Jambi — Magang di perusahaan perkebunan negara ternyata makin diburu anak muda.
Sebanyak 2.231 pelamar tercatat bersaing memperebutkan hanya 164 posisi magang pada Program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan Batch II Agustus 2026 di PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo.
Persaingan bahkan lebih ketat di sejumlah wilayah operasional.
Di Regional I Medan dan Regional IV Jambi, satu kursi magang disebut diperebutkan sekitar 16 pelamar.
PTPN IV PalmCo melihat tingginya animo tersebut sebagai sinyal bahwa lulusan baru membutuhkan pengalaman kerja nyata sebelum masuk ke pasar tenaga kerja.
Dalam dua tahun terakhir, perusahaan menyebut telah menyerap 1.328 peserta magang dari berbagai jalur program.
PTPN IV PalmCo tidak hanya menempatkan peserta magang di meja administrasi.
Seluruh lini bisnis perusahaan dijadikan tempat belajar.
Mulai dari Head Office.
Regional Office.
Kebun.
Hingga pabrik pengolahan yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan pendekatan tersebut dibuat agar peserta merasakan dunia kerja yang sedekat mungkin dengan kondisi industri sebenarnya.
“Kami tidak memposisikan peserta magang sebagai tenaga kerja tambahan,” kata Jatmiko.
Menurutnya, lingkungan perusahaan justru dijadikan semacam laboratorium hidup bagi peserta.
“Seluruh ekosistem perusahaan, mulai dari ruang pengambilan kebijakan di Head Office, pusat koordinasi di Region Office, hingga area operasional kebun dan pabrik merupakan laboratorium hidup,” ujarnya.
Peserta magang, kata Jatmiko, diarahkan untuk terlibat dalam ritme pekerjaan profesional.
Mereka menghadapi studi kasus nyata dan mendapat evaluasi yang terukur.
Artinya, pengalaman magang tidak diarahkan sekadar menjadi aktivitas pendukung administrasi.
Peserta diharapkan memahami bagaimana keputusan dibuat, pekerjaan dikendalikan, risiko dikelola hingga operasional kebun dan pabrik dijalankan.
“Mereka dilibatkan dalam ritme kerja profesional, menghadapi studi kasus nyata, dan memperoleh evaluasi yang terukur,” kata Jatmiko.
PTPN IV PalmCo berharap pola tersebut dapat mempersempit kesenjangan antara kompetensi lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha.
Tingginya minat terlihat jelas pada Program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan Batch II.
Ada 2.231 pendaftar untuk 164 posisi.
Tempat magang tersedia di kantor pusat dan lima kantor regional PTPN IV PalmCo.
Secara keseluruhan, jumlah pelamar memang jauh lebih besar dibanding posisi yang tersedia.
Namun pada sejumlah regional, kompetisinya lebih keras.
Regional I Medan dan Regional IV Jambi mencatat persaingan sekitar 16 orang untuk satu kursi.
Bagi perusahaan, tingginya jumlah pelamar memperlihatkan bahwa pengalaman industri masih menjadi kebutuhan besar bagi lulusan baru.
Ijazah saja belum cukup.
Mereka membutuhkan rekam pengalaman profesional sebelum benar-benar bersaing di pasar kerja.
PTPN IV PalmCo juga menerapkan mekanisme fasilitas berbeda berdasarkan jalur magang.
Untuk peserta Program Maganghub Kementerian Ketenagakerjaan, insentif berasal dari anggaran pemerintah.
Sementara peserta Magenta BUMN mendapatkan uang saku yang dialokasikan perusahaan.
“Ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah dan BUMN,” ujar Jatmiko.
Menurut dia, perusahaan berperan menyediakan lingkungan kerja, pembimbing dan pengalaman profesional.
“Perusahaan menyediakan lingkungan belajar, pembimbing, dan pengalaman kerja, sementara skema pembiayaan mengikuti ketentuan masing-masing program,” katanya.
Program magang itu juga ditempatkan sebagai bagian dari upaya mempertemukan kebutuhan dunia pendidikan dengan kebutuhan perusahaan.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyebut pemagangan berbasis kompetensi menjadi salah satu instrumen penting dalam meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia.
“Pemagangan berbasis kompetensi adalah jembatan paling efektif untuk mewujudkan link and match antara dunia pendidikan dan pasar kerja,” kata Yassierli.
Menurutnya, peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis.
“Melalui pemagangan di industri, peserta tidak hanya mendapatkan hard skill, tetapi juga soft skill dan etos kerja yang nyata,” ujarnya.
Pengalaman langsung di lingkungan industri dinilai dapat membuat lulusan lebih siap ketika memasuki dunia profesional.
Bagi sebagian peserta, magang bahkan menjadi pintu awal perjalanan karier.
Nabila Shifa salah satunya.
Lulusan Universitas Gunadarma tersebut pernah mengikuti program Magenta BUMN di PTPN IV PalmCo.
Kini, Nabila justru menjadi karyawan perusahaan tersebut.
Ia mengatakan selama magang tidak hanya diberikan pekerjaan administratif.
Dirinya juga terlibat dalam penyelesaian target kerja tim.
“Pendampingan mentor dan pengalaman bekerja dalam ritme korporasi menjadi bekal yang sangat membantu ketika mengikuti proses rekrutmen hingga akhirnya bergabung sebagai karyawan,” kata Nabila.
Pengalaman tersebut membuat peserta tidak hanya mengenal teori pekerjaan.
Mereka juga belajar mengenai target, koordinasi, disiplin hingga tekanan yang ada di lingkungan korporasi.
Cerita berbeda datang dari Hafizah Mulia Ningrum.
Lulusan Universitas Andalas itu pernah mengikuti Program Magang Kementerian Ketenagakerjaan di PTPN IV PalmCo.
Kini ia bekerja sebagai konsultan auditor.
Menurut Hafizah, pengalaman magang membantunya memahami tata kelola perusahaan, manajemen risiko dan standar kepatuhan operasional.
Bekal tersebut ternyata tetap relevan ketika ia bekerja di luar PTPN.
“Pengalaman itu membuat saya memiliki gambaran yang lebih utuh mengenai praktik bisnis di lapangan sehingga sangat membantu ketika memberikan rekomendasi kepada klien,” katanya.
PTPN IV PalmCo menegaskan perluasan program pemagangan tidak semata-mata diarahkan untuk memenuhi kebutuhan SDM internal.
Program itu juga disebut sebagai kontribusi perusahaan dalam menyiapkan tenaga kerja yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri.
Apalagi dunia kerja terus berubah.
Perusahaan membutuhkan lulusan yang bukan hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga bisa beradaptasi, bekerja dalam tim, memahami standar operasional dan menyelesaikan persoalan nyata.
Di titik inilah program magang mendapatkan relevansinya.
Angka persaingan di Jambi memberi gambaran sederhana.
Untuk satu meja magang, bisa ada 16 orang yang ingin duduk di sana.
Mereka bukan sedang memperebutkan pekerjaan tetap.
Baru pengalaman kerja.
Namun justru itu yang menunjukkan tantangan lulusan baru hari ini.
Sebelum mencari pekerjaan, mereka sudah harus bersaing untuk mendapatkan tempat belajar bekerja.
PTPN IV PalmCo mencoba menjawab kebutuhan tersebut dengan membuka kantor, kebun dan pabriknya.
Bukan sebagai ruang kuliah.
Tetapi sebagai tempat di mana teori diuji dengan target, waktu, risiko dan pekerjaan nyata.
Karena pada akhirnya, dunia kerja tidak hanya bertanya apa yang pernah dipelajari.
Dunia kerja juga ingin tahu apa yang sudah pernah dikerjakan. (*)