MEDAN – PTPN IV PalmCo mencatat penyerapan Tandan Buah Segar atau TBS dari perkebunan rakyat mencapai 1,34 juta ton hingga Mei 2026.
Capaian tersebut menjadi bagian dari komitmen Subholding Perkebunan Nusantara dalam menjaga stabilitas pasar, perputaran ekonomi, dan keberlanjutan usaha petani sawit mitra di berbagai wilayah operasional perusahaan.
Momentum Hari Krida Pertanian menjadi pengingat penting bahwa keberpihakan kepada petani tidak cukup berhenti pada seremoni.
Bagi PTPN IV PalmCo, dukungan terhadap petani harus diwujudkan melalui langkah nyata.
Salah satunya dengan memastikan hasil panen petani dapat terserap secara maksimal oleh pabrik kelapa sawit perusahaan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan Hari Krida Pertanian seharusnya menjadi momentum bersama bagi seluruh pemangku kepentingan untuk melihat kembali denyut nadi ekonomi petani.
Menurutnya, bagi petani sawit, kepastian pasar menjadi hal yang sangat penting.
“Peringatan Hari Krida Pertanian seharusnya menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan pasar yang stabil bagi petani. Kado terbaik bagi mereka bukanlah sebuah perayaan, melainkan kepastian bahwa hasil keringat dari kebun dapat terserap maksimal,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).
Hingga Mei 2026, volume penyerapan TBS dari petani swadaya atau pihak ketiga telah mencapai 1,34 juta ton.
Angka tersebut meningkat dibanding periode yang sama tahun 2025.
Pada periode tersebut, serapan TBS berada di level 1,30 juta ton.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa arus distribusi panen dari kebun rakyat menuju pabrik kelapa sawit atau PKS milik PalmCo terus bergerak positif.
Di saat yang sama, peningkatan serapan tersebut juga mencerminkan roda ekonomi masyarakat sekitar wilayah operasional perusahaan yang tetap berjalan.
Bagi petani sawit, TBS yang terserap bukan sekadar angka produksi.
Di balik setiap ton sawit yang masuk ke pabrik, ada pendapatan keluarga.
Ada biaya pendidikan anak.
Ada kebutuhan rumah tangga.
Ada perputaran ekonomi desa.
Dan ada keberlanjutan usaha kebun rakyat.
Karena itu, Jatmiko menegaskan bahwa menjaga kesiapan pabrik menjadi salah satu prioritas strategi operasional PalmCo.
Pabrik harus mampu menampung panen petani, terutama pada saat harga komoditas bergerak dinamis maupun ketika memasuki masa panen raya.
“Ketika harga sedang dinamis atau saat memasuki masa panen raya, PKS kami berupaya menjaga keandalannya. Kami juga memastikan harga beli tetap sangat bersaing, transparan, dan selalu berpedoman pada aturan penetapan harga dari pemerintah daerah,” kata Jatmiko.
Menurutnya, intervensi positif di sisi hilir sangat penting agar tata niaga sawit di tingkat petani tidak terganggu.
Jika pabrik mampu menyerap panen dengan baik, petani memperoleh kepastian.
Jika harga beli dilakukan secara transparan dan mengacu pada aturan, petani memiliki rasa aman dalam menjalankan usaha kebunnya.
Namun, PalmCo menilai tantangan sawit rakyat tidak hanya terletak pada serapan panen hari ini.
Ada persoalan lebih besar yang harus diantisipasi dalam jangka panjang.
Salah satunya adalah ancaman penurunan produktivitas akibat usia tanaman sawit rakyat yang semakin tua.
Tanaman tua akan berdampak pada hasil panen.
Jika produktivitas menurun, pendapatan petani ikut tertekan.
Karena itu, dukungan terhadap petani tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelian TBS.
Harus ada pendampingan di hulu agar kebun rakyat tetap produktif untuk 10 hingga 20 tahun ke depan.
Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, mengatakan perusahaan merespons tantangan tersebut melalui edukasi dan pendampingan Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR.
Menurut Arya, penyerapan panen menyelesaikan kebutuhan jangka pendek petani.
Namun untuk menjaga kesejahteraan petani secara berkelanjutan, produktivitas kebun harus dirawat sejak dari hulu.
“Menyerap sawit mereka hari ini menyelesaikan masalah jangka pendek. Namun, untuk memastikan kesejahteraan petani berkesinambungan, kita harus memikirkan dan merawat produktivitas kebun mereka untuk 10 hingga 20 tahun ke depan,” ujar Arya.
“Di situlah letak pentingnya edukasi dan pendampingan berkelanjutan di dalam ekosistem kemitraan kita,” tambahnya.
Pendampingan PSR yang dilakukan PalmCo mencakup berbagai aspek.
Mulai dari pemenuhan syarat legalitas, kesiapan teknis, hingga kepastian offtaker produksi.
Sepanjang 2025, PalmCo telah melakukan pendampingan terhadap lahan seluas 23.188 hektare.
Capaian itu terus dilanjutkan pada 2026.
Hingga Mei 2026, proses pendampingan telah mencapai 6.380 hektare.
Menurut Arya, angka tersebut menjadi titik awal dalam mendorong transformasi tata kelola kebun rakyat menuju standar Good Agricultural Practices atau GAP.
Dengan tata kelola yang lebih baik, kebun petani diharapkan mampu menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi, lebih berkelanjutan, dan lebih menguntungkan.
“Edukasi yang kami jalankan di lapangan bersifat komprehensif. Petani tidak dibiarkan meraba-raba menata kebun barunya,” kata Arya.
Ia menjelaskan, pendampingan dilakukan sejak fase paling krusial.
Mulai dari pemilihan bibit unggul bersertifikat, metode persiapan lahan, hingga teknis pemeliharaan pada masa Tanaman Belum Menghasilkan atau TBM.
Pendampingan tersebut penting karena keberhasilan PSR tidak hanya ditentukan oleh penanaman ulang.
Tetapi juga oleh kualitas bibit, kesiapan lahan, pola pemeliharaan, pemupukan, pengendalian hama, dan kemampuan petani mengelola kebun secara disiplin.
PalmCo ingin memastikan petani tidak berjalan sendiri dalam proses peremajaan.
Sebab, masa transisi dari tanaman tua ke tanaman baru membutuhkan waktu, biaya, pengetahuan, dan pendampingan teknis yang memadai.
Dengan pendekatan dari hilir hingga hulu, PalmCo berupaya membangun ekosistem kemitraan yang lebih utuh.
Di hilir, perusahaan menjaga serapan TBS dan kepastian pasar.
Di hulu, perusahaan mendorong edukasi, pendampingan PSR, serta penerapan tata kelola kebun yang lebih baik.
Model ini diharapkan dapat memperkuat posisi petani sawit rakyat dalam rantai pasok industri kelapa sawit nasional.
Bukan hanya sebagai pemasok bahan baku.
Tetapi sebagai mitra strategis yang ikut menentukan keberlanjutan industri sawit Indonesia.
Hari Krida Pertanian menjadi momentum bagi PalmCo untuk kembali menegaskan komitmennya kepada petani.
Bahwa dukungan kepada petani harus menyentuh kebutuhan nyata.
Panen mereka harus terserap.
Harga harus transparan.
Pabrik harus siap.
Kebun harus diremajakan.
Dan produktivitas harus dijaga untuk masa depan.
Bagi PalmCo, keberlanjutan industri sawit tidak mungkin dipisahkan dari kesejahteraan petani rakyat.
Ketika petani kuat, rantai pasok ikut kuat.
Ketika kebun rakyat produktif, ekonomi desa bergerak.
Dan ketika kemitraan berjalan sehat, industri sawit dapat tumbuh lebih berkelanjutan. (*)