Petani Sawit Mitra PTPN IV Apresiasi Harga TBS Stabil di Tengah Gejolak Pasar

WIB
ist

PEKANBARU – Harga sawit sempat bikin banyak petani gelisah.

Di sejumlah daerah, harga tandan buah segar atau TBS petani turun.

Petani swadaya paling terasa dampaknya.

Namun di tengah gejolak itu, petani plasma yang bermitra dengan PTPN IV PalmCo mengaku masih bisa bernapas lega.

Mereka menyebut harga TBS yang diterima tetap lebih stabil.

Bahkan, disebut berada jauh di atas harga pasar yang diterima sebagian petani swadaya.

Ketua Koperasi Produsen Makarti Jaya, Desa Kumain, Kecamatan Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Hadiyanto, mengatakan petani plasma merasakan langsung manfaat pola kemitraan dengan PTPN IV.

Terutama saat harga sawit di tingkat petani mengalami tekanan.

“Kami dan segenap petani mitra PTPN IV Regional III Sei Tapung sangat bersyukur menjadi bagian dari PTPN IV. Saat petani swadaya sangat terimbas dengan anjloknya harga, kami masih bisa tersenyum karena harga tetap stabil,” kata Hadiyanto.

Pernyataan itu disampaikan Hadiyanto di sela diskusi panel peluncuran buku “Setiyono, Kisah dan Rahasia Sukses Petani Sawit Plasma Transmigrasi” di Pekanbaru, Rabu (1/7).

Diskusi tersebut menghadirkan perwakilan dari Kementerian Pertanian, BPDP, serta Aspekpir.

Menurut Hadiyanto, selisih harga pembelian TBS yang diterima petani mitra dibandingkan pabrik kelapa sawit atau PKS lain di sekitar wilayahnya cukup signifikan.

Selisihnya disebut berkisar antara Rp600 hingga Rp1.000 per kilogram.

Bagi petani, angka itu bukan kecil.

Dalam skala panen kebun sawit, selisih ratusan rupiah per kilogram bisa menentukan pendapatan keluarga.

Apalagi ketika produktivitas kebun sedang turun akibat usia tanaman maupun faktor cuaca.

“Kebijakan harga yang diterapkan PTPN IV sangat membantu petani anggota kami. Di saat tren produksi sedang menurun dan harga di PKS lain anjlok, PTPN tetap hadir dengan harga yang stabil. Pendapatan petani menjadi lebih aman,” ujarnya.

Dampak Kemitraan yang Dirasakan Petani

AspekDampak bagi Petani
Harga TBSLebih stabil saat pasar turun
Selisih hargaRp600-Rp1.000 per kg dibanding PKS lain
PendapatanLebih aman saat produksi menurun

Hadiyanto mengatakan Koperasi Produsen Makarti Jaya saat ini mengelola kebun plasma seluas 731 hektare.

Kemitraan dengan PTPN IV telah berjalan lebih dari tiga dekade.

Petani anggota koperasi bahkan telah memasuki siklus kedua budidaya sawit setelah mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat atau PSR pada 2019.

Pengalaman panjang itu, kata dia, membuktikan bahwa kemitraan tidak hanya memberikan jaminan pasar.

Tetapi juga membantu petani meningkatkan produktivitas kebun.

Ada pendampingan teknis.

Ada penerapan praktik budidaya yang lebih baik.

Ada kepastian pembelian hasil panen.

Dan ada mekanisme harga yang dinilai lebih melindungi petani ketika pasar sedang tidak bersahabat.

“Kami berharap PTPN tetap membeli TBS kami dengan harga yang telah disepakati setiap pekannya bersama pemerintah daerah dan terus mendampingi petani. Kemitraan ini sudah terbukti saling menguntungkan dan memberikan manfaat bagi petani,” katanya.

Hadiyanto juga mengajak petani swadaya untuk mempertimbangkan pola kemitraan.

Menurutnya, industri sawit semakin kompetitif.

Petani tidak cukup hanya menanam dan menjual.

Petani juga membutuhkan akses pasar, pendampingan, kepastian harga, dan tata kelola kebun yang baik.

Dalam kondisi pasar normal, perbedaan itu mungkin tidak terlalu terasa.

Namun saat harga bergejolak, kemitraan bisa menjadi penyangga.

Terutama bagi petani yang tidak memiliki posisi tawar kuat di hadapan PKS.

Stabilitas harga TBS yang dirasakan petani mitra dinilai semakin penting di tengah meningkatnya kebutuhan minyak sawit nasional.

Termasuk untuk mendukung program ketahanan pangan dan energi.

Salah satunya implementasi mandatori biodiesel B50.

Dengan produktivitas kebun yang terjaga dan kepastian harga di tingkat petani, kemitraan perusahaan dan petani diharapkan mampu memperkuat pasokan bahan baku sawit nasional.

Sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di daerah.

Sebelumnya, harga sawit petani sempat mengalami penurunan.

Kondisi itu disebut dipicu kepanikan sebagian pelaku industri menyusul transisi kebijakan ekspor satu pintu dan praktik sejumlah PKS yang membeli di bawah harga acuan.

Dampaknya paling terasa bagi petani swadaya.

Terutama mereka yang tidak memiliki kemitraan dengan perusahaan maupun pabrik pengolahan.

Di sejumlah daerah, harga TBS sempat merosot jauh di bawah harga yang ditetapkan pemerintah.

Di tengah sorotan terhadap ratusan PKS swasta tersebut, PTPN IV PalmCo memastikan aktivitas pembelian TBS dari masyarakat dan mitra tetap berjalan sesuai mekanisme yang berlaku.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan hingga April 2026 perusahaan telah menyerap sekitar 1,03 juta ton TBS dari masyarakat dan mitra.

Volume itu meningkat 2,52 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Jatmiko, keberlanjutan serapan TBS menjadi faktor penting dalam menjaga perputaran ekonomi masyarakat di sentra-sentra perkebunan sawit.

“Peningkatan volume serapan ini berjalan beriringan dengan penerapan standar mutu yang jelas. Hingga April 2026, perolehan rendemen CPO kami terjaga di angka 18,69 persen,” ujarnya.

Serapan TBS PTPN IV PalmCo

IndikatorCapaian
Serapan TBS masyarakat dan mitra1,03 juta ton
PeriodeHingga April 2026
PertumbuhanNaik 2,52 persen
Rendemen CPO18,69 persen

Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menambahkan perusahaan terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan di berbagai wilayah operasional.

Koordinasi itu dilakukan untuk memastikan pelaksanaan ketentuan harga berjalan sesuai regulasi pemerintah.

Arya menyebut keberadaan perusahaan milik negara di sektor sawit tidak hanya berorientasi bisnis.

BUMN juga harus hadir sebagai penyeimbang ketika pasar mengalami gejolak.

“PTPN IV PalmCo terus berkoordinasi dengan dinas perkebunan untuk memastikan implementasi Permentan Nomor 13 Tahun 2024. Kehadiran BUMN di daerah harus menjadi referensi harga yang wajar dan jangkar pengaman tata niaga, terutama saat pasar sedang mengalami gejolak,” kata Arya.

Pernyataan Arya memberi penekanan penting.

Di tengah tata niaga sawit yang kerap bergejolak, keberadaan pembeli besar dengan mekanisme harga yang mengacu aturan pemerintah dapat menjadi penyangga.

Bukan hanya bagi petani plasma.

Tetapi juga sebagai referensi bagi pasar di daerah.

Bagi petani, harga TBS adalah urat nadi.

Ketika harga jatuh, belanja rumah tangga ikut terganggu.

Biaya pupuk tertahan.

Perawatan kebun bisa berkurang.

Produktivitas masa depan ikut terancam.

Namun ketika harga lebih stabil, petani punya kepastian.

Mereka bisa merawat kebun.

Menjaga produksi.

Membayar kebutuhan keluarga.

Dan tetap memiliki harapan dalam menjalankan usaha sawit.

Kisah petani plasma Makarti Jaya menunjukkan bahwa kemitraan sawit masih menjadi model penting.

Terutama ketika hubungan antara petani dan perusahaan dibangun dengan kepastian pembelian, pendampingan teknis, serta mekanisme harga yang jelas.

Bagi Hadiyanto dan petani mitra PTPN IV di Sei Tapung, manfaat itu terasa langsung.

Saat harga sawit di luar sana turun, mereka masih memiliki pegangan.

Saat produksi menurun, mereka masih terbantu harga yang lebih stabil.

Saat pasar tidak pasti, kemitraan menjadi bantalan.

Namun tantangannya belum selesai.

Kemitraan harus terus dijaga.

Pendampingan harus konsisten.

Harga harus tetap mengacu ketentuan.

Produktivitas kebun harus ditingkatkan.

Dan petani swadaya yang belum bermitra perlu diberi akses lebih baik agar tidak terus berada pada posisi paling rentan saat pasar bergejolak.

Di tengah kebutuhan sawit nasional yang terus besar, petani tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi pasar.

Mereka butuh kepastian.

Butuh tata niaga yang adil.

Butuh pendampingan.

Dan butuh mitra yang mampu hadir ketika harga sedang tidak bersahabat.

Dari Rokan Hulu, pesan petani plasma itu terdengar sederhana.

Kemitraan yang baik membuat petani lebih tenang.

Harga yang stabil membuat dapur tetap menyala.

Dan perusahaan yang hadir saat pasar bergejolak dapat menjadi penyangga ekonomi di sentra-sentra sawit. (*)

BeritaSatu Network