Penjualan Teh Kayu Aro Naik 7,18 Persen, PTPN Bidik Lonjakan 25 Persen

WIB
ist

Jambi — Teh Kayu Aro semakin luas masuk pasar ritel. Penjualan teh kemasan produksi PTPN IV Regional IV Jambi-Sumbar tercatat meningkat 7,18 persen sepanjang semester pertama 2026 dibanding periode yang sama tahun lalu.

PTPN IV menilai kenaikan tersebut tidak terlepas dari perluasan jalur pemasaran hingga warung, kedai, supermarket dan jaringan minimarket.

Sekretaris PTPN IV Regional IV Muhammad Ridwan mengatakan strategi pemasaran yang dilakukan perusahaan mulai menunjukkan hasil.

“Perluasan dan pengembangan pemasaran dengan kerja keras dan sesuai prosedur yang ditetapkan tampak berhasil. Penjualan Teh Kayu Aro dalam bentuk kemasan meningkat semester pertama sebesar 7,18 persen,” kata Ridwan, Rabu (22/7/2026).

Menurut dia, pertumbuhan itu terlihat jika dibandingkan dengan penjualan pada semester pertama 2025.

PTPN IV kini berupaya membuat Teh Kayu Aro lebih dekat dengan konsumen.

Produk kemasan tersebut disebut mulai mudah ditemukan di berbagai warung dan kedai.

Selain pasar tradisional, Teh Kayu Aro juga dipasarkan melalui sejumlah jaringan ritel dan pusat perbelanjaan.

Ridwan menyebut produk itu antara lain dapat ditemukan di Trona Ekspres, Jamtos, Alfamart hingga Indomaret.

Perluasan titik penjualan menjadi strategi perusahaan agar konsumen tidak lagi harus datang langsung ke Kerinci atau mencari produk melalui saluran khusus.

Teh yang diproduksi di kaki Gunung Kerinci itu kini diarahkan menjadi produk yang lebih mudah dijangkau konsumen sehari-hari.

PTPN IV tidak ingin berhenti pada kenaikan 7,18 persen.

Perusahaan memasang target lebih tinggi untuk semester kedua.

“Kami terus berinovasi dan berkreasi untuk pemasaran Teh Kayu Aro kemasan seduh ini,” ujar Ridwan.

Berbagai strategi peningkatan penjualan akan terus dilakukan hingga akhir tahun.

“Diharapkan semester kedua akhir 2026 peningkatan terjadi antara 20 persen hingga 25 persen,” tegasnya.

Namun perusahaan belum merinci volume maupun nilai nominal penjualan Teh Kayu Aro pada semester pertama 2025 dan 2026.

Dengan demikian, angka 7,18 persen yang disampaikan baru menunjukkan persentase pertumbuhan, belum menggambarkan berapa kotak atau berapa rupiah produk yang terjual.

Teh Kayu Aro merupakan teh hitam orthodox yang diproduksi dari kawasan perkebunan di kaki Gunung Kerinci, Provinsi Jambi.

Perkebunan tersebut telah beroperasi sejak 1925 pada masa kolonial Belanda.

Teh Kayu Aro dikenal memiliki karakter warna seduhan pekat dan cita rasa khas.

Dalam keterangan perusahaan, perkebunan Kayu Aro disebut sebagai salah satu perkebunan teh tertua di Indonesia dan memiliki bentang perkebunan yang sangat luas.

Produk ini juga kerap dikaitkan dengan sejarah panjang pemasaran teh Kerinci ke luar negeri dan disebut pernah menjadi konsumsi kalangan bangsawan Eropa.

Kini pengelolaannya berada dalam lingkungan PT Perkebunan Nusantara dan produknya dipasarkan dalam berbagai varian.

Nama besar Kayu Aro sebenarnya menjadi modal pemasaran yang kuat.

Namun sejarah lebih dari satu abad tidak otomatis menjamin produk memenangkan persaingan di rak ritel.

Konsumen saat ini dihadapkan pada banyak pilihan teh lokal maupun nasional dengan variasi rasa, kemasan dan harga.

Karena itu, keberhasilan Teh Kayu Aro akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan menjaga kualitas sekaligus memperluas distribusi dan memperkuat merek.

Kenaikan 7,18 persen menjadi sinyal awal.

Target berikutnya jauh lebih tinggi: pertumbuhan 20 hingga 25 persen pada semester kedua.

Teh Kayu Aro sudah punya cerita panjang sejak 1925.

Kini tantangannya adalah membuat cerita itu berubah menjadi semakin banyak produk yang benar-benar keluar dari rak dan masuk ke cangkir konsumen. (*)

BeritaSatu Network