Al Haris ke Pelajar Bungo: Jauhi Narkoba dan Judi Online, 60 Persen Masa Depan Sudah Aman

WIB
Ist

Muara Bungo — Gubernur Jambi Al Haris meminta pelajar tidak membiarkan masa depan mereka dirusak narkoba, judi online, perundungan, geng motor, hingga paparan paham radikal dari media digital.

Pesan tersebut disampaikan Al Haris saat membuka Sosialisasi Akbar Pencegahan Paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme dan Terorisme atau IRET, True Crime Community atau TCC, Perundungan serta Bahaya Narkoba di Lingkungan Pendidikan Kabupaten Bungo.

Kegiatan yang menyasar pelajar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah itu digelar di GOR Serunai, Kabupaten Bungo, Rabu (5/8/2026) pagi.

“Anak-anakku, kalau bisa menjaga diri dengan baik, tidak terlibat narkoba, tidak judi online, tidak radikal, anak-anak sudah punya masa depan 60 persen,” kata Al Haris.

“Sisanya 40 persen tinggal perjuangan dan doa,” lanjutnya.

Al Haris mengatakan jumlah pelajar SMA, SMK, dan MA di Provinsi Jambi sangat besar.

Menurutnya, para remaja tersebut sedang berada pada fase penting pembentukan karakter dan penentuan masa depan.

Pada tahap itu, pelajar mudah menerima pengaruh dari lingkungan pergaulan maupun konten yang mereka lihat melalui telepon genggam dan media sosial.

Karena itu, pendidikan tidak cukup hanya mengejar nilai akademik.

Pelajar juga harus dibekali kemampuan membedakan tindakan yang benar dan salah serta memahami risiko dari setiap pilihan.

“Penting sekali ditanamkan di hati anak-anakku sekalian bagaimana selayaknya seorang anak. Sekolah, belajar, dan bergaul dengan sesama, tetapi tidak menyalahi aturan,” ujar Al Haris.

Ia meminta tidak ada pelajar yang terlibat narkoba, judi online maupun geng motor.

“Tidak ada yang terlibat narkoba. Tidak ada yang ikut judi online, juga saat ini marak geng motor,” tegasnya.

Judi online menjadi salah satu persoalan yang disorot Al Haris.

Ia menyebut Provinsi Jambi pada 2024 sempat masuk kategori daerah dengan kasus judi online tertinggi di Indonesia berdasarkan data yang diterima dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan atau PPATK.

Al Haris mengatakan dirinya kemudian meminta data lengkap untuk melakukan langkah penanganan.

“Alhamdulillah saya minta data. Saya punya data lengkap. Saya mulai kerja. Alhamdulillah ini turun,” katanya.

Menurut Al Haris, aparatur sipil negara yang teridentifikasi terlibat judi online telah diperingatkan.

Sanksi lebih keras disebut dapat diberikan apabila ASN tersebut tidak berubah.

“Yang ASN kita peringatkan. Tidak berubah, ya kita berhentikan,” ujarnya.

Al Haris juga mengingatkan bahwa persoalan judi online tidak hanya menyasar orang dewasa.

Anak-anak dan pelajar dinilai ikut terpapar dalam jumlah yang cukup besar.

Kemudahan mengakses permainan melalui telepon genggam membuat praktik tersebut dapat masuk ke lingkungan keluarga dan sekolah tanpa mudah diketahui.

Selain judi online, Al Haris menyoroti paparan konten negatif melalui media elektronik.

Pemerintah, menurut dia, menemukan adanya pelajar yang terpengaruh situs-situs bermuatan radikal.

Ia mencontohkan kasus seorang mahasiswa yang berkuliah di luar daerah dan kemudian terlibat pembakaran kantor polisi akibat keliru memahami ajaran serta paham yang diterimanya.

Contoh tersebut disampaikan Al Haris sebagai peringatan kepada pelajar agar tidak menerima mentah-mentah narasi yang ditemukan di internet.

“Jangan sampai nanti anak-anak memiliki paham jihad yang salah. Ini bahaya sekali,” kata Al Haris.

Ia meminta pelajar menghindari hoaks serta pengaruh yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Pelajar juga diminta berdiskusi dengan guru, orang tua, maupun pihak yang memiliki kompetensi ketika menemukan materi keagamaan atau ideologi yang meragukan.

Ancaman narkoba juga menjadi perhatian dalam sosialisasi tersebut.

Al Haris menyebut rata-rata penghuni lembaga pemasyarakatan anak terlibat perkara narkoba.

Kondisi itu menunjukkan penyalahgunaan narkotika dapat menghancurkan masa depan anak bahkan sebelum mereka menyelesaikan pendidikan.

Selain narkoba, perundungan atau bullying di sekolah dinilai masih mengkhawatirkan.

Al Haris menyampaikan data nasional yang menyebut sekitar 57 persen sekolah di Indonesia masih menghadapi kasus perundungan.

Perundungan dapat membuat korban merasa tidak nyaman, kehilangan rasa percaya diri, terganggu secara psikologis, bahkan tidak mau kembali ke sekolah.

Karena itu, sekolah diminta tidak menganggap ejekan, ancaman, kekerasan fisik maupun pengucilan sebagai persoalan biasa antaranak.

Al Haris meminta pelajar menempatkan pendidikan sebagai jalan utama untuk mencapai masa depan.

Masa muda harus digunakan untuk belajar, mengembangkan potensi serta membentuk karakter.

“Utamakan pendidikan. Pendidikan adalah jalan untuk mencapai masa depan. Jangan pernah berhenti belajar,” pesan Al Haris.

“Gunakan masa muda untuk menuntut ilmu, mengembangkan potensi, dan membangun karakter. Hindari kegiatan negatif, hoaks, serta pengaruh yang bertentangan dengan nilai Pancasila,” lanjutnya.

Al Haris juga meminta para pelajar tidak merasa rendah diri karena berasal dari keluarga sederhana.

Menurutnya, banyak pejabat yang hadir dalam kegiatan tersebut berasal dari keluarga biasa dan tidak memiliki modal besar.

Namun pendidikan, kedisiplinan, dan semangat berjuang membuka jalan menuju keberhasilan.

“Saya yang hadir di sini, ini rata-rata pejabat orang biasa. Tidak ada modal, tidak punya uang. Tapi kita punya masa depan,” ujarnya.

“Kita sekolah dengan rajin. Tidak ada yang aneh-aneh. Kita berjuang, semangat, maka bisa mencapai hari ini,” sambung Al Haris.

Bupati Bungo Dedy Putra mengajak seluruh pelajar mengikuti sosialisasi dengan serius.

Menurutnya, pemahaman mengenai radikalisme, terorisme, TCC, perundungan, dan narkoba harus ditanamkan sejak dini.

Dengan pengetahuan yang benar, pelajar diharapkan mampu menerapkan nilai kebangsaan dan perilaku positif di tengah masyarakat.

Mereka juga dapat ikut mengingatkan teman ketika melihat gejala penyalahgunaan narkoba, perundungan maupun paparan paham berbahaya.

“Dengan pemahaman yang baik, kita harap para pelajar bisa menjadi agen pencegahan di sekolah maupun lingkungan sekitar,” kata Dedy.

Ia menilai paham radikal, narkoba, dan perundungan dapat memberikan dampak panjang terhadap pendidikan serta masa depan anak.

Karena itu, pencegahan tidak dapat hanya dibebankan kepada aparat.

Keluarga, sekolah, pemerintah, dan lingkungan masyarakat harus bekerja bersama.

Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan komitmen bersama menolak seluruh aktivitas balap liar dan geng motor di Kabupaten Bungo.

Komitmen tersebut menjadi salah satu bentuk kesepakatan lintas sektor untuk mencegah pelajar terlibat kegiatan berbahaya dan tindakan kekerasan.

Balap liar tidak hanya membahayakan pelaku.

Pengguna jalan lain juga dapat menjadi korban.

Sementara kelompok geng motor kerap dikaitkan dengan kekerasan, penggunaan senjata, perusakan maupun gangguan keamanan.

Namun komitmen tertulis harus diikuti pengawasan dan kegiatan alternatif bagi anak-anak muda.

Ruang olahraga, seni, kreativitas, dan kompetisi yang sehat perlu diperluas agar pelajar memiliki tempat positif untuk menyalurkan energi.

Sosialisasi turut menghadirkan pembicara dari Badan Narkotika Nasional dan Detasemen Khusus 88 Antiteror.

Peserta mengikuti diskusi dan sesi tanya jawab mengenai bahaya narkoba, paham radikal serta berbagai ancaman yang menyasar generasi muda.

Kehadiran BNN dan Densus 88 diharapkan membuat pelajar memperoleh penjelasan langsung dari lembaga yang menangani persoalan tersebut.

Dengan demikian, informasi yang diterima tidak bersumber dari rumor atau konten media sosial yang belum tentu benar.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi Pemerintah Provinsi Jambi, pemerintah kabupaten, aparat keamanan, dan lembaga terkait untuk membangun ketahanan generasi muda.

Sosialisasi turut dihadiri Wakil Bupati Bungo Tri Wahyu Hidayat dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi M. Umar MY.

Hadir pula unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Bungo, organisasi perangkat daerah, kepala sekolah, guru serta pelajar SMA, SMK, dan MA.

Perwakilan organisasi masyarakat dan lembaga pendidikan se-Kabupaten Bungo juga mengikuti kegiatan tersebut.

Sosialisasi telah digelar. Komitmen bersama sudah ditandatangani.

Namun tantangan terbesar dimulai setelah para pelajar meninggalkan GOR Serunai dan kembali memegang telepon genggam, bertemu lingkungan pergaulan, serta menghadapi tekanan sehari-hari.

Di situlah pesan Al Haris diuji.

Masa depan bukan hanya ditentukan oleh nilai di rapor.

Masa depan juga ditentukan oleh keberanian anak berkata tidak pada narkoba, judi online, perundungan, kekerasan, dan paham yang menyesatkan. (*)

BeritaSatu Network