JAMBI — Nama Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd., belakangan kembali mencuat di ruang publik Jambi.
Bukan hanya karena kiprahnya sebagai pengusaha travel dan umrah yang kini memiliki jaringan luas hingga tingkat internasional.
Bukan hanya karena aktivitas sosialnya menyantuni anak-anak yatim, membantu kaum dhuafa, dan membagikan nasi kotak selama sebulan penuh pada bulan suci Ramadan.
Tetapi juga karena ia baru saja dipercaya menjadi Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia atau ISMI Provinsi Jambi.
Kemunculan itu mengejutkan sebagian orang.
Banyak yang menyambut positif.
Mereka melihat Hj Ernawati sebagai figur yang kembali ke ruang publik dengan wajah baru, yakni pengusaha, aktivis sosial, dan perempuan Jambi yang ingin memberi manfaat bagi tanah kelahirannya.
Namun di tengah sambutan positif itu, ada pula satu dua suara yang nyinyir.
Masa lalu Hj Ernawati kembali diungkit.
Kasus lama yang pernah membelitnya saat masih menjabat sebagai Kepala Bidang Pendidikan Dasar di Dinas Pendidikan Provinsi Jambi pada 2012 kembali dimunculkan dalam sejumlah percakapan publik.
Kasus itu memang pernah ada.
Proses hukumnya juga telah berjalan.
Hj Ernawati telah menjalani konsekuensi hukum atas perkara tersebut.
Setelah itu, ia berhenti dari statusnya sebagai aparatur sipil negara.
Hidupnya lalu berubah arah.
Ia banting setir.
Dari birokrasi menuju dunia usaha.
Dari ruang kantor pemerintahan menuju dunia travel, haji, umrah, dan jejaring bisnis internasional.
Tidak Lagi Pejabat, Kini Pengusaha
Kini, lebih dari satu dekade setelah peristiwa hukum itu, Hj Ernawati tampil dalam ruang yang berbeda.
Ia bukan lagi pejabat publik.
Ia bukan lagi pemegang kewenangan anggaran negara.
Ia bukan lagi birokrat yang mengambil keputusan dalam pemerintahan.
Ia adalah pengusaha.
Ia membangun usaha dari bawah.
Ia bergerak di sektor travel, haji, dan umrah.
Ia membangun jejaring dengan banyak pihak.
Dan dalam beberapa tahun terakhir, namanya semakin dikenal dalam ekosistem layanan perjalanan ibadah.
Di kalangan mitra travel, ia dikenal sebagai Madam Hur.
Sebuah nama panggilan yang lebih sering muncul dalam forum bisnis, pertemuan travel, dan jejaring pelaku usaha umrah.
Dari posisi itu, Hj Ernawati mulai banyak tampil dalam kegiatan sosial.
Ia menyantuni anak yatim.
Membantu dhuafa.
Membagi nasi kotak.
Menggerakkan kepedulian.
Lalu dipercaya memimpin ISMI Provinsi Jambi.
Di titik inilah perdebatan muncul.
Sebagian bertanya, apakah seseorang yang pernah jatuh di masa lalu berhak kembali berbuat baik?
Sebagian lain menjawab, justru di situlah letak nilai kemanusiaan.
Manusia tidak boleh dikurung selamanya dalam satu kesalahan.
Ditanya Kasus Lama, Hj Ernawati Tersenyum
Saat dikonfirmasi terkait munculnya kembali sorotan terhadap kasus lamanya, Hj Ernawati tidak langsung menjawab panjang.
Ia tersenyum.
Terkesan tidak terlalu menggubris.
Seolah ingin mengatakan bahwa hidup tidak bisa terus-menerus dihabiskan untuk menanggapi suara yang datang dari belakang.
Namun ketika pertanyaan kembali diajukan, ia akhirnya memberi jawaban.
Tenang.
Pelan.
Tetapi tegas.
“Bahkan mereka-mereka yang dulunya menghujat Rasulullah, mencela Rasulullah, pada akhirnya ada yang wafat dalam keadaan husnul khatimah bersama beliau. Biarlah kalau ada yang menghujat. Allah itu menilai hamba-Nya di akhir, bukan hanya di awal,” ujar Hj Ernawati.
Kalimat itu bukan pembelaan yang meledak-ledak.
Bukan kemarahan.
Bukan serangan balik.
Ia lebih seperti pengakuan bahwa hidup manusia tidak selesai pada satu bab.
Ada awal.
Ada jatuh.
Ada luka.
Ada hukuman.
Ada pertobatan.
Ada kesempatan memperbaiki diri.
Dan ada akhir yang hanya Allah yang tahu.
“Saya Hanya Ingin Membantu Jambi”
Hj Ernawati menegaskan, posisinya saat ini berbeda dengan masa lalu.
Ia bukan pejabat.
Ia tidak sedang memegang jabatan pemerintahan.
Ia tidak sedang mengelola kewenangan publik.
Ia adalah pengusaha yang ingin menggunakan sebagian rezeki dan jejaringnya untuk membantu masyarakat.
“Saya saat ini sebagai pengusaha, bukan pejabat. Niat saya hanya untuk membantu tanah kelahiran saya, dari apa yang saya punya saat ini,” katanya.
Ia menyebut Jambi sebagai tanah kelahiran yang selalu ia cintai.
Karena itu, ketika ada kesempatan untuk berbuat, ia ingin hadir.
Bukan untuk mencari pujian.
Bukan untuk menutup masa lalu.
Tetapi karena ia merasa hidup yang Allah beri hari ini harus dipakai untuk memberi manfaat.
“Saya hanya cinta dengan warga Jambi. Tanah kelahiran saya. Saya mau berbuat baik untuk warga Jambi,” ujar Hj Ernawati.
Pernyataan itu menjadi inti dari sikapnya.
Ia tidak ingin berdebat panjang tentang masa lalu.
Ia juga tidak menyangkal bahwa masa lalu itu pernah terjadi.
Tetapi ia ingin publik melihat manusia secara utuh.
Bukan hanya dari satu peristiwa.
Bukan hanya dari satu kesalahan.
Bukan hanya dari satu potongan sejarah.
Dengan posisi yang dimiliki saat ini, Hj Ernawati sebenarnya bisa memilih hidup lebih tenang. Ia bermukim di Makkah, kota yang dirindukan jutaan umat Islam. Dari sana, ia bisa saja menikmati kenyamanan yang telah ia bangun dari dunia usaha.
Tidak perlu repot-repot mengurus organisasi. Tidak perlu bolak-balik ke Jambi. Tidak perlu kembali masuk ke ruang publik yang kadang penuh pujian, tetapi juga tidak jarang menyisakan nyinyiran.
Namun ia memilih jalan berbeda. Ia kembali ke tanah kelahirannya. Ia mau capek mengelola organisasi. Ia mau turun langsung dalam kegiatan sosial. Ia mau meninggalkan sejenak kenyamanan Makkah demi panggilan batin sebagai perempuan Jambi.
Sebab jika tidak peduli dengan Jambi, tentu lebih mudah baginya berdiam diri saja di Makkah, menikmati yang ada, dan menjauh dari hiruk-pikuk. Pilihan untuk kembali bergerak di Jambi justru menunjukkan bahwa ada cinta yang belum selesai kepada tanah kelahirannya.
Hak Publik Mengingat, Hak Manusia Berubah
Dalam ruang publik, masa lalu seseorang memang bisa menjadi bahan perhatian.
Apalagi jika pernah berkaitan dengan jabatan publik.
Publik berhak mengingat.
Publik berhak tahu.
Publik berhak menilai.
Namun ada batas penting yang juga harus dijaga.
Hak publik untuk mengingat tidak boleh berubah menjadi hukuman sosial tanpa akhir.
Seseorang yang pernah menjalani proses hukum tetap memiliki hak untuk hidup kembali.
Hak untuk bekerja.
Hak untuk membangun usaha.
Hak untuk berorganisasi.
Hak untuk berbuat baik.
Hak untuk kembali memberi manfaat kepada masyarakat.
Dalam konteks Hj Ernawati, proses hukum masa lalu telah ia jalani.
Statusnya sebagai PNS juga telah berakhir.
Setelah itu, ia membangun jalan baru sebagai pengusaha.
Maka pertanyaan hari ini bukan lagi apakah masa lalu itu ada.
Masa lalu itu memang ada.
Pertanyaan hari ini adalah: apakah seseorang boleh memperbaiki hidupnya setelah melewati masa sulit?
Jawaban paling manusiawi adalah: boleh.
Bahkan harus diberi ruang.
Kebaikan Hari Ini Tidak Menghapus Masa Lalu, Tapi Menunjukkan Arah Baru
Kegiatan sosial Hj Ernawati belakangan ini bukan berarti menghapus catatan masa lalu.
Tidak ada manusia yang bisa menghapus masa lalu.
Tetapi manusia bisa menentukan arah setelah masa lalu itu terjadi.
Ia bisa memilih tenggelam.
Atau bangkit.
Ia bisa memilih diam.
Atau berbuat.
Ia bisa memilih menyimpan rezeki untuk dirinya sendiri.
Atau membaginya kepada orang lain.
Hj Ernawati memilih jalan kedua.
Ia tampil dalam kegiatan sosial.
Membantu anak-anak yatim.
Menyantuni dhuafa.
Membagikan makanan selama Ramadan.
Mendukung gerakan sosial keagamaan.
Dan kini memimpin ISMI Provinsi Jambi.
Bagi sebagian orang, itu dilihat sebagai perubahan.
Bagi sebagian lain, itu tetap dicurigai.
Begitulah ruang publik bekerja.
Tetapi dalam pandangan Hj Ernawati, yang terpenting bukan tepuk tangan atau cemooh.
Yang terpenting adalah niat dan manfaat.
“Kalau ada yang menerima, alhamdulillah. Kalau ada yang tidak suka, itu juga hak mereka. Saya tidak bisa mengatur semua orang menyukai saya. Saya hanya bisa berusaha memperbaiki diri dan berbuat baik,” katanya.
ISMI Jambi dan Ruang Baru Pengabdian
Pelantikan Hj Ernawati sebagai Ketua ISMI Provinsi Jambi menjadi babak baru dalam kiprahnya.
ISMI adalah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia.
Organisasi ini diharapkan menjadi ruang berhimpun kaum sarjana Melayu untuk memberi kontribusi dalam pendidikan, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan pembangunan daerah.
Di bawah kepemimpinan Hj Ernawati, ISMI Jambi mulai diarahkan untuk tidak hanya menjadi organisasi simbolik.
Tetapi organisasi yang bergerak.
Dekat dengan masyarakat.
Dekat dengan pesantren.
Dekat dengan anak yatim.
Dekat dengan UMKM.
Dekat dengan isu pendidikan dan kebudayaan Melayu Islam.
Hj Ernawati memahami bahwa memimpin organisasi bukan sekadar hadir dalam seremoni.
Ada tanggung jawab moral di dalamnya.
Apalagi ia tahu, sebagian mata publik kini sedang mengawasinya.
Justru karena itu, ia ingin menjawab dengan kerja.
Bukan dengan perdebatan.
Menjawab dengan Kerja, Bukan Marah
Ada banyak cara merespons kritik.
Ada yang memilih melawan.
Ada yang memilih membalas.
Ada yang memilih menggugat.
Ada pula yang memilih bekerja lebih keras.
Hj Ernawati tampaknya memilih yang terakhir.
Ia tidak ingin setiap nyinyiran dijawab dengan kemarahan.
Ia tidak ingin media sosial menjadi ruang saling melukai.
Ia lebih memilih membiarkan waktu menunjukkan arah hidupnya hari ini.
“Biarlah orang menilai. Yang penting Allah tahu niat kita. Saya hanya ingin apa yang saya punya sekarang bisa bermanfaat,” ujarnya.
Dalam gaya yang sederhana, ia seperti ingin mengatakan bahwa masa lalu adalah guru.
Bukan rumah tinggal.
Masa lalu boleh diingat.
Tetapi tidak harus menjadi tempat seseorang dipenjara seumur hidup.
Publik Menyambut Positif
Di tengah suara miring yang muncul, tidak sedikit pula pihak yang menyambut positif kiprah Hj Ernawati.
Mereka melihat kerja sosial yang dilakukan selama ini nyata.
Anak-anak yatim menerima bantuan.
Kaum dhuafa mendapat perhatian.
Masyarakat kecil merasakan kepedulian.
Kegiatan sosial berjalan.
Organisasi mulai bergerak.
Bagi mereka, yang lebih penting adalah manfaat hari ini.
Bukan sekadar mengulang kesalahan masa lalu tanpa melihat perubahan yang terjadi.
Seorang tokoh masyarakat di Jambi menyebut, publik perlu adil dalam menilai seseorang.
Menurutnya, masa lalu boleh menjadi catatan.
Tetapi kontribusi hari ini juga harus diberi tempat.
“Kalau orang pernah salah lalu sudah menjalani prosesnya, kemudian dia berbuat baik, kenapa harus terus ditarik ke belakang? Kita boleh kritis, tetapi juga harus adil,” ujarnya.
Pandangan seperti ini mulai banyak terdengar.
Terutama dari mereka yang melihat langsung kegiatan sosial Hj Ernawati.
Ujian bagi Orang yang Kembali ke Ruang Publik
Bagi siapa pun yang pernah memiliki masa lalu berat, kembali ke ruang publik bukan hal mudah.
Akan selalu ada yang mengingat.
Akan selalu ada yang membuka arsip lama.
Akan selalu ada yang mempertanyakan motif.
Itu risiko.
Hj Ernawati tampaknya sadar.
Karena itu, ia tidak ingin membangun citra seolah hidupnya tanpa noda.
Ia memilih mengakui perjalanan hidup sebagai proses.
Ada masa lalu.
Ada konsekuensi.
Ada titik balik.
Ada perjuangan baru.
Dan ada harapan untuk menutup hidup dengan kebaikan.
Bagi sebagian orang, ini mungkin terdengar terlalu religius.
Tetapi bagi Hj Ernawati, hidup memang tidak bisa dilepaskan dari keyakinan bahwa Allah memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk berubah.
Sorotan terhadap Hj Ernawati seharusnya menjadi ruang diskusi yang lebih dewasa.
Publik boleh kritis.
Media boleh menulis.
Masyarakat boleh mengingat.
Tetapi kritik sebaiknya tidak berubah menjadi penghakiman tanpa akhir.
Apalagi jika seseorang tidak lagi berada dalam jabatan publik yang dulu menjadi konteks perkaranya.
Saat ini, Hj Ernawati hadir sebagai pengusaha dan aktivis organisasi sosial-kemasyarakatan.
Maka penilaian publik juga seharusnya melihat apa yang ia lakukan hari ini.
Apakah ia membantu masyarakat?
Apakah ia membuka lapangan kerja?
Apakah ia menggerakkan kegiatan sosial?
Apakah ia berkontribusi bagi Jambi?
Apakah ia memberi manfaat?
Jika jawabannya iya, maka kontribusi itu juga harus dicatat.
Bukan untuk menghapus masa lalu.
Tetapi untuk menilai manusia secara lebih utuh.
Membangun Jambi dengan Apa yang Dimiliki
Hj Ernawati mengatakan, ia tidak punya ambisi berlebihan.
Ia hanya ingin berbuat untuk Jambi.
Dari kemampuan yang ia punya.
Dari rezeki yang ia miliki.
Dari jejaring yang sudah dibangun.
Dari pengalaman hidup yang telah membentuk dirinya.
Ia ingin membantu anak-anak yatim.
Meringankan beban dhuafa.
Mendorong kegiatan sosial.
Menguatkan organisasi.
Dan memberi ruang bagi sarjana Melayu untuk ikut membangun daerah.
“Saya ingin membantu tanah kelahiran saya. Kalau hari ini Allah beri saya kemampuan, saya ingin kemampuan itu ada manfaatnya untuk orang lain,” katanya.
Kalimat itu sederhana.
Tetapi bagi seseorang yang pernah jatuh, bisa berdiri kembali dan ingin memberi, kesederhanaan itu punya makna panjang.
Bab Baru Hj Ernawati
Hj Ernawati kini memasuki bab baru.
Sebagai pengusaha, ia sudah membangun nama.
Sebagai tokoh organisasi, ia baru mulai diuji.
Sebagai figur publik, ia harus siap dengan sorotan.
Termasuk sorotan terhadap masa lalu.
Namun hidup tidak bergerak ke belakang.
Hidup bergerak ke depan.
Masa lalu boleh menjadi pelajaran.
Tetapi masa depan dibentuk oleh apa yang dilakukan hari ini.
Hj Ernawati memilih menjawab dengan kerja sosial.
Menjawab dengan santunan.
Menjawab dengan kepedulian.
Menjawab dengan organisasi.
Menjawab dengan cinta kepada Jambi.
Ia tidak meminta semua orang lupa.
Ia hanya meminta ruang untuk berbuat.
Dan mungkin di situlah letak pertanyaan paling penting bagi publik: apakah kita masih memberi tempat bagi orang yang ingin memperbaiki diri?
Jika tidak, maka tidak ada seorang pun yang benar-benar punya kesempatan kedua.
Namun jika iya, maka kerja-kerja kebaikan hari ini layak diberi ruang.
Hj Ernawati sudah menjalani masa lalunya.
Kini ia memilih jalan baru.
Jalan membantu.
Jalan mengabdi.
Jalan kembali pulang ke Jambi dengan membawa sesuatu yang bisa dibagi.(*)