Jambi Business Center Jadi Harapan Baru, Warga: Kota Terasa Lebih Modern

WIB
ist

JAMBI – Kota Jambi terus berubah.

Perubahan itu tidak hanya terlihat dari jalan yang semakin ramai, kawasan permukiman yang berkembang, atau aktivitas masyarakat yang kian dinamis.

Perubahan itu juga mulai tampak dari hadirnya kawasan-kawasan baru yang memberi warna berbeda bagi wajah perkotaan.

Salah satunya Jambi Business Center atau JBC.

Kehadiran JBC dinilai menjadi salah satu penanda bahwa Kota Jambi sedang bergerak menuju kawasan perkotaan yang lebih modern, tertata, dan terbuka bagi pertumbuhan ekonomi baru.

Bukan sekadar bangunan.

Bukan hanya deretan ruang komersial.

JBC hadir sebagai kawasan yang diharapkan mampu menjadi pusat aktivitas bisnis, ruang pertemuan masyarakat, tempat tumbuhnya usaha lokal, sekaligus magnet baru bagi investasi di Provinsi Jambi.

Di tengah pertumbuhan Kota Jambi, kebutuhan terhadap kawasan bisnis yang terintegrasi memang semakin terasa.

Masyarakat membutuhkan ruang yang tidak hanya menyediakan tempat belanja.

Tetapi juga ruang untuk bekerja, berkumpul, menikmati kuliner, mencari hiburan, mengembangkan usaha, dan membangun jejaring ekonomi.

JBC masuk dalam kebutuhan itu.

Kawasan ini diproyeksikan menjadi ruang yang mempertemukan banyak aktivitas.

Mulai dari perdagangan, jasa, kuliner, hiburan, perkantoran, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.

Bagi sebagian warga, kehadiran JBC membawa suasana baru.

Kota Jambi terasa lebih hidup.

Pilihan tempat semakin banyak.

Aktivitas ekonomi tidak lagi hanya bertumpu pada pusat-pusat lama.

Kawasan baru mulai tumbuh dan memberi alternatif bagi masyarakat.

Salah seorang warga Kota Jambi, Rina, menilai JBC memberi kesan modern bagi perkembangan kota.

Menurutnya, masyarakat kini mulai memiliki lebih banyak pilihan tempat untuk memenuhi kebutuhan keluarga, berbelanja, bersantai, maupun sekadar menikmati suasana kota.

“Menurut saya, JBC membuat Jambi terlihat lebih modern. Kalau dulu pilihan tempat belanja, nongkrong, atau mencari kebutuhan keluarga masih terbatas, sekarang mulai banyak pilihan. Kota jadi terasa lebih hidup,” ujar Rina, Ahad (28/6/2026).

Bagi Rina, pembangunan kawasan seperti JBC memberi dampak psikologis bagi warga kota.

Masyarakat merasa kotanya berkembang.

Ada rasa bangga ketika daerah memiliki kawasan bisnis yang lebih tertata.

Ada pula harapan agar ruang-ruang baru itu benar-benar memberi manfaat bagi warga, bukan hanya menjadi kawasan komersial yang berdiri megah tanpa hubungan kuat dengan masyarakat sekitar.

Kehadiran JBC juga dinilai memperkuat citra Kota Jambi sebagai kota yang terus bertumbuh.

Selama ini, Kota Jambi dikenal sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, pendidikan, dan jasa di Provinsi Jambi.

Namun, perkembangan kota menuntut hadirnya ruang-ruang baru yang lebih representatif.

Ruang yang bisa menjawab kebutuhan generasi muda.

Ruang yang bisa menampung aktivitas pelaku usaha.

Ruang yang bisa menjadi titik temu masyarakat kota.

JBC memiliki peluang untuk mengisi ruang tersebut.

Dengan konsep kawasan bisnis, JBC diharapkan dapat menjadi salah satu episentrum baru pertumbuhan ekonomi perkotaan.

Tidak hanya untuk pelaku usaha besar.

Tetapi juga untuk pelaku usaha lokal yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.

Harapan itu disampaikan Andi, seorang pekerja swasta di Kota Jambi.

Menurutnya, JBC akan lebih bermakna jika mampu membuka ruang bagi UMKM lokal.

Ia berharap kawasan ini tidak hanya diisi oleh brand besar atau bisnis berskala mapan.

“Yang kami harapkan, JBC bukan hanya menjadi tempat bisnis besar, tetapi juga memberi kesempatan kepada UMKM Jambi untuk ikut berkembang. Dengan begitu manfaatnya bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Andi.

Pernyataan Andi mencerminkan harapan banyak warga.

Mereka tidak menolak modernisasi.

Mereka juga tidak menolak hadirnya kawasan bisnis baru.

Namun, masyarakat ingin agar modernisasi berjalan inklusif.

Artinya, pembangunan harus memberi ruang bagi warga lokal untuk ikut tumbuh.

UMKM Jambi memiliki banyak potensi.

Ada kuliner lokal.

Ada produk kopi.

Ada kerajinan.

Ada fesyen.

Ada produk kreatif anak muda.

Ada jasa pendukung.

Ada usaha rumahan yang selama ini bergerak perlahan, tetapi membutuhkan ruang promosi dan pasar yang lebih luas.

Jika JBC mampu memberi ruang bagi UMKM, maka kawasan tersebut tidak hanya menjadi pusat komersial.

Ia bisa menjadi etalase ekonomi lokal.

Tempat produk Jambi diperkenalkan.

Tempat pelaku usaha kecil naik kelas.

Tempat masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pelaku ekonomi.

Di titik inilah JBC memiliki tantangan sekaligus peluang.

Tantangannya, bagaimana kawasan bisnis modern tidak terkesan eksklusif.

Peluangnya, bagaimana kawasan ini bisa menjadi jembatan antara investasi besar dan ekonomi rakyat.

Jika dua hal itu bisa dipertemukan, JBC dapat menjadi model baru pembangunan kawasan bisnis di Kota Jambi.

Pembangunan tidak cukup hanya terlihat dari bangunan yang megah.

Pembangunan juga harus terasa dari manfaatnya.

Apakah membuka lapangan kerja.

Apakah memberi ruang bagi UMKM.

Apakah menggerakkan ekonomi sekitar.

Apakah menghadirkan ruang publik yang nyaman.

Apakah membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari pertumbuhan kota.

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penting karena warga kini semakin kritis melihat arah pembangunan.

Mereka tidak hanya melihat fisik.

Mereka melihat fungsi.

Mereka melihat dampak.

Mereka melihat apakah pembangunan benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks itu, JBC dapat menjadi salah satu wajah baru Kota Jambi jika mampu dikelola sebagai kawasan yang hidup.

Kawasan yang tidak hanya ramai pada saat pembukaan.

Tidak hanya menarik pada awal promosi.

Tetapi terus menghadirkan aktivitas yang membuat masyarakat datang kembali.

Misalnya melalui festival kuliner lokal.

Pameran produk UMKM.

Agenda komunitas.

Kegiatan seni.

Ruang kreatif anak muda.

Promosi produk daerah.

Kegiatan keluarga.

Atau program kolaborasi dengan pelaku usaha lokal.

Dengan begitu, JBC tidak hanya menjadi tempat transaksi.

Tetapi juga menjadi ruang interaksi.

Tidak hanya menjadi tempat jual beli.

Tetapi juga menjadi tempat bertemu, berkarya, dan membangun jejaring.

Kota yang modern tidak selalu diukur dari seberapa tinggi bangunannya.

Kota yang modern juga dilihat dari seberapa besar ruang yang diberikan kepada warganya untuk bergerak, berusaha, berinteraksi, dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik.

JBC dapat mengambil peran itu.

Di tengah pertumbuhan Kota Jambi, kawasan ini bisa menjadi simbol bahwa pembangunan ekonomi daerah terus berjalan.

Bahwa investasi mulai menemukan ruang.

Bahwa masyarakat membutuhkan pusat aktivitas baru.

Bahwa pelaku usaha lokal perlu diberi panggung.

Dan bahwa Kota Jambi sedang berusaha menata dirinya menuju kota yang lebih dinamis.

Namun, harapan warga tetap sama.

JBC jangan hanya menjadi simbol kemegahan.

JBC harus menjadi ruang manfaat.

Bagi pelaku usaha.

Bagi pekerja.

Bagi keluarga.

Bagi anak muda.

Bagi UMKM.

Dan bagi wajah ekonomi Kota Jambi ke depan.

Jika JBC mampu menghadirkan keseimbangan antara bisnis modern dan ekonomi lokal, maka kawasan ini berpeluang menjadi salah satu motor baru pertumbuhan kota.

Bukan hanya membuat Jambi terlihat lebih modern.

Tetapi juga membuat masyarakat merasakan langsung denyut pertumbuhan itu.

Dari kawasan bisnis baru ini, Kota Jambi seperti sedang mengirim pesan.

Bahwa kota ini tidak diam.

Kota ini bergerak.

Kota ini tumbuh.

Dan di tengah pertumbuhan itu, masyarakat berharap JBC menjadi bagian dari perubahan yang tidak hanya indah dilihat, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi banyak orang. (*)

BeritaSatu Network