Jambi di Pusaran Dunia: Ketika Geopolitik Global Menentukan Nasib Daerah

WIB
ist

Prof. Dr. H. Haryadi, S.E., M.M.S.
Penulis merupakan Guru Besar Ekonomi Internasional Universitas Jambi
Ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Jambi
Tenaga Ahli Gubernur Jambi

Dahulu, jarak menentukan nasib sebuah daerah. Semakin jauh dari pusat perdagangan dunia, semakin kecil pengaruh gejolak global terhadap kehidupan masyarakatnya. Namun, abad ke-21 telah menghapus logika itu.

Hari ini, keputusan yang diambil di Washington, Beijing, Brussel, atau Riyadh dengan cepat dapat memengaruhi harga tandan buah segar di Muaro Jambi, ongkos angkutan di Batanghari, hingga biaya hidup keluarga di Kota Jambi.

Dunia tidak lagi terasa jauh. Perubahan tidak lagi berlangsung per bulan, per hari, atau per jam. Saat ini, perubahan dapat saja terjadi dalam hitungan detik. Ia hadir melalui harga komoditas, nilai tukar, biaya logistik, dan denyut ekonomi yang setiap hari dirasakan masyarakat.

Karena itu, perang, konflik dagang, atau krisis ekonomi global tidak lagi berhenti sebagai berita di layar televisi. Semua peristiwa itu pada akhirnya menemukan jalannya sendiri hingga ke kebun sawit, pasar tradisional, pelabuhan, dan meja makan masyarakat Jambi.

Inilah wajah baru dunia yang saling terhubung: jarak geografis mungkin tetap sama, tetapi jarak ekonomi nyaris telah menghilang.

Inilah wajah baru ekonomi dunia. Globalisasi tidak hanya mempercepat arus barang dan modal, tetapi juga mempercepat penyebaran risiko.

Ketika sebuah negara menaikkan tarif impor, ketika perang mengganggu jalur pelayaran, atau ketika ekonomi negara besar mengalami perlambatan, dampaknya tidak berhenti pada statistik perdagangan internasional. Gelombangnya merambat hingga ke daerah-daerah yang ribuan kilometer jauhnya.

Jambi merupakan salah satu contoh nyata bagaimana perubahan global dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Selama ini, provinsi ini dikenal sebagai penghasil kelapa sawit, karet, batu bara, minyak dan gas, pinang, kopi, serta berbagai komoditas lainnya. Komoditas-komoditas tersebut menjadi sumber penghidupan ratusan ribu masyarakat sekaligus penopang utama perekonomian daerah.

Namun, justru karena keterhubungannya dengan pasar dunia, Jambi ikut merasakan setiap perubahan yang terjadi dalam ekonomi global.

Bayangkan seorang petani sawit di Muaro Jambi. Ia mungkin tidak pernah mengikuti perundingan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Ia juga tidak membaca laporan Dana Moneter Internasional atau perkembangan konflik di Laut Merah.

Namun, ketika harga tandan buah segar berubah, biaya pupuk meningkat, atau ongkos angkutan melonjak, sesungguhnya ia sedang merasakan dampak dari keputusan-keputusan ekonomi dan politik yang diambil di belahan dunia lain.

Dunia yang tampak jauh ternyata hadir sangat dekat, bahkan sebelum matahari terbit di kebun tempat ia bekerja.

Hal yang sama dialami oleh penyadap karet di Merangin, sopir angkutan di Batanghari, pedagang di pasar, hingga pelaku usaha kecil di Kota Jambi.

Ketika ekonomi Tiongkok melambat, permintaan terhadap berbagai komoditas ikut menurun. Ketika harga minyak dunia naik akibat konflik geopolitik, biaya distribusi ikut meningkat. Ketika nilai tukar bergejolak, biaya produksi dan harga barang impor ikut berubah.

Rantai peristiwa itu memperlihatkan bahwa kehidupan masyarakat daerah tidak lagi berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari jaringan ekonomi global.

Kondisi tersebut sesungguhnya memberikan pelajaran penting. Selama ini, ukuran keberhasilan pembangunan sering kali hanya dilihat dari besarnya produksi atau tingginya pertumbuhan ekonomi.

Padahal, tantangan yang dihadapi daerah pada masa depan bukan sekadar bagaimana menghasilkan lebih banyak komoditas, melainkan bagaimana membangun ekonomi yang lebih tahan terhadap guncangan global.

Data perekonomian Jambi menunjukkan bahwa daerah ini masih memiliki fondasi yang cukup baik. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, sementara sektor transportasi dan pergudangan menunjukkan perkembangan yang semakin signifikan seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan ekspor.

Fakta tersebut memperlihatkan bahwa Jambi mulai bergerak menuju ekonomi yang lebih beragam, meskipun ketergantungan terhadap komoditas primer masih cukup besar.

Di sinilah letak tantangan sesungguhnya. Ketika harga komoditas sedang tinggi, hampir semua daerah merasa ekonominya kuat. Akan tetapi, ukuran kekuatan ekonomi bukanlah ketika situasi sedang baik, melainkan ketika mampu bertahan pada saat dunia sedang bergejolak.

Daerah yang hanya bergantung pada satu atau dua komoditas akan lebih mudah terguncang dibandingkan daerah yang memiliki industri pengolahan, sektor jasa yang berkembang, pelaku usaha yang beragam, serta pasar domestik yang kuat.

Karena itu, membangun ketahanan ekonomi menjadi agenda yang tidak kalah penting dibanding meningkatkan pertumbuhan.

Ketahanan ekonomi bukan berarti menutup diri dari perdagangan internasional. Sebaliknya, ketahanan dibangun dengan memperkuat fondasi ekonomi lokal agar mampu menyerap guncangan dari luar.

Diversifikasi usaha, penguatan UMKM, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hilirisasi komoditas, serta efisiensi logistik merupakan bagian dari strategi agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada produksi bahan mentah semata.

Lebih jauh lagi, masyarakat juga perlu memahami bahwa perubahan dunia bukan hanya menghadirkan ancaman, tetapi juga membuka peluang.

Pergeseran rantai pasok global, transisi menuju ekonomi hijau, berkembangnya ekonomi digital, dan meningkatnya kebutuhan terhadap produk berkelanjutan menciptakan ruang baru bagi daerah-daerah yang mampu beradaptasi.

Jambi memiliki peluang besar memanfaatkan kekayaan perkebunan, pertanian, kehutanan, dan sumber daya manusianya untuk menghasilkan produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasar global.

Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila cara berpikir terhadap pembangunan ikut berubah. Sudah saatnya pembangunan tidak lagi semata-mata mengejar angka pertumbuhan, tetapi juga memperkuat kemampuan masyarakat menghadapi perubahan.

Dunia akan terus berubah. Harga komoditas akan terus naik dan turun. Konflik geopolitik mungkin akan terus terjadi. Yang dapat dipastikan hanyalah perubahan itu sendiri.

Karena itu, ukuran keberhasilan pembangunan daerah pada masa depan bukan lagi sekadar besarnya investasi yang masuk atau tingginya ekspor yang dicapai, melainkan kemampuan menjaga kesejahteraan masyarakat ketika dunia sedang tidak baik-baik saja.

Daerah yang tangguh adalah daerah yang mampu melindungi petani ketika harga jatuh, membantu pelaku usaha beradaptasi terhadap perubahan pasar, serta menciptakan kesempatan kerja baru ketika sektor tertentu mengalami perlambatan.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari berbagai gejolak dunia bukanlah bahwa kita harus takut terhadap perubahan. Sebaliknya, perubahan mengajarkan bahwa tidak ada daerah yang benar-benar jauh dari dunia.

Apa yang terjadi di ruang perundingan internasional pada akhirnya akan sampai ke desa-desa, ke kebun-kebun, ke pasar, dan ke rumah-rumah masyarakat.

Karena itu, memahami geopolitik hari ini bukan lagi sekadar kebutuhan para pengambil kebijakan.

Memahami geopolitik berarti memahami mengapa harga hasil panen berubah, mengapa biaya hidup naik, mengapa peluang kerja bergeser, dan mengapa arah pembangunan harus terus menyesuaikan diri dengan dinamika global.

Dunia memang semakin tanpa batas. Tantangannya bukan menghindari perubahan, melainkan memastikan masyarakat Jambi cukup kuat untuk menghadapi setiap perubahan yang datang.

Sebab pada akhirnya, peristiwa yang tampak jauh di layar televisi sering kali berakhir sangat dekat: dalam denyut kehidupan sehari-hari masyarakat Jambi.(*)

BeritaSatu Network