | Pelaksanaan | 180 hari kalender |
| 9 | Pemeliharaan | 180 hari kalender |
| 10 | Dana dokumen | APBD Perubahan TA 2026 |
Masa pelaksanaan 180 hari berarti pekerjaan ini berjalan sekitar enam bulan.
Masa pemeliharaan juga 180 hari.
Artinya, tanggung jawab penyedia tidak berhenti saat pekerjaan terlihat selesai.
Ada masa untuk memastikan jalan tidak cepat rusak.
Namun masa pemeliharaan hanya berarti jika pengawasan berjalan serius.
Jika sejak awal mutu tidak dikontrol, masa pemeliharaan bisa sekadar menjadi masa menunggu kerusakan.
Lingkup Pekerjaan
| No | Lingkup | Catatan |
|---|---|---|
| 1 | Umum | Persiapan dan administrasi lapangan |
| 2 | Drainase | Pengendalian air |
| 3 | Tanah dan geosintetik | Dasar kekuatan jalan |
| 4 | Perkerasan berbutir | Lapisan struktur |
| 5 | Beton semen | Konstruksi perkerasan |
| 6 | Aspal | Permukaan jalan |
| 7 | Struktur | Elemen pendukung |
| 8 | Harian/lain-lain | Pekerjaan tambahan lapangan |
Lingkup pekerjaan ini menunjukkan paket bukan sekadar menambal jalan.
Ada drainase.
Ada pekerjaan tanah.
Ada geosintetik.
Ada perkerasan berbutir.
Ada perkerasan beton semen.
Ada aspal.
Ada struktur.
Ada pekerjaan harian dan lain-lain.
Semua itu titik rawan.
Jika drainase buruk, jalan cepat kalah oleh air.
Jika tanah tidak padat, badan jalan bisa turun.
Jika perkerasan berbutir tidak sesuai, lapisan atas tidak bertahan.
Jika aspal tidak sesuai mutu, jalan cepat retak.
Jika struktur lemah, kerusakan bisa muncul lebih cepat.
Tahap Pembuktian, Jangan Hanya Formalitas
Tahap Pembuktian Kualifikasi menjadi momen kunci.
Pada tahap ini, calon penyedia harus membuktikan bahwa dokumen yang disampaikan benar.
Bukan hanya mengisi sistem.
Bukan hanya mengunggah berkas.
Bukan hanya memenuhi syarat di atas kertas.
Tetapi benar-benar punya kapasitas untuk mengerjakan jalan senilai Rp8,7 miliar.
Dinas PUPR dan Pokja perlu memastikan pengalaman penyedia sesuai.
Alat tersedia.
Personel teknis jelas.
Kemampuan keuangan memadai.
Sisa kemampuan paket tidak bermasalah.
Dan tidak ada dokumen yang hanya indah di sistem.
Karena jika pembuktian longgar, masalahnya bisa muncul di lapangan.
Saat pekerjaan sudah berjalan.
Saat uang sudah dicairkan.
Saat warga mulai mengeluh.
Mengapa Tender Ini Sensitif?
Ada beberapa alasan tender ini patut disorot.
Pertama, nilainya besar untuk paket jalan lanjutan, yakni Rp8,702 miliar.
Kedua, HPS hanya selisih Rp795.000 dari pagu.
Ketiga, nama paket memuat DAK, sedangkan RUP mencatat APBD, dan dokumen menyebut APBD Perubahan.
Keempat, tahap saat ini Pembuktian Kualifikasi, fase penting untuk memastikan calon penyedia benar-benar layak.
Kelima, tender tidak menggunakan Reverse Auction.
Keenam, metode yang dipakai adalah harga terendah sistem gugur, sehingga kompetisi harga perlu diawasi.
Ketujuh, jenis kontrak Harga Satuan, sehingga volume pekerjaan harus benar-benar akurat.
Kedelapan, lingkup pekerjaan luas dan mencakup drainase, tanah, perkerasan, aspal, beton, dan struktur.
Kesembilan, masa pelaksanaan dan pemeliharaan masing-masing 180 hari kalender.
Kesepuluh, data yang tersedia belum menunjukkan panjang jalan, lebar jalan, volume item, calon pemenang, harga penawaran, atau hasil evaluasi teknis.
Titik Kontroversial
| Isu | Data | Sorotan |
|---|---|---|
| HPS mepet pagu | Selisih Rp795 ribu | Perlu dasar hitung |
| Sumber dana | DAK/APBD/APBDP | Perlu penjelasan |
| Tahap tender | Pembuktian Kualifikasi | Penentu kelayakan |
| Metode | Harga terendah | Risiko fokus murah |
| Kontrak | Harga satuan | Volume wajib ketat |
| Lingkup | Drainase sampai aspal | Mutu harus dijaga |
Bagian yang paling mudah memantik perdebatan adalah HPS.
Karena publik akan melihat sederhana: pagu Rp8,702 miliar, HPS Rp8,701 miliar.
Selisih hanya Rp795 ribu.
Dalam belanja rumah tangga, Rp795 ribu mungkin besar.
Tetapi dalam proyek Rp8,7 miliar, selisih itu sangat kecil.
Maka Dinas PUPR perlu membuka rincian HPS.
Berapa volume pekerjaan?
Berapa harga satuan material?
Berapa panjang ruas?
Berapa lebar jalan?
Apakah ada pekerjaan drainase besar?
Apakah ada struktur khusus?
Apakah kondisi tanah membuat biaya tinggi?
Tanpa rincian itu, kecurigaan publik akan tumbuh sendiri.
Seorang warga Rantau Rasau, Suryanto, mengatakan jalan tersebut memang dibutuhkan masyarakat.
“Kalau jalan itu bagus, warga pasti terbantu. Tapi jangan sampai hanya bagus saat baru selesai. Kami ingin jalan yang kuat,” ujarnya.
Warga lainnya, Ali, menyoroti selisih HPS dan pagu yang sangat kecil.
“Kalau pagu Rp8,702 miliar dan HPS Rp8,701 miliar, bedanya cuma Rp795 ribu. Masyarakat wajar bertanya, hitungannya bagaimana?” katanya.
Seorang pengguna jalan, Riskandi, berharap pembuktian kualifikasi tidak hanya mengecek berkas.
“Yang penting kontraktornya benar-benar mampu. Jangan nanti menang, kerja lambat, mutu kurang, lalu jalan cepat rusak. Pembuktian itu harus serius,” ujarnya.(*)